Oleh KOMARUDIN
I
Sebagai tempat kedudukan pemerintah, Jakarta nampaknya menjanjikan akan membawa kemakmuran dan menawarkan harapan baru bagi para pendatang. Namun, setelah 52 tahun tinggal di Jakarta telah membuat ia frustrasi karena gagal menjadi tempat yang lebih baik. Tak hanya menyangkut banjir dan kemacetan, masalah perumahan juga menjadi persoalan. Di usia senja ia telah menyerah dan tak lagi banyak berharap. Kasiani, salah satunya.
Bersama keluarga ia tinggal di sebuah ruangan berukuran 4 X 7 meter persegi di Blok A, Rumah Susun Harum, Tebet, Jakarta Selatan. Ruang itu kemudian dibagi dua bagian : atas dan bawah. Di bawah ia tempati bersama menantu dan tiga cucunya, sedangkan di atas di tempati empat orang anaknya, sedangkan anak yang lain tinggal bersama keluarga mereka di daerah Jakarta Timur dan Bekasi.
Berbeda dengan kios penghuni rumah susun lain, dapur Kasiani berada di samping kanan kiosnya. Jika melongok ke dalam ruangan berukuran 2 X 3 meter itu terdapat tempat cuci piring, masak, piring, sendok, garpu, teko, termos, penanak nasi, serta satu boks tempat menyimpan tisu, teh, lilin, dan minuman suplemen. Sesak. Di sebelahnya ada ruang berukuran 2 x 2 meter. Di dalamnya terdapat kulkas rusak merk Daiichi setinggi 1,80 meter, dua meja, serta bangku panjang.
“Ya, beginilah tinggal di rumah susun. Apalagi, buat orang seperti saya yang mempunyai banyak anak,” keluh Kasiani di Jumat pagi yang mendung tanggal 29 Juli 2011.
Wajah Kasiani yang tirus itu letih. Tulang rahang dan dagunya yang panjang terlihat menonjol. Kulit mukanya yang kering mulai keriput. Kini, dagu Kasiani pun bergelambir dengan jakun agak menonjol. Sementara alis matanya yang berbentuk bulan sabit dengan lengkungan tajam di bagian pelipis mulai memutih. Begitu pun dengan rambutnya yang ditutup dengan turban hitam. Namun, deretan gigi perempuan bertubuh kurus dan jangkung itu terlihat utuh. Di usia 72 tahun pendengaran Kasiani menurun drastis. Para tetangga atau tamu harus mengulang hingga dua kali jika berbicara dengannya atau harus berbicara dari jarak dekat.
“Teman-teman saya sudah nggak ada. Mereka sudah meninggal dunia,” jelas Kasiani. Tangannya yang kurus dengan urat yang menonjol itu lalu menggunting ujung bungkus kopi Kapal Api. Kres. Ia menuangnya ke dalam gelas putih yang diletakkan di atas gerobak bercat cokelat. Ia lantas mencampur dengan air panas dari termos. Ting, ting, ting. Bunyi gelas beradu sendok.
Kasiani menyodorkan segelas kopi yang telah dipesan tetangga dan meletakkannya di atas meja cokelat di sebelah kirinya. Wangi kopi menguap. Tubuh Kasiani terus bergerak. Semenit kemudian satu per satu tangan kanannya meraih piring, sendok, dan gelas kotor untuk dicuci. Tak jarang ia juga mencuci pakaian kotor cucunya, Ajeng Thalia Ramadhani, 11 bulan.
“Kalau dia sudah bangun, saya nggak bisa berbuat apa-apa.”
“Jadi, pagi-pagi saya harus sudah membereskan pekerjaan dapur,” kata Kasiani sambil mengangkat ompreng berisi air untuk dijerang di dapur untuk Ajeng mandi.
Beberapa menit Kasiani sudah tampak sibuk menenteng ember plastik merah berisi air yang ia ambil dari kran cuci piring.
“Mumpung Ajeng masih tidur. Saya mau menyiram tanaman.”
“Sudah seminggu pohon-pohon palem itu nggak saya siram.”
Selesai menyiram pohon-pohon palem, ia menenteng sapu lidi dari dapur. Ia membersihkan puntung rokok, kertas, dan plastik-plastik yang berserakan di depan rumahnya. Orang sembarang membuang sampah. Halaman itu memang disediakan untuk penghijauan. Luasnya hanya sekitar 3X15 meter yang berbentuk memanjang. Beralaskan plastik putih ia memunguti sampah-sampah kemudian menaruhnya. Sepuluh menit kemudian ia menyeret bak sampah plastik merah ke tempat pembuangan sampah sekitar 50 meter dari kiosnya.
Sesekali ia menyapa penghuni rumah susun. Ia kemudian mencuci kedua tangannya. Sejenak ia meraih bungkusan plastik putih berisi brokoli, tomat, dan wortel. Ia membersihkan satu per satu, sebelum mencucinya. Ia ingin buat bubur untuk Ajeng.
“Ini bahan makanan untuk Ajeng. Setelah semua diparut, biasanya saya campur dengan ati ayam atau ceker. Lalu, saya beri garam dan keju agar buang air besarnya tidak keras,” katanya sambil masuk ke dapur.
Saat keluar ia menenteng parutan yang terbuat dari alumunium. Tangan kiri mencengkram ujung parutan yang ia tumpukan pada piring plastik putih. Belum lagi pekerjaan itu selesai, ia langsung lompat masuk ke dalam kios saat mendengar suara tangis bayi.
Dibantu anaknya, Wawan, Kasiani menyiapkan air hangat lantas menuangkannya ke bak warna biru. Ia lalu membuka kaos kaki putih, baju, dan celana Ajeng. Sambil memegang tubuh Ajeng, ia lantas mencelupkan kaki cucunya itu ke dalam air. Tubuh Ajeng terlihat menggigil.
“Ayo coba lari,” kata Kasiani sambil tersenyum.
“Sabunnya dimakan tikus, ya, De.”
“Tikus lapar ya, De.”
Kegiatan rutin yang biasa Kasiani lakoni.
II
KASIANI lahir di Wonokromo, Jawa Timur, pada tahun 1939. Ia mengatakan lupa tanggal dan bulannya. Oleh orang tuanya, ia dibesarkan di Probolinggo. Di sana Kasiani sempat duduk di Sekolah Kepandaian Putri (SKP) setara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Namun, ia tak selesai akibat terbentur biaya.
“Ayah saya seorang pejuang dari Angkatan Laut, tapi meninggal di Yogyakarta pada tahun 1945-an. Kalau ayah saya hidup saat itu, mungkin hidup saya nggak kebelangsak seperti sekarang.”
Pada 1959 ia hijrah ke Jakarta akibat kondisi ekonomi. Dalam studi Susan Blackburn menyebutkan bahwa pada akhir masa perjuangan merebut kemerdekaan, kondisi ekonomi Indonesia sangat buruk : produksi sangat rendah dan barang yang tersedia hanya sedikit. Sebagai tempat kedudukan pemerintah nasionalis baru yang telah menjanjikan bahwa kemerdekaan akan membawa kemakmuran, Jakarta nampaknya menawarkan harapan baru bagi para penduduk pedesaan. Di Jakarta, Kasiani menetap bersama pamannya, Moeldjo Soedjoko, yang pernah bekerja di Kostrad di kawasan Guntur, Jakarta Selatan. Kasiani sempat mengenang awal-awal perpindahannya ke Jakarta ketika ia harus makan bulgur akibat tak ada beras.
Di Jakarta, Kasiani bertemu lelaki bernama Abdul Chaer asli Jakarta. Lelaki yang akrab disapa Dudung itu merupakan penjual ikan hias di rumahnya di Kampung Bali, Matraman, Jakarta Timur. Mereka menikah dua bulan kemudian. Seingat Kasiani ia menikah pada 1962. Mereka menikah tanpa proses yang berbelit dan berjalan lancar. Setelah menikah, mereka kemudian sepakat untuk mengubah profesi menjadi penjahit.
“Saat menikah usia saya baru 20 tahunan. Setelah menikah saya beli mesin jahit dan mesin obras,” terang Kasiani.
“Sebenarnya, saat muda tubuh saya sekel. Nggak seperti sekarang. Kurus,” katanya sambil tangan kanannya menunjuk ke kepala.
“Banyak pikiran. Waktu Bapaknya anak-anak masih hidup, saya nggak pernah ngomel.”
“Semasa suami masih hidup, kami merupakan penjahit panggilan. Saya pernah menjahit di kawasan Senopati, Kebayoran, dan lain-lain. Jadi, saya pintar menjahit. Tapi sejak suami meninggal, aku sudah nggak menjahit lagi. Anak-anak saya pun nggak ada yang meneruskan usaha saya.”
“Pernah juga buat warung nasi, tapi bangkrut. Karena uangnya digunakan untuk makan sehari-hari,” terangnya.
Rosmala, menantu Kasiani, pernah menawarkan mertuanya itu untuk membuka warung nasi. Namun, Kasiani menolak. Ia khawatir Ajeng tak terurus. Sudah lebih tujuh bulan Rosmala menitipkan Ajeng kepada Kasiani.
“Saya lebih senang mengurus cucu.”
Soal nama, Kasiani punya kisah sendiri. Ia bilang lebih sering dipanggil Bu Dudung, bukan Kasiani. Nama Dudung disematkan dari nama panggilan suaminya, Abdul Chaer, yang akrab disapa Dudung. Sejak suaminya meninggal dunia pada 1996, nama Dudung itulah yang kemudian melekat padanya.
“Sampai saat ini orang selalu memanggil saya Bu Dudung.”
Dari perkawinannya dengan Abdul Chaer, Kasiani punya 13 orang anak. Namun, dua orang meninggal dunia. Anak ke-7 dan ke-11 ; Uni Irawati dan Dora. Kasiani lalu menyebutkan nama ke-13 anaknya. Mereka adalah Cecep Royani, Edy Kuswara, Wiwi Khaeriyah, Yuyu Khaeriyah, Uus Yulizar, Iwan Kuswantoro, Uni Irawati, Erni Hartini, Dinuk Erwansyah, Wody Agung Sudewo, Dora, Deddy Priatna, Yudy Pranajaya. Mereka berpendidikan hingga tamat SMA.
“Sebenarnya, saya ingin juga menguliahkan ana-anak, tetapi nggak punya uang.”
III
MATAHARI mulai sepenggalah di suatu pagi pada 1992. Kasiani dan keluarga hanya menatap si jago merah yang mulai melalap rumahnya dan sejumlah bangunan tetangganya yang berlokasi di Pasar Darurat Tebet. Tubuhnya yang kurus bergetar. Meski mobil pemadam kebakaran sudah dikerahkan, tapi tak mampu menjinakkan api yang kian membesar. Limpahan air menggenangi tanah. Becek. Di depan Kasiani, lidah api terus menjulur-julur. Asap hitam membumbung di angkasa. Air mata keluar dari pelupuk mata Kasiani saat api menghanguskan rumah kayunya.
“Ya, Allah lindungilah keluarga kami. Di mana kami harus tinggal ya, Allah,” kata Kasiani terisak.
Peristiwa kebakaran itu pula yang membuat Kasiani harus tinggal di rumah susun. Sebelum menempati Pasar Darurat itu, Kasiani sempat pernah mengalami penggusuran. Peristiwa itu terjadi saat ia tinggal di Guntur di dekat Pasar Rumput.
Suasana panik. Sejumlah penghuni terlihat mengangkut barang berharganya.
“Meski diiming-imingi uang untuk mengontrak, saya tetap tinggal di situ. Saya sudah nggak punya tempat tinggal lagi.”
“Saya nggak mau diberi uang 400 ribu untuk ngontrak. Bagi saya uang itu nggak mencukupi buat saya. Saya dan keluarga tetap bertahan di lahan yang telah bertahun-tahun kami tempati.”
“Setelah melakukan musyawarah, saya menerima uang ganti rugi. Saya menerima 300 ribu per meter.”
“Saya punya satu kios di lantai tiga yang kami sewakan. Setahun 14 juta. Kalau yang sekarang saya tempati, itu statusnya hanya ngontrak. Kalau kios-kios yang ada ini nggak bisa dibeli. Itu milik Pemda.”
“Ya, beginilah tinggal di rumah susun. Apalagi buat orang seperti saya yang mempunyai banyak anak.”
Dalam usia senja Kasiani tetap berharap Tuhan memberikan umur panjang. Namun, sebuah kekhawatiran berkecamuk dalam pikirannya, sebelum ia tutup usia. Ia ingin menyaksikan empat anaknya menikah : Kuswara, Erni, Wody, dan Yuddy dan di mana mereka akan tinggal.
“Hanya itu. Nggak ada keinginan lain.”
*) revisi tugas Menulis Narasi atas masukan Andreas Harsono dan Budi Setiyono

Tidak ada komentar:
Posting Komentar