Selasa, 04 Oktober 2011

Karangmulya


KARANGMULYA adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kecamatan Karang Tengah, Tangerang, Banten. Wilayah itu dihuni 17 ribu orang berdasarkan Sensus Penduduk 2010. Namun, menurut pendataan yang dilakukan pihak kelurahan sendiri penduduk desa itu berjumlah 14 ribu per Agustus 2011. Dengan komposisi  jumlah penduduk laki-laki dan perempuan yang berimbang. Sementara jumlah pemilih untuk Pemilihan Gubernur Banten pada 22 Oktober 200 mendatang berjumlah 10.890-an orang.

Sebagian besar penduduk Karangmulya  berprofesi sebagai petani tanaman hias. Mulai dari soka, kamboja, pucuk merah, jambe, serta aneka tanaman lainnya. Ada juga yang berprofesi sebagai guru ngaji, guru, pegawai negeri sipil, anggota DPRD, dan sebagainya.

Dari  217 hektare, Karangmulya terdiri atas 13 Rukun Warga (RW) dan 58 Rukun Tetangga (RT).  Dari 13 RW yang ada,  di empat  RT terdapat beberapa perumahan, yaitu ; Villa Meruya, Bumi Permata Indah, Metro Permata I dan II, dua perumahan departemen,  Departemen Dalam Negeri (DDN) dan Departemen Kehutanan, serta Perumahan Unilever.

Soal nama Karangmulya dipungut karena terdapat batu berbentuk karang yang berada di tengah persawahan kala itu. Persisnya terletak di Kavling Departemen Dalam Negeri (DDN). Sementara itu, penempatan kata “mulya” setelah kata “karang” karena di daerah itu  terdapat banyak alim ulama atau orang-orang yang dimuliakan. Versi lain menyebutkan desa itu awalnya dinamakan “Karangantu” karena banyak orang meninggal akibat peristiwa kriminal yang dibuang ke  Kali Centiga yang mengalir dari Karangmulya hingga ke Kali Angke di Parung Jaya.

Lokasi Karangmulya dibatasi oleh lima kelurahan. Di sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Kembangan Selatan. Di selatan dibatasi Kelurahan Karang Timur, di barat dibatasi kelurahan Parung Jaya dan Pondok Pucung, sedangkan di sebelah timur dibatasi Kelurahan Meruya Utara dan Meruya Selatan.

Sejak pemekaran hingga kini sudah tujuh orang yang menjabat sebagai Lurah Karangmulya. Mereka adalah H. Rauf Mukli, H. Sukanta, Asman Abdullah, H. Muhammad Natsir Sidik, H. Syarifuddin,  Mauludin Supakat. Sementara itu wakilnya adalah Nasan Musa dan Supangat. Dua orang dari mereka diganti akibat meninggal dunia dan stroke, yaitu ;  H. Muhammad Natsir Sidik dan H. Syarifuddin.
 
Berdasarkan Pemilu 2009, ada lima besar partai yang meraih suara signifikan di kelurahan tersebut ; Demokrat, Golkar, PDI-P, PAN, dan PPP. Di luar itu, terdapat organisasi sosial  dan keagamaan, seperti Forkabi, pesantren, majelis taklim, masjid, dan musala.

Di kawasan ini terdapat banyak jalan yang menggunakan nama orang atau tokoh masyarakat sekitar. Seperti Jalan H. Salip, H. Zakaria,  Daud, H. Samad, Minan Japu, H. Sumin, H. Berit, Abdullah, H. Daih, H. Preman, dan H. Naim, serta satu jalan   provinsi yang bernama Jalan Raden Saleh.

“Urusan penamaan jalan yang ada itu resmi usulan dari warga. Penamaan jalan itu juga karena saat itu banyak keluarga atau keturunan mereka  yang tinggal di lokasi  jalan tersebut. Umumnya, mereka berasal dari keluarga berada, kata Muhammad Saman.

Saman merupakan satu dari 17 ribu penduduk yang tinggal di Karangmulya.

Wajahnya terlihat letih. Jaket kulit hitam membalut tubuhnya yang agak gemuk. Mengenakan sarung warna hitam, ia duduk bersila di atas kursi didamping kawannya, Hamdani, 38 tahun. Cuaca dingin membekap kawasan Vila Sakina, Hangjawar, Cipanas, Jawa Barat, awal September 2011. “Saya masuk angin sejak kemarin. Cuaca mulai dingin,” terangnya sambil menarik kerah jaket.

Saman merupakan tenaga kerja sukarela (TKS) pada Kasie Pemerintahan Kelurahan Karangmulya. Ia bekerja sejak tahun 1996, tapi hingga kini masih berstatus  TKS, bersama enam rekannya. Ia mengatakan sempat dijanjikan menjadi PNS pada 2010 lalu oleh Walikota Tangerang Wahidin Halim dan sudah didata Badan Kepegawaian Nasional melalui Badan Kepegawaian Daerah Kota Tangerang.  “Namun, hingga saat ini realisasi itu belum terlaksana,” keluh Saman.

“Sampai kapan saya harus menunggu?”

Tidak ada komentar: