Empat kali Chairil Anwar
menyebut nama ”Tuhanku” dalam puisinya, ”Doa”, yang juga ditujukan kepada
pemeluk teguh, sedangkan Abdul Hadi WM, tiga kali menyebut kata ”Tuhan”
dalam karyanya, ”Tuhan, Kita Begitu Dekat”. Kerinduan mereka seakan-akan
lebih bertenaga dan sempurna jika diulang tiga hingga empat kali dengan
kata yang sama.
Dalam pandangan Toshihiko
Izutsu, hubungan itu merupakan relasi khusus antara dua kutub konseptual
utama, yakni Tuhan dan manusia. Relasi itu tak sederhana dan juga tak
unilateral, tetapi bersifat ganda dan bilateral, dalam relasi yang timbal
balik.
Izutsu lalu membagi dalam
empat bentuk tipe relasi yang berlainan antara Tuhan dan manusia. Pertama,
relasi ontologis; antara Tuhan sebagai sumber eksistensi manusia dan
manusia sebagai representasi yang eksistensinya berasal dari Tuhan.
Kedua, relasi komunikatif di sini Tuhan dan manusia dibawa ke dalam
korelasi yang dekat satu sama lain—Tuhan tentu saja mengambil
inisiatif—melalui komunikasi timbal balik. Ketiga, relasi Tuan-hamba:
relasi ini melibatkan, Tuhan sebagai Tuan (Rabb), manusia sebagai
”hamba”-Nya (abd). Keempat, relasi etik. Relasi ini didasarkan perbedaan
dua aspek. Tuhan yang kebaikannya tak terbatas dan Tuhan yang murka. Di
sisi manusia terdapat perbedaan antara rasa syukur di satu pihak dan
takut kepada Tuhan di sisi lain.
Jika meminjam istilah Rudolf
Otto, Tuhan bisa dimaknai sebagai misteri yang menakutkan (mysterium
tremendum) sekaligus misteri yang menggetarkan (mysterium
fascinosum), Tuhan sebagai yang Suci, yang penuh kebaikan, belas kasih,
yang menarik, menggembirakan, membahagiakan, sehingga manusia merasakan
Tuhan sebagai yang Mahakasih, Mahacinta, Maharahim, Mahabijaksana,
Mahapengampun.
Pertikaian
Pandangan Izutsu tentang empat
tipe relasi itu dapat kita elaborasi dalam dunia sastra, misalnya, dalam
cerpen ”Robohnya Surau Kami” karya Ali Akbar Navis. Tuhan saling
berkomunikasi dengan manusia. Suatu hubungan yang amat dekat. Membaca
cerpen ini mampu menggiring kita untuk mengkritisi kembali paham ataupun
kebiasaan yang telah kita anut selama ini. Kisah Haji Saleh yang telah
menghabiskan waktunya seumur hidup hanya untuk beribadah, tetapi
membiarkan dirinya melarat, sampai anak cucunya pun teraniaya.
Sebagai penjaga surau, Haji
Saleh tak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungut tiap
Jumat. Tiap enam bulan ia hanya dapat seperempat dari hasil pemungutan
ikan mas dari kolam itu. Sekali setahun orang-orang mengantarkan zakat
fitrah kepadanya.
Haji Saleh tersenyum bangga
karena rajin menyembah Tuhan. Kepada Haji Saleh, Tuhan mengajukan
pertanyaan pertama. ”Engkau?”/”Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah,
Haji Saleh namaku.”/ ”Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama
hanya buat engkau di dunia.”/ ”Ya, Tuhanku.”/”Apa kerjamu di dunia?”/”Aku
menyembah Engkau selalu, Tuhanku.”/ ”Lain?”/”Setiap hari, setiap malam.
Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.”/”Lain.”/”Ya, Tuhanku,
tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu,
menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu
menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan
hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.”
Dalam cerpen itu Haji Saleh
dan rekan-rekannya melakukan protes kepada Tuhan—meminjam istilah
Annemarie Schimmel—”pertikaian dengan Tuhan”. Ia menganggap Tuhan tidak
adil atas tindakan yang ia lakukan selama ini. Ia menilai apa yang
dilakukannya langsung menjamin masuk surga. Padahal, ia terlalu egoistis.
Mementingkan diri sendiri, melupakan kehidupan kaumnya, serta tak
memedulikan kehidupan anak istri.
Manusia dan Tuhan
Relasi timbal balik terdapat
pula dalam puisi ”Doa” karya Chairil Anwar. Dalam konteks ini, doa bisa
diartikan sebagai pembicaraan akrab, atau munajat, antara manusia dan
Tuhan, sebagai bertukar kata cinta yang menghibur hati duka meskipun tak
langsung dijawab.
Doa dalam arti permohonan
merupakan hak khusus manusia. Meskipun semua makhluk memuji Tuhan dengan
bahasa mereka masing-masing, hanya manusialah yang dapat berbicara
dengan-Nya, mengadukan penderitaan, serta harapannya kepada Tuhan yang
Mahabijaksana. Dalam diskursus mistik, doa adalah bahasa kerinduan akan
kekasih cayaMu panas suci/tinggal kerdip lilin di kelam sunyi.
Hal senada ditulis Abdul Hadi:
Tuhan/Kita begitu dekat/Sebagai api dengan panas/Aku panas dalam
apimu/Dalam gelap/Kini aku nyala/Pada lampu padammu.
Relasi yang ”lebih dekat dari
pada urat leher”, manunggaling kawulo gusti, bahkan dikatakan
”siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya”, dulcis
hospes animae, titik temu antara yang manusiawi dan yang ilahi.
Dua puisi itu ditulis dengan
serangkaian kalimat pendek dan padat. Semua tindakan berbicara kepada
sumber kekuatan yang tak terlihat. Semua tindakan berbicara yang bukan
merupakan penggunaan kata-kata sehari-hari.
Membaca bait-bait puisi
Chairil itu sangat kuat pesan yang ingin disampaikan adalah penyerahan
diri kepada Kehendak Ilahi. Langkah yang diambil oleh tiap-tiap
orang, sebagai persoalan batin dan eksistensi dirinya, untuk menyerahkan
jiwanya kepada Tuhan. Kata Chairil: Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih
menyebut namamu.
Karena Tuhan adalah Penguasa
Mutlak, maka satu-satunya sikap manusia terhadap Tuhan yang mungkin
adalah berserah diri sepenuhnya, merendah, dan menghina diri di
hadapan-Nya tanpa syarat. Pendek kata, seorang hamba harus berbuat dan
bertingkah laku sebagai seorang hamba. Biar susah sungguh/mengingat
Kau penuh seluruh.
Membaca keseluruhan puisi itu
Chairil merespons positif keberadaan Tuhan. Ia merespons dengan positif
dan percaya. ”Tuhanku/di pintuMu aku mengetuk/aku tidak bisa
berpaling,” kata Chairil. Betapa ia sadar diciptakan dalam keadaan
lemah, dan ia sadar betul ia bukan apa-apa di hadapan Tuhan yang
memberikan segala sesuatu karena rahmat karunia-Nya.
Keseluruhan puisi berkisah di
seputar satu gagasan pusat, Tuhan, yang dengan kata berirama dari sudut
yang berbeda-beda, kadang-kadang meninggi, kadang-kadang menjadi ulangan
yang monoton. Dalam puisi itu, seruan kepada Tuhan yang terus-menerus,
kerinduan dan hasrat yang mendalam, harap, dan cemas terdengar
mengesankan.
Puisi Chairil Anwar, Abdul
Hadi, dan cerpen AA Navis ingin memperlihatkan manusia pasrah sempurna
kepada kehendak Tuhan; ke situlah semua harapan dan kecemasan seorang
insan. Melalui puisi mereka mengekspresikan pemahamannya terhadap
Tuhan. Namun, pada realitasnya, tak menutup kemungkinan orang
merespons secara negatif keberadaan Tuhan. Betapapun seringnya Tuhan
menyeru manusia ke jalan yang benar. Itu karena Tuhan tak sekadar
suatu yang tertulis dalam bahasa, tetapi realitas yang tak terjangkau.
Suatu relasi yang tak sederhana dan tak egoistis atau memaksakan
kehendak. ● tulisan ini dipublikasikan di Kompas, 24 Maret 2013
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar