Panjang
tulisan itu hanya 10.204 karakter. Judulnya singkat, “Seandainya Aku Orang
Belanda.” Dimuat di Harian De Expres pada 19 Juli 1913. Tulisan itu
dicetak dalam dua bahasa : Belanda dan Melayu. Dicetak di Bandung oleh De
Eerste Bandoengsche Publicatiemaatschapij yang dipimpin J.F. Wisselius.
Selain disebar di Bandung, media tersebut juga dikirim ke sejumlah
redaksi harian yang terbit di Pulau Jawa. Di kalangan pembaca harian Melayu,
karangan itu memeroleh sambutan hangat karena penyebaran harian tersebut
dilakukan secara terbuka.
Koran
berbahasa Belanda diterbitkan di Bandung pada 1 Maret 1912. Harga banderol
mula-mula enam gulden untuk pelanggan dalam negeri dan tujuh setengah gulden
bagi yang berdomisili di luar negeri setiap empat bulan. Pendirinya Douwes
Dekker dan dibantu oleh dua orang yang di kemudian hari menjadi alamat-alamat
kunci sejarah pergerakan pertama Indonesia: Soewardi Soerjaningrat dan Tjipto
Mangoenkoesoemo. Ketiga orang itu diberi simpul : “Tiga Serangkai”.
Perkenalan
Soewardi dan Douwes Dekker terjadi pada 1912. Saat itu Soewardi menjadi
wartawan di surat kabar Mataram.Douwes Dekker terharu membaca tulisan-tulisan
Soewardi. Dekker lalu mengajak Soewardi untuk bergabung di De Expres, edisi
Melayu.
“Meneer?”
“Apa
itu Meneer?” bentak Dekker kepada Soewardi. Ia sangat bersikap hati-hati agar
jangan sampai ditegur sebagai orang yang tak mengenal sopan santun. Meskipun
demikian, tulis Slamet Muljana, sikap itu tidak dikehendaki Douwes Dekker. Ia
lalu meminta Soewardi untuk menggunakan kata “friend” kepada Douwes Dekker,
yang setara dengan kata “saudara” atau “kawan.”
Sejak
1912 sudah banyak suratkabar yang didaftarhitamkan oleh pemerintah dan dianggap
berhaluan kiri alias merah karena sering menampilkan bacaan-bacaan liar yang
menghasut. De Expres pun yang tak
luput kena daftar hitam dan dicap merah. Konsekuensinya, De Expres dilarang
dibaca oleh semua pegawai negeri. Sudah lama pemerintah membidik koran
tersebut. “Sebelum terbit brosur itu belum pernah ada seseorang Indonesia yang
berani mengeritik tindakan pemerintah Belanda di muka umum, maka reaksi dari
pemerintah itu sangat keras, dan tangan
besinya segera berjalan dan memanggil dan memeriksa panitia tersebut,” kata
Sardjito, mantan rektor Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, saat pidato
pemberian gelar Doktor honoris causa kepada Soewardi.
Soewardi
tak ingin berdiam diri. Jika mengikuti alur pikir Nietzsche, diam adalah lebih
buruk, semua kebenaran yang disembunyikan akan menjadi racun. Dalam
kecintaannya terhadap Bumi Putra dan keberanian menempuh hidupnya, penduduk
pribumi sepatutnya tidak mengharapkan belas kasihan orang lain. Lewat
tulisannya, Soewardi hendak mengungkapkan kemuakannya terhadap orang-orang yang
mengharap dan menuntut belas kasihan. Mereka inilah pengejawantahan manusia
lemah dan hina. Mereka adalah orang-orang yang menikmati penderitaannya, bukan
karena sanggup menanggung derita, melainkan karena dengan penderitaannya itu
mereka bisa mengharap belas kasihan orang lain. Oleh karena itu, sesungguhnya
mereka itu tidak menderita dalam arti yang sebenarnya. “Mereka hanya ingin
disaksikan dalam penderitaan sehingga menganggap patut untuk dikasihani.
Orang-orang demikian itu hina dan tak cukup memiliki rasa malu,” kata
Nietzsche.
Seperti apa isi lengkap tulisan itu?
Seandainya Aku
Orang Belanda
Dalam berbagai karangan di surat-surat kabar
banyak sekali dipropagandakan untuk mengadakan suatu pesta besar disini, di
Hindia; pesta perayaan 100 tahun kemerdekaan Nederland. Penduduk negeri ini
tidak boleh lengah saja, bahwa pada bulan November yang akan datang genaplah
seratus tahun, bahwa Nederland menjadi suatu kerajaan dan tanah Nederland
menjadi suatu negara yang merdeka, sekalipun dengan begitu ia di belakang
sekali dalam barisan negara-negara.
Ditinjau dari segi yang patut sudah
sepantasnya kejadian nasional yang bersejarah itu dirayakan dengan sebuah
pesta. Bukankah itu menandakan kecintaan orang Belanda kepada tanah airnya,
tanda setianya kepada tanah yang pernah dihiasi oleh nenek-moyangnya dengan
perbuatan-perbuatan pahlawan? perayaan itu akan menggambarkan perasaan bangga
mereka , bahw seratus tahun yang lalu Nederland berhasil melemparkan tekanan
penjajahan dari bahunya dan ia sendiri menjadi suatu bangsa yang merdeka.
Adalah mudah bagi saya untuk merasakan perasaan patriotik orang-orang Belanda dalam zaman sekarang yang mempunyai kesempatan merayakan hari besar negeri mereka itu. Karena saya juga seorang patriot, dan seperti orang-orang Belanda nasionalis yang mencintai tanah airnya, saya pun mencintai tanah air saya, bahkan lebih daripada yang dapat diungkapkan oleh kata-kata.
Betapa
riang, betapa senang bila mampu merayakan suatu hari nasional yang penting
seperti itu! Saya ingin supaya mampu untuk sementara menjadi seorang Belanda,
bukan seorang Belanda dalam namanya saja,
melainkan seorang putra yang tidak dipalsukan dari Negeri Belanda itu,
yang bebas dari setiap penindasan bangsa asing. Betapa riang gembiranya saya
nanti dalam bulan November pada hari yang telah lama dinanti-natikan itu, hari
perayaan kemerdekaan. Betapa leganya hati saya nanti melihat bendera tiga warna
dengan batas jingga tua. Suara saya akan
menjadi parau karena menyanyikan lagi "Wilhelmus" dan "Wie
Neerland's Bloed" sesaat musik mulai menggema. Saya akan sangat bangga atas semua
manifestasi itu, saya akan bersyukur kepada Tuhan dalam Gereja Kristen itu oleh
karena kemurahan-Nya, saya akan berdoa demi keselamatan orang-orang Belanda,
termasuk mereka yang sedang berada di tanah jajahan, supaya kemuliaan kekuasaan
yang maha besar yang berada di belakang kita akan tetap. Saya akan mengumpulkan
uang dari orang-orang Belanda di Hindia bukan hanya untuk perayaan itu,
melainkan juga untuk melaksanakan rencana Colijn untuk menambah jumlah angkatan
darat bangsa kita demi melindungi kemerdekaan Belanda. Saya akan...sesungguhnya
saya tidak tahu lagi apa yang akan saya lakukan jika saya seorang Belanda,
karena saya merasa akan mampu melakukan apa pun.
Tapi
nyatanya tidak begitu. Jika saya seorang Belanda saya tidak akan mampu
melakukan apa pun. Sesungguhnya saya inginkan perayaan kemerdekaan mendatang
itu dihormati seluas mungkin, tapi saya tidak akan izinkan penduduk negara ini
mengikuti perayaan itu. Saya akan
mengekang keinginan mereka untuk ke pesta ria, bahkan saya lebih suka perayaan
itu tertutup bagi mereka supaya tak seorang pun dari pribumi-pribumi itu akan
mampu melihat kebahagiaan kita sementara merayakan kemerdekaan itu.
Ada
sesuatu yang tidak pada tempatnya-sesuatu yang tidak senonoh-jika kita (saya
masih seorang Belanda dalam khayalan saya) menyuruh pribumi-pribumi itu
mengikuti pesta-pesta ria yang merayakan kemerdekaan kita. Pertama, kita akan
melukai perasaan mereka yang peka itu karena di sini sedang merayakan
kemerdekaan kita di negeri mereka sendiri yang sedang kita jajah. Pada saat
itu, kita sedang merasakan sangat bahagia karena seratus tahun yang lalu kita
membebaskan diri dari kekuasaan asing; dan semua itu terjadi di hadapan mata
mereka yang masih berada di bawah kekuasaan kita. Tidaklah terasa kepada kita
bahwa budak-budak yang malang ini juga sedang merindukan saat seperti ini,
kapan mereka, seperti kita, akan mampu merayakan kemerdekaan mereka? Atau
barangkali apakah kita merasa bahwa kebijaksaan kita yang menghancurkan jiwa,
maka kita menganggap semua jiwa manusia seperti mati? Jika demikian halnya,
kita sedang menipu diri sendiri karena betapa primitifnya pun suatu masyarakat,
ia tetap menentang penindasan. Maka jika seorang Belanda, saya tidak akan
menyelenggarakan perayaan kemerdekaan di suatu negeri di mana kemerdekaan
rakyatnya telah dirampas.
Dengan
pertimbangan ini, bukan hanya tidak adil melainkan juga salah, memerintahkan
pribumi-pribumi supaya memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Gagasan
mempersiapkan peringatan kemerdekaanm itu saya sudah cukup menghina mereka dan
sekarang kita bahkan merampok isi kantong mereka. Sesungguhnya itu adalah penghinaan
secara moral dan material.
Bagaimanakah
sebenarnya kita akan beruntung dari peringatan-peringatan itu di Hindia? Jika
peringatan itu merupakan pernyataan kebahagiaan bangsa Belanda, tidaklah
bijaksana bahwa hal itu harus dilakukan di negeri jajahan ini. Akan terjadi perlawanan satu lawan satu di
tengah-tengah masyarakat itu. Atau apakah kita ingin menyombongkan kekuasaan
dalam suatu pengertian politik? Terutama dalam masa ini ketika rakyat Hindia
sedang giat mengorganisasikan diri mereka, masih setengah lelap dalam kesadaran
mereka, berdasarkan taktik maka tidak pantas memberi contoh tentang bagaimana
seharusnya merayakan kemerdekaan mereka.
Harapan-harapan mereka sedang dibangkitkan, secara tidak sadar kita
membangunkan keinginan-keinginan dan cita-cita mereka untuk kemerdekaan di masa
mendatang. Tanpa sengaja kita tengah berseru kepada mereka, "Lihat, kami
merayakan kemerdekaan kami. Kami cinta kemerdekaan, sesungguhnya adalah untuk
kebahagiaan seperti itu maka rakyat perlu merdeka, bebas dari segala macam
penindasan.
Jika
saya seorang Belanda pada waktu ini, saya akan melancarkan suatu protes
terhadap keinginan menyelenggarkan suatu perayaan. Saya akan menulis dalam setiap surat kabar,
mengumumkan bahwa keinginan seperti itu adalah salah. Saya akan memperingatkan
semua rekan saya sesama kolonialis tentang bahaya menyelenggarakan perayaan
kemerdekaan pada waktu ini. Saya akan menasihati semua orang Belanda supaya
jangan melukai perasaan rakyat Hindia yang telah mulai berani mengingkari kita
dan yang sebenarnya dapat berbuat demikian. Sesungguhnya saya akan memprotes
sekeras-kerasnya sebagai mana kekuasaan membenarkan saya.
Tetapi...saya
bukan seorang Belanda, saya hanya seorang berkulit coklat dari daerah tropis,
seorang pribumi dari jajahan Belanda, dan karena itu saya tidak akan memprotes.
Karena jika saya benar-benar memprotes, rakyat akan marah kepada saya, mereka akan menganggap saya sebagai menghina
Belanda yang adalah pemerintah negeri saya, membuat mereka marah kepada saya.
Itu saya tidak mau, tidak boleh saya lakukan. Jika saya seorang Belanda
bukankah saya akan menghindarkan juga melukai perasaan rakyat Hindia? Mereka
juga akan menganggap saya sebagai bertingkah laku tidak senonoh terhadap Paduka
Yang Mulia Ratu, ratu yang terhormat, dan tindakan seperti itu tidak dapat
dimaafkan, karena saya adalah seorang pribumi dari jajahannya dan yang mesti
selalu setia kepadanya.
Karena
ini saya tidak akan memprotes. Sebaliknya saya akan mengikuti perayaan-perayaan
itu. Apabila uang itu sudah hampir semuanya dikumpulkan, saya akan memberikan
iuran, meskipun hal itu berarti menyita setengah biaya rumah-tangga saya.
Adalah tugas saya sebagai seorang pribumi dari negeri jajahan ini mengikuti
perayaan-perayaan kemerdekaan Negeri Belanda itu, tanah air tuan saya. Saya
akan menasihati rakyat saya dan orang-orang lain sesama warga negara Kerajaan
Belanda supaya mengikuti perayaan itu, karena meskipun peringatan ini adalah
suatu perayaan yang berciri Belanda, adalah suatu kesempatan yang baik bagi
kita memperlihatkan kesetiaan kepada Negeri Belanda. Betapa bahagianya saya.
Syukurlah saya bukanlah seorang Belanda.
Kita
mesti menyampingkan semua kata sindirian yang tajam ini. Pada permulaan artikel
ini telah dinyatakan bahwa gagasan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda yang
sedang giat-giatnya disebarkan adalah suatu peristiwa bagi Belanda untuk
memperlihatkan kesetiaan terhadap tanah air mereka. Apa yang melukai perasaan
saya dan perasaan orang-orang senegeri saya adalah terutama gagasan supaya
orang-orang pribumi harus membiayai pekerjaan-pekerjaan yang
keuntungan-keuntungannya mereka sendiri tidak turut kebagian.
Apakah
keuntungannya bagi kami, perayaan yang
kami turut membantu penyelenggaraannya? Sedikit pun tidak. Paling banter hal
itu mengingatkan kami bahwa kami bukanlah rakyat merdeka dan bahkan
"Belanda tidak memberikan kemerdekaan kepada kami" selama tuan
Idenburg memerintah negeri ini. Dengan demikian, betapa pun nampaknya hal itu
tak masuk akal, kami akan memperoleh suatu pelajaran dari peringatan itu, bahwa
adalah suatu tugas bagi setiap orang memperingati kemerdekaan rakyat mereka.
Karena
itu saya merasa lebih tertarik pada gagasan merayakan peringatan yang
disebarkan itu dalam harian-harian pribumi Kaoem
Moeda dan De Expres di Bandung.
Mereka mengusulkan supaya Panitia Pusat membentuk suatu komisi yang terdiri
dari kaum cendekiawan pribumi yang akan mengirim suatu telegram mengucapkan
selamat kepada Ratu dan bersamaan dengan itu akan mendesak Pemerintah
menghapuskan Artikel 111 dari peraturan-peraturan Pemerintah dan segera mungkin
membentuk sebuah parlemen pribumi.
Mengenai hasil tuntutan-tuntutan itu, terutama yang terakhir, adalah lebih baik jika saya tidak membahasnya di sini; implikasi-implikasinya mempunyai arti yang sangat penting.
Bukankah
suatu tuntutan keras seperti sudah mempunyai suatu arti protes? Sepanjang
menyangkut yang pertama, kami sudah kehilangan hak kami membicarakan politik;
dengan kata lain, apakah kami sedang dicegah mencita-citakan kemerdekaan kami?
Rakyat yang menghargai perdamaian
seperti Belanda, yang pada saat ini merencanakan untuk menyelenggarakan
perayaan kemerdekaan, sesungguhnya harus mendukung suatu tuntutan seperti itu.
Mengenai
pembentukan suatu parlemen, itu adalah pernyataan yang jelas dari keinginan
mempunyai bab-bab yang menjamin hak berbicara dan memberikan suara. Ini sangat
penting. Apabila hal itu sudah jelas bahwa rakyat Hindia sudah cukup
dibangunkan, dan bahwa kesadaran mereka berkembang dengan cepat, maka perlulah
dipikirkan kemungkinan bahwa rakyat itu, yang sekarang masih sedang
dijajah, akan mengatasi tuan mereka. Apa
yang akan terjadi kemudian, apabila 40 juta rakyat, yang sesungguhnya telah
dibangunkan, menuntut keadilan dari seratus anggota Majelis Rendah yang
dianggap sebagai wakil-wakil rakyat? Apakah mereka lalu ingin menyerah dengan
tiba-tiba apabila krisis itu telah tiba?
Sebenarnya
adalah sangat aneh bahwa Panitia kita meminta suatu parlemen. Sementara itu
pemerintah dengan berhati-hati membiarkan kita mengamati pembentukan suatu
badan, suatu badan kolonial, di mana setiap anggota luar biasa sudah pasti akan
diangkat oleh Pemerintah dan kemudian dianggap
sebagai wakil kita dalam badan perwakilan itu yang dinamakan "Dewan
Kolonial" sama saja seperti badan yang akan ada sekarang "Dewan Pemerintah",
dan sekarang Panitia sedang mengusulkan suatu gagasan yang besar, tidak
lebih, tidak kurang daripada pembentukan
sebuah parlemen pribumi.
Jelasnya,
Panitia kita hanya menekankan ciri utama protes itu, dan tidak menekankan apa
hasilnya nanti. Tidakkah sangat mengagumkan bahwa tepat pada hari ketika
Belanda melakukan peringatan kemerdekaan mereka, Panitia datang mendesak Ratu
untuk mengakhiri pemerintah kolonial Belanda yang bersifat mutlak itu atas 40
juta rakyat?
Sesungguhnya jika saya seorang Belanda saya tidak akan
pernah merayakan peringatan kemerdekaan di sebuah negeri yang masih sedang
dijajah. Pertama saya akan memberikan rakyat yang masih kita jajah itu
kemerdekaan mereka dan kemudian merayakan kemerdekaan kita. ( dikutip dari Scherer, Keselarasan dan Kejanggalan : Pemikiran-pemikiran
Nasionalis Jawa Awal Abad XX).
Diskursus
Nederlander-Inlander
Sejak
tulisan Soewardi beredar luas, berbagai tanggapan dan analisis pun bermunculan.
Takashi Shiraishi, misalnya, menilai, dari tulisan itu Soewardi mengawali
karier panjang dalam politiknya. Ia adalah pribadi yang kompleks. Ia anak muda
radikal pada 1910-an, lalu berbelok menjadi politisi kebudayaan nasionalis
konservatif yang memainkan peran amat penting dalam merumuskan
"kekeluargaan", pada
1920-an. Meski radikal, menurut
Sardjito, Soewardi merupakan Nojorono, pemuda yang senantiasa gembira hati,
tangkas, dan tak sepi humor. “Dalam
tulisan Soewardi Soerjaningrat sebagai Nojorono memberi tamparan yang hebat
kepada si angkara murka penjajah. Tetapi caranya tidak kasar, tidak maki-maki,
senantiasa tetap kesatria, memberi kata-kata yang tepat, jitu, indah
susunannya, ada humornya, ada sinisnya, tercampur ejekan yang pedas, yang
dilemparkan kepada si penjajah, tetapi selanjutnya juga memberi
pandangan-pandangan, dapat direnungkan untuk pihak sana, dan juga untuk pihak
sini,” Sardjito menguraikan.
Uraian
Sardjito, beda dengan pandangan Indonesianis asal Australia, Ben Anderson, pun
sempat merenungi tulisan itu. Dalam
tulisan “Bahasa, Fantasi, Revolusi : Jawa 1900-1950,” Anderson bilang, kata
kuncinya adalah eens (sekali waktu),
karena menentukan suatu fantasi baru terhadap dunia kehidupan kolonial saat itu.
“Pembaca yang berbahasa Belanda diminta membayangkan seseorang Jawa menulis
dalam bahasa Belanda tentang seorang Jawa yang membayangkan dirinya menjadi
seorang Belanda untuk sesaat. Kata eens
adalah poros tempat fantasi itu berputar, namun kata itu juga memastikan bahwa
suara surat kabar yang dibayangkan itu sungguh-sungguh bahasa Jawa,” jelas Anderson.
Daniel
Dhakidae memberi penilaian yang lebih tajam dan mendalam. Ia bilang, jika
dibaca dengan cermat keseluruhan tulisan,
Soewardi Soerjaningrat hampir-hampir mendahului zamannya dengan menolak
rasionalitas berpikir modern dengan mengembangkan sendiri suatu pola berpikir
sirkuler. “Soewardi menyunglap dirinya menjadi Belanda totok, lantas berbalik
lagi menjadi orang Hindia totok. Meski demikian seluruh protes tersebut sangat
sulit dikatakan revolusioner, meski akibatnya sangat mengkhawatirkan bahkan
menakutkan Belanda. Alasan yang bisa dikemukakan adalah seluruh pertimbangan
yang dipakai di sana masih berjalan dalam suatu diskursus yang sama, yaitu ; diskursus Nederlander-Inlander, sesuatu
yang tipikal berada dalam diskursus etika.”
Masih
kata Dhakidae, secara umum, kaum
inlander, yaitu ; mereka yang disebut
sebagai wong cilik, rakyat jelata. Namun, dengan intervensi negara westernisasi
tersebut sama sekali tak terjadi, kaum inlander tak mungkin menjadi Barat. Yang
terjadi justru sebaliknya di mana hubungan, dalam hal ini aliran, pengetahuan
berlangsung tak seimbang antara kaum bumiputra yang sedikit mengenal Barat dan
Barat yang makin agresif dengan pengetahuannya-antropologi, etnologi, ilmu
hukum, dan agama--untuk mengenal, bahkan
bukan semata-mata untuk mengenal akan tetapi pada akhirnya menjalankan kekuasaan,
untuk makin mendudukkan kaum inlander. "Inlander" adalah suatu kata yang
bisa saja seperti "native" dalam bahasa Inggris atau bumiputra yang
masih dipakai di Malaysia, atau "penduduk asli" dalam bahasa
Indonesia.“Tidak diragukan lagi, artikel itu sebagai tulisan paling radikal
yang pernah diterbitkan di Hindia Belanda.”
“Bila
melakukan retrospeksi sekarang ini, judul artikel itu sangat radikal. Hal itu
sangat tidak mungkin terbayangkan, juga tidak mungkin pribumi menjadi seorang
Belanda. Bahkan, gagasan demikian itu tidak dapat dibicarakan bila kebetulan
muncul di pikiran,” ulas Takashi Shiraishi.
Menulis
seolah-olah dirinya orang Belanda, ia mengkritik kontradiksi besar-besaran
kemerdekaan Belanda dari jajahan Perancis yang diadakan di Hindia Belanda,
sementara pemerintah Belanda masih menjajah di tempat perayaan itu berlangsung.
Dia menyebutkan Belanda di Hindia Belanda sama saja dengan Perancis di Belanda
dalam Perang Napoleon. Rupanya, kritik itu membuat pemerintah berang.
“Mencemati
tulisan ”Seandainya Aku Seorang Belanda”, ada empat bagian penting dalam
tulisan yang terlihat sebagai sistematika Suwardi Suryaningrat dalam menuangkan
pemikiran,” kata Nova Christina, dalam
artikel “Buku Tipis Bernilai Tinggi”, Kompas,
26 Mei 2008.
Apa
saja itu? Pertama, di awal tulisan
berisi tentang ramainya pembicaraan perayaan seabad kemerdekaan Belanda. Pada
bagian itu juga disebutkan tentang pentingnya arti suatu perayaan kemerdekaan.
Bagi Soewardi, sudah sepantasnya orang
Belanda bisa berbangga hati karena telah menjadi bangsa yang merdeka selama
seratus tahun. Sudah jelas penduduk negeri ini tidak boleh mengabaikan begitu
saja kenyataan bahwa November mendatang ini, akan tepat 100 tahun Negeri
Belanda menjadi sebuah monarki dan rakyatnya membentuk diri sebagai suatu
bangsa, meskipun di tengah-tengah daftar bangsa-bangsa merdeka ia berdiri di
tempat yang paling akhir.
Soewardi
menyoroti sejumlah hal mengenai perayaan itu dari sudut kesopanan.
Baginya, peristiwa itu melambangkan
perasaan patriotik Belanda, cinta kepada bangsa yang telah dilukiskan
nenek-kakek mereka melalui kepahlawanan. Perayaan itu juga akan dengan bangga
mengumumkan bahwa satu adab yang lalu Belanda berhasil membebaskan diri dari
penindasan kekuasaan asing dan kemudian membangun diri mereka menjadi sebuah
bangsa.
Kedua, Soewardi
menunjukkan keinginannya menjadi seorang Belanda. "Saya ingin sekali,
sesaat saja menjelma menjadi seorang Belanda, bukannya Balanda Staatsblad alias
'Belanda dipersamakan' melainkan Belanda sejati, Belanda anak tanah Nederland,
bebas dari pada suatu campuran darah lain. tjampoeran darah lain…" Melalui
kalimat "pembuka" ini, Suwardi Suryaningrat kemudian masuk ke bagian
di mana ia berandai-andai sebagai seorang Belanda.
Ketiga, ia seperti
tersadar dari sebuah mimpi. Sadar dirinya bukanlah seorang Belanda.
"Tapi…saja boekan Belanda. Saja tjoema seorang koelit hitam, anak dari
tanah Hindia, djadjahan keradjaan Nederland." Sebagai seorang bumiputera, ia tidak akan
menolak apapun perintah sang penguasa, Belanda, sehubungan dengan perayaan
kemerdekaan tersebut. Ia tetap akan turut merayakan dan membayar pungutan yang
ditarik meskipun kondisi keuangan rumah tangganya sedang sulit.
Keempat, Soewardi kembali
menjadi seorang Belanda. Ia menutup tulisan dengan kembali menolak dirayakannya
seabad kemerdekaan Belanda di tanah Hindia. Bagian penutup tulisan ini pula
yang mengakhiri keberadaan harian De
Expres.
Dengan
mengatakan apa yang seharusnya belum dapat dikatakan, Soewardi memasalahkan
asumsi dasar kolonial Belanda dan "feodal" Jawa, di atas mana tata sosial
dan politik Hindia Belanda dibangun. Jika seseorang dengan terbuka dapat
berkata, "seandainya saya seorang Belanda," ia dapat juga
terang-terangan berkata "seandainya saya menteri kolonial,"
"seandainya saya residen," "seandainya saya sultan,"
"seandainya saya bupati." Itu bisa berarti-meskipun secara logika
mungkin, toh kemungkinannya kecil-mereka bisa juga berkata "seandainya saya kuli,"
"seandainya saya preman," "seandainya saya buruh." Dengan
demikian, Soewardi membuka horizon baru bagi pribumi untuk membayangkan dirinya
menjadi apa saja dengan ungkapan brilian "seandainya saya..." Dengan
ungkapan itu, seseorang dapat membayangkan dirinya berbeda dalam realitas yang
ada sekarang ini; dan dapat membayangkan realitas yang berbeda dari yang ada di
sini dan sekarang, di hadapan diri sendiri. Kata Shiraishi, tidak berlebihan
untuk mengatakan orang Indonesia lahir dari artikel ini.
Bagi
Soewardi, orang bumiputra adalah manusia yang sederajat dengan orang Belanda
dan dengan begitu menantang dominasi kolonial Belanda secara frontal. Di mata
orang bumiputra, Soewardi menampilkan dirinya sebagai satria sejati, seperti
Bima, dalam pewayangan bicara ngoko—
bentuk bahasa Jawa yang dipergunakan untuk bercakap kepada orang yang akrab
atau berkedudukan rendah— kepada semua orang dan dewa kecuali kepada jati
dirinya, Dewa Ruci.
Di
dalam hidup manusia, menurut Soewardi, bahasa itu punya kedudukan dan peranan
yang sangat penting. Ia melihat ada dua hal penting. Pertama, bahasa merupakan
suara serta ucapan-ucapan manusia yang digunakan untuk melahirkan segala apa
yang ada di dalam angan-angannya. Antara angan-angan dan bahasa itu
terus-menerus ada hubungan langsung, pertukaran pengaruh, dan daya saling
menggerakkan secara dinamis. Ada bahasa yang mempunyai nilai kebudayaan tinggi,
ada pula yang rendah. Berhubung dengan adanya timbal-balik itu, maka pemeliharaan bahasanya sendiri di seluruh
dunia dianggap keperluan mutlak untuk memajukan dan menyatukan kebudayaan
kebangsaan sendiri. Dalam pada itu, maka kenal bahasa lain yang mengandung
nilai kebudayaan yang luhur, dianggap tidak kurang pentingnya untuk pembangunan
hidup suatu bangsa, lahir dan batin, agar kemajuan bangsa tadi dapat
berlangsung secara “vertikal” atau “meningkat” dan “horizontal” atau “meluas”.
Meningkat dan meluas dianggap syarat mutlak pula dalam lingkungan cita-cita
perrikemanusiaan, untuk mempertinggi serta menyatukan perikeadaban sedunia,
yang disebut “universal”.
Kedua,
tiap-tiap bahasa itu merupakan gedung persimpanan kebudayaan bangsa (arsip atau
museum) bagi setiap bangsa. Dengan mengenal sesuatu bahasa, sudah berarti mengenal watak bangsa, yang
memiliki bahasa itu. Watak bangsa itu tidak lain dari padanya kumpulnya
nilai-nilai kebatinan dari bangsa itu. Mengenal bahasa suatu bangsa dalam zaman
lampau, berarti pula mengenal nilai kebatinan atau kebudayaan dari bangsa itu
dalam zaman-zaman yang telah silam. Mengenal bahasa-bahasa “kuna” itu tidak saja dianggap perlu sebagai usaha ilmu
pengetahuan, namun juga dipandang dari sudut perikeadaban dan kesusilaan (etik
dan moral) banyak guna serta faedahnya. Kadang-kadang orang dapat memperoleh
nilai-nilai kebatinan dari bahasa-bahasa kuna yang sangat berharga dan patut
dipelihara kembali dalam zaman yang sedang dialami. Adanya
“dekadensi-dekadensi” atau kemunduran dalam hidupnya sesuatu bangsa atau
tentang hilang lenyapnya adat-istiadat yang baik-baik, atau masuknya
anasir-anasir kebudayaan baru, yang merendahkan derajat kemanusiaan, dapat
diketahui apabila orang mengenal bahasa-bahasa kuna yang seolah-olah menjadi
museum atau arsip kebudayaan batin itu.
Sebenarnya,
saat itu Soewardi ingin menyampaikan apa yang ditulisnya itu agar rakyat
“mengerti” apa yang menjadi kegelisahannya tentang kondisi Indonesia. “Mengerti” tak mungkin tanpa bahasa.
Tapi
keseluruhan cita-cita nasional revolusioner Soewardi sebagai kebulatan dapat
diketahui dari dua artikel lain, yaitu ; “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu” (Een voor Allen, maar ook Allen voor Een) yang
dimuat dalam De Expres pada 26 Juli
1913 dan karangan lain “Perayaan Kemerdekaan dan Perampasan Kemerdekaan” (Vrijheidsherdenking en
Vrijheidsberooving), ditulis dalam
perjalanan di atas kapal Bulow di Teluk Benggala pada 14 September 1913.
Tulisan
Soewardi, jika mengikuti pandangan Rocky Gerung, bisa dibilang sebagai
keaktifan dalam politik yang merupakan keniscayaan bagi setiap orang yang
percaya pada suatu kemungkinan yang lebih baik. Itulah keyakinan politik yang
sesungguhnya, suatu politics of hope,
yang dipilih seorang politico-intellectual,
yang terus bekerja karena ia yakin bahwa tindakan itu adalah berguna untuk
suatu perubahan.
Dalam
dunia pergerakan, para pemimpin dapat pula dianggap sebagai satria. Dengan
perubahan pengertian tentang satria ini, arti bui (penjara) pun jadi berubah.
“Sekarang bui lambat laun berubah dilihat sebagai tempat bertapa dan bersemadi.
Dari tempat inilah para satria, dalam hal ini pemimpin gerakan, akan muncul
setelah kekuatan moralnya mengalami penggemblengan,” tulis Shiraishi.
Lanjutan dari "SEBUAH PRAHARA" (bersambung...)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar