Kamis, 28 Juli 2011

Pasir Putih Pantai Tanjung Bira


 
Lidah ombak Pantai Tanjung Bira menjulur-julur hingga ke bibir pantai tatkala Thibault Grac sedang membaringkan tubuhnya di atas pasir putih. Wisatawan asal Perancis beruia 25 tahun itu terlihat asyik memandangi langit biru. Sesekali pandangannya mengarah ke jejeran perahu nelayan yang terombang-ambing di bibir pantai. Perahu-perahu itu siap mengantarkan penduduk dan pelancong ke pulau kecil di seberang yang bernama Liukangloe.

Dari kejauhan terlihat tebing karang berdiri kukuh dengan tekstur alamiah seolah berfungsi sebagai pembatas pantai. Di pinggir bukit yang berbatasan langsung dengan pantai, terdapat jejeran kursi lengkap dengan pelindung putih di atasnya. Di ujung pantai, pemandangan karang yang menjorok ke laut tampak sangat eksotik. Sementara, ratusan pohon kelapa yang menjulang terlihat samar-samar.

Thibault sengaja datang untuk berlibur selama dua pekan. Ia ingin menikmati panorama pantai di kawasan itu. “Amazing!” komentar Thibault tentang Pantai Tanjung Bira. “Saya juga mengagumi kesopanan dan keramahan penduduk setempat,” ujarnya.

Keindahan Pasir Putih
Thibault, merupakan salah seorang turis mancanegara yang melancong ke Pantai Tanjung Bira. Ia terpesona dengan keistimewaan pantai yang berpasir putih nan lembut seperti tepung dan dingin yang menghampar  di sepanjang tepinya. Di lokasi itu, para pengunjung dapat berenang, berjemur, diving, dan snorkeling. Para turis bisa menyaksikan  matahari terbit dan terbenam di satu posisi yang sama. Mereka bahkan bisa menikmati keindahan dua pulau yang ada di depan pantai: Pulau Liukangloe dan Pulau Kambing. Untuk menikmati panorama kawasan ini, pengunjung cukup mengeluarkan biaya tiket masuk sebesar Rp 5 ribu bagi wisatawan domestik, dan Rp 10 ribu hingga 15 ribu untuk turis mancanegara.

Jika pagi, kawasan pantai terlihat lebih ramai. Tidak sedikit penduduk setempat yang menyisiri pantai untuk mencari kerang. Kerang-kerang itu kemudian dibentuk menjadi pernak-pernik untuk dijual kepada wisatawan. Para wisatawan biasanya memilih bangun pagi-pagi agar tidak ketinggalan momen matahari terbit (sunrise). Setelah itu, mereka bisa langsung memulai segala aktivitas. Mereka dapat menceburkan diri dan merasakan segarnya air laut yang jernih atau kembali ke penginapan.

Keramaian di pantai biasanya berangsur surut menjelang siang. Terik mentari membuat mereka lebih memilih untuk istirahat dan mulai bermain lagi di sore hari. Mereka dapat berjemur atau sekadar mandi di laut yang dangkal sambil menunggu panorama matahari terbenam (sunset). Malamnya, mereka meluangkan waktu untuk menyusuri pantai hingga rebahan di pasir sambil menatap langit penuh bintang-gemintang bermusikkan debur ombak yang menderu-deru.

Rute Pantai Tanjung Bira
Pantai Tanjung Bira terletak sekitar 40 kilometer dari Bulukumba, atau 200 kilometer dari Kota Makassar. Perjalanan dari Makassar ke Bulukumba dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan umum. Tarifnya sebesar Rp 35 ribu. Selanjutnya, dari Kota Bulukumba ke Tanjung Bira dapat ditempuh dengan menggunakan mobil sejenis mikrolet dengan ongkos berkisar antara Rp 8 ribu sampai Rp 10 ribu. Total waktu perjalanan dari Kota Makassar ke Tanjung Bira sekitar empat jam.

Jika berangkat dari Bandara Hasanuddin, bisa langsung menuju terminal Malengkeri di Makassar dengan menggunakan taksi yang tarifnya sekitar Rp 40 ribu. Dari terminal ini bisa naik bus tujuan Bulukumba atau yang langsung ke Tanjung Bira. Di lokasi wisata Tanjung Bira, angkutan umum beroperasi hanya sampai sore. Bagi pengunjung yang harus kembali ke Kota Makassar pada sore itu juga, tersedia mobil sewaan dengan biaya Rp 500 ribu rupiah. “Bisa juga lebih murah dari harga tersebut. Yang penting, mereka pandai menawar saja,” kata Anwar, sopir mobil carteran.

Untuk lebih memanjakan para pelancong, kawasan wisata Pantai Tanjung Bira dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti restoran, penginapan, vila, bungalow, dan hotel dengan tarif mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 600 ribu per hari. Di tempat ini juga terdapat persewaan perlengkapan diving dan snorkeling dengan biaya Rp 30 ribu.

Tersedia juga kamar mandi umum dan air tawar untuk membersihkan pasir dan air laut yang masih lengket di badan. Jika ingin berkeliling di sekitar pantai, tersedia persewaan motor dengan tarif Rp 65 ribu rupiah. Di kawasan pantai juga terdapat pelabuhan kapal feri yang siap mengantarkan pengunjung yang ingin diving ke Pulau Selayar.

Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona
Untuk lebih memberdayakan masyarakat dan memacu kunjungan para wisatawan di kawasan Tanjung Bira, di lokasi ini diselenggarakannya Program Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona. Hadir dalam kesempatan itu Direktur Pemberdayaan Masyarakat Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Bakri, Bupati Bulukumba Andi M. Sukri, serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bulukumba. “Masyarakat Tanjung Bira harus betul-betul menjaga kebersihan, keamanan, nyaman, dan keramahtamahan sehingga wisatawan mau datang kembali ke sini,” kata Bakri.

Meski diiringi gerimis, acara Sadar Wisata dan Aksi Sapta Pesona itu berjalan meriah dan dipadati oleh ratusan masyarakat setempat dan turis mancanegara. “Pantai Tanjung Bira sangat potensial untuk dikembangkan sehingga memiliki nilai tambah bagi masyarakatnya. Artinya, selain menawarkan keindahan pesona alam, pantai ini juga berpasir putih,” tegas Dwi Yan yang mengaku kali pertama berkunjung ke lokasi tersebut. Hal senada juga dikemukakan aktor Hengky Tarnando. “Sebagai bangsa Indonesia, saya sangat bangga, ternyata banyak tempat yang indah di Bulukumba. Salah satunya, Pantai Tanjung Bira,” ujarnya. Sementara itu, Dewi Lastmi berharap agar pemerintah setempat untuk lebih menyosialisasikan kawasan ini agar lebih dikenal masyarakat sehingga dapat menarik wisatawan untuk bertandang.

Langit mulai cerah ketika rombongan meninggalkan kawasan itu. Tak jauh dari sana, kendaraan berhenti di Desa Tana Beru. Desa ini  bagian dari Kabupaten Bulukumba yang dikenal dengan perahu pinisi. Kebetulan di sana sedang ada pembuatan sebuah perahu pinisi yang memiliki tinggi 13 meter dan panjang 40 meter. Perahu yang terbuat dari kayu besi itu memiliki 12 kamar yang masing-masing enam kamar di atas, dan enam kamar di bawah. “Ini pesanan orang Swiss. Pembuatan perahu ini sudah memakan waktu sembilan bulan. Mungkin bulan September mendatang akan selesai,” ujar Bachtiar, pelaksana pembuatan perahu.

Beberapa menit berselang, kendaraan yang kami tumpangi pun melesat cepat. Dari kejauhan tampak kemegahan perahu pinisi yang tersohor hingga ke mancanegara itu.

Bulukumba, Sulawesi Selatan, 2010

Selasa, 26 Juli 2011

Musdah, Agama Harus Membuat Orang Berpikir


Siti Musdah Mulia memperjuangkan Islam yang membuat orang berpikir kritis dan rasional. Ia tak jarang dituding sebagai anggota Jaringan Islam Liberal (JIL). Namun, Musdah tetap konsisten dengan pemikiran keagamaannya.


(I)
“Kali ini Anda beruntung karena dapat guest speaker yang substansial,” kata Andreas Harsono setelah membahas struktur buku Hiroshima karya John Hersey pada 13 Juli 2011 lalu. Andreas kemudian mempertegas melalui salah satu surat elektroniknya kepada kami, peserta Kursus Narasi Angkatan XI, tertanggal 16 Juli 2011.

Andreas Harsono adalah salah seorang pengampu Kursus Narasi pada angkatan kami. Dalam pandangan Andreas, Pantau tak pernah mau mengundang orang yang tidak substansial ke ruang kelas. Pantau selalu mencari orang yang subtansial. Musdah--Siti Musdah Mulia--salah satunya. Dia memang berisi. Dia mungkin tidak populer, tapi dia bukan artifisial.

Andreas melanjutkan, kadang-kadang ada saja usul agar Pantau mendatangkan pembicara yang populer. Misalnya, Seno Gumira Ajidarma, Fira Basuki, dan sebagainya. Mereka bilang, ini penting agar peserta tertarik.

“Kadang-kadang saya tepaksa setuju karena kalah suara. Pantau terpaksa menerima pembicara yang artifisial. Namun, bila saya diminta menentukan guest speaker, saya selalu mengundang orang yang substansial,” tulisnya. 

Surat  elektronik Andreas itulah yang membuat saya dan mungkin juga teman-teman lain tak akan melewatkan momen penting malam itu.  

 “Apakah  kita akan terlambat?” tanya saya pada Pudji Lestari, teman kursus. Gelap mulai merambati kawasan Slipi, Jakarta Barat. Bunyi klakson angkutan umum M-09 memekakan telinga. Saya bertemu Pudji di angkutan umum itu yang  membawa kami ke Yayasan Pantau di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
 “Nggaklah. Nggak macet, kok.”
Mikrolet yang kami tumpangi menerobos kegelapan malam.


Mikrolet yang kami tumpangi menepi. Kami turun. Malam itu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Kendaraan roda dua dan empat mulai memenuhi areal parkir ruko empat lantai. Saya menarik nafas sejenak saat menapaki anak tangga yang ke-20 gedung itu. Itu berarti 22 anak tangga lagi yang harus saya lewati untuk mencapai ruang kursus.  Suasana  ramai.  “Buruan, bro. Aku sejak jam empat sudah di sini,” jelas Luluk Uliyah, teman kursus yang lain, lewat facebook.

Tak seperti hari-hari sebelumnya,  malam itu kursus belum juga  dimulai.  Padahal, jarum jam sudah menuding di angka 19.30. “Ibu Musdah terjebak macet. Posisinya sudah di kawasan Manggala Wanabakti. Kita tunggu saja, ya!” kata Andreas.

Selama menunggu, ada empat aktivitas para peserta yang terlihat. Sebagian para peserta terlihat bercakap-cakap,   sedang asyik membuka laptop, ada juga yang sedang asyik memencet-mencet Blackberry, dan menyeruput teh manis.

Saya, Budi Setiyono, Iman Sirait, dan dua teman lain lebih memilih naik ke lantai atas. Sebuah tempat terbuka yang lumayan luas. Langit membentang. Cuaca cerah. Gedung-gedung pencakar langit dengan lampunya yang terlihat berpendar-pendar. “Biasanya penutupan kelas dilaksanakan di sini. Ada juga yang sekadar iseng untuk melihat pemandangan dari atas,” jelas Budi yang selalu menggunakan kata “senantiasa” setiap kali mengirimkan surat elektronik kepada kami. Budi pengampu yang low profile dan tergolong cool. Bersama Andreas Harsono, mereka pengampu kelas yang tergolong sabar menjawab tiap pertanyaan dari kami.
“Wah, kursus rupanya sudah dimulai, tuh!” seru Budi. Kami pun menuruni anak tangga.
Betul, tamu substansial itu rupanya sudah tiba.

(II)
“SAYA hanya punya waktu hingga pukul 21.30,” jelas Musdah.
“Saya berterima kasih diundang menjadi pembicara di hadapan para penulis muda,”  lanjut Musdah sambil berdiri.
“Ini buku saya yang ke-30. Judulnya, Muslimah Sejati,”  jelas pengajar Program Pascarasarja Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Sebelum masuk ke materi bahasan, perempuan kelahiran Bone, Sulawesi Selatan, 3 Maret 1958  itu bercerita tentang dirinya. Ia mengaku sejak kecil belajar agama di pesantren keluarganya di Bone. Ia berasal dari keluarga nahdliyin, sebutan bagi pengikut  Nahdlatul Ulama (NU). Selama di pesantren semua serba doktrin, bahkan bertanya pun tidak boleh. Begitu menurut Musdah. Ia sering  mempunyai pertanyaan yang tidak ada jawabannya.

Sejak hijrah ke Jakarta untuk mengikuti program S-2, pemikiran Musdah mulai terbuka lebar, berkat pemikiran-pemikiran Harun Nasution dan Nurcholis Madjid (Cak Nur).  Di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Musdah mengetahui bagaimana perbedaan dosen-dosen dari Timur  Tengah dan Barat mengajar.  Diakui Musdah, para dosen Timur Tengah mengajar seluruhnya berisi hapalan, sedangkan dosen-dosen dari Barat mengajarkan analisis kritis. Mereka mengajarkan metodologi dan mengapa mahasiswa harus menggugat penafsiran.

“Titik balik itu terjadi saat saya memasuki pendidikan tinggi yang mengajarkan nalar dan Islam rasional. Namun, yang menjadi pertanyaan berapa besar umat Islam Indonesia dan dunia yang bisa mengakses pendidikan tinggi yang mengajarkan rasionalitas dalam agama,” kata Ketua Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berikhtiar membangun perdamaian dan keadilan di Indonesia.

“Agama yang dipelajari di majelis taklim itu tidak membuat orang berpikir,” gugat Musdah.
“Agama yang saya dan kawan-kawan perjuangkan adalah agama yang  membuat kita berpikir. Jika  Anda bertanya kepada saya, maka jawabannya  bukan  sekadar halal atau haram. Tergantung konteksnya. Namun, di masyarakat kita jika bertanya jawabannya hanya dua. Halal atau haram,” terang Musdah.
“Jika tidak sorga, ya, neraka. Tidak ada jawaban lain. Agama begitu simple dan sederhana, penuh doktrin,” ungkap Musdah.
“Lalu, bagaimana memahami agama,  Indonesia, dan problem sosial sebagai sebuah bangsa?” tanya Musdah.

(III)
SEMUA peserta yang berjumlah sekitar 20 orang tampak menyimak serius uraian Musdah. Ruangan terasa agak panas, meski pendingin ruangan dihidupkan. Musdah memulai pembicaraan dengan mengatakan bahwa Negara  Indonesia tidak menjadikan agama sebagai landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. ”Itu adalah pilihan yang diambil oleh para founding fathers and mothers kita. Pertanyaannya, kenapa agama tidak dipilih sebagai landasan ideologi?”

“Karena perdebatan yang panjang. Jika dibaca berdasarkan notulensi di BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia), Ketua BPUPKI Dr Radjiman Wedyoningrat melemparkan pertanyaan kepada anggota, Indonesia yang akan kita dirikan Indonesia yang seperti apa, apa landasan ideologinya? Dari situ kemudian muncul perdebatan yang hangat dan panjang,” jelas Musdah.

Komentar dari para audiens itu terpola menjadi tiga pendapat. Pertama, karena mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam, maka negara ini harus berlandaskan agama Islam, seperti di negara-negara Timur Tengah. Pandangan itu lalu dibantah oleh pendapat yang kedua. Alasannya, meski 82 persen penduduk Indonesia beragama Islam, tetapi secara geografis, tidak ada wilayah di Indonesia yang beragama Islam,  Kristen, Katolik, Hindu, ataupun Budha secara penuh dan murni.  Semua campuran (mix).

Oleh karena itu, ide untuk mendirikan negara berlandaskan Islam merupakan ide yang tidak realistis. Ada juga yang mengatakan kita harus mendirikan agama seperti di Eropa. Sekuler. Agama merupakan urusan privat. Namun, alasan itu pun tak diterima karena sejak zaman kerajaan Indonesia dikenal sebagai negara yang religius. “Ketiga,  kita bukan negara agama, bukan pula negara sekuler, melainkan negara  bukan-bukan,” seloroh Musdah yang disambut derai tawa para peserta. BERSAMBUNG

Kamis, 07 Juli 2011

PERJALANAN

Menengok Pulau Lelei  dan Gura Ici
Gunung Gamalama yang menjulang tampak menghijau ditumbuhi pepohonan. Kabut tipis terlihat menutupi bagian puncaknya. Langit biru. Pemandangan itulah yang langsung tertangkap mata ketika pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandar Udara Sultan Babullah, Ternate, Maluku Utara, akhir tahun lalu.

Tak kurang 120 ribu warga Kota Ternate menetap di lerengnya. Berketinggian 1.715 meter di atas permukaan laut (dpl), gunung ini memiliki keliling sekitar 42 kilometer dengan radius 10 kilometer. Gunung Gamalama juga ditutupi hutan montane pada ketinggian 1.200-1.500 meter dan hutan Ericaeous pada ketinggian di atas 1.500 meter.

Cuaca cerah  ketika  saya dan rombongan menjejakkan kaki  di Pelabuhan Ternate. Angin semilir. Bersama anggota rombongan lain, kami langsung memasukkan barang bawaan ke dalam kapal yang berpenumpang sekitar 20 orang. Hari makin terik, tapi sejumlah penumpang sengaja duduk di dek  kapal. Mereka tampak rileks menikmati perjalanan. Gunung Gamalama tampak kian menjauh dari pandangan. Kendaraan yang kami tumpangi kemudian membelah Laut Ternate yang membentang. Kendaraan yang kami tumpangi terus melaju. Angin berhembus kencang. Dari kejauhan tampak gugusan pulau-pulau di depan dan samping kanan-kiri.

Setiap kali gugusan pulau kian membesar, Abubakar Abdullah, Kepala Biro Humas Pemda Maluku Utara langsung memberi tahu. "Itu Pulau Tidore," teriaknya. Pulau Tidore terletak di sebelah barat Pulau Halmahera, pulau yang berbentuk seperti huruf "K" dalam gugusan Kepulauan Maluku. Pulau ini merupakan pulau berpenduduk.

Sesekali ombak kecil menghantam kapal yang kami tumpangi. Dari kejauhan terlihat Pulau Maitara. Pulau ini  menghiasi lembar uang kertas ribuan. Dari kejauhan ia terlihat cerah dan warna kehijauan. Selain berpantai dan berpasir putih, karangnya terjaga baik. Banyak turis asing yang memanfaatkan waktu untuk diving dan snorkeling di sana. Pulau ini juga terkenal sebagai penghasil gerabah dapur, seperti cobek dan uleg-uleg. Ia juga disesaki dengan pohon kelapa, pala, dan cengkeh. Pulau Maitara dihuni sekitar 1.000 jiwa. Perlahan dari kejauhan tampak Pulau Mare, Pulau Moti, Makian, dan Kayoa. Di dekat Pulau Kayoa itulah terdapat Pulau Lelei dan Guraici.

Setelah tiga jam perjalanan, kapal yang kami tumpangi akhirnya merapat di dermaga Pulau Lelei. Kami disambut penduduk setempat dengan tarian Togal, yang memang biasa digunakan untuk menyambut para tamu yang datang ke lokasi tersebut. Penari yang terdiri dari muda-mudi itu berlenggak-lenggok diiringi bunyi tetabuhan.

Pulai seluas 3 kilometer itu terdiri dari dua dusun: Dusun I dan Dusun II. Penduduknya berjumlah 800 jiwa dengan 244 kepala keluarga. Tingkat pendidikan penduduknya beragam dari tamatan SD, SMA, hingga Perguruan Tinggi. "Di sini, hampir setiap kepala keluarga mempunyai anak yang lulus dari perguruan tinggi," ujar Abdjan Armaijn (49 tahun), Kepala Desa Lelei, yang mendampingi kami sore itu. Mereka umumnya pindahan dari Pulau Makian yang datang secara bertahap.

Selain berair biru, Pulau Lelei juga memiliki keindahan alam bawah laut. Setiap minggu, setidaknya empat orang turis mancanegara yang sengaja menghabiskan waktu di sana. Ada yang menyewa cottage atau tinggal di rumah penduduk. Pemerintah setempat menyediakan 13 cottage berbentuk rumah panggung. Sementara, puluhan rumah lain disiapkan penduduk untuk home stay. Biayanya tergolong murah. Untuk cottage tarifnya hanya Rp 150 ribu per malam. Sedang untuk di home stay, pengunjung cukup menyediakan dana Rp 100 ribu semalam. Para wisawatan asing yang datang ke Pulau Lelei sebagian besar berasal dari Italia, Prancis, dan Inggris.

Jika sore tiba, para pemuda di desa itu berlatih memainkan musik yang diiringi tarian gala. Musik dan tarian tersebut umumnya dimainkan saat acara perkawinan, penyambutan tamu, dan lain-lain. "Musik ini terkenal hingga Belanda, Jepang, dan selalu tampil di Festival Keraton Indonesia. Makanya, kami terus melestarikan musik tradisional ini," tandas Aswad Minggu (41) tahun, Pimpinan Musik Tradisional Gala.

Selain Pulau Lelei, Anda dapat berkunjung ke Pulau Gura Ici. Dalam bahasa Ternate Gura Ici berasal dari kata Gura yang bermakna "kebun" dan Ici yang berarti "kecil". Artinya "kebun kecil." Keberadaan pulau tersebut memang sempat dijadikan kebun oleh penduduk setempat. Pulau tak berpenuhi itu hanya seluas tujuh hektare. Di masa lalu, Pulau Gura Ici adalah kawasan penghasil cengkih, pala, dan rempah-rempah lainnya. Kondisi itulah yang mengundang para pedagang dari Portugis, Spanyol, dan Belanda bertarung merebutkan penguasaan atas wilayah tersebut pada abad ke-13 silam.

Karena tidak berpenduduk, pengunjung yang ingin diving di sana harus menginap di Pulau Lelei. Perjalanan dari Pulau Lelei ke Pulau Gura Ici  hanya butuh waktu 10 menit dengan menggunakan speedboat. Pulau Gura Ici menjadi andalan wisata di Maluku Utara. Pulau ini berpasir putih, air membiru, terumbu karang, dan beragam jenis ikan karang. Keindahan Pulau Lelei dan Gura Ici juga didukung dengan keberadaan pulau-pulau lain; Sapan, Kelo, Popaco, Jouronga, Salo, Tudu, Igo, Kapaya, Tomadova, Temo Kecil dan Temo Besar, Talimau, Gunange, Siko, Gapi, Legoma, dan Tameti.

Matahari hampir lingsir ke barat ketika sebuah kapal mendarat di dermaga Pulau Lelei. Sejumlah penumpang terlihat gembira. Maklum, mereka sudah siap untuk menyaksikan pesta rakyat di Kota Ternate. Di tengah gerimis dan angin kencang, kendaraan itu langsung membelah Laut Ternate. Pulau-pulau yang ditinggalkan terlihat mengecil dari pandangan. Sementara pulau-pulau yang didatangi tampak makin membesar sampai akhirnya kami merapat di Pelabuhan Ternate. Sepanjang perjalanan, speedboat yang kami tumpangi melewati Pulau Kayoa, Makian, Moti, Maitara, dan Tidore. Hujan mengguyur saat rombongan tiba di Ternate. Aspal masih basah saat bus yang kami tumpangi bergerak menuju penginapan di Kota Ternate.

Malam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIT. Acara pesta rakyat kian meriah. Sebelum acara usai, mereka memeragakan atraksi bambu gila. Atraksi ini merupakan permainan rakyat yang sangat menarik dan unik untuk ditonton. Bambu gila dimainkan oleh tujuh orang. Mereka memegang bambu, bara api, serta kemenyan. Permainan ini sering disebut baramasuwen untuk memindahkan alat berat guna meringankan pekerjaan penduduk. Permainan tersebut mencerminkan sifat gotong royong dan ciri keseharian rakyat Ternate.

Malam kian larut. Para penonton pun mulai meninggalkan tempat. Dingin menggigit kulit.

*) Ternate, Maluku Utara, akhir 2010

BUKU

Menggugat Kekuatan Pusat yang Dominan
MASALAH  multikulturalisme di Amerika Serikat muncul melalui pandangan Lucy R Lippard. Ia mempersoalkan dominasi nilai-nilai masyarakat homogen Ero-Amerika yang memarjinalkan nilai-nilai masyarakat kelompok Asia, Afrika, pribumi Amerika, dan kelompok Amerika Latin.
PEREMPUAN  pengarang di Dunia Ketiga, seperti Maxine Hongkingston yang keturunan China, Jamaica Kincaid dari Haiti, Edwidge Dunticat dari Hindia Barat, Luis Erich yang keturunan asli Amerika, adalah sebagian dari daftar pengarang yang muncul di era multikulturalisme Amerika Serikat.
Ada pula perempuan pengarang asal India bernama Bharati Mukherjee. Novel-novelnya yang menggambarkan pengalaman imigran dari Asia Selatan turut memperkaya khasanah fiksi multikultural yang mulai menjamur di Amerika sejak tahun 1980-an.
Salah satu novel Bharati yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah Istri. Novel ini ditulis pada tahun-tahun ketika ia beremigrasi ke Kanada.
***
BHARATI mengawali cerita novel ini dengan gadis belia bernama Dimple Dasgupta yang sedang memimpikan seorang pria yang akan mempersuntingnya. Sayang, harapan itu tidak tercapai. Ia justru menikah dengan seorang insinyur bernama Amit Kumar Basu pilihan orang tuanya lewat iklan jodoh.
Rumah tangga baru itu tidak kukuh lantaran tidak berdasarkan cinta yang mendalam. Ketika Amit harus kehilangan pekerjaan, mulai goyahlah rumah tangga itu.
Dimple coba menghibur suaminya, anta lain  dengan berpakaian warna-warna mencolok : merah, oranye, ungu. Rambutnya pun ditata ke atas dengan bando besar dan membiarkan sejuntai rambut keriting tipis terayun-ayun di belakang telinganya. Dia juga berhenti menyantap cabai hijau pedas kesukaannya.
Mereka berupaya memperoleh pekerjaan, tetapi tampaknua keberuntungan belum berpihak pada mereka. Lalu, keluarga muda itu mengadu untuk ke Amerika Serikat. Itu dilakukan setelah ada teman yang menawarkan bantuan.
Sahabat Amit, Jyoti Sen, menawarkan diri untuk menampung mereka di apartemennya di Queens sampai Amit memeroleh kerja. Situasi di tempat barunya itu memaksa mereka menyesuaikan diri. Menurut Dimple, hal itu seperti hidup dengan seorang pribadi baru : dia harus belajar menyenangkan Amit secara baru.
Hidup sebagai seorang istri di mancanegara, perlahan-lahan menjadi kesesakan baru bagi Dimple, walaupun pada awalnya menawarkan suasana baru yang segar. Apa yang terjadi pada Dimple adalah “gegar budaya” (cultural shock), proses alienasi, dan depresi pada “dunia istri” yang makin menyempit dan mengalami disilusi dari impian-impian romantis.
Dimple kian bosan dengan keadaan yang belum berubah menjadi baik. Pada titik jenuhnya yang memuncak, ia membunuh suaminya.
Dari alur ini dapat ditangkap novel ini hendak menggambarkan secara detail dampak psikologis jika konstruksi jender berhadapan dengan realitas, tanpa diimbangi pertumbuhan jiwa yang matang, ditambah dengan kungkungan jender berupa penjara “domestisitas” (hanya bergerak dalam “dunia istri” saja). Wilayah perempuan ini terkurung di dalam wilayah dapur, sumur, dan kasur dengan sinetron melodrama sebagai satu-satunya jendela.
Melalui novel ini Bharati hendak menggugat kekuatan pusat yang dominan, yaitu modernisme Ero-Amerika, yang membuat nilai-nilai kultur lain berada pada posisi pinggiran.
Hal itu terlihat dari dua tokoh utama yang ditampilkan  Bharati, sekalipun tidak secara eksplisit. Dimple sebagai representasi dunia pinggiran dan Amit sebagai simbol kekuatan budaya pusat. Secara simbolik dibunuhnya Amit oleh Dimple, menandakan usaha untuk menghancurkan kekuatan pusat. Itu bukti bahwa dunia pinggiran sudah tidak lagi pasif ketika terdesak.
Selain itu, dalam novel ini terkesan adanya pemberontakan istri yang terkungkung oleh dunia domestiknya. Ia berontak, menerjang barikade, mencari dunia baru.
Senada dengan pernyataan Bharati dalam jurnal Kalam bahwa secara retoris maupun kategoris ia sangat berbeda dengan Salman Rusdhie dan Vikram Seth, karena sastra pascakolonial sangat tidak relevan baginya. Ia justru ingin menggusur wilayah mainstream agar absah, dengan dasar nilai horizontal untuk semua sastrawan.
***
BHARATI Mukherjee lahir pada 27 Juli 1942 dari pasangan Sidhir Lal dan Bina Mukherjee. Ia memperoleh gelar philsophy of  doctor (PhD) di bidang sastra bandingan pada 1960.
Pada tahun 1972 ia bermigrasi ke Kanada. Merasa tidak betah di sana, ia pindah ke Amerika Serikat. Di sana karier Bharati mencapai titik puncaknya dan sempat memperoleh penghargaan National Book Critic Award.
Suasana muram mewarnai novel-novel Bharati yang ditulis di awal kariernya. Seperti The Tiger’s Daughter (1971), Wife (1975), dan Darkness (1985). Novel  Istri secara umum tidak dianggap sebagai karya yang sukses, karena baik penggarapan dan temanya, kalah dibandingka karya-karya yang ditulis kemudian, seperti : Middleman and Other Stories (1998) dan novel tersuksenya Jasmine (1990). Novel terbaik Bharati itu ditulis di Amerika Serikat dengan perspektif dinamis dan optimis.
Sudah lama diyakini bahwa sastra sebuah negeri membutuhkan dialog dan perbandingan demi pemekarannya. Salah satu yang dibutuhkan adalah persentuhan dengan khazanah sastra negeri lainnya. Ibarat taman dan tanah, karya sastra terjemahan bisa hadir sebagai pupuk penyuburnya.
Oleh karena itu, novel bernada penggugatan jender ini patut dibaca oleh siapa saja, terutama untuk mengarahkan diri pada paham egaliterianisme, persamaan derajat dan kesempatan antarsesama, tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan.
Rasanya, suasanya sehabis Orde Baru tumbang kini, kebebasan berkreasi di indonesia juga kian terjamin. Karena itu para sastrawan diharapkan dapat lebih kreatif menuangkan karya sastranya. Tak usah harus bermigrasi dulu seperti Bharati, untuk bisa meniti karier sampai ke puncak.
Sudah sepatutnya pemerintah memberi apresiasi tinggi terhadap karya-karya para pengarang Indonesia, supaya sastra dalam negeri bisa menebus ketertinggalannya selama ini.
 *) tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kompas, Minggu, 7 Oktober 2001


Rabu, 06 Juli 2011

SASTRA

Hermeneutika dan Sastra Marjinal
BELAKANGAN  ini hermeneutika sebagai salah satu metode filsafat mulai diminati masyarakat, khususnya dunia sastra. Meski merupakan topik lama, namun hermeneutika telah dibangunkan sebagai sesuatu yang baru dan menarik. Lebih lagi dengan adanya ahli-ahli pikir yang berusaha terus mengembangkan metode itu, dari Aristoteles dengan Peri Hermeneias-nya hinga Jacques Derrida dalam buku La Dissemination.
Sebuah teori menyebutkan, secara etimologis hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuin yang berarti menafsirkan. Ia seakan mengingatkan kepada mitologi Yunani, Hermes, yang bertugas  sebagai perantara antara Dewa Zeus dengan manusia. Hermes bertugas menyampaikan pesan-pesan dan harus mampu menafsirkan pesan itu ke dalam “bahasa bumi” agar mudah dipahami umat manusia.
Pada mulanya, hermeneutika  hanya digunakan untuk menafsirkan teks-teks Kitab Suci. Namun, kini hermeneutika tidak lagi hanya digunakan untuk menafsrikan Kitab Suci, tetapi untuk keperluan lebih luas lagi, termasuk sastra.
Dalam lingkup kesusastraan, tafsir sastra berpangkal pada suatu problem tertentu, berdasarkan pemikiran yang telah dan sedang berlangsung. Sifat sastra yang mengandung tafsir  ganda dan kemajukan makna, membesarkan kemungkinan perbedaan interpretasi yang merupakan rahmat bagi para kritikus dan peminat sastra. Hal itu juga yang membuat sastra senantiasa baru dan aktual.
Ariel Heryanto berkomentar, sastra lebih dihargai para penganut postmodernisme dan pascastrukturalisme. Alasannya, sastra mempunyai tradisi panjang menghargai pluralisme makna dan ketidakpastian.  Dalan istrilah sastrawan Iwan Simatupang, sastra dapat dianalogikan sebagai “manusia gelandangan”,  manusia yang tidak mengenal determinasi dan mengarah pada banyak alternatif. Artinya,  seseorang bisa memahaminya dengan disiplin ilmu lain.
Feminisme
SALAH satu dari disiplin ilmu lain itu adalah filsafat, dalam hal ini kajian feminisme. KM Newton berpendapat, munculnya penafsiran feminisme sebagai kekuatan utama kritik sastra menjadi peristiwa dramatis dalam kesusasteraan sejak Perang Dunia II.
Meski demikian, kritik sastra belum menggambarkan meningkatnya sumbangan terhadap feminisme, sebab kurangnya literatur tentang hal itu. Jika ada, itu pun dalam bahasa asing. Hal itu yang menyebabkan kritik sastra kurang berkembang.  Ini berarti penguasaan bahasa asing sangat diperlukan.
Karya kritik sastra di antara teks kaum hawa yang paling berpengaruh, muncul di akhir 1960-an dan awal 1970-an ketika feminisme mulai punya pengaruh sosial. Persoalan yang diekspresikan seakan menggoyang seluruh  orde nilai dalam masyarakat, terutama sistem patriarki yang dianggap dalang dalam penindasan kaum hawa.
Josephine Donovan menambahkan, dengan adanya tafsir feminisme, ideologi yang berbau seks dapat dikontrol dan sastra tidak lagi berfungsi sebagai propaganda memajukan ideologi seksis.
Sebagai salah satu contoh dalam perspektif penafsiran sastra akan diketengahkan novelis Nawal el-Saadawi. Ia tidak saja mewakili perempuan Mesir, tetapi juga perempuan secara keseluruhan. Pemikiran feminismenya cukup bergaung. Hal itu terbukti dari ketiga novelnya Perempuan di Titik Nol, Matinya Sang Penguasa, dan Memoar Seorang Dokter Perempuan.
Dalam Memoar Seorang Dokter Perempuan, Nawal menjelaskan pertempuran antara lelaki dan perempuan ibarat sebuah pertandingan yang direkayasa. Perempuan seorang diri melawan lelaki yang didukung tradisi, hukum,  dan keyakinan latar belakang historis selama berabad-abad, dan memegang tongkat lambang supremasi kekuasaan. Perempuan justru sebaliknya, ia hanya berdiri di depan sang lelaki dengan kebebasannya, kehormatan, nama, harga diri, watak asli, serta kemauannya. Lelaki sebagai makhluk par excellence.
Di sisi lain, Nawal memberikan perlawanan, ia (dalam konteks ini, perempuan) tidak mau memeroleh perlindungan dari seorang lelaki. Ia lebih menginginkan suaka dalam diri sendiri, mengandalkan kekuatan, pengetahuan, dan sukses dalam pekerjaannya. Semua itu tidak jauh berbeda dari apa yang dimaksud Nietzsche “kehendak untuk berkuasa.” Artinya, Nawal lebih cenderung memerintahkan dirinya untuk meraih semua dan supaya dapat terbebaskan dari sistem patriarki yang kian melembaga.
Di dalam novel Matinya Sang Penguasa, Nawal menggugat patriarki. Baginya, antara lelaki dan perempuan harus ada persamaan hak, walaupun seperti disinyalir Kamla Bhasin bahwa norma dan praktik yang memaksakan kontrol atas perempuan ada di mana-mana : dalam keluarga, pergaulan sosial, agama, hukum, sekolah, buku teks, media, pabrik, dan kantor.
Adanya penafsiran semacam itu memungkinkan sastra tidak terjebak pada persoalan baku yang bertendensi pada kajian intrinsik an sich, seperti yang dikaji sebagian kalangan akademis, sehingga sastra tidak mandek dan memberikan pencerahan berupa pemikiran kritis. Fungsi pencerahan itulah yang diharapkan para peminat dan pembaca sastra, selain sebagai fungsi hiburan.
Hermeneutika dan Sastra Marjinal
Kesimpulan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski) dalam Pekan Ilmiah Nasional bahwa sastra Indonesia, ternyata sastra marjinal mengundang pro-kontra. Mereka yang pro menyatakan kemarjinalan itu terjadi dari segi pembacanya yang sangat terbatas, sedangkan mereka yang kontra mengungkapkan definisi sastra marjinal itu sendiri belum jelas.
Hal esensial adalah hermeneutik sastra yang kurang, selain pemublikasian sastra yang kurang gencar. Bahkan, pengkajian sastra lebih menyorot persoalan intrinsik yang membuat orang merasa jenuh. Padahal, pengkajian elemen ekstrinsik amat vital agar sastra Indonesia tidak dikatakan marjinal dan penguasaan ilmu sosial pun sangat diperlukan.
Memang, sebuah tradisi tulisan akan mati, kering, dan statis, jika tidak dihidupkan terus-menerus melalui tafsir ulang yang sejalan dengan dinamika sosial masyarakat.  Kesan itu dapat berubah, jika masyarakat menggunakan hermeneutika sebagai metode telaah sastra.
*) tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kompas, Minggu, 12 Januari 1997

Selasa, 05 Juli 2011

CERPEN




Burung Garuda        

MATA Budi belum juga  terpejam.  Malam telah larut. Pikirannya masih terngiang-ngiang dengan cerita gurunya, Maksum.  Bagi Budi, mencari burung garuda dan menangkapnya bukan pekerjaan mudah. Bocah berumur 10  tahun itu masih terlihat penasaran dengan cerita burung garuda yang disampaikan oleh gurunya dua hari lalu.  Selama hidupnya, ia belum pernah melihat burung garuda. Sayapnya mengepak lebar dan kepala menoleh ke kiri. Apalagi, harus menangkapnya. “Tangkaplah garuda itu. Rawat baik-baik. Jika kalian mampu menangkapnya, maka kalian akan sejahtera. Tidak ada lagi keributan,” tantang lelaki  itu penuh semangat.
“Benarkah jika saya mampu menangkap binatang itu kita akan selamat, pak guru?” tanya Budi penuh keraguan.
“Ya, benar!” jawab Maksum. “Kita lebih suka dengan  perkutut. Burung garuda itu paling hebat di antara burung-burung yang ada,” lanjutnya sambil memandang Budi lekat-lekat.
“Pak guru, saya punya burung beo. Apakah burung itu tidak hebat? Burung beo saya bisa menirukan ucapan manusia,” tanya Badu penasaran, sahabat Budi yang duduk satu bangku reot dengannya.
“Tidak. Burung yang paling sakti itu bukan beo, tapi garuda. Tugas kalian adalah mencari burung garuda dan menangkapnya dan  jangan sampai burung itu mati,” seru Maksum.
“Cucak rowo, burung yang sakti juga, kan, pak guru?” tanya Makbul. “Burung yang saya punya bisa bernyanyi, lho, pak guru,” lanjut Makbul sambil menyeka ingus yang keluar dari hidungnya.
“Semuanya kalah dengan burung garuda!” tegas Maksum.
Keesokannya Budi bertekad bangun pagi. Saat subuh berkumandang, ia bergegas menyalakan televisi butut 14 inchi milik keluarganya. Dalam hati ia berkata, semoga hari ini ia dapat melihat bentuk burung garuda. Selama ini ia hanya mengenal Upin Upin dan Doraemon, kartun kesayangannya, di televisi. Ia belum pernah melihat burung garuda. Guru-guru yang lain pun belum pernah bercerita tentang kehebatan burung garuda. “Apa pentingnya burung garuda ketimbang Doraemon?” tanyanya kepada sang ayah, Badrul.
Badrul gelagapan ditanya oleh anak semata wayangnya itu.  Hampir tiap subuh Budi selalu bertanya tentang garuda.  Badrul yang sedang menuju ke tegalan, membelokkan langkahnya. Ia mengurungkan niat untuk mencangkul sawahnya. Baginya, pertanyaan Budi lebih penting dijawab ketimbang harus libur sehari pergi ke sawah. Ia bergegas singgah ke rumah Jaka, mahasiswa yang kuliah di sebuah universitas di Jakarta. Kata tetangga Badrul, Jaka merupakan seorang mahasiswa yang cerdas sehingga ia dapat beasiswa di kampusnya. Tidak mungkin Jaka tak bisa menjawab pertanyaan anaknya itu, pikirnya keras.
“Ada apa, Kang Badrul. Kok, wajahnya gelisah sekali?” tanya Jaka sesaat Badrul duduk di kursi bambu. Matanya tertuju pada singkong rebus dan secangkir kopi pahit yang disajikan. “Silakan dicicipi, Kang!” seru Jaka sambil meletakkan buku di pinggir meja.
“Begini, lho, Nak Jaka!” kata Badrul membuka percakapan. Tangan kanannya meraih cangkir kopi hitam dan langsung menyeruputnya. “Saya tidak bisa menjawab pertanyaan anak saya. Dia tanya, apa keistimewaan burung garuda itu. Nak Jak, kan, sekolah tinggi tentu dapat membantu saya untuk menjawab pertanyaan anak saya,” jelas Badrul sambil mencomot singkong rebus. “Maklum, saya itu Sekolah Rakyat pun ndak lulus,” sambungnya.
“Wah, itu bukan bidang saya, Kang Badrul. Saya itu jurusan ekonomi. Jadi, kalau ditanya soal pertumbuhan ekonomi, saya bisa jawab. Kalau soal burung garuda, ya, itu nama burung, Kang. Ada burung perkutut, nuri, jalak, betet, dan lain-lain. Mungkin tukang burung atau mereka yang suka burung yang lebih tepat untuk menjawabnya. Lagi pula, buat apa bertanya soal burung. Di zaman pembangunan ini, bicara burung ndak modern,” kata Jaka sambil mengunyah singkong rebus.  Tangan kanannya mengipas-ngipas singkong dan kopi yang dihinggapi lalat.
Badrul tampak melongo diberi kuliah dari Joko.  Kerongkongannya seperti tersedak. Wajah Badrul terlihat kecewa. “Mosok wong kuliahan ndak bisa jawab soal burung garuda,” pikir Badrul dalam hati. Ia pun bergegas pulang.
Tak hanya bertanya kepada Jaka, Badrul juga menyambangi kediaman orang ahli agama. Namun, ia harus menjual padi terlebih dahulu. “Ilmu itu tidak ditemukan di tempat sampah, melainkan dicari. Proses pencarian itu perlu uang,” kata sang ustaz memberi isyarat. Badrul pun memahami perkataan itu. Hasil penjualan padi dimasukkan ke dalam kantong sakunya. Lagi-lagi, Badrul tak memeroleh jawaban. “Pertanyaan Nak Badrul tidak cocok ditanyakan kepada saya, kecuali persoalan-persoalan keagamaan,” katanya. “Lain kali jika datang ke sini dikhususkan tentang masalah-masalah keagamaan, ya,” pinta sang ustaz. Badrul tak berujar.
***
BUDI kembali mengulangi kegiatannya. Sebelum matahari terbit, ia sudah duduk bersila di depan televisi. Matanya masih terlihat mengantuk. Ia terus menunggu, apakah sosok burung garuda itu akan muncul di televisi bututnya. Sesekali tangannya mengubah saluran televisi. Mulai dari ustaz ceramah hingga berita selesai, ia belum juga menemukan burung garuda. Bagaimana ia bisa menangkap burung itu, bentuknya seperti apa pun ia belum lihat. Dengan kesal, Budi mematikan televisi. “Kok, nggak ada satu stasiun televisi pun yang menayangkan tenang burung garuda,” keluhnya.
Budi  kemudian keluar bertelanjang kaki menuju sawah. Budi berharap di sawah menemukan burung garuda. Ia mempercepat langkahnya di antara pohon-pohon padi yang mulai menguning. Matanya tertuju pada segerombolan burung gelatik yang bertengger di  batang-batang padi.  Satwa berbulu ini mempunyai paruh merah, kepala hitam dengan bercak putih mencolok pada pipi, dada abu-abu, perut merah jambu, ekor bawah hitam dan ekor putih. “Wahai, burung yang bergerombol, apakah di antara kalian bernama burung garuda? Jawablah wahai kaum burung,” kata Budi seperti sedang membaca puisi. Kerumunan burung itu mendadak kabur.
Keesokan harinya Budi sengaja ke pasar burung yang berjarak satu kilometer dari rumahnya. Ia harus mencari jawaban mengapa burung garuda lebih hebat dari burung-burung yang lain. Sudah 10 pemilik kios ia tanya, tak satupun jawaban yang memuaskannya. “Aneh, tukang burung pun tak ada yang bisa menjawab,” umpatnya sambil menyeka keringat di dahinya. “Tak penting burung garuda. Ia tak menghasilkan uang. Carilah uang yang banyak, Nak. Itu yang lebih penting,” kata seorang penjual burung sambil tersenyum lebar.
Hingga matahari terbenam, Budi belum juga menemukan burung garuda. Ia penasaran. Jangan-jangan burung garuda itu tidak ada. Hanya imajinasi saja. Keluhnya. “Pak guru, apakah burung garuda itu memang benar ada?” tanya Budi kepada Maksum.
“Ada. Garuda itu adalah salah satu dewa dalam dalam agama Hindu. Ia merupakan wahana Dewa Wisnu, salah satu trimurti atau manifestasi bentuk Tuhan dalam agama Hindu. Garuda digambarkan bertubuh emas, berwajah putih, dan bersayap emas.  Paruh dan sayapnya mirip elang,  tetapi tubuhnya seperti manusia. Ukurannya besar sehingga dapat menghalangi matahari.  Garuda merupakan lambang negara kita.  Garuda Pancasila,” urai Maksum. “Namun, sekarang ini orang mulai melupakannya. Mereka sudah tidak tertarik berbicara garuda Pancasila,” terang lelaki yang sekujur kepalanya sudah beruban itu.
Budi hanya manggut-manggut. Pandangannya lurus tertuju ke wajah Maksum. “Kita harus bangga dan bersyukur bahwa para pendiri bangsa telah merumuskan Pancasila sebagai cita-cita bersama dan mewakili  seluruh karakteristik bangsa. Masyarakat yang berbeda-beda, baik agama, mengakui hak asasi manusia, bersatu, berdemokrasi melalui musyawarah untuk mufakat. Melindungi segenap dan seluruh tumpah darah Indonesia; memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa; dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial,” jelas Maksum. “Tangkaplah makna garuda Pancasila itu.”
Budi tertegun. Ia mulai tak paham dengan kata-kata gurunya.  Pandangannya mulai kabur. Ia tertidur.


Senin, 04 Juli 2011

Metafora dan Simbol dalam Bahasa Agama Kita
(I)
PADA zaman modern bahasa agama menjadi soal, karena sifat metaforisnya itu. Kasus Michael O’Conner, misalnya, yang  memotong pergelangan tangannya telah mencuatkan masalah ini. Pemuda asal Australia itu  melakukan tindakan tersebut karena menafsirkan teks kitab suci yang mengatakan : “Jika tanganmu menistakanmu, potonglah.”
Metafora itulah mungkin yang tidak dipahami orang seperti O’ Conner. Ia membaca “potonglah tangan” dan memutuskan bahwa satu-satunya arti hanyalah perpisahan secara fisik dan bagian tubuh yang semula satu. Ia tidak melihat kemungkinan lain bahwa ia menemukan sebuah pesan yang teretak dalam kancah ungkapan-ungkapan yang tak harfiah (Goenawan Mohammad, Catatan Pinggir 3, 1991). Maka, berdasarkan semangat zaman, umat beragama perlu menemukan metafora-metafora baru. Oleh karena metafora mana pun dari dirinya sudah tidak jelas.
Istilah metafora berasal dari kata Yunani metapherein yang artinya memindahkan. Dengan demikian,  metafora adalah “memindahkan suatu realitas secara keseluruhan, kemudian realitas itu didekonstruksikan, direformulasikan, dan diredeskripsikan, sehingga menghasilkan makna baru dalam persepsi masyarakat.”
Metafora dapat pula merupakan proses pengganti suatu pengertian dengan cara melepaskan suatu pengertian dan merumuskan ulang ke dalam pengertian yang lain dan dapat pula melalui analogi.
Ketika kita menemukan ungkapan metaforis, kiasan, dan narasi kitab suci dalam bentuk cerita, kita bisa mempertanyakan, adakah sebuah cerita merupakan deskripsi dari fakta historis ataukah sesungguhnya hanya metafor saja (Komaruddin Hidayat, 1996). Melalui metafora, makna dan pesan yang berada di luar narasi bisa ditelusuri. Ia tidak berhenti pada ungkapan deskriptif dan harfiahnya an sich. Metafora sesungguhnya tidak membawa informasi baru. Ia hanya berfungsi sebagai ornamen atau dekorasi
II
DALAM bahasa agama, selain metafor terdapat pula bahasa simbolis, yaitu bahasa yang menggunakan simbol benda-benda, situasi, atau hal-hal yang memiliki dimensi ontologis dan eskatologis. Sebuah simbol dengan demikian dapat berarti “kehadiran yang tidak hadir” (absent-presence). Sorga, neraka, langit, dan bumi, misalnya, merupakan simbolisasi dari kehadiran Tuhan sebagai Sang Pencipta, namun secara kognitif dan empiris Tuhan tidak hadir.
Dalam kaitan pandangan di atas, Paul Tillich memberikan enam karakter bahasa simbol. Empat di antaranya yang dianggap sangat penting.  Pertama, simbol menunjukkan pada suatu realitas yang berdiri di luar dirinya (they point beyond themselves to something else). Kedua,  simbol terkait langsung dengan obyek yang disimbolkan. Orang yang menghina bendera merah putih, misalnya, meskipun bendera itu miliknya sendiri, maka ia dianggap menghina kedaulatan dan harga diri bangsa, karena kain merah putih dengan ukuran dan format tertentu merepresentasikan harga diri bangsa Indonesia.  Ketiga, sebuah simbol juga mengungkapkan sebuah realitas yang tidak mungkin diungkapkan dengan kata-kata, karena realitas itu begitu kompleks, agung, dan mengandung misteri. Dan ciri keempat, ialah bahwa simbol mampu membimbing dan membuka jiwa kita untuk menangkap realitas di luar diri kita, yang tidak bisa diterangkan dengan bahasa sains (Komaruddin  Hidayat dan Muhammad Wahyuni Nafis, 1996).
Diutamakannya metafora dan simbol dengan demikian secara esensial erat berkaitan dengan hal keterbatasan bahasa, yaitu keterbatasan fungsi deskriptif. Itu berarti ada hal-hal yang tidak dapat dijelaskan secara holistik, namun hanya sebagian realitas yang dapat dideskripsikan.
Usaha untuk mendeskripsikan secara eksplisit seluruh ajaran agama, yang terbungkus dalam metafora dan simbol oleh masyarakat, sama saja dengan mengingkari misteri agama itu sendiri. Jika demikian, orang akan mudah terjerumus mencari kepastian yang bukan kepastian terbuka, tetapi kepastian tertutup dalam pemikiran yang terbatas tanpa mau menyadari keterbatasan itu.
Seperti yang disampaikan Goenawan Mohammad bahwa kita tidak bisa membinasakan metafora. Kita tidak bisa membersihkan isi kepala kita dari asosiasi-asosiasi. Kita tidak bisa membunuh imajinasi, lalu menyembah sederet kata-kata yang “kekal” seperti mumi. Bagaimana pun butuhnya kita akan kepastian-kepastian, dan takutnya kita akan kesalahan, kita hidup dalam sejarah, yang abadi, bukan membatu.
Meskipun demikian, untuk dapat menemukan makna dari metafora dan simbol perlu digunakan kenaifan kedua (second naivity). Kenaifan kedua itulah yang digunakan untuk menghayati agama kita masing-masing. Hal itu diakibatkan, metafora dan simbol berlaku dan terdapat di semua bahasa agama.
Dengan kenaifan kedua, kita perlu naif kembali, namun dengan kesadaran dan kesengajaan. Dalam hal ini, masyarakat tetap dapat membedakan antara dunia riil di satu pihak dan dunia yang tidak terjangkau di lain pihak.  Hal itu diarahkan kepada visi yang lebih luas dan mendasar agar umat beragama dapat menerima bahwa ada hal-hal yang tidak dapat diperikan secara eksplisit, dan membiarkan dirinya digerakkan oleh dorongan yang tidak menyentuh otak saja, tetapi hati dan tubuh sekaligus.
Akhirnya, adanya metafora dan simbol dalam bahasa agama berpotensi dapat menimbulkan kemungkinan-kemungkinan baru terhadap pemahaman agama kita masing-masing. Dan itu berarti bahwa teks-teks kitab suci akan selalu up to date untuk dibicarakan.
*) tulisan ini pernah dipublikasikan di Harian Kompas dengan judul yang sama pada 31 Oktober 1997. tulisan ini telah mengalami  revisi untuk  kepentingan blog ini.