Kamis, 18 Agustus 2011

Musdah Mulia : Agama Itu Bukan Candu


“Agama yang saya pahami adalah seperangkat ajaran,  doktrin, teks suci, simbol-simbol, yang positif dan konstruktif sehinga itu semua bisa menjadi common values dan bisa memberikan inspirasi bagi manusia untuk dapat melakukan kebaikan,” kata Musdah.

Namun, dalam masyarakat   agama itu menjadi sesuatu yang menghukum dan tak boleh membuat orang berpikir. Saat  belajar di  pesantren, Musdah tidak boleh mempertanyakan pelajaran yang diterima. “Seolah-olah yang dicari itu Tuhan. Jangankan mendebat, bertanya saja nggak boleh. Saya nggak diperkenalkan dengan pendapat-pedapat yang berbeda oleh guru-guru saya. Padahal, berbicara agama itu berbicara interpretasi,” terang peraih penghargaan Yap Thiam Hien pada 2008 itu bersemangat.

Musdah mengakui, semakin banyak interpretasi  akan membuat wawasan seseorang  makin luas. Artinya, ia tidak akan mudah menyalahkan orang lain dan tak gampang terombang-ambing karena ia mengetahui banyak pendapat. Terserah ia mau menggunakan pendapat yang mana, sepanjang  tidak memaksa dan   mencederai orang lain. So, what? 

“Namun, di kita (Indonesia) nggak boleh beda pendapat dan pendapat itu hanya satu. Orang lalu mengatakan bahwa kamu berbeda,  kafir, murtad, dan sebagainya. Oleh karena itu, seperti dikatakan Marx bahwa agama itu adalah candu bagi masyarakat, karena tidak membuat kita berpikir kritis, tidak rasional dalam kehidupan. Islam yang kita transfer dan masuk ke Indonesia adalah Islam gurun, gersang,” terang Musdah.

Peserta tertawa.

“Tidak ada seninya sama sekali.”

“Saya masih ingat waktu kecil, saya tidak boleh mendengarkan lagu-lagu. Karena jika saya menikmatinya, maka saya diancam bahwa telinga saya akan dicor dengan timah panas. Saya juga tidak diperbolehkan melihat tari-tarian, yang sebenarnya sangat indah.”

Suasana hening.  Pandangan mereka terfokus ke Musdah. Andreas dan Zubair kembali  memotret Musdah dengan telepon genggamnya.

Musdah menemukan fakta berbeda ketika ia berkunjung ke Persia. Menurutnya, Persia berbeda dengan Arab. Orang-orang Persia mengatakan Islam yang gersang itu karena tumbuh di Arab. 

Jadi, mereka mengklaim bahwa sebenarnya Islam yang murni adalah Islam versi mereka. Oleh karena itu, orang-orang Iran, apalagi orang-orang Syiah, selalu memaki-maki Arab sebagai pengelola Islam yang tidak becus. Menurut Musdah, karena itu mereka selalu menganggap bahwa Baitulah itu sebaiknya pindah ke Iran agar lebih sejuk, lebih indah, dan tidak gersang.

Tiga Tantangan Besar

“Mengapa agama itu  penting?” tanya Musdah.

“Karena  agama itu dapat melahirkan tindakan yang kemanusiaan yang positif dan konstruktif.  Agama juga dapat menjadi sumber makna dan kebajikan agar hidup itu bermakna atau sebaliknya. Oleh karena itu, dalam kajian-kajian sosiologis dikatakan bahwa agama itu mempunyai dua fungsi yang secara diametral bertentangan, yaitu : integratif dan disintegratif. Pertanyaannya adalah, ternyata fungsi disintegratif inilah yang dapat lebih mudah dikembangkan, lebih nyaman. Lihat saja di Indonesia, memecah-belah itu gampang banget, tetapi untuk mempersatukan sulit sekali,” jelas penerima gelar “Women of The Year 2009” dari Italia.

Persoalan mendasar yang dihadapi dalam kehidupan keagamaan di Indonesia dan tantangan yang paling besar dalam menegakkan pluralisme,  demokrasi, dan humanisme, yaitu munculnya kekerasan-kekerasan berbasis agama.  Mengapa itu muncul? Karena ada kekecewaan yang mendalam dan adanya ketidakadilan yang meluas.

“Jadi, ini perlu dicari apa akar sebenarnya. Saya berharap mulai sekarang bagi teman-teman dari Islam untuk mengidentifikasi apa yang diperbincangkan di masjid. Bagi Anda yang dari  Katolik atau Kristen untuk mengidentifikasi apa yang diperbincangkan di gereja,” tegasnya.

“Persoalan umat!” salah seorang peserta nyeletuk.

Hadirin tertawa.

“Untuk penulisan, cobalah datang,” sergah Musdah.

“Saya pernah melakukan penelitian selama dua tahun, saya menyimak apa yang disampaikan dalam forum-forum agama ini. Semua disampaikan oleh para pemuka agama adalah sesuatu yang mengawang-awang. Jauh ke sana. Persoalan sorga dan neraka yang jauh sekali. Mereka tidak mau terlibat dalam persoalan-persoan konflik yang dihadapi oleh umat, masyarakat. Mereka tidak pernah bagaimana menyelesaikan persoalan pengangguran, membangun kesehatan dalam komunitas itu,  menyelesaikan persoalan harga-harga sembako yang mahal. Agama harus mambu memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan sosial kita. Jika tidak, buat apa kita beragama. Kalau itu urusannya di akhirat nanti, itu terlalu jauh.”  

Bagi Musdah, agama telah menjadi candu yang meninabobokan masyarakat. Apalagi dengan mengatakan berbuat baiklah karena di sorga  akan mendapat banyak bidadari. 

“Saya pernah bekerja di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sebagai salah satu ketua selama lima tahun, setiap kali kolega saya para ulama sepuh bicara soal sorga dan neraka, saya lalu mengatakan Pak Kyai, saya sudah lama  sebetulnya sudah tidak tertarik pada sorga dan neraka. Mereka kemudian membelalak dan memperbaiki duduknya. Ada apa ini Bu Musdah?  Saya bilang ke mereka, bagaimana saya tertarik dengan sorga dan neraka, jika definisi  itu selalu digunakan  dengan menggunakan definisi yang maskulin. Sorga itu penuh dengan bidadari, bagi saya itu apa gunanya.”

Sebagian peserta tertawa.

“Saya tidak tertarik dengan itu,” lanjut Musdah.

“Jadi, saya katakan, berhentilah berbicara sorga dan neraka. Memang, persoalan sorga dan neraka ada dalam kitab-kitab suci. Kitab suci itu dibangun atau diturunkan  ketika masyarakat belum modern seperti sekarang. Perkembangan kemanusiaan pada abad ke-7, belum canggih. Oleh karena itu, masih perlu diberi inspirasi tentang sorga dan neraka. Buat kita sekarang, untuk apa? Apalagi jika  dikatakan sorga itu berisi air yang mengalir, penuh susu.  Itu apa? Sekarang kita bisa mandi susu di mana-mana pakai sauna, ya, nggak?”

Hadirin tertawa.

“Saya katakan agama tidak memberi candu dan membuat orang terbuai. Agama itu harus mampu merespons  persoalan-persoalan dasar manusia. Persoalan ketidakadilan yang merjalela di mana-mana. Saya heran mengapa agama tidak bisa menyelesaikan persoalan tersebut? Hal yang sangat ironi.  Dalam penelitian yang saya lakukan, saya menemukan bahwa sebagian besar umat beragama  meyakini bahwa orang boleh korupsi, asalkan sebagian uang tersebut disumbangkan untuk pesantren, gereja, vihara. Jadi, Tuhan itu seolah-olah seperti mesin cuci,” terang Musdah.
Bagian terakhir, Musdah berharap bahwa para peserta yang hadir agar tulisan-tulisan yang kami hasilkan dapat mengubah, bukan hanya wawasan, tetapi juga behavior masyarakat agar lebih beradab dan berpihak pada keadilan dan kemanusiaan. 

“Saya sangat berharap lewat tulisan-tulisan Anda nanti  dapat memberikan sesuatu inspirasi bagi masa depan kemanusiaan yang lebih beradab,” ucap Musdah.

Plok, plok, plok! Tepuk tangan menggema dalam ruang di lantai 4. (TAMAT)

Tidak ada komentar: