Senin, 10 Oktober 2011

Mochtar Buchori : “Educational Dignity” dan “Educational Road Map”



Teman saya, Oyos Saroso HN, wartawan The Jakarta Post, Bandarlampung, menulis di status facebook-nya : “Innalillahi wa innaillaihi roji’un. Turut berduka atas wafatnya tokoh pendidikan kita, Prof Dr Mochtar Buchori, (85 tahun), Minggu malam (9/10) pkl 19.30…”

Saya  memang kehilangan dengan tokoh pendidikan Indonesia itu. Lelaki kelahiran Yogyakarta, 9 Desember 1926 itu  yang dikenal sebagai penulis yang  kritis dan produktif . Saya hanya mengenal melalui buku-buku dan artikel-artikelnya tentang pendidikan. Salah satu karyanya adalah Evolusi Pendidikan di Indonesia Dari Kweekschool sampai ke IKIP: 1852-1998.

Alumnus Harvard University, Amerika Serikat, itu pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta, Pembantu Rektor Bidang Akademis IKIP Bandung, Direktur Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas Indonesia.

Di antara sejumlah tokoh pendidikan nasional Mochtar Buchori merupakan pendidik yang sangat concern tentang Taman Siswa dan Ki Hadjar Dewantara. Padahal, ia bukan dari keluarga Perguruan Taman Siswa. Namun, ia bukan mengulang kutipan kata-kata Ki Hadjar Dewantara, tetapi menangkap semangatnya. “Kita jangan terseret arus global sehingga hanya menjadi kuli di antara bangsa-bangsa atau bangsa yang terdiri dari kuli. Kita harus sadar siapa kita dan mau ke mana agar optimal dalam pembangunan.”

Saya juga masih ingat dengan salah satu tulisan Mochtar Buchori tentang “Taman Siswa dan Pendidikan Kita” yang pernah dimuat harian Kompas pada Maret 2007 lalu. Dalam tulisannya itu, ia mempertanyakan, apakah yang dapat disumbangkan oleh Taman Siswa untuk ikut mengarahkan proses transformasi pendidikan Indonesia yang kini sedang berlangsung?

Ada dua hal yang mendorong ia mengajukan pertanyaan itu. Pertama, karena Taman Siswa mewarisi kekuatan kultural yang amat besar, yang telah berhasil melahirkan sistem pendidikan yang benar-benar berwatak nasional. Menurut Mochtar Buchori, sistem itu  mampu bertahan dalam masyarakat Indonesia yang telah mengalami berbagai perubahan yang bersifat fundamental dan transformatif.

Kedua, karena dewasa ini sistem pendidikan Indonesia, dalam pengamatan Mochtar Buchori, sedang mengalami kebingungan. Hiruk-pikuk sekitar ujian nasional (UN) hanya merupakan riak kecil dari kebingungan pendidikan. Gejala kebingungan lebih besar tercermin pada masalah “pendidikan alternatif”. Di satu pihak ada beberapa kelompok di masyarakat yang dengan keterbatasannya berusaha memberikan pendidikan kepada anak-anak yang tidak mampu. Di pihak lain, ada pemerintah yang tampaknya mempersulit kehadiran lembaga-lembaga “pendidikan alternatif” itu.

Lalu, bagaimana sikap bangsa kita terhadap masalah anak-anak yang benar-benar tidak mampu? Kita bingung menghadapi masalah ini.

Visi Ki Hadjar

Jika visi dan keberanian besar yang telah melahirkan Perguruan Taman Siswa masih ada sisanya, tentu ada sesuatu yang besar yang dapat disumbangkan Taman Siswa untuk mengatasi kebingungan besar yang sedang kita alami dalam mengarahkan pendidikan Indonesia di masa depan. Itu harapan Mochtar Buchori.

Dalam berharap ini, beberapa sketsa tentang kebesaran visi serta keberanian politik Ki Hadjar Dewantara mengemuka. Ketika Ki Hadjar menyatakan anak-anak Indonesia harus dididik dalam suatu sistem pendidikan yang berakar pada kebudayaan sendiri, bukan pendidikan yang berakar pada kebudayaan Belanda, maka pandangan ini sungguh merupakan suatu ledakan politik yang dahsyat saat itu.

Ketika Pemerintah Hindia Belanda menyatakan di kalangan penduduk Indonesia terlihat adanya kehausan yang amat besar akan kemampuan berbahasa Belanda, dan saat sebagian politisi Indonesia menekankan betapa pentingnya pengetahuan modern yang harus diperoleh melalui pendidikan Belanda, saat itu Ki Hadjar menekankan pandangan sebaliknya.

Modernitas tidak hanya dapat diambil dari Barat dan melalui pendidikan Belanda, tetapi juga dapat diambil dari kebudayaan besar lain, melalui sistem pendidikan yang bisa tumbuh di bumi kultural sendiri. Pandangan ini didukung Dr Soetomo dari Parindra (Partai Indonesia Raya), yang juga menganjurkan dilakukannya reorientasi dalam pengembangan sistem pendidikan Indonesia, antara lain dengan melihat ke Jepang dan Turki.

Menurut Mochtar Buchori, visi besar itu dilanjutkan dengan pendirian Perguruan Taman Siswa yang tidak mau menerima subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda untuk menopang kehidupannya. Juga sikap Taman Siswa terhadap ijazah, mencerminkan keberanian politik yang besar. Taman Siswa tidak membutuhkan ijazah negeri yang dikeluarkan Pemerintah Hindia Belanda. Taman Siswa mengeluarkan ijazah sendiri yang berlaku di semua lingkungan Taman Siswa dan masyarakat yang memiliki sikap politik yang sama dengan Taman Siswa. Jika ada murid Taman Siswa yang ingin memiliki ijazah negeri, itu merupakan urusan pribadi murid itu.

Di Taman Siswa, murid dibesarkan dengan pandangan, orang Indonesia tidak harus memiliki ijazah negeri untuk dapat hidup di negerinya sendiri. Kita tidak harus menjadi pegawai Pemerintah Kolonial Hindia Belanda untuk dapat hidup secara layak.

Saat itu Mochtar Buchori murid sebuah sekolah Muhammadiyah yang tidak disubsidi. Suasana yang amat dominan di sekolah ialah bagaimana caranya meningkatkan mutu pendidikan berdasar program pemerintah agar sekolah dipandang layak mendapat subsidi Pemerintah Hindia Belanda. Kemudian di sekolahnya selalu ditekankan, betapa pentingnya memiliki ijazah negeri dengan jalan ikut mengikuti ujian negara (staatsexamen) sebagai peserta ujian dari luar (extranea). Hanya dengan ijazah negeri kami akan diterima di sekolah-sekolah yang menjanjikan masa depan yang baik.

Pikiran Mohammad Said

Sungguh besar perbedaan suasana antara di Taman Siswa dan sekolahnya. Anehnya, saat itu, ia merasa lebih mentereng sebagai siswa Muhammadiyah tak bersubsidi daripada teman-teman murid Taman Siswa. Dalam kesadaran politik, rasa nasionalismenya  tak lebih rendah daripada yang diperlihatkan teman-teman dari Taman Siswa. Dalam penguasaan bahasa Belanda Mochtar Buchori merasa lebih baik. Kemampuan bahasa Belanda kebanyakan teman-temannya dari Taman Siswa plegak-pleguk, tertatih-tatih.

Pandangan dan sikap pribadi Mochtar Buchori terhadap Taman Siswa pada dasarnya tidak berubah, sampai  Mas Koko--begitu ia akrab menyapa Soedjatmoko--memperkenalkannya kepada Mohammad Said. Di situ ia lihat kebesaran semangat Taman Siswa memancar dari pikiran-pikiran Mohammad Said.

Pertemuan  bertiga itu berlangsung berulang-ulang dan selalu di rumah Soedjatmoko. Melalui diskusi-diskusi, ia mulai mengenali pola-pola pikir Mohammad Said tentang pendidikan Indonesia. Baru kemudian ia sadar, aneka pertemuan itu rupanya sengaja dirancang Bung Koko untuk mempertemukan Mochtar Buchori sebagai seorang novice dalam pendidikan dengan veteran yang telah bertahun-tahun menggeluti masalah pendidikan Indonesia.

Mochtar Buchori mengatakan banyak belajar dari Mohammad Said. Misalnya, bagaimana menghadapi tekanan politik untuk mempertahankan otonomi dalam menyelenggarakan pendidikan; bagaimana menarik garis pemisah antara sikap politik dan sikap kultural; dan bagaimana menerjemahkan sikap ini dalam praktik pendidikan. Dan yang amat penting bagi Buchori, bagaimana menegakkan keanggunan pendidikan (educational dignity) dalam keterbatasan sarana. Berbagai pertemuan Mochtar Buchori dengan Mohammad Said terjadi antara tahun 1963-1965, tahun-tahun terakhir pemerintahan Bung Karno.

Ketika Mohammad Said diangkat sebagai Menteri Pendidikan dalam pemerintahan Presiden Soeharto—hanya selama tiga bulan—suatu hari di depan kantor Kementerian PPK terjadi demonstrasi pelajar yang mau “mengganyang” Soekarnoisme. Mohammad Said keluar dari kantor, menghadapi para pelajar seorang diri, dan berteriak, “Ya, saya soekarnoist. Kalian mau apa?” Demonstrasi pun bubar. Bagi Buchori, episode ini menunjukkan betapa besarnya keberanian politik Mohammad Said sebagai seorang pribadi Taman Siswa.

Tiga Kebingungan

Dalam pandangan Mochtar Buchori, kebingungan pendidikan kita kini merupakan akibat kebingungan politik. Kedua kebingungan itu lahir dari kebingungan kultural. Tiga jenis kebingungan ini letaknya berbeda-beda dalam ruang kehidupan kita. Kebingungan politik merupakan masalah hilir, masalah yang kini terjadi dan harus segera diselesaikan. Sumbernya adalah kebingungan kultural merupakan masalah hulu, yang cara penanganannya harus berbeda dari penanganan masalah hilir.

Intinya, kita harus berani memutuskan, kita akan menjadi bangsa yang bagaimana? Kita akan membentuk negara dan masyarakat yang bagaimana? Jika sudah memutuskan, kita mulai melakukan langkah-langkah yang secara programatik menuju sasaran tadi.

Kita, para penyangga pendidikan, kata Mochtar Buchori, adalah pemain-pemain kehidupan yang bekerja di bagian hulu. Kita masing-masing harus menentukan, ingin menjadi bangsa yang bagaimana dan ingin menegakkan kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang bagaimana. Ini harus merupakan keputusan pendidikan yang harus diambil, bukan sesuatu yang didiktekan oleh para pemain di hilir, yaitu politisi.

Bagi Mochtar Buchori, alangkah indahnya jika Taman Siswa sebagai pewaris kekuatan kultural yang besar dalam pendidikan dapat menunjukkan peta perjalanan (educational road map) yang dapat ditempuh bersama untuk mengantar generasi muda ke suatu kehidupan yang lebih santun, lebih cerdas, dan lebih manusiawi daripada apa yang kita jalani bersama kini.

Selamat jalan Pak Mochtar Buchori!

Selasa, 04 Oktober 2011

Karangmulya


KARANGMULYA adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Karang Tengah, Tangerang, Banten. Wilayah itu dihuni 17 ribu orang berdasarkan Sensus Penduduk 2010. Namun, menurut pendataan yang dilakukan pihak kelurahan sendiri penduduk desa itu berjumlah 14 ribu per Agustus 2011. Dengan komposisi  jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang berimbang. Sementara jumlah pemilih untuk Pemilihan Gubernur Banten pada 22 Oktober 200 mendatang berjumlah 10.890-an orang.

Sebagian besar penduduk Karangmulya  berprofesi sebagai petani tanaman hias. Mulai dari soka, kamboja, pucuk merah, jambe, serta aneka tanaman lainnya. Ada juga yang berprofesi sebagai guru ngaji, guru, pegawai negeri sipil, anggota DPRD, dan sebagainya.

Dari  217 hektare, Karangmulya terdiri atas 13 Rukun Warga (RW) dan 58 Rukun Tetangga (RT).  Dari 13 RW yang ada,  di empat  RT terdapat beberapa perumahan, yaitu ; Villa Meruya, Bumi Permata Indah, Metro Permata I dan II, dua perumahan departemen,  Departemen Dalam Negeri (DDN) dan Departemen Kehutanan, serta Perumahan Unilever.

Soal nama Karangmulya dipungut karena terdapat batu berbentuk karang yang berada di tengah persawahan kala itu. Persisnya terletak di Kavling Departemen Dalam Negeri (DDN). Sementara itu, penempatan kata “mulya” setelah kata “karang” karena di daerah itu  terdapat banyak alim ulama atau orang-orang yang dimuliakan. Versi lain menyebutkan desa itu awalnya dinamakan “Karangantu” karena banyak orang meninggal akibat peristiwa kriminal yang dibuang ke  Kali Centiga yang mengalir dari Karangmulya hingga ke Kali Angke di Parung Jaya.

Lokasi Karangmulya dibatasi oleh lima kelurahan. Di sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Kembangan Selatan. Di selatan dibatasi Kelurahan Karang Timur, di barat dibatasi kelurahan Parung Jaya dan Pondok Pucung, sedangkan di sebelah timur dibatasi Kelurahan Meruya Utara dan Meruya Selatan.

Sejak pemekaran hingga kini sudah tujuh orang yang menjabat sebagai Lurah Karangmulya. Mereka adalah H. Rauf Mukli, H. Sukanta, Asman Abdullah, H. Muhammad Natsir Sidik, H. Syarifuddin,  Mauludin Supakat. Sementara itu wakilnya adalah Nasan Musa dan Supangat. Dua orang dari mereka diganti akibat meninggal dunia dan stroke, yaitu ;  H. Muhammad Natsir Sidik dan H. Syarifuddin.
 
Berdasarkan Pemilu 2009, ada lima besar partai yang meraih suara signifikan di kelurahan tersebut ; Demokrat, Golkar, PDI-P, PAN, dan PPP. Di luar itu, terdapat organisasi sosial  dan keagamaan, seperti Forkabi, pesantren, majelis taklim, masjid, dan musala.

Di kawasan ini terdapat banyak jalan yang menggunakan nama orang atau tokoh masyarakat sekitar. Seperti Jalan H. Salip, H. Zakaria,  Daud, H. Samad, Minan Japu, H. Sumin, H. Berit, Abdullah, H. Daih, H. Preman, dan H. Naim, serta satu jalan   provinsi yang bernama Jalan Raden Saleh.

“Urusan penamaan jalan yang ada itu resmi usulan dari warga. Penamaan jalan itu juga karena saat itu banyak keluarga atau keturunan mereka  yang tinggal di lokasi  jalan tersebut. Umumnya, mereka berasal dari keluarga berada, kata Muhammad Saman.

Saman merupakan satu dari 17 ribu penduduk yang tinggal di Karangmulya.

Wajahnya terlihat letih. Jaket kulit hitam membalut tubuhnya yang agak gemuk. Mengenakan sarung warna hitam, ia duduk bersila di atas kursi didamping kawannya, Hamdani, 38 tahun. Cuaca dingin membekap kawasan Vila Sakina, Hangjawar, Cipanas, Jawa Barat, awal September 2011. “Saya masuk angin sejak kemarin. Cuaca mulai dingin,” terangnya sambil menarik kerah jaket.

Saman merupakan tenaga kerja sukarela (TKS) pada Kasie Pemerintahan Kelurahan Karangmulya. Ia bekerja sejak tahun 1996, tapi hingga kini masih berstatus  TKS, bersama enam rekannya. Ia mengatakan sempat dijanjikan menjadi PNS pada 2010 lalu oleh Walikota Tangerang Wahidin Halim dan sudah didata Badan Kepegawaian Nasional melalui Badan Kepegawaian Daerah Kota Tangerang.  “Namun, hingga saat ini realisasi itu belum terlaksana,” keluh Saman.

“Sampai kapan saya harus menunggu?”

Selasa, 27 September 2011

Mutiara di Tengah Rimba Cendrawasih


Oleh KOMARUDIN

I

JOGOTRUNAN terletak di jantung Kota Lumajang, Jawa Timur. Sepertiga desa itu adalah rumah-rumah penduduk, sisanya sawah yang membentang. Ketika terminal bus masih berada di pusat kota, banyak bus seliweran  melintasi kawasan itu jika hendak menuju  ke  Surabaya, Jember, Banyuwangi. Namun, saat terminal itu pindah ke Sukodono, sisi utara Kota Lumajang, tempat itu tak lagi ramai.  Jogotrunan  terletak  743 kilometer dari Jakarta dan 112 kilometer dari Surabaya.

Di desa itu, 39 tahun lalu, seorang bayi perempuan lahir.  Oleh orang tuanya, Miskatam dan Misnatun, bayi itu disematkan nama  Arab “Luluk Uliyah”. Dalam bahasa Indonesia  nama tersebut  bermakna “mutiara yang tinggi”.  

Suatu siang Miskatam dengan becaknya mangkal di depan kantor Kabupaten Lumajang di Jalan Alun-alun Lumajang. Di sana ia  berkenalan dengan Suwandi, Bupati Lumajang. Ia adalah seorang yang low profile. Ia sering menyamar sebagai penumpang  becak Miskatam saat   keliling  memantau suasana wilayah, baik siang maupun malam. Hubungan bupati dan pengayuh becak itu pun kian dekat. Suwandi kemudian memberi bantuan  proyek sapi perah kepada Miskatam sebanyak 44 ekor karena  mampu  memelihara sapi.

Kondisi itu pula yang membuat  Luluk dan keluarga akrab dengan sapi, bahkan hingga ia duduk di bangku SMA.  Miskatam dan Misnatun selalu membangunkan tujuh orang anaknya  tiap pagi. Suasana rumah ramai. Suwati, neneknya, sering marah dan berharap mereka tak berisik. Ia tak ingin mengganggu ketenangan tetangga sebelah.

 “Kamu itu nggak tahu, tetangga kita priyayi,” bentak Suwati seperti ditirukan Luluk.

“Kita ndak perlu priyayi. Kita itu butuh makan,” sungut Miskatam.

Grumpreng! Bunyi pintu rumah yang terbuat dari seng ditutup. Suasana rumah Miskatam tampak senyap. Semua penghuni telah meninggalkan rumah. Mereka mengayuh sepeda, kecuali Luluk dan ibunya, Misnatun. Mereka  berjalan kaki  menuju  peternakan sapi  yang berjarak 500 meter yang berada di tengah sawah.

“Sebelum berangkat ke sekolah pekerjaan saya mengurus sapi,” terang Luluk dengan wajah sumringah.

Miskatam  beri Luluk satu anak sapi. Ia harus bertanggung jawab mulai dari membersihkan, memerhatikan minum,  makan,  hingga selesai  menyiapkan buburnya. Anak sapi yang baru lahir itu hidup dipisahkan untuk belajar menyusui.  Ia menggigiti tangan Luluk. 

“Kamu harus belajar dari yang kecil, baru nanti yang besar.”  

“Saya  ingin langsung memerah.”

“Nggak bisa. Kamu harus belajar dari yang kecil.”

Berhasil mengurus sapi kecil, Luluk diberi sapi besar, tetapi yang paling pendiam. Setelah mahir membersihkan pantat sapi, ia kemudian beralih membersihkan puting susunya. Jika  sudah mahir keduanya, ia diizinkan  memerah susu.

“Saya memerah sapi itu sejak SD hingga SMA.”

Sejak itu, Luluk dan  Misnatun bertugas manajerial dalam, seperti mengurus penjualan jika ada pembeli yang datang.  Sementara Miskatam bertugas sebagai pengantar. Itu sesuai jenjang. Kakaknya yang terbesar mengantar yang paling jauh, menengah, sedangkan Luluk sendiri mengantar yang terdekat dan dapat ditempuh dengan jalan kaki.

 “Jam setengah tujuh saya harus kembali ke rumah. Persiapan berangkat ke sekolah.”

Miskatam mendidik ketujuh anaknya dengan disiplin dan keras. Di kampung halamannya di Jogotrunan, sejak kecil Luluk tak punya waktu untuk bermain. Para tetangganya menyebut mereka sebagai “manusia kerja”. Luluk pun jarang main ke rumah tetangga. Kalau pun main, itu hanya sebentar. Ia lalu dipanggil oleh Miskatam diajak belajar ngarit. Miskatam tak suka anak-anaknya bermain. Salah seorang kakaknya pernah berseloroh, “kita itu ikut Jepang karena harus rajin.”

II

RUMAH itu  bertingkat. Dibangun di  atas tanah seluas 190 meter persegi. Luas bangunan semi permanen itu 4 x 8 meter persegi terbuat dari bambu. Di sebelah rumah itu mengalir anak Sungai Bedadung berair jernih. Orang menyebutnya Kali Mastrip. Letaknya di Jalan Mastrip, Desa Sumbersari, Jember, Jawa Timur, tak jauh dari Politeknik Universitas Negeri Jember. Rumah itu seperti tempat peristirahatan bagi keluarga Miskatam. Hawanya segar laksana di pegunungan. Sumbersari  merupakan salah satu ikon konservasi di Jawa Timur, terutama di Jember.

“Orang tua saya beli tanah itu dan membangun rumah dari bambu. Karena lima orang saudara saya kuliah di Jember. Kami tinggal di sana. Rumah saya seperti sekretariat. Tempat  mangkal para mahasiswa. Ramai,” jelas Luluk.

Luluk merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Mereka adalah Muhammad Hidayat, Muhammad Baron, Muhammad Basri, Luluk Uliyah, Muhammad Suhadak, Islamiyah, dan Faizah. Selain sebagai pengayuh becak, ayahnya sempat menjadi penjual telor ayam, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Meski petani, Miskatam  mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.

Kesedihan dialami Luluk saat kakak tertua dan ibunya tutup usia. Mereka meninggal dunia hampir berbarengan di hari yang sama sekitar tujuh tahun lalu. Muhammad Hidayat  menghembuskan nafas terakhir beberapa saat sebelum ibunya.

“Kata orang-orang, sih, ibu saya sempat berujar, jika kakakmu meninggal, saya akan  ikut. Ternyata, benar,” terang Luluk.

Saat peristiwa kematian itu,  Miskatam tengah berada di Jember.  Namun, ia  tutup mulut dan tak memberitahu anak-anaknya.

 “Aku mau ke Jember menengok kakak,” Miskatam beralasan seperti ditirukan Luluk saat itu.

Saat Miskatam berangkat dan tiba di sana, istri tercintanya   pun meninggal. Ia harus bolak-balik Jember-Lumajang yang dapat ditempuh selama tiga jam.

Selain ditinggal Muhammad Hidayat, peristiwa berat lain yang dihadapi Luluk dan keluarga  saat rumahnya  di Jember dilumat si jago merah. Siang itu pada 2007, seorang warga tak dikenal membakar daun-daun bambu kering di pinggir sungai. Setelah itu, ia pergi. Cuaca terik. Angin berhembus kencang. Si jago merah merambat ke atas hingga menghanguskan  rumah bambu itu. Saksi mata yang berada di tempat kejadian, Bambang. Ia lalu lapor ke Baron. Saat kejadian itu Luluk   sudah di Jakarta.

“Bapak tak diberitahu, khawatir ia shock.”

“Namun, ia akhirnya mengetahui  peristiwa itu. Sekarang ia bisa menerima kejadian itu.”

“Ada rencana rumah itu akan dibangun kembali oleh kawan-kawan. Bapak sudah menyiapkan bambu-bambunya yang akan diambil dari desa Kabuaran, Kunir, Lumajang.”

III

SINAR matahari sore masih terasa terik. Suasana Jalan Mampang Prapatan tampak lengang. Tak banyak kendaraan yang melintas. Dengan antusias Luluk kemudian menceritakan perjalanan  hidupnya hingga ia terlibat dalam organisasi masyarakat sipil. 

Luluk menegaskan, ia masuk ke dunia aktivis tanpa ada yang mengajak. Saat menjadi mahasiswa di Jember ia kenal dengan kawan-kawan yang concern dengan konservasi, seperti Walhi Jatim, Pendidikan Lingkungan, kegiatan pencinta alam di Jakarta, Burung Indonesia, Telapa. Dari situ pengetahuan Luluk tentang konservasi kian bertambah.

“Ketertarikan  saya dalam dunia organisasi masyarakat sipil mulai saya rintis saat kuliah. Saya kuliah ikut pecinta alam pada 1995, sedangkan masuk kuliah pada 1994.”

Saat mendaki pegunungan Hyang Argopuro, Luluk dijelaskan bahwa  naik gunung tidak sekadar mendaki dan menikmati pemandangan,  melainkan pula  ada wacananya. Karena Luluk dari Jurusan Pertanian, maka harus   dihubungkan dengan mata kuliahnya agar tak sia-sia.  Misalnya,  di kawasan itu terdapat  plasma nutfah dan bagaimana cara mengenal vegetasi. Ada berapa vegetasi, jenis-jenisnya, tinggi, serta kanopinya. Luluk menuliskan itu sambil berjalan menghirup udara segar. Ia juga diajarkan tentang analisis burung. Mulai dari nama burung, jenis, suara, warna sayap dan ukurannya, kemudian dicocokkan dengan yang ada di bukunya. Luluk dan kawan-kawan sering bekerja sama  dengan Burung Indonesia, dulu Bird Life.

Luluk  hijrah ke Jakarta pada  Februari 2000 untuk melanjutkan studi di Jurusan Antropologi, Program Pascasarjana Universitas Indonesia.  Namun, ia hanya mampu bertahan selama tiga semester akibat kehabisan dana.

“Bapak setiap menelepon minta duit. Akhirnya, terjadi dilema antara meneruskan sekolah dengan mencari kerja,” kata Luluk  di kantor Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), Mampang Prapatan II/30, Jakarta Selatan, lima hari jelang Lebaran.

“Sebenarnya, saya tinggal menyusun tesis, tetapi tidak selesai. Saat itu  uang kuliah masih murah. Hanya tiga juta, tetapi sekarang sudah sepuluh juta.”

 “Saat itu  saya nggak punya strategi. Mau ambil tesis apa, ya?”

“Akhirnya, keburu stres. Cari kerja aja, deh.”

“Kebetulan di keluarga inti juga sedang kolaps. Keenakan cari duit, eh, lupa melanjutkan kuliah.”

Saat  jobless pada 2002, ia diminta untuk membereskan perpustakaan Jatam oleh Siti Maimunah—sekarang Koordinator Jatam. Ia merapikan buku-buku yang berserakan selama tiga bulan. Kemudian  ia kumpulkan  di satu tempat.

Ia lalu gawai di Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) untuk program Rancangan Undang-undang Pengelolaan Sumber Daya Alam (RUU PSDA) sekitar 8 bulan.  Setelah itu, ia bergiat di  Jatam sebagai Staf Administrasi sekitar 5 tahun.  Dari Staf Administrasi ke Manajer Office, Manajer Publikasi, Manajer Sektretariat, terakhir sebagai Manajer Penggalangan Sumber Daya Publik.

Luluk melakukan hubungan internal, termasuk jaringan di tingkat nasional. Ia selalu hadir, jika ada undangan rapat, kampanye, yang sekupnya di tingkat Jakarta. Dari situ ia kemudian mengenal beragam kawan dari jaringan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Kehati, Pantau, dan sebagainya. 

 “Delapan bulan  lalu, saya masih bekerja di Jatam. Alasan utama saya pindah dari Jatam ke Satu Dunia untuk menambah wawasan baru,” jelas Luluk.

IV

SUASANA rumah yang difungsikan sebagai kantor itu terlihat sepi. Luluk melangkah lambat memasuki rumah bercat putih. Ia lalu duduk bersila di atas tikar lampit, buku catatan dan pulpen hitam di letakkan di atas meja setinggi sekitar 30 sentimeter.  Di sebelah kanan terdapat kipas angin yang sedang berputar.

“Sekarang saya bekerja di Satu Dunia  menangani Isu Lingkungan dan Perubahan Iklim,  tetapi  masih berkaitan dengan isu sumber daya alam.  Namun,  saya lebih fokus menulis, meng-capture pengetahuan  agar bisa ditransformasikan,” ujar perempuan berjilbab itu.

Satu Dunia merupakan lembaga yang fokus dalam  pertukaran pengetahuan di antara organisasi masyarakat sipil (OMS).  OMS kadang-kadang tak sadar  punya banyak pengetahuan. Namun, ketika salah satu pekerjanya pindah, maka pengetahuan  yang mereka miliki pun menyusut.  Luluk mencontohkan dirinya saat pindah dari Jatam ke Satu Dunia. Untuk mengatasi itu,   ia memperkenalkan kepada teman-teman di Jatam bagaimana mengelola media, berhubungan dengan wartawan, dan apa yang harus dilakukan dengan publik terkait dengan informasi.

“Itu saya lakukan  agar saat saya keluar, mereka tidak gagap dengan informasi tersebut.”

Meski telah pindah tempat kerja,  hubungan Luluk dengan Jatam berjalan baik. Hal itu bisa dipahami, karena semasa bekerja di Jatam, ia  sering berhubungan dengan Satu Dunia. Begitu pun sebaliknya. Misalnya, ia menjadi  narasumber tentang apa  yang harus dilakukan internal organisasi non pemerintah (Non-Governmental Organizations) untuk menguatkan informasi yang mereka miliki. Ia juga tetap diikutsertakan jika membicarakan isu Lapindo dan kampanye-kampanye yang dilakukan Jatam.

 “Jadi, saya sebenarnya tidak  pindah karena tugas saya nggak jauh beda saat di Jatam.”

Luluk tertawa saat disinggung mengenai keluarga. Tangan kirinya memutar-mutar pulpen hitam. Ia mengatakan menikah dengan Abdul Salam, teman  kuliah di Universitas Indonesia. Ia kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka terpaut usia dua tahun. Saat ini suaminya bekerja sebagai peneliti independen.  Dari perkawinannya mereka dikaruniai dua anak : Rizki Rimba Ramadhan dan Nur Intan Cenderawasih.

Sebelum berangkat ke kantor, ia harus mengurus, mengatur makan, mengantar ke sekolah, dan menunggu anaknya di Madrasah Ibtidaiyah   Al-Khairiyah, Mampang, Jakarta Selatan. Ia baru berangkat ke tempat kerjanya di Tebet, Jakarta Selatan, tiap pukul 10.00. “Jam sepuluh belum ada aktivitas, maka saya fokus mengurus anak. Saat anak masih TK, saya nungguin,” katanya.

Suatu kali Luluk terbang ke Hyderabad, India, pada 16-19 Maret 2009. Ia harus menghadiri workshop Women and Mining Conference (Konferensi Perempuan dan Tambang) mewakili Siti Maimunah Koordinator Jatam yang tak bisa hadir.  Hari pertama ditinggal Luluk, Rimba menggigit tangan gurunya, Nurfah. 

“Dari situ saya dipesan, Rimba datang ke sekolahnya kalau mamanya sudah pulang saja,” kata  Lulu tertawa.   

Ia terlalu aktif dan perlu perhatian penuh. Tak mau menulis dan sering mengambek. Akibat terlalu aktif, Luluk terpaksa harus masuk ke sekolah. Jika tidak, ia akan mengganggu teman-temannya.

“Saya akhirnya diminta masuk ke dalam sekolah. Setahun saya sekolah lagi,” kenang Luluk tersenyum.

“Setiap minggu saya juga menerima panggilan dari sekolah.”

“Bu, anaknya nggak mau nulis. Rimba main terus, pekerjaannya nggak selesai,” Luluk menirukan ucapan seorang guru. Luluk tertawa.

Sekarang Rimba masih seperti itu, meski usianya sudah 8 tahun dan duduk di bangku kelas III SD. Berbeda dengan Nur Intan Cendrawasih. Usianya empat tahun, tiga bulan. Ia lebih mudah dikendalikan dan pendiam. Ia tak mau menegur, jika tidak ditegur lebih dulu. Ia senang di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), tak mau di Taman Kanak-kanak (TK). Hati Luluk luluh.

“Saya  fokus dengan keluarga karena bagaimana pun mereka tetap nomor satu. Jika  kerja waktu libur, saya kadang-kadang ajak Rimba dan Intan.”
  

Jumat, 26 Agustus 2011

Sehari dalam Kehidupan Kasiani


Oleh KOMARUDIN

I
Sebagai tempat kedudukan pemerintah, Jakarta nampaknya menjanjikan akan membawa kemakmuran dan menawarkan harapan baru bagi para pendatang.  Namun, setelah 52 tahun tinggal di Jakarta telah membuat ia frustrasi karena gagal menjadi tempat yang lebih baik. Tak hanya menyangkut banjir dan kemacetan, masalah perumahan juga menjadi persoalan. Di usia senja ia telah menyerah dan tak lagi banyak berharap. Kasiani, salah satunya.

Bersama keluarga ia tinggal di sebuah ruangan berukuran  4 X 7 meter persegi di Blok A, Rumah Susun Harum, Tebet, Jakarta Selatan.  Ruang itu kemudian dibagi dua  bagian : atas dan bawah. Di bawah ia tempati  bersama menantu dan tiga cucunya, sedangkan di atas di tempati empat orang anaknya, sedangkan anak yang lain tinggal bersama  keluarga mereka di daerah Jakarta Timur dan  Bekasi.  

Berbeda dengan kios penghuni  rumah susun  lain, dapur Kasiani berada  di samping kanan kiosnya. Jika melongok ke dalam ruangan  berukuran 2 X 3 meter  itu terdapat tempat cuci piring, masak, piring, sendok, garpu, teko, termos, penanak nasi, serta satu boks tempat menyimpan tisu, teh, lilin, dan minuman suplemen.  Sesak. Di sebelahnya ada ruang berukuran 2 x 2 meter. Di dalamnya terdapat kulkas rusak merk Daiichi setinggi 1,80 meter, dua meja, serta bangku panjang.
“Ya, beginilah tinggal di rumah susun. Apalagi, buat orang seperti saya yang mempunyai banyak anak,” keluh Kasiani di Jumat pagi yang mendung tanggal 29 Juli 2011.

Wajah Kasiani yang tirus itu  letih.  Tulang rahang  dan dagunya yang  panjang  terlihat menonjol. Kulit mukanya yang kering mulai keriput.  Kini, dagu Kasiani pun bergelambir dengan jakun agak  menonjol. Sementara alis matanya yang berbentuk bulan sabit dengan lengkungan  tajam di bagian pelipis mulai memutih. Begitu pun dengan rambutnya yang ditutup dengan turban hitam. Namun, deretan gigi perempuan bertubuh kurus dan jangkung itu  terlihat utuh.  Di usia 72 tahun  pendengaran Kasiani  menurun drastis. Para tetangga atau tamu harus mengulang hingga dua kali jika berbicara dengannya atau  harus berbicara dari jarak dekat.

“Teman-teman saya sudah nggak  ada. Mereka sudah meninggal dunia,” jelas Kasiani. Tangannya yang kurus dengan urat yang menonjol itu lalu menggunting ujung bungkus kopi Kapal Api. Kres.  Ia  menuangnya ke dalam gelas putih yang diletakkan di atas gerobak bercat cokelat. Ia lantas mencampur dengan air panas dari termos. Ting, ting, ting. Bunyi gelas beradu sendok.

Kasiani  menyodorkan segelas kopi yang telah dipesan tetangga dan meletakkannya  di atas  meja cokelat di sebelah kirinya. Wangi kopi menguap.  Tubuh Kasiani terus bergerak. Semenit kemudian satu per satu   tangan kanannya  meraih piring,  sendok, dan gelas kotor untuk dicuci.  Tak jarang ia juga mencuci pakaian kotor cucunya,  Ajeng Thalia Ramadhani, 11 bulan.

“Kalau dia sudah bangun, saya  nggak bisa berbuat apa-apa.”

“Jadi, pagi-pagi saya harus sudah membereskan pekerjaan dapur,” kata Kasiani sambil mengangkat ompreng berisi air untuk dijerang di dapur untuk Ajeng mandi.

Beberapa menit  Kasiani sudah   tampak sibuk menenteng ember plastik merah berisi air yang ia ambil dari kran cuci piring. 

“Mumpung Ajeng masih tidur.  Saya mau menyiram tanaman.”

“Sudah seminggu pohon-pohon palem itu nggak  saya siram.”

Selesai menyiram pohon-pohon palem, ia menenteng sapu lidi dari dapur. Ia  membersihkan puntung rokok, kertas, dan plastik-plastik yang  berserakan di depan rumahnya. Orang sembarang membuang sampah. Halaman itu memang disediakan untuk penghijauan. Luasnya hanya sekitar 3X15 meter yang berbentuk   memanjang. Beralaskan plastik  putih ia memunguti sampah-sampah kemudian menaruhnya. Sepuluh menit kemudian ia menyeret bak sampah plastik merah ke tempat pembuangan sampah  sekitar 50 meter dari kiosnya.

Sesekali ia menyapa penghuni rumah susun. Ia kemudian mencuci kedua tangannya. Sejenak ia meraih bungkusan plastik putih berisi brokoli, tomat, dan wortel. Ia membersihkan satu per satu, sebelum mencucinya. Ia ingin buat bubur untuk Ajeng.

“Ini bahan makanan untuk Ajeng. Setelah semua diparut, biasanya saya campur dengan ati ayam atau ceker. Lalu, saya beri garam dan keju agar buang air besarnya tidak keras,” katanya sambil masuk ke dapur.

Saat keluar ia  menenteng  parutan yang terbuat dari alumunium. Tangan kiri mencengkram ujung parutan yang ia tumpukan pada piring plastik putih. Belum lagi pekerjaan itu selesai, ia langsung lompat masuk ke dalam kios saat mendengar suara tangis bayi.

Dibantu anaknya, Wawan, Kasiani menyiapkan air hangat lantas menuangkannya ke bak warna biru. Ia lalu membuka kaos kaki putih, baju, dan celana Ajeng. Sambil memegang tubuh Ajeng, ia lantas  mencelupkan kaki cucunya itu ke dalam air. Tubuh Ajeng terlihat menggigil.
“Ayo coba lari,” kata Kasiani sambil tersenyum.

“Sabunnya dimakan tikus, ya, De.”

“Tikus lapar ya, De.”  

Kegiatan rutin yang biasa Kasiani lakoni.

II
KASIANI  lahir di Wonokromo, Jawa Timur, pada tahun 1939. Ia mengatakan lupa tanggal dan bulannya. Oleh orang tuanya, ia dibesarkan di Probolinggo. Di sana Kasiani sempat duduk di Sekolah Kepandaian Putri  (SKP) setara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Namun,  ia tak selesai akibat terbentur biaya.
“Ayah saya seorang pejuang dari Angkatan Laut, tapi meninggal di Yogyakarta pada tahun 1945-an.  Kalau ayah saya hidup saat itu, mungkin hidup saya nggak kebelangsak seperti sekarang.”

Pada   1959 ia hijrah ke Jakarta akibat kondisi ekonomi.  Dalam studi Susan Blackburn menyebutkan bahwa pada akhir masa perjuangan merebut kemerdekaan, kondisi ekonomi Indonesia sangat buruk : produksi sangat rendah dan barang yang tersedia hanya sedikit. Sebagai tempat kedudukan pemerintah nasionalis baru yang telah menjanjikan bahwa kemerdekaan akan membawa kemakmuran, Jakarta nampaknya menawarkan harapan baru bagi para penduduk pedesaan. Di Jakarta, Kasiani  menetap bersama pamannya, Moeldjo Soedjoko, yang pernah bekerja di Kostrad  di kawasan Guntur, Jakarta Selatan. Kasiani sempat mengenang awal-awal perpindahannya ke Jakarta ketika ia harus  makan bulgur akibat tak ada beras.

Di  Jakarta,  Kasiani bertemu lelaki bernama Abdul Chaer  asli Jakarta. Lelaki yang akrab disapa Dudung itu merupakan  penjual ikan hias di rumahnya di Kampung Bali, Matraman, Jakarta Timur. Mereka  menikah dua bulan kemudian. Seingat Kasiani ia menikah pada 1962. Mereka menikah  tanpa proses yang berbelit dan berjalan lancar. Setelah menikah, mereka kemudian sepakat untuk mengubah profesi menjadi penjahit.

“Saat menikah usia saya baru 20 tahunan. Setelah menikah saya beli mesin jahit dan mesin obras,” terang Kasiani.

“Sebenarnya, saat muda tubuh saya sekel. Nggak  seperti sekarang. Kurus,” katanya sambil tangan kanannya menunjuk ke kepala.

“Banyak pikiran. Waktu Bapaknya anak-anak masih hidup, saya nggak pernah ngomel.”

“Semasa suami masih hidup, kami merupakan  penjahit panggilan. Saya pernah menjahit di kawasan Senopati, Kebayoran, dan lain-lain. Jadi, saya pintar menjahit. Tapi sejak suami meninggal, aku sudah nggak menjahit lagi. Anak-anak saya pun nggak ada yang meneruskan usaha saya.”
“Pernah juga buat warung nasi, tapi bangkrut. Karena uangnya digunakan untuk makan sehari-hari,” terangnya.

Rosmala, menantu Kasiani,  pernah menawarkan mertuanya itu untuk membuka warung nasi. Namun, Kasiani menolak.  Ia khawatir Ajeng tak terurus. Sudah lebih tujuh bulan Rosmala menitipkan Ajeng kepada Kasiani.

“Saya lebih senang mengurus cucu.”

Soal nama, Kasiani  punya kisah sendiri. Ia bilang lebih sering dipanggil Bu Dudung, bukan Kasiani. Nama Dudung disematkan  dari nama panggilan suaminya, Abdul Chaer, yang akrab disapa Dudung.  Sejak suaminya meninggal dunia pada 1996, nama Dudung itulah yang kemudian melekat padanya.

“Sampai saat ini orang selalu memanggil saya Bu Dudung.”

Dari perkawinannya dengan Abdul Chaer,  Kasiani punya 13 orang anak. Namun, dua orang meninggal dunia. Anak  ke-7 dan ke-11 ; Uni Irawati dan Dora. Kasiani lalu menyebutkan nama ke-13 anaknya. Mereka  adalah Cecep Royani, Edy Kuswara, Wiwi Khaeriyah, Yuyu Khaeriyah, Uus Yulizar,  Iwan Kuswantoro,  Uni Irawati,  Erni Hartini,  Dinuk Erwansyah,  Wody Agung Sudewo, Dora, Deddy Priatna, Yudy Pranajaya.  Mereka berpendidikan hingga tamat SMA.

“Sebenarnya, saya ingin juga menguliahkan ana-anak, tetapi nggak punya uang.”

III
MATAHARI mulai sepenggalah di suatu pagi pada 1992. Kasiani dan keluarga hanya menatap si jago merah yang mulai melalap rumahnya dan sejumlah bangunan  tetangganya yang berlokasi di Pasar Darurat Tebet.  Tubuhnya yang kurus bergetar. Meski mobil pemadam kebakaran sudah dikerahkan, tapi  tak mampu menjinakkan api yang kian membesar. Limpahan air menggenangi tanah. Becek. Di depan Kasiani, lidah api terus menjulur-julur. Asap hitam membumbung di angkasa. Air mata keluar dari pelupuk mata Kasiani saat api menghanguskan rumah kayunya.
“Ya, Allah lindungilah keluarga kami. Di mana kami harus tinggal ya, Allah,” kata Kasiani terisak.

Peristiwa kebakaran itu pula yang membuat Kasiani harus tinggal di rumah susun.  Sebelum menempati Pasar Darurat itu, Kasiani sempat pernah  mengalami penggusuran. Peristiwa itu terjadi saat ia tinggal di Guntur di dekat Pasar Rumput.

Suasana panik. Sejumlah penghuni terlihat mengangkut barang berharganya.

“Meski diiming-imingi uang untuk mengontrak, saya tetap tinggal di situ. Saya sudah nggak punya tempat tinggal lagi.”

“Saya nggak mau diberi uang 400 ribu untuk ngontrak. Bagi saya uang itu nggak mencukupi buat saya.  Saya dan keluarga tetap bertahan di lahan yang telah bertahun-tahun kami tempati.”

“Setelah melakukan musyawarah, saya menerima uang ganti rugi. Saya menerima 300 ribu per meter.”

“Saya punya satu kios di lantai tiga yang kami sewakan. Setahun 14 juta. Kalau yang sekarang saya tempati, itu statusnya hanya ngontrak. Kalau kios-kios yang ada ini nggak bisa dibeli. Itu milik Pemda.”

“Ya, beginilah tinggal di rumah susun. Apalagi buat orang seperti saya yang mempunyai banyak anak.”

Dalam usia senja Kasiani tetap berharap Tuhan memberikan umur panjang.  Namun, sebuah kekhawatiran berkecamuk dalam pikirannya, sebelum ia tutup usia. Ia ingin menyaksikan empat anaknya  menikah :  Kuswara, Erni, Wody, dan Yuddy dan di mana mereka akan tinggal.

“Hanya itu. Nggak ada keinginan lain.”


*) revisi tugas Menulis Narasi atas masukan Andreas Harsono dan Budi Setiyono