Kamis, 07 Juli 2011

BUKU

Menggugat Kekuatan Pusat yang Dominan
MASALAH  multikulturalisme di Amerika Serikat muncul melalui pandangan Lucy R Lippard. Ia mempersoalkan dominasi nilai-nilai masyarakat homogen Ero-Amerika yang memarjinalkan nilai-nilai masyarakat kelompok Asia, Afrika, pribumi Amerika, dan kelompok Amerika Latin.
PEREMPUAN  pengarang di Dunia Ketiga, seperti Maxine Hongkingston yang keturunan China, Jamaica Kincaid dari Haiti, Edwidge Dunticat dari Hindia Barat, Luis Erich yang keturunan asli Amerika, adalah sebagian dari daftar pengarang yang muncul di era multikulturalisme Amerika Serikat.
Ada pula perempuan pengarang asal India bernama Bharati Mukherjee. Novel-novelnya yang menggambarkan pengalaman imigran dari Asia Selatan turut memperkaya khasanah fiksi multikultural yang mulai menjamur di Amerika sejak tahun 1980-an.
Salah satu novel Bharati yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Istri. Novel ini ditulis pada tahun-tahun ketika ia beremigrasi ke Kanada.
***
BHARATI mengawali cerita novel ini dengan gadis belia bernama Dimple Dasgupta yang sedang memimpikan seorang pria yang akan mempersuntingnya. Sayang, harapan itu tidak tercapai. Ia justru menikah dengan seorang insinyur bernama Amit Kumar Basu pilihan orang tuanya lewat iklan jodoh.
Rumah tangga baru itu tidak kukuh lantaran tidak berdasarkan cinta yang mendalam. Ketika Amit harus kehilangan pekerjaan, mulai goyahlah rumah tangga itu.
Dimple coba menghibur suaminya, anta lain  dengan berpakaian warna-warna mencolok : merah, oranye, ungu. Rambutnya pun ditata ke atas dengan bando besar dan membiarkan sejuntai rambut keriting tipis terayun-ayun di belakang telinganya. Dia juga berhenti menyantap cabai hijau pedas kesukaannya.
Mereka berupaya memperoleh pekerjaan, tetapi tampaknua keberuntungan belum berpihak pada mereka. Lalu, keluarga muda itu mengadu untuk ke Amerika Serikat. Itu dilakukan setelah ada teman yang menawarkan bantuan.
Sahabat Amit, Jyoti Sen, menawarkan diri untuk menampung mereka di apartemennya di Queens sampai Amit memeroleh kerja. Situasi di tempat barunya itu memaksa mereka menyesuaikan diri. Menurut Dimple, hal itu seperti hidup dengan seorang pribadi baru : dia harus belajar menyenangkan Amit secara baru.
Hidup sebagai seorang istri di mancanegara, perlahan-lahan menjadi kesesakan baru bagi Dimple, walaupun pada awalnya menawarkan suasana baru yang segar. Apa yang terjadi pada Dimple adalah “gegar budaya” (cultural shock), proses alienasi, dan depresi pada “dunia istri” yang makin menyempit dan mengalami disilusi dari impian-impian romantis.
Dimple kian bosan dengan keadaan yang belum berubah menjadi baik. Pada titik jenuhnya yang memuncak, ia membunuh suaminya.
Dari alur ini dapat ditangkap novel ini hendak menggambarkan secara detail dampak psikologis jika konstruksi jender berhadapan dengan realitas, tanpa diimbangi pertumbuhan jiwa yang matang, ditambah dengan kungkungan jender berupa penjara “domestisitas” (hanya bergerak dalam “dunia istri” saja). Wilayah perempuan ini terkurung di dalam wilayah dapur, sumur, dan kasur dengan sinetron melodrama sebagai satu-satunya jendela.
Melalui novel ini Bharati hendak menggugat kekuatan pusat yang dominan, yaitu modernisme Ero-Amerika, yang membuat nilai-nilai kultur lain berada pada posisi pinggiran.
Hal itu terlihat dari dua tokoh utama yang ditampilkan  Bharati, sekalipun tidak secara eksplisit. Dimple sebagai representasi dunia pinggiran dan Amit sebagai simbol kekuatan budaya pusat. Secara simbolik dibunuhnya Amit oleh Dimple, menandakan usaha untuk menghancurkan kekuatan pusat. Itu bukti bahwa dunia pinggiran sudah tidak lagi pasif ketika terdesak.
Selain itu, dalam novel ini terkesan adanya pemberontakan istri yang terkungkung oleh dunia domestiknya. Ia berontak, menerjang barikade, mencari dunia baru.
Senada dengan pernyataan Bharati dalam jurnal Kalam bahwa secara retoris maupun kategoris ia sangat berbeda dengan Salman Rusdhie dan Vikram Seth, karena sastra pascakolonial sangat tidak relevan baginya. Ia justru ingin menggusur wilayah mainstream agar absah, dengan dasar nilai horizontal untuk semua sastrawan.
***
BHARATI Mukherjee lahir pada 27 Juli 1942 dari pasangan Sidhir Lal dan Bina Mukherjee. Ia memperoleh gelar philsophy of  doctor (PhD) di bidang sastra bandingan pada 1960.
Pada tahun 1972 ia bermigrasi ke Kanada. Merasa tidak betah di sana, ia pindah ke Amerika Serikat. Di sana karier Bharati mencapai titik puncaknya dan sempat memperoleh penghargaan National Book Critic Award.
Suasana muram mewarnai novel-novel Bharati yang ditulis di awal kariernya. Seperti The Tiger’s Daughter (1971), Wife (1975), dan Darkness (1985). Novel  Istri secara umum tidak dianggap sebagai karya yang sukses, karena baik penggarapan dan temanya, kalah dibandingka karya-karya yang ditulis kemudian, seperti : Middleman and Other Stories (1998) dan novel tersuksenya Jasmine (1990). Novel terbaik Bharati itu ditulis di Amerika Serikat dengan perspektif dinamis dan optimis.
Sudah lama diyakini bahwa sastra sebuah negeri membutuhkan dialog dan perbandingan demi pemekarannya. Salah satu yang dibutuhkan adalah persentuhan dengan khazanah sastra negeri lainnya. Ibarat taman dan tanah, karya sastra terjemahan bisa hadir sebagai pupuk penyuburnya.
Oleh karena itu, novel bernada penggugatan jender ini patut dibaca oleh siapa saja, terutama untuk mengarahkan diri pada paham egaliterianisme, persamaan derajat dan kesempatan antarsesama, tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan.
Rasanya, suasanya sehabis Orde Baru tumbang kini, kebebasan berkreasi di indonesia juga kian terjamin. Karena itu para sastrawan diharapkan dapat lebih kreatif menuangkan karya sastranya. Tak usah harus bermigrasi dulu seperti Bharati, untuk bisa meniti karier sampai ke puncak.
Sudah sepatutnya pemerintah memberi apresiasi tinggi terhadap karya-karya para pengarang Indonesia, supaya sastra dalam negeri bisa menebus ketertinggalannya selama ini.
 *) tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kompas, Minggu, 7 Oktober 2001


Tidak ada komentar: