Oleh KOMARUDIN
I
JOGOTRUNAN terletak di jantung Kota Lumajang, Jawa Timur. Sepertiga desa
itu adalah rumah-rumah penduduk, sisanya sawah yang membentang. Ketika terminal
bus masih berada di pusat kota, banyak bus seliweran melintasi kawasan itu jika hendak menuju ke Surabaya,
Jember, Banyuwangi. Namun, saat terminal itu pindah ke Sukodono, sisi utara
Kota Lumajang, tempat itu tak lagi ramai.
Jogotrunan terletak 743 kilometer dari Jakarta dan 112 kilometer dari
Surabaya.
Di desa itu, 39 tahun lalu, seorang bayi perempuan lahir. Oleh orang tuanya, Miskatam dan Misnatun,
bayi itu disematkan nama Arab “Luluk
Uliyah”. Dalam bahasa Indonesia nama tersebut bermakna “mutiara yang tinggi”.
Suatu siang Miskatam dengan becaknya mangkal di depan kantor Kabupaten
Lumajang di Jalan Alun-alun Lumajang. Di sana ia berkenalan dengan Suwandi, Bupati Lumajang.
Ia adalah seorang yang low profile.
Ia sering menyamar sebagai penumpang
becak Miskatam saat
keliling memantau suasana
wilayah, baik siang maupun malam. Hubungan bupati dan pengayuh becak itu pun
kian dekat. Suwandi kemudian memberi bantuan
proyek sapi perah kepada Miskatam sebanyak 44 ekor karena mampu
memelihara sapi.
Kondisi itu pula yang membuat Luluk
dan keluarga akrab dengan sapi, bahkan hingga ia duduk di bangku SMA. Miskatam dan Misnatun selalu membangunkan
tujuh orang anaknya tiap pagi. Suasana
rumah ramai. Suwati, neneknya, sering marah dan berharap mereka tak berisik. Ia
tak ingin mengganggu ketenangan tetangga sebelah.
“Kamu itu nggak tahu, tetangga kita
priyayi,” bentak Suwati seperti ditirukan Luluk.
“Kita ndak perlu priyayi. Kita
itu butuh makan,” sungut Miskatam.
Grumpreng! Bunyi pintu rumah yang terbuat dari seng ditutup.
Suasana rumah Miskatam tampak senyap. Semua penghuni telah meninggalkan rumah.
Mereka mengayuh sepeda, kecuali Luluk dan ibunya, Misnatun. Mereka berjalan kaki
menuju peternakan sapi yang berjarak 500 meter yang berada di tengah
sawah.
“Sebelum berangkat ke sekolah pekerjaan saya mengurus sapi,” terang Luluk
dengan wajah sumringah.
Miskatam beri Luluk satu anak sapi.
Ia harus bertanggung jawab mulai dari membersihkan, memerhatikan minum, makan,
hingga selesai menyiapkan
buburnya. Anak sapi yang baru lahir itu hidup dipisahkan untuk belajar
menyusui. Ia menggigiti tangan
Luluk.
“Kamu harus belajar dari yang kecil, baru nanti yang besar.”
“Saya ingin langsung memerah.”
“Nggak bisa. Kamu harus belajar dari yang kecil.”
Berhasil mengurus sapi kecil, Luluk diberi sapi besar, tetapi yang paling
pendiam. Setelah mahir membersihkan pantat sapi, ia kemudian beralih
membersihkan puting susunya. Jika sudah
mahir keduanya, ia diizinkan memerah
susu.
“Saya memerah sapi itu sejak SD hingga SMA.”
Sejak itu, Luluk dan Misnatun
bertugas manajerial dalam, seperti mengurus penjualan jika ada pembeli yang
datang. Sementara Miskatam bertugas
sebagai pengantar. Itu sesuai jenjang. Kakaknya yang terbesar mengantar yang
paling jauh, menengah, sedangkan Luluk sendiri mengantar yang terdekat dan
dapat ditempuh dengan jalan kaki.
“Jam setengah tujuh saya harus
kembali ke rumah. Persiapan berangkat ke sekolah.”
Miskatam mendidik ketujuh anaknya dengan disiplin dan keras. Di kampung
halamannya di Jogotrunan, sejak kecil Luluk tak punya waktu untuk bermain. Para
tetangganya menyebut mereka sebagai “manusia kerja”. Luluk pun jarang main ke
rumah tetangga. Kalau pun main, itu hanya sebentar. Ia lalu dipanggil oleh Miskatam
diajak belajar ngarit. Miskatam tak
suka anak-anaknya bermain. Salah seorang kakaknya pernah berseloroh, “kita itu
ikut Jepang karena harus rajin.”
II
RUMAH itu bertingkat. Dibangun
di atas tanah seluas 190 meter persegi.
Luas bangunan semi permanen itu 4 x 8 meter persegi terbuat dari bambu. Di sebelah rumah
itu mengalir anak Sungai Bedadung berair jernih. Orang menyebutnya Kali
Mastrip. Letaknya di Jalan Mastrip, Desa Sumbersari, Jember, Jawa Timur, tak
jauh dari Politeknik Universitas Negeri Jember. Rumah itu seperti tempat
peristirahatan bagi keluarga Miskatam. Hawanya segar laksana di pegunungan.
Sumbersari merupakan salah satu ikon
konservasi di Jawa Timur, terutama di Jember.
“Orang tua saya beli tanah itu dan membangun rumah dari bambu. Karena lima
orang saudara saya kuliah di Jember. Kami tinggal di sana. Rumah saya seperti
sekretariat. Tempat mangkal para
mahasiswa. Ramai,” jelas Luluk.
Luluk merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Mereka adalah Muhammad
Hidayat, Muhammad Baron, Muhammad Basri, Luluk Uliyah, Muhammad Suhadak,
Islamiyah, dan Faizah. Selain sebagai pengayuh becak, ayahnya sempat menjadi
penjual telor ayam, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Meski petani,
Miskatam mampu menyekolahkan
anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.
Kesedihan dialami Luluk saat kakak tertua dan ibunya tutup usia. Mereka
meninggal dunia hampir berbarengan di hari yang sama sekitar tujuh tahun lalu.
Muhammad Hidayat menghembuskan nafas
terakhir beberapa saat sebelum ibunya.
“Kata orang-orang, sih, ibu saya sempat berujar, jika kakakmu meninggal,
saya akan ikut. Ternyata, benar,” terang
Luluk.
Saat peristiwa kematian itu,
Miskatam tengah berada di Jember.
Namun, ia tutup mulut dan tak
memberitahu anak-anaknya.
“Aku mau ke Jember menengok kakak,”
Miskatam beralasan seperti ditirukan Luluk saat itu.
Saat Miskatam berangkat dan tiba di sana, istri tercintanya pun meninggal. Ia harus bolak-balik
Jember-Lumajang yang dapat ditempuh selama tiga jam.
Selain ditinggal Muhammad Hidayat, peristiwa berat lain yang dihadapi Luluk
dan keluarga saat rumahnya di Jember dilumat si jago merah. Siang itu
pada 2007, seorang warga tak dikenal membakar daun-daun bambu kering di pinggir
sungai. Setelah itu, ia pergi. Cuaca terik. Angin berhembus kencang. Si jago
merah merambat ke atas hingga menghanguskan
rumah bambu itu. Saksi mata yang berada di tempat kejadian, Bambang. Ia
lalu lapor ke Baron. Saat kejadian itu Luluk sudah di Jakarta.
“Bapak tak diberitahu, khawatir ia shock.”
“Namun, ia akhirnya mengetahui
peristiwa itu. Sekarang ia bisa menerima kejadian itu.”
“Ada rencana rumah itu akan dibangun kembali oleh kawan-kawan. Bapak sudah
menyiapkan bambu-bambunya yang akan diambil dari desa Kabuaran, Kunir,
Lumajang.”
III
SINAR matahari sore masih terasa terik. Suasana Jalan Mampang Prapatan
tampak lengang. Tak banyak kendaraan yang melintas. Dengan antusias Luluk
kemudian menceritakan perjalanan hidupnya
hingga ia terlibat dalam organisasi masyarakat sipil.
Luluk menegaskan, ia masuk ke dunia aktivis tanpa ada yang mengajak. Saat
menjadi mahasiswa di Jember ia kenal dengan kawan-kawan yang concern dengan konservasi, seperti Walhi
Jatim, Pendidikan Lingkungan, kegiatan pencinta alam di Jakarta, Burung
Indonesia, Telapa. Dari situ pengetahuan Luluk tentang konservasi kian
bertambah.
“Ketertarikan saya dalam dunia
organisasi masyarakat sipil mulai saya rintis saat kuliah. Saya kuliah ikut
pecinta alam pada 1995, sedangkan masuk kuliah pada 1994.”
Saat mendaki pegunungan Hyang Argopuro, Luluk dijelaskan bahwa naik gunung tidak sekadar mendaki dan
menikmati pemandangan, melainkan
pula ada wacananya. Karena Luluk dari
Jurusan Pertanian, maka harus
dihubungkan dengan mata kuliahnya agar tak sia-sia. Misalnya, di kawasan itu terdapat plasma nutfah dan bagaimana cara mengenal
vegetasi. Ada berapa vegetasi, jenis-jenisnya, tinggi, serta kanopinya. Luluk
menuliskan itu sambil berjalan menghirup udara segar. Ia juga diajarkan tentang
analisis burung. Mulai dari nama burung, jenis, suara, warna sayap dan ukurannya,
kemudian dicocokkan dengan yang ada di bukunya. Luluk dan kawan-kawan sering
bekerja sama dengan Burung Indonesia,
dulu Bird Life.
Luluk hijrah ke Jakarta pada Februari 2000 untuk melanjutkan studi di
Jurusan Antropologi, Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Namun, ia hanya mampu bertahan selama tiga
semester akibat kehabisan dana.
“Bapak setiap menelepon minta duit. Akhirnya, terjadi dilema antara
meneruskan sekolah dengan mencari kerja,” kata Luluk di kantor Jaringan Advokasi Tambang (Jatam),
Mampang Prapatan II/30, Jakarta Selatan, lima hari jelang Lebaran.
“Sebenarnya, saya tinggal menyusun tesis, tetapi tidak selesai. Saat
itu uang kuliah masih murah. Hanya tiga
juta, tetapi sekarang sudah sepuluh juta.”
“Saat itu saya nggak punya strategi. Mau ambil tesis
apa, ya?”
“Akhirnya, keburu stres. Cari kerja aja, deh.”
“Kebetulan di keluarga inti juga sedang kolaps. Keenakan cari duit, eh, lupa melanjutkan kuliah.”
Saat jobless pada 2002, ia diminta untuk membereskan perpustakaan Jatam
oleh Siti Maimunah—sekarang Koordinator Jatam. Ia merapikan buku-buku yang
berserakan selama tiga bulan. Kemudian
ia kumpulkan di satu tempat.
Ia lalu gawai di Yayasan Keanekaragaman Hayati (Kehati) untuk program
Rancangan Undang-undang Pengelolaan Sumber Daya Alam (RUU PSDA) sekitar 8
bulan. Setelah itu, ia bergiat di Jatam sebagai Staf Administrasi sekitar 5
tahun. Dari Staf Administrasi ke Manajer
Office, Manajer Publikasi, Manajer
Sektretariat, terakhir sebagai Manajer Penggalangan Sumber Daya Publik.
Luluk melakukan hubungan internal, termasuk jaringan di tingkat nasional.
Ia selalu hadir, jika ada undangan rapat, kampanye, yang sekupnya di tingkat
Jakarta. Dari situ ia kemudian mengenal beragam kawan dari jaringan Wahana
Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Kehati, Pantau, dan sebagainya.
“Delapan bulan lalu, saya masih bekerja di Jatam. Alasan
utama saya pindah dari Jatam ke Satu Dunia untuk menambah wawasan baru,” jelas
Luluk.
IV
SUASANA rumah yang difungsikan sebagai kantor itu terlihat sepi. Luluk
melangkah lambat memasuki rumah bercat putih. Ia lalu duduk bersila di atas
tikar lampit, buku catatan dan pulpen hitam di letakkan di atas meja setinggi
sekitar 30 sentimeter. Di sebelah kanan
terdapat kipas angin yang sedang berputar.
“Sekarang saya bekerja di Satu Dunia
menangani Isu Lingkungan dan Perubahan Iklim, tetapi
masih berkaitan dengan isu sumber daya alam. Namun,
saya lebih fokus menulis, meng-capture
pengetahuan agar bisa
ditransformasikan,” ujar perempuan berjilbab itu.
Satu Dunia merupakan lembaga yang fokus dalam pertukaran pengetahuan di antara organisasi
masyarakat sipil (OMS). OMS
kadang-kadang tak sadar punya banyak
pengetahuan. Namun, ketika salah satu pekerjanya pindah, maka pengetahuan yang mereka miliki pun menyusut. Luluk mencontohkan dirinya saat pindah dari
Jatam ke Satu Dunia. Untuk mengatasi itu,
ia memperkenalkan kepada teman-teman di Jatam bagaimana mengelola media,
berhubungan dengan wartawan, dan apa yang harus dilakukan dengan publik terkait
dengan informasi.
“Itu saya lakukan agar saat saya
keluar, mereka tidak gagap dengan informasi tersebut.”
Meski telah pindah tempat kerja,
hubungan Luluk dengan Jatam berjalan baik. Hal itu bisa dipahami, karena
semasa bekerja di Jatam, ia sering
berhubungan dengan Satu Dunia. Begitu pun sebaliknya. Misalnya, ia menjadi narasumber tentang apa yang harus dilakukan internal organisasi non
pemerintah (Non-Governmental
Organizations) untuk menguatkan informasi yang mereka miliki. Ia juga tetap
diikutsertakan jika membicarakan isu Lapindo dan kampanye-kampanye yang
dilakukan Jatam.
“Jadi, saya sebenarnya tidak pindah karena tugas saya nggak jauh beda saat
di Jatam.”
Luluk tertawa saat disinggung mengenai keluarga. Tangan kirinya
memutar-mutar pulpen hitam. Ia mengatakan menikah dengan Abdul Salam, teman kuliah di Universitas Indonesia. Ia kelahiran
Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka terpaut usia dua tahun. Saat ini suaminya
bekerja sebagai peneliti independen. Dari
perkawinannya mereka dikaruniai dua anak : Rizki Rimba Ramadhan dan Nur Intan
Cenderawasih.
Sebelum berangkat ke kantor, ia harus mengurus, mengatur makan, mengantar
ke sekolah, dan menunggu anaknya di Madrasah Ibtidaiyah Al-Khairiyah, Mampang, Jakarta Selatan. Ia
baru berangkat ke tempat kerjanya di Tebet, Jakarta Selatan, tiap pukul 10.00.
“Jam sepuluh belum ada aktivitas, maka saya fokus mengurus anak. Saat anak
masih TK, saya nungguin,” katanya.
Suatu kali Luluk terbang ke Hyderabad, India, pada 16-19 Maret 2009. Ia
harus menghadiri workshop Women and Mining Conference (Konferensi Perempuan dan
Tambang) mewakili Siti Maimunah Koordinator Jatam yang tak bisa hadir. Hari pertama ditinggal Luluk, Rimba menggigit
tangan gurunya, Nurfah.
“Dari situ saya dipesan, Rimba datang ke sekolahnya kalau mamanya sudah
pulang saja,” kata Lulu tertawa.
Ia terlalu aktif dan perlu perhatian penuh. Tak mau menulis dan sering
mengambek. Akibat terlalu aktif, Luluk terpaksa harus masuk ke sekolah. Jika
tidak, ia akan mengganggu teman-temannya.
“Saya akhirnya diminta masuk ke dalam sekolah. Setahun saya sekolah lagi,”
kenang Luluk tersenyum.
“Setiap minggu saya juga menerima panggilan dari sekolah.”
“Bu, anaknya nggak mau nulis.
Rimba main terus, pekerjaannya nggak selesai,” Luluk menirukan ucapan seorang
guru. Luluk tertawa.
Sekarang Rimba masih seperti itu, meski usianya sudah 8 tahun dan duduk di
bangku kelas III SD. Berbeda dengan Nur Intan Cendrawasih. Usianya empat tahun,
tiga bulan. Ia lebih mudah dikendalikan dan pendiam. Ia tak mau menegur, jika
tidak ditegur lebih dulu. Ia senang di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA), tak mau
di Taman Kanak-kanak (TK). Hati Luluk luluh.
“Saya fokus dengan keluarga karena
bagaimana pun mereka tetap nomor satu. Jika kerja waktu libur, saya kadang-kadang ajak Rimba
dan Intan.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar