Selasa, 05 Juli 2011

CERPEN




Burung Garuda        

MATA Budi belum juga  terpejam.  Malam telah larut. Pikirannya masih terngiang-ngiang dengan cerita gurunya, Maksum.  Bagi Budi, mencari burung garuda dan menangkapnya bukan pekerjaan mudah. Bocah berumur 10  tahun itu masih terlihat penasaran dengan cerita burung garuda yang disampaikan oleh gurunya dua hari lalu.  Selama hidupnya, ia belum pernah melihat burung garuda. Sayapnya mengepak lebar dan kepala menoleh ke kiri. Apalagi, harus menangkapnya. “Tangkaplah garuda itu. Rawat baik-baik. Jika kalian mampu menangkapnya, maka kalian akan sejahtera. Tidak ada lagi keributan,” tantang lelaki  itu penuh semangat.
“Benarkah jika saya mampu menangkap binatang itu kita akan selamat, pak guru?” tanya Budi penuh keraguan.
“Ya, benar!” jawab Maksum. “Kita lebih suka dengan  perkutut. Burung garuda itu paling hebat di antara burung-burung yang ada,” lanjutnya sambil memandang Budi lekat-lekat.
“Pak guru, saya punya burung beo. Apakah burung itu tidak hebat? Burung beo saya bisa menirukan ucapan manusia,” tanya Badu penasaran, sahabat Budi yang duduk satu bangku reot dengannya.
“Tidak. Burung yang paling sakti itu bukan beo, tapi garuda. Tugas kalian adalah mencari burung garuda dan menangkapnya dan  jangan sampai burung itu mati,” seru Maksum.
“Cucak rowo, burung yang sakti juga, kan, pak guru?” tanya Makbul. “Burung yang saya punya bisa bernyanyi, lho, pak guru,” lanjut Makbul sambil menyeka ingus yang keluar dari hidungnya.
“Semuanya kalah dengan burung garuda!” tegas Maksum.
Keesokannya Budi bertekad bangun pagi. Saat subuh berkumandang, ia bergegas menyalakan televisi butut 14 inchi milik keluarganya. Dalam hati ia berkata, semoga hari ini ia dapat melihat bentuk burung garuda. Selama ini ia hanya mengenal Upin Upin dan Doraemon, kartun kesayangannya, di televisi. Ia belum pernah melihat burung garuda. Guru-guru yang lain pun belum pernah bercerita tentang kehebatan burung garuda. “Apa pentingnya burung garuda ketimbang Doraemon?” tanyanya kepada sang ayah, Badrul.
Badrul gelagapan ditanya oleh anak semata wayangnya itu.  Hampir tiap subuh Budi selalu bertanya tentang garuda.  Badrul yang sedang menuju ke tegalan, membelokkan langkahnya. Ia mengurungkan niat untuk mencangkul sawahnya. Baginya, pertanyaan Budi lebih penting dijawab ketimbang harus libur sehari pergi ke sawah. Ia bergegas singgah ke rumah Jaka, mahasiswa yang kuliah di sebuah universitas di Jakarta. Kata tetangga Badrul, Jaka merupakan seorang mahasiswa yang cerdas sehingga ia dapat beasiswa di kampusnya. Tidak mungkin Jaka tak bisa menjawab pertanyaan anaknya itu, pikirnya keras.
“Ada apa, Kang Badrul. Kok, wajahnya gelisah sekali?” tanya Jaka sesaat Badrul duduk di kursi bambu. Matanya tertuju pada singkong rebus dan secangkir kopi pahit yang disajikan. “Silakan dicicipi, Kang!” seru Jaka sambil meletakkan buku di pinggir meja.
“Begini, lho, Nak Jaka!” kata Badrul membuka percakapan. Tangan kanannya meraih cangkir kopi hitam dan langsung menyeruputnya. “Saya tidak bisa menjawab pertanyaan anak saya. Dia tanya, apa keistimewaan burung garuda itu. Nak Jak, kan, sekolah tinggi tentu dapat membantu saya untuk menjawab pertanyaan anak saya,” jelas Badrul sambil mencomot singkong rebus. “Maklum, saya itu Sekolah Rakyat pun ndak lulus,” sambungnya.
“Wah, itu bukan bidang saya, Kang Badrul. Saya itu jurusan ekonomi. Jadi, kalau ditanya soal pertumbuhan ekonomi, saya bisa jawab. Kalau soal burung garuda, ya, itu nama burung, Kang. Ada burung perkutut, nuri, jalak, betet, dan lain-lain. Mungkin tukang burung atau mereka yang suka burung yang lebih tepat untuk menjawabnya. Lagi pula, buat apa bertanya soal burung. Di zaman pembangunan ini, bicara burung ndak modern,” kata Jaka sambil mengunyah singkong rebus.  Tangan kanannya mengipas-ngipas singkong dan kopi yang dihinggapi lalat.
Badrul tampak melongo diberi kuliah dari Joko.  Kerongkongannya seperti tersedak. Wajah Badrul terlihat kecewa. “Mosok wong kuliahan ndak bisa jawab soal burung garuda,” pikir Badrul dalam hati. Ia pun bergegas pulang.
Tak hanya bertanya kepada Jaka, Badrul juga menyambangi kediaman orang ahli agama. Namun, ia harus menjual padi terlebih dahulu. “Ilmu itu tidak ditemukan di tempat sampah, melainkan dicari. Proses pencarian itu perlu uang,” kata sang ustaz memberi isyarat. Badrul pun memahami perkataan itu. Hasil penjualan padi dimasukkan ke dalam kantong sakunya. Lagi-lagi, Badrul tak memeroleh jawaban. “Pertanyaan Nak Badrul tidak cocok ditanyakan kepada saya, kecuali persoalan-persoalan keagamaan,” katanya. “Lain kali jika datang ke sini dikhususkan tentang masalah-masalah keagamaan, ya,” pinta sang ustaz. Badrul tak berujar.
***
BUDI kembali mengulangi kegiatannya. Sebelum matahari terbit, ia sudah duduk bersila di depan televisi. Matanya masih terlihat mengantuk. Ia terus menunggu, apakah sosok burung garuda itu akan muncul di televisi bututnya. Sesekali tangannya mengubah saluran televisi. Mulai dari ustaz ceramah hingga berita selesai, ia belum juga menemukan burung garuda. Bagaimana ia bisa menangkap burung itu, bentuknya seperti apa pun ia belum lihat. Dengan kesal, Budi mematikan televisi. “Kok, nggak ada satu stasiun televisi pun yang menayangkan tenang burung garuda,” keluhnya.
Budi  kemudian keluar bertelanjang kaki menuju sawah. Budi berharap di sawah menemukan burung garuda. Ia mempercepat langkahnya di antara pohon-pohon padi yang mulai menguning. Matanya tertuju pada segerombolan burung gelatik yang bertengger di  batang-batang padi.  Satwa berbulu ini mempunyai paruh merah, kepala hitam dengan bercak putih mencolok pada pipi, dada abu-abu, perut merah jambu, ekor bawah hitam dan ekor putih. “Wahai, burung yang bergerombol, apakah di antara kalian bernama burung garuda? Jawablah wahai kaum burung,” kata Budi seperti sedang membaca puisi. Kerumunan burung itu mendadak kabur.
Keesokan harinya Budi sengaja ke pasar burung yang berjarak satu kilometer dari rumahnya. Ia harus mencari jawaban mengapa burung garuda lebih hebat dari burung-burung yang lain. Sudah 10 pemilik kios ia tanya, tak satupun jawaban yang memuaskannya. “Aneh, tukang burung pun tak ada yang bisa menjawab,” umpatnya sambil menyeka keringat di dahinya. “Tak penting burung garuda. Ia tak menghasilkan uang. Carilah uang yang banyak, Nak. Itu yang lebih penting,” kata seorang penjual burung sambil tersenyum lebar.
Hingga matahari terbenam, Budi belum juga menemukan burung garuda. Ia penasaran. Jangan-jangan burung garuda itu tidak ada. Hanya imajinasi saja. Keluhnya. “Pak guru, apakah burung garuda itu memang benar ada?” tanya Budi kepada Maksum.
“Ada. Garuda itu adalah salah satu dewa dalam dalam agama Hindu. Ia merupakan wahana Dewa Wisnu, salah satu trimurti atau manifestasi bentuk Tuhan dalam agama Hindu. Garuda digambarkan bertubuh emas, berwajah putih, dan bersayap emas.  Paruh dan sayapnya mirip elang,  tetapi tubuhnya seperti manusia. Ukurannya besar sehingga dapat menghalangi matahari.  Garuda merupakan lambang negara kita.  Garuda Pancasila,” urai Maksum. “Namun, sekarang ini orang mulai melupakannya. Mereka sudah tidak tertarik berbicara garuda Pancasila,” terang lelaki yang sekujur kepalanya sudah beruban itu.
Budi hanya manggut-manggut. Pandangannya lurus tertuju ke wajah Maksum. “Kita harus bangga dan bersyukur bahwa para pendiri bangsa telah merumuskan Pancasila sebagai cita-cita bersama dan mewakili  seluruh karakteristik bangsa. Masyarakat yang berbeda-beda, baik agama, mengakui hak asasi manusia, bersatu, berdemokrasi melalui musyawarah untuk mufakat. Melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial,” jelas Maksum. “Tangkaplah makna garuda Pancasila itu.”
Budi tertegun. Ia mulai tak paham dengan kata-kata gurunya.  Pandangannya mulai kabur. Ia tertidur.


Tidak ada komentar: