Pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di Bandar Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Langit tampak mendung. Awan hitam berarak di angkasa. Sejenak kendaraan yang kami tumpangi kemudian meluncur ke arah dermaga di Desa Rasau Jaya yang dapat ditempuh selama satu jam. Sepanjang perjalanan, di kanan-kiri membentang lahan-lahan tidur yang belum digarap yang ditumbuhi rerumputan dan rerimbunan pohon.
Suasana alam pedesaan sangat kental terasa. Sebagian jalan yang kami lintasi masih tampak basah diguyur hujan. Tak jarang pula kami menemukan rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu yang menghitam di makan usia di kanan kiri jalan. Bangunan itu tampak kukuh dan sebagian tak bercat.
Gerimis mulai turun ketika bus yang kami tumpangi memasuki kawasan Rasau Jaya. Dari kejauhan tampak Sungai Rasau yang membentang. Sejumlah perahu merapat di dermaga. Truk pengangkut barang pun tampak berdatangan. Kami beristirahat sejenak di sebuah warung yang berjarak sekitar 25 meter dari dermaga. Selain sungai, pandangan kami juga tertuju pada bukit yang menghijau di ujung sungai. "Itu namanya Gunung Ambawang, tapi sudah tidak aktif. Di bawahnya terdapat perkebunan pohon sawit," ujar Indra Noviansyah, 21 tahun, yang ikut dalam rombongan.
Membelah Sungai
Setelah rehat sekitar 20 menit, perjalanan menuju Sukadana pun dilanjutkan. Sebuah speedboat telah menanti untuk mengantar kami ke Sukadana. Dum, dum, dum, dum. Petualangan di atas sungai pun segera dimulai. Cuaca yang sempat mendung, berubah cerah. Langit tampak biru disaput gumpalan-gumpalan awan yang berarak.
Angin berhembus kencang saat speedboat yang kami tumpangi melaju kencang membelah Sungai Rasau. Tubuh kami sempat terguncang-guncang. Tiap kali kendaraan yang kami tumpangi berpapasan dengan perahu nelayan, mereka langsung mengangkat tangan. Di kejauhan tampak rumah-rumah penduduk yang terbuat dari kayu. Di kanan-kiri sungai, terdapat pohon-pohon bakau.
“Berapa lama kita sampai di Sukadana?” tanya saya di tengah deru mesin speedboat.
"Ya, sekitar tiga jam kita di atas sungai ini," jawab Indra.
Speedboat yang kami tumpangi sempat singgah di cold storage, pabrik pengolahan ikan. Gerimis turun. Kami bergegas menuju speedboat untuk melanjutkan perjalanan menuju Sukadana. Matahari mulai merambat ke arah barat. Kendaraan pun melesat cepat disertai hembusan angin yang bertiup kencang.
“Ya, paling 15 menit lagi kita sampai di Sukadana,” jelas Agus Salim, 50 tahun, yang ikut dalam rombongan saat perjalanan sudah tiga jam.
“Ya, paling 15 menit lagi kita sampai di Sukadana,” jelas Agus Salim, 50 tahun, yang ikut dalam rombongan saat perjalanan sudah tiga jam.
Kayong dan Cabana
Jarum jam menunjuk angka 17.45 ketika speedboat yang kami tumpangi merapat di Dermaga Irama Laut, Sukadana. Kami menuju ke Hotel Mahkota Kayong, tempat para tamu menginap. Tempat tersebut merupakan satu-satunya hotel yang ada di Sukadana. Maklum, Kayong Utara sendiri baru empat tahun menjadi kabupaten di Kalimantan Barat. Daerah itu merupakan pemekaran dari Kabupaten Ketapang.
Di tempat ini pelancong dapat menikmati keindahan alam Sukadana. Kita bisa memilih pemandangan laut maupun gunung. Dari pintu masuk hotel, para tamu dapat menikmati keindahan Gunung Sembilan dan Bukit Pulau Datuk yang kehijauan. Sementara itu, sambil menyantap hidangan, bisa menikmati pemandangan pantai ditingkahi desir angin.
“Jika di sebelah kanan para turis dapat memandang Gunung Sembilan, sementara di kiri Bukit Pulau Datuk. Di tengah pantai terdapat sebuah gugusan pulau yang bernama Salah Nama," kata Soeparmo S.P. Yoga, Manager Incharge Hotel Mahkota Kayong.
“Jika di sebelah kanan para turis dapat memandang Gunung Sembilan, sementara di kiri Bukit Pulau Datuk. Di tengah pantai terdapat sebuah gugusan pulau yang bernama Salah Nama," kata Soeparmo S.P. Yoga, Manager Incharge Hotel Mahkota Kayong.
Sesaat kumandang azan maghrib bergema lewat pengeras suara dari masjid yang berada di depan hotel. Perlahan hari mulai gelap. Hanya kelap-kelip lampu rumah penduduk di depan hotel yang terlihat. Selang beberapa saat suara takbir Idul Adha lamat-lamat terdengar merdu di telinga. Saya merasakan seperti di kampung sendiri. Dari kejauhan terdengar bunyi petasan.
Dar! Dar! dar!
Beredah dan Nanggok
Keesokannya, sejumlah warga setempat terlihat mendatangi sebuah masjid. Mereka menunaikan salat Idul Adha. Usai salat, sebagian anak-anak berusia 10 tahun tampak berbondong-bondong ke sebuah tanah lapang. Mereka ingin ikut acara Nanggok, sebuah tradisi lokal yang tetap dipertahankan oleh masyarakat. Biasanya, ratusan anak antre untuk menerima uang dari pihak pemberi.
“Tradisi itu sudah ada sejak puluhan tahun. Besarnya uang tidak menjadi patokan. Yang penting, niat untuk berbagi dengan anak-anak. Semoga kelak mereka pun akan mempunyai sifat berbagi untuk sesama jika sudah sukses. Pesan itu yang ingin tetap dipelihara dalam masyarakat kita,” urai Raja Sapta Oktohari, owner Hotel Mahkota Kayong.
Hari menjelang siang ketika ratusan anak dari sejumlah desa menyemut di tanah lapang. Suasana kian ramai. Sinar matahari yang terasa menyengat tubuh tak lagi dipedulikan. Mereka berebut memperoleh uang, meski harus saling berdesak dan berhimpit-himpitan.
Tradisi itu Nanggok, diawali dengan upacara beredah. Pagi itu, terlihat 17 orang berpakaian hitam dengan mengenakan kopiah hitam duduk bersila. Tangan mereka tampak lincah menabuh rebana sambil melantunkan ayat-ayat suci Alquran dan salawat.
"Mereka umumnya berjumlah ganjil. Karena Allah suka dengan sifat yang ganjil," tandas Okto, begitu Raja Sapta Oktohari akrab disapa.
Perjalanan dilanjutkan ke Desa Sungai Belit. Bertandang ke Sukadana, pelancong juga dapat menyaksikan para petinju berlatih. Kawasan ini memang kaya akan petinju-petinju potensial. Sebagian penduduk setempat menyematkan Sukadana dengan sebutan "Kota 1001 Petinju". Salah satunya, Daud Yordan, yang akan berlaga melawan petinju asal Argentina, Damian David Marciano. Didampingi Okto, saya bertemu Damian Yordan, kakak Daud Yordan yang juga menjadi pelatih di Desa Sungai Belit.
“Kota ini telah membawa harum nama Sukadana dan Indonesia ke tingkat dunia," tandas Damian.
Kota Tertua
Bertandang ke Sukadana kurang lengkap jika tak mengenal sejarah daerah tersebut. Sukadana merupakan ibu kota Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Kabupaten itu dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2007 pada 2 Januari 2007. Kabupaten tersebut adalah satu dari 16 usulan pemekaran kabupaten/kota yang disetujui Dewan Perwakilan Rakyat pada 8 Desember 2006 lalu.
Berdasarkan catatan, Sukadana merupakan kota tertua di Kalimantan Barat. Biasanya, pada Desember-Januari penduduk setempat sedang melakukan panen durian. Dari panen raya itu penduduk sekitar banyak membuat dodol durian yang di daerah setempat disebut lempok yang sudah menembus pasar dunia.
Sementara itu, secara historis Sukadana adalah batu cap atau batu bergambar (rock painting) yang terletak di Desa Sedahan, Sukadana, Kayong Utara, yang merupakan salah satu peninggalan sejarah pada masa lampau. Peninggalan itu diduga merupakan warisan nenek moyang Bangsa Ketapang yang pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan.
Keturunan orang Ketapang menurut legenda berasal dari Indochina atau India yang kemudian beremigrasi ke Kalimantan. Sebelum singgah ke Sukadana, mereka lebih dahulu singgah di Kepulauan Karimata yang pada masa lalu merupakan tempat strategis jika dilihat dari Laut China Selatan. Batu bergambar coretan itu sampai kini belum ditemukan artinya itu adalah situs purbakala yang ditemukan sejak 1874 dan menjadi jejak imigran tersebut. Hingga saat ini belum juga diketahui siapa yang menemukan batu itu. Dugaan sementara, batu itu sudah ada pada zaman sebelum mengenal tulisan.
Sukadana, 18 November 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar