Oleh KOMARUDIN
(I)
TELEPON genggam merk Nokia saya berdering memecah keheningan sebuah kamar di Swiss-Bell Hotel Borneo, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Gelap mulai merayapi perkampungan di sekitar hotel. Lampu-lampu rumah penduduk terlihat berpendar-pendar dari jendela kamar. Dengan tergesa saya menyambar telepon genggam itu dari atas meja kayu jati. Dari layar telepon yang menyala berwarna hijau muda itu tertulis kata “Neng”. Ia adalah istri saya : Kundajani Mulyana. Saya biasa memanggilnya “Neng”, sedangkan ia panggil saya “Abang”.
“Saya punya kabar gembira, Bang.”
“Kabar gembira apa?”
“Saya hamil. Kemarin saya sudahcek menggunakan test pack, ternyata hasilnya positif. Saya juga sudah periksa ke dokter. Hasilnya dua-duanya positif,” jelas istri saya di ujung telepon.
Seisi kamar hotel seperti mengucapkan selamat bahagia buat saya. Sejak menikah pada 22 Mei 2004 keinginan kami untuk menimang buah hati memang selalu menggelora di dada. Apalagi, usia kami pun sudah tak muda lagi. Usia kami hanya terpaut satu bulan. Saya lahir April 30 tahun yang lalu, sedangkan istri lahir Mei.
Saya senang mendengarnya.
“Rupanya, Tuhan mengabulkan doa kita,” timpal saya.
Setelah tiga hari di Banjarmasin, saya mendarat di Jakarta. Kegembiraan meluap-luap saat Damri membawa saya menuju Rawamangun, Jakarta Timur, tempat kami tinggal. Sejak menikah, saya memang menetap sementara di rumah mertua. Maklum, uang saya belum cukup untuk membangun rumah. Istri sempat meminta saya mencari kontrakan di kawasan Slipi agar dekat dengan tempatnya mengajar di SMP 61. “Kalian nggak usah ngontrak. Tinggal di sini saja untuk sementara. Uangnya disimpan,” kata Soedjadi Mochtar, mertua saya.
Saya langsung memeluk tubuh istri saya dan menciumi perutnya. Meski belum terasa ada gerakan bayi, saya tetap merasa gembira luar biasa. Istri saya menyambut hangat. Kangen.
(II)
HARI demi hari perut istri kian buncit. Saya mulai merasakan gerakan janin, seperti ditendang-tendang ketika tangan saya menyentuhnya. Berdasarkan keterangan dokter, gerakan janin biasanya dimulai saat kandungan memasuki usia 20 minggu. Janin bergerak normal minimal 10 kali atau satu kali dalam satu jam. Jika lama tak bergerak, istri saya selalu membangunkan dengan cara memancing gerakannya dengan mengelus-elus perut sambil sedikit menekan atau mengetuk perutnya. Saya merasa senang ketika janin itu bergerak. Saya merasakan ada kontak batin antara saya dengan janin. Saya selalu membayangkan diri saya ketika masih di dalam kandungan ibu. Alangkah bahagianya ayah saat saya ngulet dan menendang-nendang tangannya.
Bulan berikutnya saya mendampingi istri periksa kondisi janin ke RB Alvernia di Jalan Pemuda. Kami antre dan duduk di kursi dekat dengan kipas angin yang tergantung di enternit. Istri saya mendadak minta dibelikan bakpao rasa kacang ijo yang biasa mangkal di parkiran. Sesaat seorang suster meminta untuk menimbang berat badannya. Istri lalu berdiri tegak di atas timbangan. Jarumnya menunjuk ke angka 60. Berat badan istri naik satu kilogram dari bulan sebelumnya.
Kian siang antrean bertambah banyak. Jejeran kursi penuh pasien.Selanjutnya pemeriksaan tekanan darah dengan menggunakan U-Tube Manometer. Manometer adalah alat pengukur tekanan yang menggunakan tinggi kolom atau tabung yang berisi likuid statistik untuk menentukan tekanan. Suster lalu mengikat manset mengelilingi lengan kiri istri dan kemudian ditekan dengan tekanan di atas arteri lengan. Perlahan suster itu menurunkan tekanannya. Saya lihat suster menulis dua angka : 120/70.
Angka 120 menunjukkan sistolik atau tekanan puncak. Artinya, jantung berkontraksi mendorong darah keluar dan berdenyut. Sedangkan angka 70 menunjukkan diastolik atau tekanan rendah atau masa istirahat di antara dua denyutan.
“Tekanan darahnya bagus.”
“Terima kasih, Sus!”
Selain rajin memeriksa kondisi kesehatan ke dokter, saya juga rajin mengingatkan istri agar minum obat dan susu khusus ibu hamil Prenagen.
“Ya, supaya anak kita sehat.”
(III)
KINI kandungan istri sudah menginjak usia tujuh bulan. Seluruh keluarga besar kami berkumpul. Wajah mereka sumringah. “Insya Allah, ini cucu kami yang kelima,” kata Hajjah Tursinah, mertua perempuan saya kepada ustazah Maesaroh.
Dalam tradisi keluarga kami, tiap kali bayi menginjak usia tujuh bulan selalu diadakan acara tujuh bulanan. Ada pandangan dalam usia itu Tuhan meniupkan ruh ke dalam bayi yang dikandung istri.
Semua keluarga besar berkumpul dalam ruang tamu seluas 6x7 meter dan ruang keluarga sekitar 4x10 meter. Mereka membacakan Surat Yasin, Yusuf, Maryam ditutup dengan doa dari 30 ibu pengajian. Tujuan mereka satu : mendoakan agar bayi yang dikandung istri saya mempunyai perangai seperti Nabi Yusuf jika laki-laki dan Maryam bila perempuan, serta diberikan kesehatan oleh Tuhan.
Oleh ustazah Maesaroh saya dipanggil untuk membaca kedua surat tersebut. Namun, hanya masing-masing lima ayat. Saya duduk bersila dengan mengenakan sarung dan peci hitam. 30 pasang mata memandangi saya. Saya agak canggung duduk di hadapan ibu-ibu pengajian. Namun, saya merasa senang, karena tak lama lagi akan menjadi ayah. Sebelum pengajian ditutup dengan doa, mereka sempat berdiri saat melantunkan salah satu bagian Kitab Barjanzi karangan Ja’far al-Barjanzi al-Madani yang akrab di kalangan penganut mazhab Imam Syafi’i.
“ya nabi salam alaika ya rasul salam alaiika. Ya habib salam alaiika salawaatullahi alaiika..” (Ya, Nabi salam sejahtera atasmu, wahai Rasul salam sejahtera atasmu. Wahai kekasih salam sejahtera atasmu, semoga rahmat Allah tercurah atasmu)
Usai pengajian, saya dan istri duduk di ruang tamu. Kami ditemani dua cangkir teh manis. Istri lalu membuka buku tipis. Judulnya jika saya tak salah ingat berjudul Nama-nama untuk Bayi.
“Apa nama yang bagus, ya?” tanya istri sambil menyeruput teh manis. Pandangannya tertuju pada buku itu.
“Belum dapat, Neng?”
“Belum.”
“Ghalda bagus nggak, Bang?”
“Wah, bagus tuh. Apa artinya?”
“Lembut, muda.”
“Syadza”
“Harum”
“Paling nggak kita gunakan tiga kata, ya?”
“Tuhan suka yang ganjil.”
“Tuhan suka yang ganjil.”
“Bagaimana kalau kata terakhirnya Kamilah?”
“Boleh aja, Bang.”
“Ghalda Syadza Kamilah.”
(IV)
SABTU, 20 Maret 2005 pukul 10.00 menjadi hari yang paling menegangkan buat kami. Janin yang dikandung istri saya mendadak tak bergerak. Saya berusaha memancing dengan cara mengelus-elus perut istri. Namun, tetap tak ada respons dari buah hati kami. Berulang-ulang kami berusaha, tetapi tetap janin tak bereaksi. Saat itu kandungan istri sudah memasuki usia 33 minggu.
“Cepat kita harus ke dokter, Neng!” kata saya dengan pikiran yang berkecamuk.
Kami dengan sigap memasukkan segala keperluan ke dalam tas. Mulai dari minyak angin, selimut, kain, sarung, handuk, pakaian bayi, bedak, odol, sikat gigi.
“Saya nggak mau terjadi sesuatu terhadap anak kita,” kata saya panik.
“Semoga Tuhan melindungi anak kita, Bang! Saya tak merasakan apa-apa, Bang,” jawab istri dengan mata mulai berkaca-kaca. Ia berusaha tenang.
Mertua lelaki saya, Soedjadi Mochtar, terlihat bergegas ke luar. Ia mencarikan taksi yang akan mengantar kami ke Alvernia. Lelaki berumur 64 tahun itu pun tampak cemas mendengar pembicaraan kami.
Di dalam taksi pikiran saya terus berkecamuk. “Jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan anak saya,” kata saya dalam hati.
“Sabar ya, Bang,” bisik istri saya di telinga kanan ketika kendaraan yang kami tumpangi melewati Terminal Rawamangun. Arus lalu-lintas lancar.
Antrean pasien Rumah Bersalin Alvernia mulai menyusut saat kami tiba. Tiga perempuan berusia sekitar 35 tahun duduk berpencar didampingi suami masing-masing. Mereka menunggu giliran pemeriksaan. Hati saya tetap panik.
Setelah menyerahkan kartu pemeriksaan warna biru muda, seorang suster lalu memeriksa tekanan darah istri dan mengukur berat badannya. “Tekanan darahnya agak tinggi, Bu. Nanti langsung bertemu dengan dokter saja,” katanya.
Hati saya kian panik.
“Gimana, nih, Bang?” tanya istri.
“Ya, sabar aja. Kita harus tunggu pemeriksaan dokter,” kata saya sambil menggengam erat tangan kanan istri.
Wajah istri saya terlihat mulai memerah. Sedih. Wajah saya pun sembab. Saya tak peduli dengan pasien yang sempat memandang kami. Antrean pasien tinggal seorang. Saya terus menggenggam tangan istri. Tas saya letakkan di sebelah kanan kursi.
“Bu Kun, silakan masuk,” kata suster.
Istri lalu masuk. Saya di belakangnya sambil menggendong tas yang penuh muatan.
Dokter Winarno mempersilakan istri saya berbaring di atas kasur. Seorang suster menyerahkan doppler ke dokter itu. Doppler merupakan alat untuk melihat arus pembuluh darah janin melalui frekuensi detak jantung. Dengan pemeriksaan doppler dapat diketahui apakah janin mendapat cukup suplai darah, serta apakah ia tumbuh sesuai usianya. Melalui alat itu, dokter juga bisa meramalkan apakah calon ibu mengalami pre-eklampsia atau tidak.
“Bagaimana hasilnya dokter?” tanya saya.
“Sabar ya, Pak. Nanti kita periksa CTG dulu,” jelas Dokter Win.
Istri lalu diminta untuk pindah ke ruang persalinan berukuran sekitar 4 x 5 meter persegi. Bau obat menyengat saat kaki memasuki ruang bercat putih. Ia lalu dibaringkan di atas kursi panjang beroda empat. Di sebelah kanan terdapat tabung oksigen warna biru dan sejumlah peralatan untuk operasi. Istri saya kemudian menjalani pemeriksaan cardiotocography (CTG). Saya melihat perut istri saya ditempeli dua alat, yaitu ; alat deteksi denyut jantung janin dan alat kontraksi selama lebih 15 menit. Jika terjadi perlambatan denyut jantung janin, bisa menandakan terjadinya gawat janin akibat fungsi plasenta yang tidak baik dan harus segera diberi pertolongan.
Sore saya dipanggil dokter di ruang suster. Tidak seperti pemeriksaan sebelumnya, pemeriksaan kali ini tergolong istimewa. “Tuhan mungkin berkata lain, Pak. Setelah menjalani pemeriksaan CTG, ternyata istri bapak mengalami pre-eklampsi. Janin yang dikandungnya pun sudah meninggal dunia. Untuk menyelamatkan nyawa ibunya, kami harus melakukan tindakan?” terang dokter.
“Apa yang dimaksud pre-eklampsi itu, dokter?”
“Pre-eklampsi itu adala suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi.”
“Kok, pekan lalu istri saya sehat-sehat saja, dokter?”
“Pre-eklampsi itu bisa terjadi tiap saat.”
“Kehamilan harus segera diakhiri untuk melindungi jiwa ibunya. Bagaimana, Pak?”
“Silakan, dokter.”
Saya terisak. Saya lalu menandatangani selembar kertas. Isinya menerangkan bahwa bayi yang dikandung isti saya telah meninggal dunia.
“Apakah masih bisa lahir normal, dokter?”
“Kami akan usahakan. Ibu harus diinduksi,” jelas dokter Win.
Induksi adalah suatu upaya stimulasi dimulainya proses persalinan. Dari tidak ada tanda-tanda persalinan menjadi ada. Cara ini dilakukan sebagai upaya medis untuk mempermudah keluarnya bayi dari rahim secara normal.
(V)
MALAM itu merupakan saat yang paling bersejarah dalam kehidupan kami. Ada tiga hal penting yang saya rasakan. Pertama, saya harus menunggu buah hati kami yang masih dalam kandungan. Entah, jam berapa akan keluar. Kedua, jika ia keluar, tetapi kondisinya sudah tak bernyawa. Ketiga, mencari alasan yang tepat kepada istri bahwa anak yang telah lahir sudah meninggal dunia.
“Ada apa, Bang? Kok, menangis?”
“Ah, nggak, sayang. Abang kelilipan. Jadi, mirip orang nangis,” kata saya berusaha menutupi kondisi sebenarnya.
Saya bersyukur istri tak menannyakan soal kondisi janin. Sarung yang dikenakan istri saya mulai basah. Air ketuban mulai keluar. Warnanya agak kecoklatan. Paras istri saya terlihat agak pucat. Sesekali ia meringis menahan sakit. Saya berusaha memeluknya agar tetap tenang. Tetesan air ketuban membasahi lantai. Saya lalu mengambil sarung kering dari dalam tas. Istri terlihat makin lemas. Saya tergopoh-gopoh memanggil suster. Dengan bantuan suster, istri saya kembali dibawa ke ruang persalinan. Saya berusaha menahan kantuk dan memilih menunggu di luar. Saya takut melihat darah.
Pukul 00.35 WIB perjuangan istri saya berhasil. Ia melahirkan seorang putri secara normal. Namun, suasana tetap hening tidak ada suara tangis bayi. Dokter Irwan Bachtiar---ahli kebidanan dan penyakit kandungan--- yang menangani persalinan istri lalu menggendong bayi kami yang memiliki berat 3, 1 kilogram dan panjang 50 sentimeter untuk dibersihkan. Ghalda Syadza Kamilah lalu diletakkan di ruang suster yang mulai sunyi. Sekujur tubuh Ghalda mulai membiru. "Lain kali jika hamil nggak usah nyantap fast food atau minuman bersoda. Itu untuk menghindari kejadian seperti ini lagi," kata dokter Irwan menasihati.
Mertua saya datang tanpa suara. Mereka tertegun melihat cucunya yang sudah tak bergerak. Air mata jatuh.
Dengan lap kain yang direndam air, saya memerhatikan Dokter Irwan menyilangkan tangan Ghalda yang telah meninggal 14 jam sebelumnya dengan hati-hati. Ia lalu membersihkan bercak-bercak darah di dahinya dengan tenang. Dokter Irwan bekerja dengan lembut, gerakannya adalah usaha untuk menghormati jenazah.
Tak lama saya mendaratkan ciuman ke pipi kanan dan kiri Ghalda. Dua kali saya berbisik di telinganya.
“Selamat jalan, sayang.”
*) Peristiwa ini terjadi sekitar pertengahan 2005. Saya berusaha mengingat kembali peristiwa tersebut untuk tugas Kursus Narasi di Yayasan Pantau.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar