Kamis, 28 Juli 2011

Pasir Putih Pantai Tanjung Bira


 
Lidah ombak Pantai Tanjung Bira menjulur-julur hingga ke bibir pantai tatkala Thibault Grac sedang membaringkan tubuhnya di atas pasir putih. Wisatawan asal Perancis beruia 25 tahun itu terlihat asyik memandangi langit biru. Sesekali pandangannya mengarah ke jejeran perahu nelayan yang terombang-ambing di bibir pantai. Perahu-perahu itu siap mengantarkan penduduk dan pelancong ke pulau kecil di seberang yang bernama Liukangloe.

Dari kejauhan terlihat tebing karang berdiri kukuh dengan tekstur alamiah seolah berfungsi sebagai pembatas pantai. Di pinggir bukit yang berbatasan langsung dengan pantai, terdapat jejeran kursi lengkap dengan pelindung putih di atasnya. Di ujung pantai, pemandangan karang yang menjorok ke laut tampak sangat eksotik. Sementara, ratusan pohon kelapa yang menjulang terlihat samar-samar.

Thibault sengaja datang untuk berlibur selama dua pekan. Ia ingin menikmati panorama pantai di kawasan itu. “Amazing!” komentar Thibault tentang Pantai Tanjung Bira. “Saya juga mengagumi kesopanan dan keramahan penduduk setempat,” ujarnya.

Keindahan Pasir Putih
Thibault, merupakan salah seorang turis mancanegara yang melancong ke Pantai Tanjung Bira. Ia terpesona dengan keistimewaan pantai yang berpasir putih nan lembut seperti tepung dan dingin yang menghampar  di sepanjang tepinya. Di lokasi itu, para pengunjung dapat berenang, berjemur, diving, dan snorkeling. Para turis bisa menyaksikan  matahari terbit dan terbenam di satu posisi yang sama. Mereka bahkan bisa menikmati keindahan dua pulau yang ada di depan pantai: Pulau Liukangloe dan Pulau Kambing. Untuk menikmati panorama kawasan ini, pengunjung cukup mengeluarkan biaya tiket masuk sebesar Rp 5 ribu bagi wisatawan domestik, dan Rp 10 ribu hingga 15 ribu untuk turis mancanegara.

Jika pagi, kawasan pantai terlihat lebih ramai. Tidak sedikit penduduk setempat yang menyisiri pantai untuk mencari kerang. Kerang-kerang itu kemudian dibentuk menjadi pernak-pernik untuk dijual kepada wisatawan. Para wisatawan biasanya memilih bangun pagi-pagi agar tidak ketinggalan momen matahari terbit (sunrise). Setelah itu, mereka bisa langsung memulai segala aktivitas. Mereka dapat menceburkan diri dan merasakan segarnya air laut yang jernih atau kembali ke penginapan.

Keramaian di pantai biasanya berangsur surut menjelang siang. Terik mentari membuat mereka lebih memilih untuk istirahat dan mulai bermain lagi di sore hari. Mereka dapat berjemur atau sekadar mandi di laut yang dangkal sambil menunggu panorama matahari terbenam (sunset). Malamnya, mereka meluangkan waktu untuk menyusuri pantai hingga rebahan di pasir sambil menatap langit penuh bintang-gemintang bermusikkan debur ombak yang menderu-deru.

Rute Pantai Tanjung Bira
Pantai Tanjung Bira terletak sekitar 40 kilometer dari Bulukumba, atau 200 kilometer dari Kota Makassar. Perjalanan dari Makassar ke Bulukumba dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum. Tarifnya sebesar Rp 35 ribu. Selanjutnya, dari Kota Bulukumba ke Tanjung Bira dapat ditempuh dengan menggunakan mobil sejenis mikrolet dengan ongkos berkisar antara Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu. Total waktu perjalanan dari Kota Makassar ke Tanjung Bira sekitar empat jam.

Jika berangkat dari Bandara Hasanuddin, bisa langsung menuju terminal Malengkeri di Makassar dengan menggunakan taksi yang tarifnya sekitar Rp 40 ribu. Dari terminal ini bisa naik bus tujuan Bulukumba atau yang langsung ke Tanjung Bira. Di lokasi wisata Tanjung Bira, angkutan umum beroperasi hanya sampai sore. Bagi pengunjung yang harus kembali ke Kota Makassar pada sore itu juga, tersedia mobil sewaan dengan biaya Rp 500 ribu rupiah. “Bisa juga lebih murah dari harga tersebut. Yang penting, mereka pandai menawar saja,” kata Anwar, sopir mobil carteran.

Untuk lebih memanjakan para pelancong, kawasan wisata Pantai Tanjung Bira dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti restoran, penginapan, vila, bungalow, dan hotel dengan tarif mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 600 ribu per hari. Di tempat ini juga terdapat persewaan perlengkapan diving dan snorkeling dengan biaya Rp 30 ribu.

Tersedia juga kamar mandi umum dan air tawar untuk membersihkan pasir dan air laut yang masih lengket di badan. Jika ingin berkeliling di sekitar pantai, tersedia persewaan motor dengan tarif Rp 65 ribu rupiah. Di kawasan pantai juga terdapat pelabuhan kapal feri yang siap mengantarkan pengunjung yang ingin diving ke Pulau Selayar.

Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona
Untuk lebih memberdayakan masyarakat dan memacu kunjungan para wisatawan di kawasan Tanjung Bira, di lokasi ini diselenggarakannya Program Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona. Hadir dalam kesempatan itu Direktur Pemberdayaan Masyarakat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Bakri, Bupati Bulukumba Andi M. Sukri, serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bulukumba. “Masyarakat Tanjung Bira harus betul-betul menjaga kebersihan, keamanan, nyaman, dan keramahtamahan sehingga wisatawan mau datang kembali ke sini,” kata Bakri.

Meski diiringi gerimis, acara Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona itu berjalan meriah dan dipadati oleh ratusan masyarakat setempat dan turis mancanegara. “Pantai Tanjung Bira sangat potensial untuk dikembangkan sehingga memiliki nilai tambah bagi masyarakatnya. Artinya, selain menawarkan keindahan pesona alam, pantai ini juga berpasir putih,” tegas Dwi Yan yang mengaku kali pertama berkunjung ke lokasi tersebut. Hal senada juga dikemukakan aktor Hengky Tarnando. “Sebagai bangsa Indonesia, saya sangat bangga, ternyata banyak tempat yang indah di Bulukumba. Salah satunya, Pantai Tanjung Bira,” ujarnya. Sementara itu, Dewi Lastmi berharap agar pemerintah setempat untuk lebih menyosialisasikan kawasan ini agar lebih dikenal masyarakat sehingga dapat menarik wisatawan untuk bertandang.

Langit mulai cerah ketika rombongan meninggalkan kawasan itu. Tak jauh dari sana, kendaraan berhenti di Desa Tana Beru. Desa ini  bagian dari Kabupaten Bulukumba yang dikenal dengan perahu pinisi. Kebetulan di sana sedang ada pembuatan sebuah perahu pinisi yang memiliki tinggi 13 meter dan panjang 40 meter. Perahu yang terbuat dari kayu besi itu memiliki 12 kamar yang masing-masing enam kamar di atas, dan enam kamar di bawah. “Ini pesanan orang Swiss. Pembuatan perahu ini sudah memakan waktu sembilan bulan. Mungkin bulan September mendatang akan selesai,” ujar Bachtiar, pelaksana pembuatan perahu.

Beberapa menit berselang, kendaraan yang kami tumpangi pun melesat cepat. Dari kejauhan tampak kemegahan perahu pinisi yang tersohor hingga ke mancanegara itu.

Bulukumba, Sulawesi Selatan, 2010

Tidak ada komentar: