Selasa, 26 Juli 2011

Musdah, Agama Harus Membuat Orang Berpikir


Siti Musdah Mulia memperjuangkan Islam yang membuat orang berpikir kritis dan rasional. Ia tak jarang dituding sebagai anggota Jaringan Islam Liberal (JIL). Namun, Musdah tetap konsisten dengan pemikiran keagamaannya.


(I)
“Kali ini Anda beruntung karena dapat guest speaker yang substansial,” kata Andreas Harsono setelah membahas struktur buku Hiroshima karya John Hersey pada 13 Juli 2011 lalu. Andreas kemudian mempertegas melalui salah satu surat elektroniknya kepada kami, peserta Kursus Narasi Angkatan XI, tertanggal 16 Juli 2011.

Andreas Harsono adalah salah seorang pengampu Kursus Narasi pada angkatan kami. Dalam pandangan Andreas, Pantau tak pernah mau mengundang orang yang tidak substansial ke ruang kelas. Pantau selalu mencari orang yang subtansial. Musdah--Siti Musdah Mulia--salah satunya. Dia memang berisi. Dia mungkin tidak populer, tapi dia bukan artifisial.

Andreas melanjutkan, kadang-kadang ada saja usul agar Pantau mendatangkan pembicara yang populer. Misalnya, Seno Gumira Ajidarma, Fira Basuki, dan sebagainya. Mereka bilang, ini penting agar peserta tertarik.

“Kadang-kadang saya tepaksa setuju karena kalah suara. Pantau terpaksa menerima pembicara yang artifisial. Namun, bila saya diminta menentukan guest speaker, saya selalu mengundang orang yang substansial,” tulisnya. 

Surat  elektronik Andreas itulah yang membuat saya dan mungkin juga teman-teman lain tak akan melewatkan momen penting malam itu.  

 “Apakah  kita akan terlambat?” tanya saya pada Pudji Lestari, teman kursus. Gelap mulai merambati kawasan Slipi, Jakarta Barat. Bunyi klakson angkutan umum M-09 memekakan telinga. Saya bertemu Pudji di angkutan umum itu yang  membawa kami ke Yayasan Pantau di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
 “Nggaklah. Nggak macet, kok.”
Mikrolet yang kami tumpangi menerobos kegelapan malam.


Mikrolet yang kami tumpangi menepi. Kami turun. Malam itu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Kendaraan roda dua dan empat mulai memenuhi areal parkir ruko empat lantai. Saya menarik nafas sejenak saat menapaki anak tangga yang ke-20 gedung itu. Itu berarti 22 anak tangga lagi yang harus saya lewati untuk mencapai ruang kursus.  Suasana  ramai.  “Buruan, bro. Aku sejak jam empat sudah di sini,” jelas Luluk Uliyah, teman kursus yang lain, lewat facebook.

Tak seperti hari-hari sebelumnya,  malam itu kursus belum juga  dimulai.  Padahal, jarum jam sudah menuding di angka 19.30. “Ibu Musdah terjebak macet. Posisinya sudah di kawasan Manggala Wanabakti. Kita tunggu saja, ya!” kata Andreas.

Selama menunggu, ada empat aktivitas para peserta yang terlihat. Sebagian para peserta terlihat bercakap-cakap,   sedang asyik membuka laptop, ada juga yang sedang asyik memencet-mencet Blackberry, dan menyeruput teh manis.

Saya, Budi Setiyono, Iman Sirait, dan dua teman lain lebih memilih naik ke lantai atas. Sebuah tempat terbuka yang lumayan luas. Langit membentang. Cuaca cerah. Gedung-gedung pencakar langit dengan lampunya yang terlihat berpendar-pendar. “Biasanya penutupan kelas dilaksanakan di sini. Ada juga yang sekadar iseng untuk melihat pemandangan dari atas,” jelas Budi yang selalu menggunakan kata “senantiasa” setiap kali mengirimkan surat elektronik kepada kami. Budi pengampu yang low profile dan tergolong cool. Bersama Andreas Harsono, mereka pengampu kelas yang tergolong sabar menjawab tiap pertanyaan dari kami.
“Wah, kursus rupanya sudah dimulai, tuh!” seru Budi. Kami pun menuruni anak tangga.
Betul, tamu substansial itu rupanya sudah tiba.

(II)
“SAYA hanya punya waktu hingga pukul 21.30,” jelas Musdah.
“Saya berterima kasih diundang menjadi pembicara di hadapan para penulis muda,”  lanjut Musdah sambil berdiri.
“Ini buku saya yang ke-30. Judulnya, Muslimah Sejati,”  jelas pengajar Program Pascarasarja Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Sebelum masuk ke materi bahasan, perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1958  itu bercerita tentang dirinya. Ia mengaku sejak kecil belajar agama di pesantren keluarganya di Bone. Ia berasal dari keluarga nahdliyin, sebutan bagi pengikut  Nahdlatul Ulama (NU). Selama di pesantren semua serba doktrin, bahkan bertanya pun tidak boleh. Begitu menurut Musdah. Ia sering  mempunyai pertanyaan yang tidak ada jawabannya.

Sejak hijrah ke Jakarta untuk mengikuti program S-2, pemikiran Musdah mulai terbuka lebar, berkat pemikiran-pemikiran Harun Nasution dan Nurcholis Madjid (Cak Nur).  Di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Musdah mengetahui bagaimana perbedaan dosen-dosen dari Timur  Tengah dan Barat mengajar.  Diakui Musdah, para dosen Timur Tengah mengajar seluruhnya berisi hapalan, sedangkan dosen-dosen dari Barat mengajarkan analisis kritis. Mereka mengajarkan metodologi dan mengapa mahasiswa harus menggugat penafsiran.

“Titik balik itu terjadi saat saya memasuki pendidikan tinggi yang mengajarkan nalar dan Islam rasional. Namun, yang menjadi pertanyaan berapa besar umat Islam Indonesia dan dunia yang bisa mengakses pendidikan tinggi yang mengajarkan rasionalitas dalam agama,” kata Ketua Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berikhtiar membangun perdamaian dan keadilan di Indonesia.

“Agama yang dipelajari di majelis taklim itu tidak membuat orang berpikir,” gugat Musdah.
“Agama yang saya dan kawan-kawan perjuangkan adalah agama yang  membuat kita berpikir. Jika  Anda bertanya kepada saya, maka jawabannya  bukan  sekadar halal atau haram. Tergantung konteksnya. Namun, di masyarakat kita jika bertanya jawabannya hanya dua. Halal atau haram,” terang Musdah.
“Jika tidak sorga, ya, neraka. Tidak ada jawaban lain. Agama begitu simple dan sederhana, penuh doktrin,” ungkap Musdah.
“Lalu, bagaimana memahami agama,  Indonesia, dan problem sosial sebagai sebuah bangsa?” tanya Musdah.

(III)
SEMUA peserta yang berjumlah sekitar 20 orang tampak menyimak serius uraian Musdah. Ruangan terasa agak panas, meski pendingin ruangan dihidupkan. Musdah memulai pembicaraan dengan mengatakan bahwa Negara  Indonesia tidak menjadikan agama sebagai landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. ”Itu adalah pilihan yang diambil oleh para founding fathers and mothers kita. Pertanyaannya, kenapa agama tidak dipilih sebagai landasan ideologi?”

“Karena perdebatan yang panjang. Jika dibaca berdasarkan notulensi di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), Ketua BPUPKI Dr Radjiman Wedyoningrat melemparkan pertanyaan kepada anggota, Indonesia yang akan kita dirikan Indonesia yang seperti apa, apa landasan ideologinya? Dari situ kemudian muncul perdebatan yang hangat dan panjang,” jelas Musdah.

Komentar dari para audiens itu terpola menjadi tiga pendapat. Pertama, karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, maka negara ini harus berlandaskan agama Islam, seperti di negara-negara Timur Tengah. Pandangan itu lalu dibantah oleh pendapat yang kedua. Alasannya, meski 82 persen penduduk Indonesia beragama Islam, tetapi secara geografis, tidak ada wilayah di Indonesia yang beragama Islam,  Kristen, Katolik, Hindu, ataupun Budha secara penuh dan murni.  Semua campuran (mix).

Oleh karena itu, ide untuk mendirikan negara berlandaskan Islam merupakan ide yang tidak realistis. Ada juga yang mengatakan kita harus mendirikan agama seperti di Eropa. Sekuler. Agama merupakan urusan privat. Namun, alasan itu pun tak diterima karena sejak zaman kerajaan Indonesia dikenal sebagai negara yang religius. “Ketiga,  kita bukan negara agama, bukan pula negara sekuler, melainkan negara  bukan-bukan,” seloroh Musdah yang disambut derai tawa para peserta. BERSAMBUNG

Tidak ada komentar: