Rabu, 03 Agustus 2011

Travellers di Bumi Ruai Jurai


Lampung memiliki sejumlah lokasi wisata yang menarik. Salah satunya,  Travellers, bagian dari kawasan Krakatoa Nirwana Resort. Letaknya di Jalan Trans Sumatera KM 45, Merak Belantung, Kalianda, Lampung Selatan. Butuh waktu sekitar enam jam untuk tiba di lokasi tersebut jika  dari Jakarta.

Kendaraan roda empat yang ditumpangi Ayunda Yudianti, 25 tahun, bergerak perlahan menaiki kapal KMP Jatra II di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten. Meski di tengah terik matahari, paras wanita berjilbab itu tampak berbinar-binar. Ia didampingi kekasihnya, Heru Rilano, 35 tahun, dan keluarganya. "Kami ingin melakukan pemotretan pre-wedding di Lampung Selatan," katanya. Meski diterpa hembusan angin Laut Selat Sunda, perempuan berjilbab itu tampak tak peduli. "Kami sekalian liburan bersama keluarga," ujarnya.

Pelabuhan Merak merupakan penghubung Pulau Jawa dengan Sumatera melalui jalan laut (Selat Sunda). Setiap hari ratusan feri melayani arus penumpang kendaraan dari dan ke Pulau Sumatera melalui Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Menurut Zailis Anas, Manager Operasional PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bakauheni, KMP Jatra II dapat menampung sekitar 800 orang penumpang, 35 kendaraan roda empat, dan empat mobil besar. "Namun, saat ini belum mengalami lonjakan penumpang. Biasanya jika musim liburan tiba, penumpangnya melonjak 30 hingga 40 persen," ungkap Zailis.

Menara Siger di Bakauheni
Sejenak kapal yang saya tumpangi pun bergerak. Angin laut berhembus kencang. Di bawah dua bocah asyik sedang menyelam untuk meraih uang pecahan 500 dan 1000 yang dilempar dari atas oleh penumpang.

Dari kejauhan tampak kapal-kapal penumpang lain bergerak menuju Pelabuhan Bakauheni. Terlihat pula gugusan-gugusan pulau yang menghijau. Perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni terasa nayaman. Gelombang air laut pun tak besar. Beberapa penumpang tampak asyik mendengarkan live di ruang eksekutif berpendingin udara. Hanya untuk dapat masuk ke ruangan ini mereka dikenakan biaya tambahan sebesar sepuluh ribu per orang. Di tempat ini mereka bisa tiduran di sejumlah sofa panjang atau membaca koran.

Dari kejauhan terlihat kemegahan Menara Siger. Bangunan tersebut merupakan ikon kebanggaan masyarakat Lampung yang mendapat julukan Bumi Ruai Jurai itu. Menara tersebut terletak di atas bukit di Bakauheni dan merupakan Prasasti Titik Kilometer nol jalan lintas Sumatera serta penanda pintu gerbang Pulau Sumatera. Menara tersebut diresmikan pada 1 Mei 2008 oleh Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. Menara tersebut dengan bentuk architecture crawn berwarna kuning dapat dilihat dari jauh ketika kapal akan berlabuh di Pelabuhan Bakauheni, baik pagi, siang, sore, dan malam. Di puncak menara terdapat payung tiga warna: putih, kuning, dan merah. Menara tersebut mengusung adat budaya Lampung.

Dari atas kapal feri, terlihat puluhan perahu nelayan bersandar di pinggir pantai. Menurut Andi, tempat itu merupakan Kampung Muara Biru, yang juga digunakan untuk pelelangan ikan. "Saya dari Cikotok mencari emas. Saya biasa pulang dua bulan sekali ke kampung halaman," ujar Andi, 25 tahun, sambil menghisap rokok kretek dalam-dalam. Para penumpang pun ke luar satu per satu. Beriringan. Sebagian mereka membawa barang-barang yang dibungkus dengan kardus. Selanjutnya, kendaraan-kendaraan pun meluncur dari perut kapal besi itu.

Travellers
Keluar dari Pelabuhan Bakauheni, kendaraan yang saya tumpangi langsung melesat menuju Travellers. Sepanjang Jalan Trans Sumatera itu kendaraan roda empat dan roda dua terlihat hilir mudik. Lebih banyak truk yang mengangkut barang-barang yang akan dibawa ke Lampung. Mereka seperti terbiasa melewati jalan itu. Padahal, kontur jalan mengular. Kadang lurus, menanjak, menurun, hingga berkelok.

Hari menjelang sore ketika tiba  di Travellers di Jalan Trans Sumatera KM 45, Merak Belantung, Kalianda, Lampung Selatan. Lokasi tersebut berada di kawasan Krakatoa Nirwana Resort seluas 350 hektare. Butuh waktu sekitar satu jam untuk mencapai lokasi tersebut dari Pelabuhan Bakauheni.

Sejauh mata memandang, terhampar laut yang luas. Gunung Rajabasah tinggi menjulang terselimuti awan. Pulau Setiga, Sebuku, dan Sebesi. Bagan-bagan mengambang di atas laut. Sejumlah lelaki paruh baya sedang asyik bermain bola voli pantai di atas pasir putih. Mereka meluapkan kegembiraan bisa berkumpul bersama dengan teman-teman satu kantornya. Angin bertiup kencang. “Fasilitas dan pelayanan yang ada di sini setara dengan hotel bintang empat,” ujar Yundi Nayadilaga, 39 tahun, Activity & Promotion Manager Travellers Krakatoa Nirwana Resort.

Di tengah lantunan musik, Yundi menceritakan tentang wisatawan yang berkunjung ke lokasinya. Di antaranya dari Jakarta, Lampung, Palembang, dan Bengkulu. Mereka duduk-duduk dan bersenda gurau bersama keluarga di pinggir pantai dan menikmati keindahan Gunung Rajabasah dari kejauhan. "Jika di tempat lain orang susah untuk menikmati keindahan laut dan gunung. Di sini orang mendapatkan dua keuntungan sekaligus," kata lelaki asal Bandung itu.

Biaya Paket Wisata
Telunjuk tangan kanan Yundi tertuju ke Gunung Rajabasah sambil menyebutkn bahwa ada sejumlah paket yang dapat diambil oleh para turis. Jika mereka ingin menginap di sana selama satu hari mereka dikenakan biaya sebesar 400 ribu per orang. Biaya tersebut sudah meliputi kamar untuk dua orang, makan malam, pagi, dan siang, fun games (bakiak, karung, tarik tambang, olah raga; voli dan futsal pantai). Jika akhir pekan, pengunjung harus membayar sebesar 550 ribu per orang. "Mereka yang bulan madu dapat makan malam dan sarapan di atas dermaga sambil menikmati hembusan angin laut dan cahaya lampu yang berpendar-pendar," tegasnya.

Selain itu, tempat itu juga dapat digunakan bagi mereka yang ingin menyelenggarakan resepsi pernikahan, dengan harga sebesar 64 juta hingga 80 juta rupiah. Biaya tersebut sudah termasuk sewa tenda, panggung, taman, dekorasi, satu kamar pengantin, hingga hidangan prasmanan untuk 700 orang.

Udara terlihat mendung. Sejenak hujan turun dengan deras. Perjalanan menuju ke Gunung Krakatau pun tertunda. Yundi menyarankan bisa datang pada waktu lain. Lalu, ia menceritakan tentang perjalanannya ke gunung itu. Dari Travellers, pengunjung perlu waktu sekitar enam jam dengan menggunakan speedboat. Waktu tersebut sudah termasuk perjalanan pulang pergi. Sepanjang perjalanan, para turis akan menikmati keindahan gugusan pulau. Mulai dari Pulau Segitiga, Sebuku, dan Sebesi.

Mereka lalu diajak mengelilingi Kepulauan Krakatau; seperti Pulau Panjang, Sertung, dan Rakata atau Krakatau Purba. Saat perjalanan kembali, para pengunjung akan singgah di Pulau Sebesi dan menikmati indahnya terumbu karang. Para turis dapat berenang, snorkeling, atau memancing. "Kehadiran Gunung Krakatau memang memiliki daya tarik tersendiri bagi turis lokal dan mancanegara," terang Yundi.

Berapa biaya paket perjalanan ke Gunung Krakatau? "Empat juta lima ratus ribu untuk tujuh orang," tegas Yundi.

Perlahan langit mulai gelap, hujan pun telah berhenti.

Lampung,  16  Mei  2010

Tidak ada komentar: