Jumat, 26 Agustus 2011

Sehari dalam Kehidupan Kasiani


Oleh KOMARUDIN

I
Sebagai tempat kedudukan pemerintah, Jakarta nampaknya menjanjikan akan membawa kemakmuran dan menawarkan harapan baru bagi para pendatang.  Namun, setelah 52 tahun tinggal di Jakarta telah membuat ia frustrasi karena gagal menjadi tempat yang lebih baik. Tak hanya menyangkut banjir dan kemacetan, masalah perumahan juga menjadi persoalan. Di usia senja ia telah menyerah dan tak lagi banyak berharap. Kasiani, salah satunya.

Bersama keluarga ia tinggal di sebuah ruangan berukuran  4 X 7 meter persegi di Blok A, Rumah Susun Harum, Tebet, Jakarta Selatan.  Ruang itu kemudian dibagi dua  bagian : atas dan bawah. Di bawah ia tempati  bersama menantu dan tiga cucunya, sedangkan di atas di tempati empat orang anaknya, sedangkan anak yang lain tinggal bersama  keluarga mereka di daerah Jakarta Timur dan  Bekasi.  

Berbeda dengan kios penghuni  rumah susun  lain, dapur Kasiani berada  di samping kanan kiosnya. Jika melongok ke dalam ruangan  berukuran 2 X 3 meter  itu terdapat tempat cuci piring, masak, piring, sendok, garpu, teko, termos, penanak nasi, serta satu boks tempat menyimpan tisu, teh, lilin, dan minuman suplemen.  Sesak. Di sebelahnya ada ruang berukuran 2 x 2 meter. Di dalamnya terdapat kulkas rusak merk Daiichi setinggi 1,80 meter, dua meja, serta bangku panjang.
“Ya, beginilah tinggal di rumah susun. Apalagi, buat orang seperti saya yang mempunyai banyak anak,” keluh Kasiani di Jumat pagi yang mendung tanggal 29 Juli 2011.

Wajah Kasiani yang tirus itu  letih.  Tulang rahang  dan dagunya yang  panjang  terlihat menonjol. Kulit mukanya yang kering mulai keriput.  Kini, dagu Kasiani pun bergelambir dengan jakun agak  menonjol. Sementara alis matanya yang berbentuk bulan sabit dengan lengkungan  tajam di bagian pelipis mulai memutih. Begitu pun dengan rambutnya yang ditutup dengan turban hitam. Namun, deretan gigi perempuan bertubuh kurus dan jangkung itu  terlihat utuh.  Di usia 72 tahun  pendengaran Kasiani  menurun drastis. Para tetangga atau tamu harus mengulang hingga dua kali jika berbicara dengannya atau  harus berbicara dari jarak dekat.

“Teman-teman saya sudah nggak  ada. Mereka sudah meninggal dunia,” jelas Kasiani. Tangannya yang kurus dengan urat yang menonjol itu lalu menggunting ujung bungkus kopi Kapal Api. Kres.  Ia  menuangnya ke dalam gelas putih yang diletakkan di atas gerobak bercat cokelat. Ia lantas mencampur dengan air panas dari termos. Ting, ting, ting. Bunyi gelas beradu sendok.

Kasiani  menyodorkan segelas kopi yang telah dipesan tetangga dan meletakkannya  di atas  meja cokelat di sebelah kirinya. Wangi kopi menguap.  Tubuh Kasiani terus bergerak. Semenit kemudian satu per satu   tangan kanannya  meraih piring,  sendok, dan gelas kotor untuk dicuci.  Tak jarang ia juga mencuci pakaian kotor cucunya,  Ajeng Thalia Ramadhani, 11 bulan.

“Kalau dia sudah bangun, saya  nggak bisa berbuat apa-apa.”

“Jadi, pagi-pagi saya harus sudah membereskan pekerjaan dapur,” kata Kasiani sambil mengangkat ompreng berisi air untuk dijerang di dapur untuk Ajeng mandi.

Beberapa menit  Kasiani sudah   tampak sibuk menenteng ember plastik merah berisi air yang ia ambil dari kran cuci piring. 

“Mumpung Ajeng masih tidur.  Saya mau menyiram tanaman.”

“Sudah seminggu pohon-pohon palem itu nggak  saya siram.”

Selesai menyiram pohon-pohon palem, ia menenteng sapu lidi dari dapur. Ia  membersihkan puntung rokok, kertas, dan plastik-plastik yang  berserakan di depan rumahnya. Orang sembarang membuang sampah. Halaman itu memang disediakan untuk penghijauan. Luasnya hanya sekitar 3X15 meter yang berbentuk   memanjang. Beralaskan plastik  putih ia memunguti sampah-sampah kemudian menaruhnya. Sepuluh menit kemudian ia menyeret bak sampah plastik merah ke tempat pembuangan sampah  sekitar 50 meter dari kiosnya.

Sesekali ia menyapa penghuni rumah susun. Ia kemudian mencuci kedua tangannya. Sejenak ia meraih bungkusan plastik putih berisi brokoli, tomat, dan wortel. Ia membersihkan satu per satu, sebelum mencucinya. Ia ingin buat bubur untuk Ajeng.

“Ini bahan makanan untuk Ajeng. Setelah semua diparut, biasanya saya campur dengan ati ayam atau ceker. Lalu, saya beri garam dan keju agar buang air besarnya tidak keras,” katanya sambil masuk ke dapur.

Saat keluar ia  menenteng  parutan yang terbuat dari alumunium. Tangan kiri mencengkram ujung parutan yang ia tumpukan pada piring plastik putih. Belum lagi pekerjaan itu selesai, ia langsung lompat masuk ke dalam kios saat mendengar suara tangis bayi.

Dibantu anaknya, Wawan, Kasiani menyiapkan air hangat lantas menuangkannya ke bak warna biru. Ia lalu membuka kaos kaki putih, baju, dan celana Ajeng. Sambil memegang tubuh Ajeng, ia lantas  mencelupkan kaki cucunya itu ke dalam air. Tubuh Ajeng terlihat menggigil.
“Ayo coba lari,” kata Kasiani sambil tersenyum.

“Sabunnya dimakan tikus, ya, De.”

“Tikus lapar ya, De.”  

Kegiatan rutin yang biasa Kasiani lakoni.

II
KASIANI  lahir di Wonokromo, Jawa Timur, pada tahun 1939. Ia mengatakan lupa tanggal dan bulannya. Oleh orang tuanya, ia dibesarkan di Probolinggo. Di sana Kasiani sempat duduk di Sekolah Kepandaian Putri  (SKP) setara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Namun,  ia tak selesai akibat terbentur biaya.
“Ayah saya seorang pejuang dari Angkatan Laut, tapi meninggal di Yogyakarta pada tahun 1945-an.  Kalau ayah saya hidup saat itu, mungkin hidup saya nggak kebelangsak seperti sekarang.”

Pada   1959 ia hijrah ke Jakarta akibat kondisi ekonomi.  Dalam studi Susan Blackburn menyebutkan bahwa pada akhir masa perjuangan merebut kemerdekaan, kondisi ekonomi Indonesia sangat buruk : produksi sangat rendah dan barang yang tersedia hanya sedikit. Sebagai tempat kedudukan pemerintah nasionalis baru yang telah menjanjikan bahwa kemerdekaan akan membawa kemakmuran, Jakarta nampaknya menawarkan harapan baru bagi para penduduk pedesaan. Di Jakarta, Kasiani  menetap bersama pamannya, Moeldjo Soedjoko, yang pernah bekerja di Kostrad  di kawasan Guntur, Jakarta Selatan. Kasiani sempat mengenang awal-awal perpindahannya ke Jakarta ketika ia harus  makan bulgur akibat tak ada beras.

Di  Jakarta,  Kasiani bertemu lelaki bernama Abdul Chaer  asli Jakarta. Lelaki yang akrab disapa Dudung itu merupakan  penjual ikan hias di rumahnya di Kampung Bali, Matraman, Jakarta Timur. Mereka  menikah dua bulan kemudian. Seingat Kasiani ia menikah pada 1962. Mereka menikah  tanpa proses yang berbelit dan berjalan lancar. Setelah menikah, mereka kemudian sepakat untuk mengubah profesi menjadi penjahit.

“Saat menikah usia saya baru 20 tahunan. Setelah menikah saya beli mesin jahit dan mesin obras,” terang Kasiani.

“Sebenarnya, saat muda tubuh saya sekel. Nggak  seperti sekarang. Kurus,” katanya sambil tangan kanannya menunjuk ke kepala.

“Banyak pikiran. Waktu Bapaknya anak-anak masih hidup, saya nggak pernah ngomel.”

“Semasa suami masih hidup, kami merupakan  penjahit panggilan. Saya pernah menjahit di kawasan Senopati, Kebayoran, dan lain-lain. Jadi, saya pintar menjahit. Tapi sejak suami meninggal, aku sudah nggak menjahit lagi. Anak-anak saya pun nggak ada yang meneruskan usaha saya.”
“Pernah juga buat warung nasi, tapi bangkrut. Karena uangnya digunakan untuk makan sehari-hari,” terangnya.

Rosmala, menantu Kasiani,  pernah menawarkan mertuanya itu untuk membuka warung nasi. Namun, Kasiani menolak.  Ia khawatir Ajeng tak terurus. Sudah lebih tujuh bulan Rosmala menitipkan Ajeng kepada Kasiani.

“Saya lebih senang mengurus cucu.”

Soal nama, Kasiani  punya kisah sendiri. Ia bilang lebih sering dipanggil Bu Dudung, bukan Kasiani. Nama Dudung disematkan  dari nama panggilan suaminya, Abdul Chaer, yang akrab disapa Dudung.  Sejak suaminya meninggal dunia pada 1996, nama Dudung itulah yang kemudian melekat padanya.

“Sampai saat ini orang selalu memanggil saya Bu Dudung.”

Dari perkawinannya dengan Abdul Chaer,  Kasiani punya 13 orang anak. Namun, dua orang meninggal dunia. Anak  ke-7 dan ke-11 ; Uni Irawati dan Dora. Kasiani lalu menyebutkan nama ke-13 anaknya. Mereka  adalah Cecep Royani, Edy Kuswara, Wiwi Khaeriyah, Yuyu Khaeriyah, Uus Yulizar,  Iwan Kuswantoro,  Uni Irawati,  Erni Hartini,  Dinuk Erwansyah,  Wody Agung Sudewo, Dora, Deddy Priatna, Yudy Pranajaya.  Mereka berpendidikan hingga tamat SMA.

“Sebenarnya, saya ingin juga menguliahkan ana-anak, tetapi nggak punya uang.”

III
MATAHARI mulai sepenggalah di suatu pagi pada 1992. Kasiani dan keluarga hanya menatap si jago merah yang mulai melalap rumahnya dan sejumlah bangunan  tetangganya yang berlokasi di Pasar Darurat Tebet.  Tubuhnya yang kurus bergetar. Meski mobil pemadam kebakaran sudah dikerahkan, tapi  tak mampu menjinakkan api yang kian membesar. Limpahan air menggenangi tanah. Becek. Di depan Kasiani, lidah api terus menjulur-julur. Asap hitam membumbung di angkasa. Air mata keluar dari pelupuk mata Kasiani saat api menghanguskan rumah kayunya.
“Ya, Allah lindungilah keluarga kami. Di mana kami harus tinggal ya, Allah,” kata Kasiani terisak.

Peristiwa kebakaran itu pula yang membuat Kasiani harus tinggal di rumah susun.  Sebelum menempati Pasar Darurat itu, Kasiani sempat pernah  mengalami penggusuran. Peristiwa itu terjadi saat ia tinggal di Guntur di dekat Pasar Rumput.

Suasana panik. Sejumlah penghuni terlihat mengangkut barang berharganya.

“Meski diiming-imingi uang untuk mengontrak, saya tetap tinggal di situ. Saya sudah nggak punya tempat tinggal lagi.”

“Saya nggak mau diberi uang 400 ribu untuk ngontrak. Bagi saya uang itu nggak mencukupi buat saya.  Saya dan keluarga tetap bertahan di lahan yang telah bertahun-tahun kami tempati.”

“Setelah melakukan musyawarah, saya menerima uang ganti rugi. Saya menerima 300 ribu per meter.”

“Saya punya satu kios di lantai tiga yang kami sewakan. Setahun 14 juta. Kalau yang sekarang saya tempati, itu statusnya hanya ngontrak. Kalau kios-kios yang ada ini nggak bisa dibeli. Itu milik Pemda.”

“Ya, beginilah tinggal di rumah susun. Apalagi buat orang seperti saya yang mempunyai banyak anak.”

Dalam usia senja Kasiani tetap berharap Tuhan memberikan umur panjang.  Namun, sebuah kekhawatiran berkecamuk dalam pikirannya, sebelum ia tutup usia. Ia ingin menyaksikan empat anaknya  menikah :  Kuswara, Erni, Wody, dan Yuddy dan di mana mereka akan tinggal.

“Hanya itu. Nggak ada keinginan lain.”


*) revisi tugas Menulis Narasi atas masukan Andreas Harsono dan Budi Setiyono

Kamis, 18 Agustus 2011

Musdah Mulia : Agama Itu Bukan Candu


“Agama yang saya pahami adalah seperangkat ajaran,  doktrin, teks suci, simbol-simbol, yang positif dan konstruktif sehinga itu semua bisa menjadi common values dan bisa memberikan inspirasi bagi manusia untuk dapat melakukan kebaikan,” kata Musdah.

Namun, dalam masyarakat   agama itu menjadi sesuatu yang menghukum dan tak boleh membuat orang berpikir. Saat  belajar di  pesantren, Musdah tidak boleh mempertanyakan pelajaran yang diterima. “Seolah-olah yang dicari itu Tuhan. Jangankan mendebat, bertanya saja nggak boleh. Saya nggak diperkenalkan dengan pendapat-pedapat yang berbeda oleh guru-guru saya. Padahal, berbicara agama itu berbicara interpretasi,” terang peraih penghargaan Yap Thiam Hien pada 2008 itu bersemangat.

Musdah mengakui, semakin banyak interpretasi  akan membuat wawasan seseorang  makin luas. Artinya, ia tidak akan mudah menyalahkan orang lain dan tak gampang terombang-ambing karena ia mengetahui banyak pendapat. Terserah ia mau menggunakan pendapat yang mana, sepanjang  tidak memaksa dan   mencederai orang lain. So, what? 

“Namun, di kita (Indonesia) nggak boleh beda pendapat dan pendapat itu hanya satu. Orang lalu mengatakan bahwa kamu berbeda,  kafir, murtad, dan sebagainya. Oleh karena itu, seperti dikatakan Marx bahwa agama itu adalah candu bagi masyarakat, karena tidak membuat kita berpikir kritis, tidak rasional dalam kehidupan. Islam yang kita transfer dan masuk ke Indonesia adalah Islam gurun, gersang,” terang Musdah.

Peserta tertawa.

“Tidak ada seninya sama sekali.”

“Saya masih ingat waktu kecil, saya tidak boleh mendengarkan lagu-lagu. Karena jika saya menikmatinya, maka saya diancam bahwa telinga saya akan dicor dengan timah panas. Saya juga tidak diperbolehkan melihat tari-tarian, yang sebenarnya sangat indah.”

Suasana hening.  Pandangan mereka terfokus ke Musdah. Andreas dan Zubair kembali  memotret Musdah dengan telepon genggamnya.

Musdah menemukan fakta berbeda ketika ia berkunjung ke Persia. Menurutnya, Persia berbeda dengan Arab. Orang-orang Persia mengatakan Islam yang gersang itu karena tumbuh di Arab. 

Jadi, mereka mengklaim bahwa sebenarnya Islam yang murni adalah Islam versi mereka. Oleh karena itu, orang-orang Iran, apalagi orang-orang Syiah, selalu memaki-maki Arab sebagai pengelola Islam yang tidak becus. Menurut Musdah, karena itu mereka selalu menganggap bahwa Baitulah itu sebaiknya pindah ke Iran agar lebih sejuk, lebih indah, dan tidak gersang.

Tiga Tantangan Besar

“Mengapa agama itu  penting?” tanya Musdah.

“Karena  agama itu dapat melahirkan tindakan yang kemanusiaan yang positif dan konstruktif.  Agama juga dapat menjadi sumber makna dan kebajikan agar hidup itu bermakna atau sebaliknya. Oleh karena itu, dalam kajian-kajian sosiologis dikatakan bahwa agama itu mempunyai dua fungsi yang secara diametral bertentangan, yaitu : integratif dan disintegratif. Pertanyaannya adalah, ternyata fungsi disintegratif inilah yang dapat lebih mudah dikembangkan, lebih nyaman. Lihat saja di Indonesia, memecah-belah itu gampang banget, tetapi untuk mempersatukan sulit sekali,” jelas penerima gelar “Women of The Year 2009” dari Italia.

Persoalan mendasar yang dihadapi dalam kehidupan keagamaan di Indonesia dan tantangan yang paling besar dalam menegakkan pluralisme,  demokrasi, dan humanisme, yaitu munculnya kekerasan-kekerasan berbasis agama.  Mengapa itu muncul? Karena ada kekecewaan yang mendalam dan adanya ketidakadilan yang meluas.

“Jadi, ini perlu dicari apa akar sebenarnya. Saya berharap mulai sekarang bagi teman-teman dari Islam untuk mengidentifikasi apa yang diperbincangkan di masjid. Bagi Anda yang dari  Katolik atau Kristen untuk mengidentifikasi apa yang diperbincangkan di gereja,” tegasnya.

“Persoalan umat!” salah seorang peserta nyeletuk.

Hadirin tertawa.

“Untuk penulisan, cobalah datang,” sergah Musdah.

“Saya pernah melakukan penelitian selama dua tahun, saya menyimak apa yang disampaikan dalam forum-forum agama ini. Semua disampaikan oleh para pemuka agama adalah sesuatu yang mengawang-awang. Jauh ke sana. Persoalan sorga dan neraka yang jauh sekali. Mereka tidak mau terlibat dalam persoalan-persoan konflik yang dihadapi oleh umat, masyarakat. Mereka tidak pernah bagaimana menyelesaikan persoalan pengangguran, membangun kesehatan dalam komunitas itu,  menyelesaikan persoalan harga-harga sembako yang mahal. Agama harus mambu memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan sosial kita. Jika tidak, buat apa kita beragama. Kalau itu urusannya di akhirat nanti, itu terlalu jauh.”  

Bagi Musdah, agama telah menjadi candu yang meninabobokan masyarakat. Apalagi dengan mengatakan berbuat baiklah karena di sorga  akan mendapat banyak bidadari. 

“Saya pernah bekerja di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sebagai salah satu ketua selama lima tahun, setiap kali kolega saya para ulama sepuh bicara soal sorga dan neraka, saya lalu mengatakan Pak Kyai, saya sudah lama  sebetulnya sudah tidak tertarik pada sorga dan neraka. Mereka kemudian membelalak dan memperbaiki duduknya. Ada apa ini Bu Musdah?  Saya bilang ke mereka, bagaimana saya tertarik dengan sorga dan neraka, jika definisi  itu selalu digunakan  dengan menggunakan definisi yang maskulin. Sorga itu penuh dengan bidadari, bagi saya itu apa gunanya.”

Sebagian peserta tertawa.

“Saya tidak tertarik dengan itu,” lanjut Musdah.

“Jadi, saya katakan, berhentilah berbicara sorga dan neraka. Memang, persoalan sorga dan neraka ada dalam kitab-kitab suci. Kitab suci itu dibangun atau diturunkan  ketika masyarakat belum modern seperti sekarang. Perkembangan kemanusiaan pada abad ke-7, belum canggih. Oleh karena itu, masih perlu diberi inspirasi tentang sorga dan neraka. Buat kita sekarang, untuk apa? Apalagi jika  dikatakan sorga itu berisi air yang mengalir, penuh susu.  Itu apa? Sekarang kita bisa mandi susu di mana-mana pakai sauna, ya, nggak?”

Hadirin tertawa.

“Saya katakan agama tidak memberi candu dan membuat orang terbuai. Agama itu harus mampu merespons  persoalan-persoalan dasar manusia. Persoalan ketidakadilan yang merjalela di mana-mana. Saya heran mengapa agama tidak bisa menyelesaikan persoalan tersebut? Hal yang sangat ironi.  Dalam penelitian yang saya lakukan, saya menemukan bahwa sebagian besar umat beragama  meyakini bahwa orang boleh korupsi, asalkan sebagian uang tersebut disumbangkan untuk pesantren, gereja, vihara. Jadi, Tuhan itu seolah-olah seperti mesin cuci,” terang Musdah.
Bagian terakhir, Musdah berharap bahwa para peserta yang hadir agar tulisan-tulisan yang kami hasilkan dapat mengubah, bukan hanya wawasan, tetapi juga behavior masyarakat agar lebih beradab dan berpihak pada keadilan dan kemanusiaan. 

“Saya sangat berharap lewat tulisan-tulisan Anda nanti  dapat memberikan sesuatu inspirasi bagi masa depan kemanusiaan yang lebih beradab,” ucap Musdah.

Plok, plok, plok! Tepuk tangan menggema dalam ruang di lantai 4. (TAMAT)

Selasa, 09 Agustus 2011

Ciuman Terakhir untuk Ghalda

Oleh KOMARUDIN

(I)
TELEPON genggam merk Nokia saya berdering memecah keheningan sebuah kamar  di Swiss-Bell Hotel Borneo, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Gelap mulai merayapi perkampungan di sekitar  hotel. Lampu-lampu rumah penduduk terlihat berpendar-pendar dari jendela kamar. Dengan tergesa saya menyambar telepon genggam itu dari atas meja kayu jati.    Dari layar telepon yang menyala berwarna hijau muda  itu tertulis kata “Neng”.  Ia adalah istri saya :  Kundajani Mulyana. Saya biasa memanggilnya  “Neng”, sedangkan ia panggil saya “Abang”.

“Saya punya kabar gembira, Bang.”
“Kabar gembira apa?”
“Saya hamil. Kemarin saya sudahcek menggunakan test pack, ternyata hasilnya positif. Saya juga sudah periksa ke dokter. Hasilnya dua-duanya positif,” jelas istri saya di ujung telepon.

Seisi kamar hotel seperti mengucapkan selamat bahagia buat saya. Sejak menikah pada 22 Mei 2004 keinginan kami untuk menimang buah hati memang selalu menggelora di dada. Apalagi, usia kami pun sudah tak muda lagi. Usia kami hanya terpaut satu bulan. Saya lahir April 30 tahun yang lalu, sedangkan  istri lahir Mei.
Saya  senang mendengarnya.
“Rupanya, Tuhan mengabulkan doa kita,” timpal saya.

Setelah tiga  hari di Banjarmasin,  saya mendarat di Jakarta. Kegembiraan meluap-luap saat Damri membawa saya menuju Rawamangun, Jakarta Timur, tempat kami tinggal.  Sejak menikah, saya memang menetap sementara di rumah mertua. Maklum, uang saya belum cukup untuk membangun rumah.  Istri sempat meminta saya mencari kontrakan  di kawasan Slipi agar dekat dengan tempatnya mengajar di SMP 61. “Kalian nggak usah ngontrak. Tinggal di sini saja untuk sementara. Uangnya disimpan,” kata Soedjadi Mochtar, mertua saya.

Saya langsung memeluk tubuh istri saya dan menciumi perutnya. Meski belum terasa ada gerakan  bayi, saya tetap merasa gembira luar biasa. Istri saya menyambut hangat. Kangen.

(II)
HARI demi hari perut istri  kian buncit.  Saya mulai merasakan gerakan janin, seperti ditendang-tendang ketika tangan saya menyentuhnya. Berdasarkan keterangan dokter, gerakan janin biasanya dimulai saat kandungan  memasuki usia 20 minggu.  Janin  bergerak normal minimal 10 kali atau satu kali dalam satu jam. Jika lama tak bergerak, istri saya selalu membangunkan dengan cara memancing gerakannya dengan mengelus-elus perut sambil sedikit menekan atau mengetuk perutnya. Saya merasa senang ketika janin itu bergerak. Saya merasakan ada kontak batin antara saya dengan janin. Saya selalu membayangkan diri saya ketika masih di dalam kandungan ibu. Alangkah bahagianya ayah  saat saya  ngulet dan menendang-nendang tangannya.

Bulan berikutnya saya mendampingi istri  periksa kondisi janin ke RB Alvernia di Jalan Pemuda. Kami antre dan duduk di kursi dekat dengan kipas angin yang tergantung di enternit. Istri saya mendadak minta dibelikan bakpao rasa kacang ijo yang biasa mangkal di parkiran. Sesaat seorang suster meminta untuk menimbang berat badannya. Istri lalu berdiri tegak di atas timbangan. Jarumnya menunjuk ke angka 60.  Berat badan istri naik satu kilogram dari bulan sebelumnya.

Kian siang antrean bertambah banyak. Jejeran kursi penuh pasien.Selanjutnya pemeriksaan tekanan darah dengan menggunakan U-Tube Manometer. Manometer adalah alat pengukur tekanan yang menggunakan tinggi kolom atau tabung yang berisi likuid statistik untuk menentukan tekanan. Suster lalu mengikat manset mengelilingi lengan kiri istri dan kemudian ditekan dengan tekanan di atas arteri lengan. Perlahan suster itu menurunkan tekanannya. Saya lihat suster menulis dua angka : 120/70.  

Angka 120 menunjukkan sistolik atau tekanan puncak. Artinya, jantung berkontraksi mendorong darah keluar dan berdenyut. Sedangkan angka 70 menunjukkan diastolik atau tekanan rendah atau masa istirahat di antara dua denyutan.
“Tekanan darahnya bagus.”
“Terima kasih, Sus!”

Selain rajin memeriksa kondisi kesehatan ke dokter, saya juga rajin mengingatkan istri agar minum obat dan susu khusus ibu hamil Prenagen.
“Ya, supaya anak kita sehat.”

(III)
KINI  kandungan istri sudah menginjak usia tujuh bulan.  Seluruh keluarga besar kami berkumpul. Wajah mereka sumringah. “Insya Allah, ini cucu kami yang kelima,” kata Hajjah Tursinah, mertua perempuan saya kepada ustazah Maesaroh.

Dalam tradisi keluarga kami, tiap kali bayi menginjak usia tujuh bulan selalu diadakan acara tujuh bulanan. Ada pandangan dalam usia itu Tuhan meniupkan ruh ke dalam bayi yang dikandung istri.

Semua keluarga besar berkumpul dalam ruang tamu seluas 6x7 meter dan ruang keluarga sekitar 4x10 meter. Mereka membacakan Surat Yasin,  Yusuf,  Maryam ditutup dengan doa dari 30 ibu pengajian. Tujuan mereka satu : mendoakan agar bayi yang dikandung istri saya mempunyai perangai seperti Nabi Yusuf jika laki-laki dan Maryam bila perempuan,  serta diberikan kesehatan oleh Tuhan.

Oleh  ustazah Maesaroh saya dipanggil untuk membaca kedua surat tersebut. Namun, hanya masing-masing lima ayat. Saya duduk bersila dengan mengenakan sarung dan peci hitam. 30  pasang mata memandangi saya.  Saya agak canggung duduk di hadapan ibu-ibu pengajian. Namun, saya merasa senang,  karena tak lama lagi akan menjadi ayah. Sebelum pengajian ditutup dengan doa, mereka sempat berdiri  saat melantunkan salah satu bagian Kitab Barjanzi  karangan  Ja’far al-Barjanzi al-Madani yang akrab di kalangan penganut mazhab Imam Syafi’i.

“ya nabi salam alaika ya rasul salam alaiika. Ya habib salam alaiika salawaatullahi alaiika..” (Ya, Nabi salam sejahtera atasmu, wahai Rasul salam sejahtera atasmu. Wahai kekasih salam sejahtera atasmu, semoga rahmat Allah tercurah atasmu)

Usai pengajian, saya dan istri duduk di ruang tamu. Kami  ditemani dua cangkir teh manis.  Istri lalu membuka buku tipis. Judulnya jika saya tak salah ingat berjudul Nama-nama untuk Bayi.
“Apa nama yang bagus, ya?” tanya istri sambil menyeruput teh manis. Pandangannya tertuju pada buku itu.
“Belum dapat, Neng?”
“Belum.”
“Ghalda bagus nggak, Bang?”
“Wah, bagus tuh. Apa artinya?”
“Lembut, muda.”
“Syadza”
“Harum”
“Paling nggak kita gunakan tiga kata, ya?”
“Tuhan suka yang ganjil.”
“Bagaimana kalau kata terakhirnya Kamilah?”
“Boleh aja, Bang.”
“Ghalda Syadza Kamilah.”

(IV)
SABTU, 20 Maret 2005 pukul 10.00 menjadi hari yang paling menegangkan buat kami. Janin yang dikandung istri saya mendadak tak bergerak. Saya berusaha memancing dengan cara mengelus-elus perut istri. Namun, tetap tak ada respons dari buah hati kami. Berulang-ulang kami berusaha, tetapi tetap janin tak bereaksi. Saat itu kandungan istri sudah memasuki usia 33 minggu.
“Cepat kita harus ke dokter, Neng!” kata saya dengan pikiran yang berkecamuk.

Kami dengan sigap memasukkan segala keperluan ke dalam tas. Mulai dari minyak angin, selimut,  kain, sarung,  handuk, pakaian bayi, bedak, odol, sikat gigi.
“Saya nggak mau terjadi sesuatu terhadap anak kita,” kata saya panik.
“Semoga Tuhan melindungi anak kita, Bang! Saya tak merasakan apa-apa, Bang,” jawab istri dengan mata mulai berkaca-kaca. Ia berusaha tenang.

Mertua lelaki saya, Soedjadi Mochtar, terlihat bergegas ke luar. Ia mencarikan  taksi yang akan mengantar kami ke  Alvernia. Lelaki berumur 64 tahun itu pun  tampak cemas mendengar pembicaraan kami.

Di dalam taksi pikiran saya terus berkecamuk. “Jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan anak saya,” kata saya dalam hati.
“Sabar ya, Bang,” bisik istri saya di telinga kanan ketika kendaraan yang kami tumpangi melewati Terminal Rawamangun. Arus lalu-lintas lancar.

Antrean pasien Rumah Bersalin Alvernia mulai menyusut saat kami tiba.  Tiga perempuan berusia sekitar 35 tahun duduk berpencar didampingi suami masing-masing.  Mereka menunggu giliran pemeriksaan.  Hati saya tetap panik.

Setelah menyerahkan kartu pemeriksaan warna biru muda, seorang suster lalu memeriksa tekanan darah istri dan mengukur berat badannya.  “Tekanan darahnya agak tinggi, Bu. Nanti langsung bertemu dengan dokter saja,” katanya.
Hati saya kian panik.
Gimana, nih, Bang?” tanya istri.
“Ya, sabar aja. Kita harus tunggu pemeriksaan dokter,” kata saya sambil menggengam erat tangan kanan istri.

Wajah istri saya terlihat mulai memerah. Sedih. Wajah saya pun sembab. Saya tak peduli dengan pasien yang sempat memandang kami. Antrean pasien tinggal seorang. Saya terus menggenggam tangan istri.  Tas saya letakkan di sebelah kanan kursi.

“Bu Kun, silakan masuk,” kata suster.

Istri lalu masuk. Saya di belakangnya sambil menggendong tas yang penuh muatan.
Dokter Winarno mempersilakan istri saya berbaring di atas kasur. Seorang suster menyerahkan doppler ke dokter itu.  Doppler merupakan alat untuk melihat arus pembuluh darah janin melalui frekuensi detak jantung. Dengan pemeriksaan doppler dapat diketahui apakah janin mendapat cukup suplai darah, serta apakah ia tumbuh sesuai usianya. Melalui alat itu, dokter juga bisa meramalkan apakah calon ibu mengalami pre-eklampsia atau tidak.
“Bagaimana hasilnya dokter?” tanya saya.
“Sabar ya, Pak. Nanti kita periksa CTG dulu,” jelas Dokter Win.

Istri lalu diminta untuk pindah ke ruang persalinan berukuran sekitar 4 x 5 meter persegi. Bau obat menyengat saat kaki memasuki ruang bercat putih.  Ia lalu dibaringkan di atas kursi panjang beroda empat. Di sebelah kanan terdapat tabung oksigen warna biru dan sejumlah peralatan untuk operasi. Istri saya kemudian menjalani  pemeriksaan cardiotocography (CTG). Saya melihat perut istri saya ditempeli dua alat, yaitu ; alat deteksi denyut jantung janin dan alat kontraksi selama lebih  15 menit.  Jika terjadi perlambatan denyut jantung janin,  bisa menandakan terjadinya gawat janin akibat fungsi plasenta yang tidak baik dan harus segera diberi pertolongan.

Sore saya dipanggil dokter di ruang suster. Tidak seperti pemeriksaan sebelumnya, pemeriksaan kali ini tergolong istimewa.  “Tuhan mungkin berkata lain, Pak. Setelah menjalani pemeriksaan CTG, ternyata istri bapak mengalami pre-eklampsi. Janin yang dikandungnya pun  sudah meninggal dunia.  Untuk menyelamatkan nyawa ibunya, kami harus melakukan tindakan?” terang dokter.
“Apa yang dimaksud pre-eklampsi itu, dokter?”
“Pre-eklampsi itu adala suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi.”
“Kok, pekan lalu istri saya sehat-sehat saja, dokter?”
“Pre-eklampsi itu bisa terjadi tiap saat.”
“Kehamilan harus segera diakhiri untuk melindungi jiwa ibunya. Bagaimana, Pak?”
“Silakan, dokter.”
Saya terisak. Saya lalu menandatangani selembar kertas. Isinya menerangkan bahwa bayi yang dikandung isti saya telah meninggal dunia.
“Apakah masih bisa lahir normal, dokter?”
“Kami akan usahakan. Ibu harus diinduksi,” jelas dokter Win.
Induksi adalah suatu upaya stimulasi dimulainya proses persalinan. Dari tidak ada tanda-tanda persalinan menjadi ada. Cara ini dilakukan sebagai upaya medis untuk mempermudah keluarnya bayi dari rahim secara normal.
 
(V)
MALAM itu merupakan saat yang paling bersejarah dalam kehidupan kami.  Ada tiga hal penting yang saya rasakan. Pertama, saya harus menunggu buah hati kami yang masih dalam kandungan. Entah, jam berapa akan keluar. Kedua, jika ia keluar, tetapi kondisinya sudah tak bernyawa.  Ketiga, mencari alasan yang tepat kepada istri bahwa anak yang telah lahir sudah meninggal dunia.
 “Ada apa, Bang? Kok, menangis?”
“Ah, nggak, sayang. Abang kelilipan. Jadi, mirip orang nangis,” kata saya  berusaha menutupi kondisi sebenarnya.  

Saya bersyukur istri tak menannyakan soal kondisi janin. Sarung yang dikenakan istri saya mulai basah. Air ketuban mulai keluar. Warnanya agak kecoklatan. Paras istri saya terlihat agak pucat. Sesekali ia meringis menahan sakit.  Saya berusaha memeluknya agar tetap tenang. Tetesan air ketuban membasahi lantai. Saya lalu mengambil sarung kering dari dalam tas.  Istri terlihat makin lemas. Saya tergopoh-gopoh memanggil suster. Dengan bantuan suster, istri saya kembali dibawa ke ruang persalinan. Saya berusaha menahan kantuk dan memilih menunggu di luar.  Saya takut melihat darah.

Pukul 00.35 WIB perjuangan istri saya berhasil. Ia melahirkan seorang putri secara normal. Namun, suasana tetap hening tidak ada suara tangis bayi. Dokter Irwan Bachtiar---ahli kebidanan dan penyakit kandungan--- yang menangani persalinan istri  lalu menggendong bayi kami yang memiliki berat 3, 1 kilogram dan panjang 50 sentimeter untuk dibersihkan. Ghalda Syadza Kamilah lalu diletakkan di ruang suster yang mulai sunyi. Sekujur tubuh Ghalda mulai  membiru. "Lain kali jika hamil nggak usah nyantap fast food atau minuman bersoda. Itu untuk menghindari kejadian seperti ini lagi," kata dokter Irwan menasihati.

Mertua saya datang tanpa suara. Mereka tertegun melihat cucunya yang sudah tak bergerak. Air mata jatuh.

Dengan lap kain yang direndam air, saya memerhatikan Dokter Irwan  menyilangkan tangan Ghalda yang telah meninggal   14 jam sebelumnya dengan hati-hat
i. Ia lalu membersihkan bercak-bercak darah di dahinya dengan tenang.  Dokter Irwan bekerja dengan lembut, gerakannya adalah usaha untuk menghormati jenazah.

Tak lama saya mendaratkan ciuman ke pipi kanan dan kiri Ghalda. Dua kali saya berbisik di telinganya.
“Selamat jalan, sayang.”

*) Peristiwa ini terjadi sekitar pertengahan 2005. Saya berusaha mengingat kembali peristiwa tersebut untuk tugas Kursus Narasi di Yayasan Pantau.

Kamis, 04 Agustus 2011

“Beredah” dan “Nanggok” di Sukadana

 
Pesawat yang kami tumpangi mendarat dengan mulus di Bandar Udara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat. Langit tampak mendung. Awan hitam berarak di angkasa. Sejenak kendaraan yang kami tumpangi kemudian meluncur ke arah dermaga di Desa Rasau Jaya yang dapat ditempuh selama satu jam. Sepanjang perjalanan, di kanan-kiri membentang lahan-lahan tidur yang belum digarap yang ditumbuhi rerumputan dan rerimbunan pohon.

Suasana alam pedesaan sangat kental terasa. Sebagian jalan yang kami lintasi masih tampak basah diguyur hujan. Tak jarang pula kami menemukan rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu yang menghitam di makan usia di kanan kiri jalan. Bangunan itu tampak kukuh dan sebagian tak bercat.

Gerimis mulai turun ketika bus yang kami tumpangi memasuki kawasan Rasau Jaya. Dari kejauhan tampak Sungai Rasau yang membentang. Sejumlah perahu merapat di dermaga. Truk pengangkut barang pun tampak berdatangan. Kami beristirahat sejenak di sebuah warung yang berjarak sekitar 25 meter dari dermaga. Selain sungai, pandangan kami juga tertuju pada bukit yang menghijau di ujung sungai. "Itu namanya Gunung Ambawang, tapi sudah tidak aktif. Di bawahnya terdapat perkebunan pohon sawit," ujar Indra Noviansyah, 21 tahun, yang ikut dalam rombongan.

Membelah Sungai
Setelah rehat sekitar 20 menit, perjalanan menuju Sukadana pun dilanjutkan. Sebuah speedboat telah menanti untuk mengantar kami ke Sukadana. Dum, dum, dum, dum. Petualangan di atas sungai pun segera dimulai. Cuaca yang sempat mendung, berubah cerah. Langit tampak biru disaput gumpalan-gumpalan awan yang berarak.

Angin berhembus kencang saat speedboat yang kami tumpangi melaju kencang membelah Sungai Rasau. Tubuh kami sempat terguncang-guncang. Tiap kali kendaraan yang kami tumpangi berpapasan dengan perahu nelayan, mereka langsung mengangkat tangan. Di kejauhan tampak rumah-rumah penduduk yang terbuat dari kayu. Di kanan-kiri sungai, terdapat pohon-pohon bakau.

“Berapa lama kita sampai di Sukadana?” tanya saya  di tengah  deru mesin speedboat.

"Ya, sekitar tiga jam kita di atas sungai ini," jawab Indra.

Speedboat yang kami tumpangi sempat singgah di cold storage, pabrik pengolahan ikan. Gerimis turun. Kami bergegas menuju speedboat untuk melanjutkan perjalanan menuju Sukadana. Matahari mulai merambat ke arah barat. Kendaraan pun melesat cepat disertai hembusan angin yang bertiup kencang. 
“Ya, paling 15 menit lagi kita sampai di Sukadana,” jelas Agus Salim, 50 tahun,  yang ikut dalam rombongan saat perjalanan sudah tiga jam.

Kayong dan Cabana
Jarum jam menunjuk angka 17.45 ketika speedboat yang kami tumpangi merapat di Dermaga Irama Laut, Sukadana. Kami menuju ke Hotel Mahkota Kayong, tempat para tamu menginap. Tempat tersebut merupakan satu-satunya hotel yang ada di Sukadana. Maklum, Kayong Utara sendiri baru empat tahun menjadi kabupaten di Kalimantan Barat. Daerah itu merupakan pemekaran dari Kabupaten Ketapang.

Di tempat ini pelancong dapat menikmati keindahan alam Sukadana. Kita bisa memilih pemandangan laut maupun gunung. Dari pintu masuk hotel, para tamu dapat menikmati keindahan Gunung Sembilan dan Bukit Pulau Datuk yang kehijauan. Sementara itu, sambil menyantap hidangan, bisa menikmati pemandangan pantai ditingkahi desir angin. 

“Jika di sebelah kanan para turis dapat memandang Gunung Sembilan, sementara di kiri Bukit Pulau Datuk. Di tengah pantai terdapat sebuah gugusan pulau yang bernama Salah Nama," kata Soeparmo S.P. Yoga, Manager Incharge Hotel Mahkota Kayong.

Sesaat kumandang azan maghrib bergema lewat pengeras suara dari masjid yang berada di depan hotel. Perlahan hari mulai gelap. Hanya kelap-kelip lampu rumah penduduk di depan hotel yang terlihat. Selang beberapa saat suara takbir Idul Adha lamat-lamat terdengar merdu di telinga. Saya merasakan seperti di kampung sendiri. Dari kejauhan terdengar bunyi petasan.

Dar! Dar! dar!

Beredah dan Nanggok
Keesokannya, sejumlah warga setempat terlihat mendatangi sebuah masjid. Mereka menunaikan salat Idul Adha. Usai salat, sebagian anak-anak berusia 10 tahun tampak berbondong-bondong ke sebuah tanah lapang. Mereka ingin ikut acara Nanggok, sebuah tradisi lokal yang tetap dipertahankan oleh masyarakat. Biasanya, ratusan anak antre untuk menerima uang dari pihak pemberi.

“Tradisi itu sudah ada sejak puluhan tahun. Besarnya uang tidak menjadi patokan. Yang penting, niat untuk berbagi dengan anak-anak. Semoga kelak mereka pun akan mempunyai sifat berbagi untuk sesama jika sudah sukses. Pesan itu yang ingin tetap dipelihara dalam masyarakat kita,” urai Raja Sapta Oktohari, owner Hotel Mahkota Kayong.

Hari menjelang siang ketika ratusan anak dari sejumlah desa menyemut di tanah lapang. Suasana kian ramai. Sinar matahari yang terasa menyengat tubuh tak lagi dipedulikan. Mereka berebut memperoleh uang, meski harus saling berdesak dan berhimpit-himpitan.

Tradisi itu Nanggok, diawali dengan upacara beredah. Pagi itu, terlihat 17 orang berpakaian hitam dengan mengenakan kopiah hitam duduk bersila. Tangan mereka tampak lincah menabuh rebana sambil melantunkan ayat-ayat suci Alquran dan salawat.

"Mereka umumnya berjumlah ganjil. Karena Allah suka dengan sifat yang ganjil," tandas Okto, begitu Raja Sapta Oktohari akrab disapa.

Perjalanan dilanjutkan ke Desa Sungai Belit. Bertandang ke Sukadana, pelancong juga dapat menyaksikan para petinju berlatih. Kawasan ini memang kaya akan petinju-petinju potensial. Sebagian penduduk setempat menyematkan Sukadana dengan sebutan "Kota 1001 Petinju". Salah satunya, Daud Yordan, yang akan berlaga melawan petinju asal Argentina, Damian David Marciano. Didampingi Okto, saya bertemu Damian Yordan, kakak Daud Yordan yang juga menjadi pelatih di Desa Sungai Belit.

“Kota ini telah membawa harum nama Sukadana dan Indonesia ke tingkat dunia," tandas Damian.

Kota Tertua
Bertandang ke Sukadana kurang lengkap jika  tak mengenal sejarah daerah tersebut. Sukadana merupakan ibu kota Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Kabupaten itu dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2007 pada 2 Januari 2007. Kabupaten tersebut adalah satu dari 16 usulan pemekaran kabupaten/kota yang disetujui Dewan Perwakilan Rakyat pada 8 Desember 2006 lalu.

Berdasarkan catatan, Sukadana merupakan kota tertua di Kalimantan Barat. Biasanya, pada Desember-Januari penduduk setempat sedang melakukan panen durian. Dari panen raya itu penduduk sekitar banyak membuat dodol durian yang di daerah setempat disebut lempok yang sudah menembus pasar dunia.

Sementara itu, secara historis Sukadana adalah batu cap atau batu bergambar (rock painting) yang terletak di Desa Sedahan, Sukadana, Kayong Utara, yang merupakan salah satu peninggalan sejarah pada masa lampau. Peninggalan itu diduga merupakan warisan nenek moyang Bangsa Ketapang yang pertama kali menginjakkan kaki di Kalimantan.

Keturunan orang Ketapang menurut legenda berasal dari Indochina atau India yang kemudian beremigrasi ke Kalimantan. Sebelum singgah ke Sukadana, mereka lebih dahulu singgah di Kepulauan Karimata yang pada masa lalu merupakan tempat strategis jika dilihat dari Laut China Selatan. Batu bergambar coretan itu sampai kini belum ditemukan artinya itu adalah situs purbakala yang ditemukan sejak 1874 dan menjadi jejak imigran tersebut. Hingga saat ini belum juga diketahui siapa yang menemukan batu itu. Dugaan sementara, batu itu sudah ada pada zaman sebelum mengenal tulisan.

Sukadana, 18 November 2010

Rabu, 03 Agustus 2011

Travellers di Bumi Ruai Jurai


Lampung memiliki sejumlah lokasi wisata yang menarik. Salah satunya,  Travellers, bagian dari kawasan Krakatoa Nirwana Resort. Letaknya di Jalan Trans Sumatera KM 45, Merak Belantung, Kalianda, Lampung Selatan. Butuh waktu sekitar enam jam untuk tiba di lokasi tersebut jika  dari Jakarta.

Kendaraan roda empat yang ditumpangi Ayunda Yudianti, 25 tahun, bergerak perlahan menaiki kapal KMP Jatra II di Pelabuhan Merak, Cilegon, Banten. Meski di tengah terik matahari, paras wanita berjilbab itu tampak berbinar-binar. Ia didampingi kekasihnya, Heru Rilano, 35 tahun, dan keluarganya. "Kami ingin melakukan pemotretan pre-wedding di Lampung Selatan," katanya. Meski diterpa hembusan angin Laut Selat Sunda, perempuan berjilbab itu tampak tak peduli. "Kami sekalian liburan bersama keluarga," ujarnya.

Pelabuhan Merak merupakan penghubung Pulau Jawa dengan Sumatera melalui jalan laut (Selat Sunda). Setiap hari ratusan feri melayani arus penumpang kendaraan dari dan ke Pulau Sumatera melalui Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Menurut Zailis Anas, Manager Operasional PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Bakauheni, KMP Jatra II dapat menampung sekitar 800 orang penumpang, 35 kendaraan roda empat, dan empat mobil besar. "Namun, saat ini belum mengalami lonjakan penumpang. Biasanya jika musim liburan tiba, penumpangnya melonjak 30 hingga 40 persen," ungkap Zailis.

Menara Siger di Bakauheni
Sejenak kapal yang saya tumpangi pun bergerak. Angin laut berhembus kencang. Di bawah dua bocah asyik sedang menyelam untuk meraih uang pecahan 500 dan 1000 yang dilempar dari atas oleh penumpang.

Dari kejauhan tampak kapal-kapal penumpang lain bergerak menuju Pelabuhan Bakauheni. Terlihat pula gugusan-gugusan pulau yang menghijau. Perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni terasa nayaman. Gelombang air laut pun tak besar. Beberapa penumpang tampak asyik mendengarkan live di ruang eksekutif berpendingin udara. Hanya untuk dapat masuk ke ruangan ini mereka dikenakan biaya tambahan sebesar sepuluh ribu per orang. Di tempat ini mereka bisa tiduran di sejumlah sofa panjang atau membaca koran.

Dari kejauhan terlihat kemegahan Menara Siger. Bangunan tersebut merupakan ikon kebanggaan masyarakat Lampung yang mendapat julukan Bumi Ruai Jurai itu. Menara tersebut terletak di atas bukit di Bakauheni dan merupakan Prasasti Titik Kilometer nol jalan lintas Sumatera serta penanda pintu gerbang Pulau Sumatera. Menara tersebut diresmikan pada 1 Mei 2008 oleh Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. Menara tersebut dengan bentuk architecture crawn berwarna kuning dapat dilihat dari jauh ketika kapal akan berlabuh di Pelabuhan Bakauheni, baik pagi, siang, sore, dan malam. Di puncak menara terdapat payung tiga warna: putih, kuning, dan merah. Menara tersebut mengusung adat budaya Lampung.

Dari atas kapal feri, terlihat puluhan perahu nelayan bersandar di pinggir pantai. Menurut Andi, tempat itu merupakan Kampung Muara Biru, yang juga digunakan untuk pelelangan ikan. "Saya dari Cikotok mencari emas. Saya biasa pulang dua bulan sekali ke kampung halaman," ujar Andi, 25 tahun, sambil menghisap rokok kretek dalam-dalam. Para penumpang pun ke luar satu per satu. Beriringan. Sebagian mereka membawa barang-barang yang dibungkus dengan kardus. Selanjutnya, kendaraan-kendaraan pun meluncur dari perut kapal besi itu.

Travellers
Keluar dari Pelabuhan Bakauheni, kendaraan yang saya tumpangi langsung melesat menuju Travellers. Sepanjang Jalan Trans Sumatera itu kendaraan roda empat dan roda dua terlihat hilir mudik. Lebih banyak truk yang mengangkut barang-barang yang akan dibawa ke Lampung. Mereka seperti terbiasa melewati jalan itu. Padahal, kontur jalan mengular. Kadang lurus, menanjak, menurun, hingga berkelok.

Hari menjelang sore ketika tiba  di Travellers di Jalan Trans Sumatera KM 45, Merak Belantung, Kalianda, Lampung Selatan. Lokasi tersebut berada di kawasan Krakatoa Nirwana Resort seluas 350 hektare. Butuh waktu sekitar satu jam untuk mencapai lokasi tersebut dari Pelabuhan Bakauheni.

Sejauh mata memandang, terhampar laut yang luas. Gunung Rajabasah tinggi menjulang terselimuti awan. Pulau Setiga, Sebuku, dan Sebesi. Bagan-bagan mengambang di atas laut. Sejumlah lelaki paruh baya sedang asyik bermain bola voli pantai di atas pasir putih. Mereka meluapkan kegembiraan bisa berkumpul bersama dengan teman-teman satu kantornya. Angin bertiup kencang. “Fasilitas dan pelayanan yang ada di sini setara dengan hotel bintang empat,” ujar Yundi Nayadilaga, 39 tahun, Activity & Promotion Manager Travellers Krakatoa Nirwana Resort.

Di tengah lantunan musik, Yundi menceritakan tentang wisatawan yang berkunjung ke lokasinya. Di antaranya dari Jakarta, Lampung, Palembang, dan Bengkulu. Mereka duduk-duduk dan bersenda gurau bersama keluarga di pinggir pantai dan menikmati keindahan Gunung Rajabasah dari kejauhan. "Jika di tempat lain orang susah untuk menikmati keindahan laut dan gunung. Di sini orang mendapatkan dua keuntungan sekaligus," kata lelaki asal Bandung itu.

Biaya Paket Wisata
Telunjuk tangan kanan Yundi tertuju ke Gunung Rajabasah sambil menyebutkn bahwa ada sejumlah paket yang dapat diambil oleh para turis. Jika mereka ingin menginap di sana selama satu hari mereka dikenakan biaya sebesar 400 ribu per orang. Biaya tersebut sudah meliputi kamar untuk dua orang, makan malam, pagi, dan siang, fun games (bakiak, karung, tarik tambang, olah raga; voli dan futsal pantai). Jika akhir pekan, pengunjung harus membayar sebesar 550 ribu per orang. "Mereka yang bulan madu dapat makan malam dan sarapan di atas dermaga sambil menikmati hembusan angin laut dan cahaya lampu yang berpendar-pendar," tegasnya.

Selain itu, tempat itu juga dapat digunakan bagi mereka yang ingin menyelenggarakan resepsi pernikahan, dengan harga sebesar 64 juta hingga 80 juta rupiah. Biaya tersebut sudah termasuk sewa tenda, panggung, taman, dekorasi, satu kamar pengantin, hingga hidangan prasmanan untuk 700 orang.

Udara terlihat mendung. Sejenak hujan turun dengan deras. Perjalanan menuju ke Gunung Krakatau pun tertunda. Yundi menyarankan bisa datang pada waktu lain. Lalu, ia menceritakan tentang perjalanannya ke gunung itu. Dari Travellers, pengunjung perlu waktu sekitar enam jam dengan menggunakan speedboat. Waktu tersebut sudah termasuk perjalanan pulang pergi. Sepanjang perjalanan, para turis akan menikmati keindahan gugusan pulau. Mulai dari Pulau Segitiga, Sebuku, dan Sebesi.

Mereka lalu diajak mengelilingi Kepulauan Krakatau; seperti Pulau Panjang, Sertung, dan Rakata atau Krakatau Purba. Saat perjalanan kembali, para pengunjung akan singgah di Pulau Sebesi dan menikmati indahnya terumbu karang. Para turis dapat berenang, snorkeling, atau memancing. "Kehadiran Gunung Krakatau memang memiliki daya tarik tersendiri bagi turis lokal dan mancanegara," terang Yundi.

Berapa biaya paket perjalanan ke Gunung Krakatau? "Empat juta lima ratus ribu untuk tujuh orang," tegas Yundi.

Perlahan langit mulai gelap, hujan pun telah berhenti.

Lampung,  16  Mei  2010