Gunung Gamalama yang menjulang tampak menghijau ditumbuhi pepohonan. Kabut tipis terlihat menutupi bagian puncaknya. Langit biru. Pemandangan itulah yang langsung tertangkap mata ketika pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandar Udara Sultan Babullah, Ternate, Maluku Utara, akhir tahun lalu.
Tak kurang 120 ribu warga Kota Ternate menetap di lerengnya. Berketinggian 1.715 meter di atas permukaan laut (dpl), gunung ini memiliki keliling sekitar 42 kilometer dengan radius 10 kilometer. Gunung Gamalama juga ditutupi hutan montane pada ketinggian 1.200-1.500 meter dan hutan Ericaeous pada ketinggian di atas 1.500 meter.
Cuaca cerah ketika saya dan rombongan menjejakkan kaki di Pelabuhan Ternate. Angin semilir. Bersama anggota rombongan lain, kami langsung memasukkan barang bawaan ke dalam kapal yang berpenumpang sekitar 20 orang. Hari makin terik, tapi sejumlah penumpang sengaja duduk di dek kapal. Mereka tampak rileks menikmati perjalanan. Gunung Gamalama tampak kian menjauh dari pandangan. Kendaraan yang kami tumpangi kemudian membelah Laut Ternate yang membentang. Kendaraan yang kami tumpangi terus melaju. Angin berhembus kencang. Dari kejauhan tampak gugusan pulau-pulau di depan dan samping kanan-kiri.
Setiap kali gugusan pulau kian membesar, Abubakar Abdullah, Kepala Biro Humas Pemda Maluku Utara langsung memberi tahu. "Itu Pulau Tidore," teriaknya. Pulau Tidore terletak di sebelah barat Pulau Halmahera, pulau yang berbentuk seperti huruf "K" dalam gugusan Kepulauan Maluku. Pulau ini merupakan pulau berpenduduk.
Sesekali ombak kecil menghantam kapal yang kami tumpangi. Dari kejauhan terlihat Pulau Maitara. Pulau ini menghiasi lembar uang kertas ribuan. Dari kejauhan ia terlihat cerah dan warna kehijauan. Selain berpantai dan berpasir putih, karangnya terjaga baik. Banyak turis asing yang memanfaatkan waktu untuk diving dan snorkeling di sana. Pulau ini juga terkenal sebagai penghasil gerabah dapur, seperti cobek dan uleg-uleg. Ia juga disesaki dengan pohon kelapa, pala, dan cengkeh. Pulau Maitara dihuni sekitar 1.000 jiwa. Perlahan dari kejauhan tampak Pulau Mare, Pulau Moti, Makian, dan Kayoa. Di dekat Pulau Kayoa itulah terdapat Pulau Lelei dan Guraici.
Setelah tiga jam perjalanan, kapal yang kami tumpangi akhirnya merapat di dermaga Pulau Lelei. Kami disambut penduduk setempat dengan tarian Togal, yang memang biasa digunakan untuk menyambut para tamu yang datang ke lokasi tersebut. Penari yang terdiri dari muda-mudi itu berlenggak-lenggok diiringi bunyi tetabuhan.
Pulai seluas 3 kilometer itu terdiri dari dua dusun: Dusun I dan Dusun II. Penduduknya berjumlah 800 jiwa dengan 244 kepala keluarga. Tingkat pendidikan penduduknya beragam dari tamatan SD, SMA, hingga Perguruan Tinggi. "Di sini, hampir setiap kepala keluarga mempunyai anak yang lulus dari perguruan tinggi," ujar Abdjan Armaijn (49 tahun), Kepala Desa Lelei, yang mendampingi kami sore itu. Mereka umumnya pindahan dari Pulau Makian yang datang secara bertahap.
Selain berair biru, Pulau Lelei juga memiliki keindahan alam bawah laut. Setiap minggu, setidaknya empat orang turis mancanegara yang sengaja menghabiskan waktu di sana. Ada yang menyewa cottage atau tinggal di rumah penduduk. Pemerintah setempat menyediakan 13 cottage berbentuk rumah panggung. Sementara, puluhan rumah lain disiapkan penduduk untuk home stay. Biayanya tergolong murah. Untuk cottage tarifnya hanya Rp 150 ribu per malam. Sedang untuk di home stay, pengunjung cukup menyediakan dana Rp 100 ribu semalam. Para wisawatan asing yang datang ke Pulau Lelei sebagian besar berasal dari Italia, Prancis, dan Inggris.
Jika sore tiba, para pemuda di desa itu berlatih memainkan musik yang diiringi tarian gala. Musik dan tarian tersebut umumnya dimainkan saat acara perkawinan, penyambutan tamu, dan lain-lain. "Musik ini terkenal hingga Belanda, Jepang, dan selalu tampil di Festival Keraton Indonesia. Makanya, kami terus melestarikan musik tradisional ini," tandas Aswad Minggu (41) tahun, Pimpinan Musik Tradisional Gala.
Selain Pulau Lelei, Anda dapat berkunjung ke Pulau Gura Ici. Dalam bahasa Ternate Gura Ici berasal dari kata Gura yang bermakna "kebun" dan Ici yang berarti "kecil". Artinya "kebun kecil." Keberadaan pulau tersebut memang sempat dijadikan kebun oleh penduduk setempat. Pulau tak berpenuhi itu hanya seluas tujuh hektare. Di masa lalu, Pulau Gura Ici adalah kawasan penghasil cengkih, pala, dan rempah-rempah lainnya. Kondisi itulah yang mengundang para pedagang dari Portugis, Spanyol, dan Belanda bertarung merebutkan penguasaan atas wilayah tersebut pada abad ke-13 silam.
Karena tidak berpenduduk, pengunjung yang ingin diving di sana harus menginap di Pulau Lelei. Perjalanan dari Pulau Lelei ke Pulau Gura Ici hanya butuh waktu 10 menit dengan menggunakan speedboat. Pulau Gura Ici menjadi andalan wisata di Maluku Utara. Pulau ini berpasir putih, air membiru, terumbu karang, dan beragam jenis ikan karang. Keindahan Pulau Lelei dan Gura Ici juga didukung dengan keberadaan pulau-pulau lain; Sapan, Kelo, Popaco, Jouronga, Salo, Tudu, Igo, Kapaya, Tomadova, Temo Kecil dan Temo Besar, Talimau, Gunange, Siko, Gapi, Legoma, dan Tameti.
Matahari hampir lingsir ke barat ketika sebuah kapal mendarat di dermaga Pulau Lelei. Sejumlah penumpang terlihat gembira. Maklum, mereka sudah siap untuk menyaksikan pesta rakyat di Kota Ternate. Di tengah gerimis dan angin kencang, kendaraan itu langsung membelah Laut Ternate. Pulau-pulau yang ditinggalkan terlihat mengecil dari pandangan. Sementara pulau-pulau yang didatangi tampak makin membesar sampai akhirnya kami merapat di Pelabuhan Ternate. Sepanjang perjalanan, speedboat yang kami tumpangi melewati Pulau Kayoa, Makian, Moti, Maitara, dan Tidore. Hujan mengguyur saat rombongan tiba di Ternate. Aspal masih basah saat bus yang kami tumpangi bergerak menuju penginapan di Kota Ternate.
Malam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIT. Acara pesta rakyat kian meriah. Sebelum acara usai, mereka memeragakan atraksi bambu gila. Atraksi ini merupakan permainan rakyat yang sangat menarik dan unik untuk ditonton. Bambu gila dimainkan oleh tujuh orang. Mereka memegang bambu, bara api, serta kemenyan. Permainan ini sering disebut baramasuwen untuk memindahkan alat berat guna meringankan pekerjaan penduduk. Permainan tersebut mencerminkan sifat gotong royong dan ciri keseharian rakyat Ternate.
Malam kian larut. Para penonton pun mulai meninggalkan tempat. Dingin menggigit kulit.
*) Ternate, Maluku Utara, akhir 2010

Tidak ada komentar:
Posting Komentar