KARANGMULYA
adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Karang Tengah, Tangerang,
Banten. Wilayah itu dihuni 17 ribu orang berdasarkan Sensus Penduduk 2010.
Namun, menurut pendataan yang dilakukan pihak kelurahan sendiri penduduk desa
itu berjumlah 14 ribu per Agustus 2011. Dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang
berimbang. Sementara jumlah pemilih untuk Pemilihan
Gubernur Banten pada 22 Oktober 200 mendatang berjumlah 10.890-an orang.
Sebagian
besar penduduk Karangmulya berprofesi sebagai
petani tanaman hias. Mulai dari soka, kamboja, pucuk merah, jambe, serta aneka
tanaman lainnya. Ada juga yang berprofesi sebagai guru ngaji, guru, pegawai
negeri sipil, anggota DPRD, dan sebagainya.
Dari 217 hektare, Karangmulya terdiri atas 13 Rukun
Warga (RW) dan 58 Rukun Tetangga (RT). Dari 13 RW yang ada, di
empat RT
terdapat beberapa
perumahan,
yaitu ; Villa Meruya, Bumi Permata Indah, Metro Permata I dan II, dua perumahan
departemen, Departemen Dalam Negeri
(DDN) dan Departemen Kehutanan, serta Perumahan Unilever.
Soal nama Karangmulya
dipungut karena terdapat batu berbentuk karang yang berada di tengah persawahan
kala itu. Persisnya terletak di Kavling Departemen Dalam Negeri (DDN). Sementara
itu, penempatan kata “mulya” setelah kata “karang” karena di daerah itu terdapat banyak alim ulama atau orang-orang
yang dimuliakan. Versi lain menyebutkan desa itu awalnya dinamakan “Karangantu”
karena banyak orang meninggal akibat peristiwa kriminal yang dibuang ke Kali
Centiga yang mengalir dari Karangmulya hingga ke Kali Angke di Parung Jaya.
Lokasi Karangmulya dibatasi oleh lima kelurahan. Di
sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Kembangan Selatan. Di selatan dibatasi Kelurahan Karang Timur, di barat dibatasi kelurahan
Parung Jaya dan Pondok Pucung, sedangkan di sebelah timur dibatasi Kelurahan
Meruya Utara dan Meruya Selatan.
Sejak
pemekaran hingga kini sudah tujuh orang yang menjabat sebagai Lurah
Karangmulya. Mereka adalah H. Rauf Mukli, H. Sukanta, Asman Abdullah, H. Muhammad Natsir Sidik, H. Syarifuddin,
Mauludin Supakat. Sementara itu wakilnya adalah Nasan Musa dan Supangat.
Dua orang dari mereka diganti akibat meninggal dunia dan
stroke, yaitu ; H. Muhammad Natsir Sidik dan H. Syarifuddin.
Berdasarkan
Pemilu 2009, ada lima besar partai yang meraih suara signifikan di kelurahan
tersebut ;
Demokrat, Golkar, PDI-P, PAN, dan PPP. Di
luar itu, terdapat organisasi sosial dan
keagamaan, seperti Forkabi, pesantren, majelis taklim, masjid, dan musala.
Di
kawasan ini terdapat banyak jalan yang menggunakan nama orang atau tokoh
masyarakat sekitar. Seperti Jalan H. Salip, H.
Zakaria, Daud, H. Samad, Minan Japu, H.
Sumin, H. Berit, Abdullah, H. Daih, H. Preman, dan H. Naim, serta satu jalan provinsi yang bernama Jalan Raden Saleh.
Saman
merupakan satu dari 17 ribu penduduk yang tinggal di Karangmulya.
Wajahnya terlihat letih. Jaket kulit hitam
membalut tubuhnya yang agak gemuk. Mengenakan sarung warna hitam, ia duduk
bersila di atas kursi didamping kawannya, Hamdani, 38 tahun. Cuaca dingin
membekap kawasan Vila Sakina, Hangjawar, Cipanas, Jawa Barat, awal September 2011. “Saya masuk angin sejak kemarin. Cuaca mulai dingin,”
terangnya sambil menarik kerah jaket.
Saman merupakan tenaga kerja sukarela (TKS) pada Kasie Pemerintahan Kelurahan
Karangmulya. Ia bekerja sejak tahun 1996, tapi hingga
kini masih berstatus TKS, bersama enam rekannya. Ia mengatakan sempat dijanjikan menjadi PNS pada 2010
lalu oleh Walikota Tangerang Wahidin Halim dan sudah didata Badan Kepegawaian Nasional melalui Badan Kepegawaian Daerah Kota Tangerang. “Namun, hingga saat ini realisasi
itu belum terlaksana,” keluh Saman.
“Sampai
kapan saya harus menunggu?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar