Senin, 07 Januari 2013

SEANDAINYA AKU ORANG BELANDA



Panjang tulisan itu hanya 10.204 karakter. Judulnya singkat, “Seandainya Aku Orang Belanda.”  Dimuat di Harian De Expres pada 19 Juli 1913. Tulisan itu dicetak dalam dua bahasa : Belanda dan Melayu. Dicetak di Bandung oleh De Eerste Bandoengsche Publicatiemaatschapij yang dipimpin J.F.  Wisselius. Selain disebar di Bandung,  media tersebut juga dikirim ke sejumlah redaksi harian yang terbit di Pulau Jawa. Di kalangan pembaca harian Melayu, karangan itu memeroleh sambutan hangat karena penyebaran harian tersebut dilakukan secara terbuka.




Koran berbahasa Belanda diterbitkan di Bandung pada 1 Maret 1912. Harga banderol mula-mula enam gulden untuk pelanggan dalam negeri dan tujuh setengah gulden bagi yang berdomisili di luar negeri setiap empat bulan. Pendirinya Douwes Dekker dan dibantu oleh dua orang yang di kemudian hari menjadi alamat-alamat kunci sejarah pergerakan pertama Indonesia: Soewardi Soerjaningrat dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Ketiga orang itu diberi simpul : “Tiga Serangkai”.

Perkenalan Soewardi dan Douwes Dekker terjadi pada 1912. Saat itu Soewardi menjadi wartawan di surat kabar Mataram.Douwes Dekker terharu membaca tulisan-tulisan Soewardi. Dekker lalu mengajak Soewardi untuk bergabung di De Expres, edisi Melayu.
“Meneer?”
“Apa itu Meneer?” bentak Dekker kepada Soewardi. Ia sangat bersikap hati-hati agar jangan sampai ditegur sebagai orang yang tak mengenal sopan santun. Meskipun demikian, tulis Slamet Muljana, sikap itu tidak dikehendaki Douwes Dekker. Ia lalu meminta Soewardi untuk menggunakan kata “friend” kepada Douwes Dekker, yang setara dengan kata “saudara” atau “kawan.”

Sejak 1912 sudah banyak suratkabar yang didaftarhitamkan oleh pemerintah dan dianggap berhaluan kiri alias merah karena sering menampilkan bacaan-bacaan liar yang menghasut. De Expres pun yang tak luput kena daftar hitam dan dicap merah. Konsekuensinya, De Expres dilarang dibaca oleh semua pegawai negeri. Sudah lama pemerintah membidik koran tersebut. “Sebelum terbit brosur itu belum pernah ada seseorang Indonesia yang berani mengeritik tindakan pemerintah Belanda di muka umum, maka reaksi dari pemerintah itu sangat keras,  dan tangan besinya segera berjalan dan memanggil dan memeriksa panitia tersebut,” kata Sardjito, mantan rektor Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, saat pidato pemberian gelar Doktor honoris causa kepada Soewardi.

Soewardi tak ingin berdiam diri. Jika mengikuti alur pikir Nietzsche, diam adalah lebih buruk, semua kebenaran yang disembunyikan akan menjadi racun. Dalam kecintaannya terhadap Bumi Putra dan keberanian menempuh hidupnya, penduduk pribumi sepatutnya tidak mengharapkan belas kasihan orang lain. Lewat tulisannya, Soewardi hendak mengungkapkan kemuakannya terhadap orang-orang yang mengharap dan menuntut belas kasihan. Mereka inilah pengejawantahan manusia lemah dan hina. Mereka adalah orang-orang yang menikmati penderitaannya, bukan karena sanggup menanggung derita, melainkan karena dengan penderitaannya itu mereka bisa mengharap belas kasihan orang lain. Oleh karena itu, sesungguhnya mereka itu tidak menderita dalam arti yang sebenarnya. “Mereka hanya ingin disaksikan dalam penderitaan sehingga menganggap patut untuk dikasihani. Orang-orang demikian itu hina dan tak cukup memiliki rasa malu,” kata Nietzsche.

Seperti apa isi lengkap tulisan itu?

Seandainya Aku Orang Belanda

Dalam berbagai karangan di surat-surat kabar banyak sekali dipropagandakan untuk mengadakan suatu pesta besar disini, di Hindia; pesta perayaan 100 tahun kemerdekaan Nederland. Penduduk negeri ini tidak boleh lengah saja, bahwa pada bulan November yang akan datang genaplah seratus tahun, bahwa Nederland menjadi suatu kerajaan dan tanah Nederland menjadi suatu negara yang merdeka, sekalipun dengan begitu ia di belakang sekali dalam barisan negara-negara.
Ditinjau dari segi yang patut sudah sepantasnya kejadian nasional yang bersejarah itu dirayakan dengan sebuah pesta. Bukankah itu menandakan kecintaan orang Belanda kepada tanah airnya, tanda setianya kepada tanah yang pernah dihiasi oleh nenek-moyangnya dengan perbuatan-perbuatan pahlawan? perayaan itu akan menggambarkan perasaan bangga mereka , bahw seratus tahun yang lalu Nederland berhasil melemparkan tekanan penjajahan dari bahunya dan ia sendiri menjadi suatu bangsa yang merdeka.

Adalah mudah bagi saya untuk merasakan perasaan patriotik orang-orang Belanda dalam zaman sekarang yang mempunyai kesempatan merayakan hari besar negeri mereka itu. Karena saya juga seorang patriot, dan seperti orang-orang Belanda nasionalis yang mencintai tanah airnya, saya pun mencintai tanah air saya,  bahkan lebih daripada yang dapat diungkapkan oleh kata-kata.

Betapa riang, betapa senang bila mampu merayakan suatu hari nasional yang penting seperti itu! Saya ingin supaya mampu untuk sementara menjadi seorang Belanda, bukan seorang Belanda dalam namanya saja,  melainkan seorang putra yang tidak dipalsukan dari Negeri Belanda itu, yang bebas dari setiap penindasan bangsa asing. Betapa riang gembiranya saya nanti dalam bulan November pada hari yang telah lama dinanti-natikan itu, hari perayaan kemerdekaan. Betapa leganya hati saya nanti melihat bendera tiga warna dengan batas jingga tua.  Suara saya akan menjadi parau karena menyanyikan lagi "Wilhelmus" dan "Wie Neerland's Bloed" sesaat musik mulai menggema.  Saya akan sangat bangga atas semua manifestasi itu, saya akan bersyukur kepada Tuhan dalam Gereja Kristen itu oleh karena kemurahan-Nya, saya akan berdoa demi keselamatan orang-orang Belanda, termasuk mereka yang sedang berada di tanah jajahan, supaya kemuliaan kekuasaan yang maha besar yang berada di belakang kita akan tetap. Saya akan mengumpulkan uang dari orang-orang Belanda di Hindia bukan hanya untuk perayaan itu, melainkan juga untuk melaksanakan rencana Colijn untuk menambah jumlah angkatan darat bangsa kita demi melindungi kemerdekaan Belanda. Saya akan...sesungguhnya saya tidak tahu lagi apa yang akan saya lakukan jika saya seorang Belanda, karena saya merasa akan mampu melakukan apa pun.

Tapi nyatanya tidak begitu. Jika saya seorang Belanda saya tidak akan mampu melakukan apa pun. Sesungguhnya saya inginkan perayaan kemerdekaan mendatang itu dihormati seluas mungkin, tapi saya tidak akan izinkan penduduk negara ini mengikuti perayaan itu.  Saya akan mengekang keinginan mereka untuk ke pesta ria, bahkan saya lebih suka perayaan itu tertutup bagi mereka supaya tak seorang pun dari pribumi-pribumi itu akan mampu melihat kebahagiaan kita sementara merayakan kemerdekaan itu.

Ada sesuatu yang tidak pada tempatnya-sesuatu yang tidak senonoh-jika kita (saya masih seorang Belanda dalam khayalan saya) menyuruh pribumi-pribumi itu mengikuti pesta-pesta ria yang merayakan kemerdekaan kita. Pertama, kita akan melukai perasaan mereka yang peka itu karena di sini sedang merayakan kemerdekaan kita di negeri mereka sendiri yang sedang kita jajah. Pada saat itu, kita sedang merasakan sangat bahagia karena seratus tahun yang lalu kita membebaskan diri dari kekuasaan asing; dan semua itu terjadi di hadapan mata mereka yang masih berada di bawah kekuasaan kita. Tidaklah terasa kepada kita bahwa budak-budak yang malang ini juga sedang merindukan saat seperti ini, kapan mereka, seperti kita, akan mampu merayakan kemerdekaan mereka? Atau barangkali apakah kita merasa bahwa kebijaksaan kita yang menghancurkan jiwa, maka kita menganggap semua jiwa manusia seperti mati? Jika demikian halnya, kita sedang menipu diri sendiri karena betapa primitifnya pun suatu masyarakat, ia tetap menentang penindasan. Maka jika seorang Belanda, saya tidak akan menyelenggarakan perayaan kemerdekaan di suatu negeri di mana kemerdekaan rakyatnya telah dirampas.

Dengan pertimbangan ini, bukan hanya tidak adil melainkan juga salah, memerintahkan pribumi-pribumi supaya memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Gagasan mempersiapkan peringatan kemerdekaanm itu saya sudah cukup menghina mereka dan sekarang kita bahkan merampok isi kantong mereka. Sesungguhnya itu adalah penghinaan secara moral dan material.

Bagaimanakah sebenarnya kita akan beruntung dari peringatan-peringatan itu di Hindia? Jika peringatan itu merupakan pernyataan kebahagiaan bangsa Belanda, tidaklah bijaksana bahwa hal itu harus dilakukan di negeri jajahan ini.  Akan terjadi perlawanan satu lawan satu di tengah-tengah masyarakat itu. Atau apakah kita ingin menyombongkan kekuasaan dalam suatu pengertian politik? Terutama dalam masa ini ketika rakyat Hindia sedang giat mengorganisasikan diri mereka, masih setengah lelap dalam kesadaran mereka, berdasarkan taktik maka tidak pantas memberi contoh tentang bagaimana seharusnya merayakan kemerdekaan mereka.  Harapan-harapan mereka sedang dibangkitkan, secara tidak sadar kita membangunkan keinginan-keinginan dan cita-cita mereka untuk kemerdekaan di masa mendatang. Tanpa sengaja kita tengah berseru kepada mereka, "Lihat, kami merayakan kemerdekaan kami. Kami cinta kemerdekaan, sesungguhnya adalah untuk kebahagiaan seperti itu maka rakyat perlu merdeka, bebas dari segala macam penindasan.

Jika saya seorang Belanda pada waktu ini, saya akan melancarkan suatu protes terhadap keinginan menyelenggarkan suatu perayaan.  Saya akan menulis dalam setiap surat kabar, mengumumkan bahwa keinginan seperti itu adalah salah. Saya akan memperingatkan semua rekan saya sesama kolonialis tentang bahaya menyelenggarakan perayaan kemerdekaan pada waktu ini. Saya akan menasihati semua orang Belanda supaya jangan melukai perasaan rakyat Hindia yang telah mulai berani mengingkari kita dan yang sebenarnya dapat berbuat demikian. Sesungguhnya saya akan memprotes sekeras-kerasnya sebagai mana kekuasaan membenarkan saya.

Tetapi...saya bukan seorang Belanda, saya hanya seorang berkulit coklat dari daerah tropis, seorang pribumi dari jajahan Belanda, dan karena itu saya tidak akan memprotes. Karena jika saya benar-benar memprotes, rakyat akan marah kepada saya,  mereka akan menganggap saya sebagai menghina Belanda yang adalah pemerintah negeri saya, membuat mereka marah kepada saya. Itu saya tidak mau, tidak boleh saya lakukan. Jika saya seorang Belanda bukankah saya akan menghindarkan juga melukai perasaan rakyat Hindia? Mereka juga akan menganggap saya sebagai bertingkah laku tidak senonoh terhadap Paduka Yang Mulia Ratu, ratu yang terhormat, dan tindakan seperti itu tidak dapat dimaafkan, karena saya adalah seorang pribumi dari jajahannya dan yang mesti selalu setia kepadanya.

Karena ini saya tidak akan memprotes. Sebaliknya saya akan mengikuti perayaan-perayaan itu. Apabila uang itu sudah hampir semuanya dikumpulkan, saya akan memberikan iuran, meskipun hal itu berarti menyita setengah biaya rumah-tangga saya. Adalah tugas saya sebagai seorang pribumi dari negeri jajahan ini mengikuti perayaan-perayaan kemerdekaan Negeri Belanda itu, tanah air tuan saya. Saya akan menasihati rakyat saya dan orang-orang lain sesama warga negara Kerajaan Belanda supaya mengikuti perayaan itu, karena meskipun peringatan ini adalah suatu perayaan yang berciri Belanda, adalah suatu kesempatan yang baik bagi kita memperlihatkan kesetiaan kepada Negeri Belanda. Betapa bahagianya saya. Syukurlah saya bukanlah seorang Belanda.

Kita mesti menyampingkan semua kata sindirian yang tajam ini. Pada permulaan artikel ini telah dinyatakan bahwa gagasan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda yang sedang giat-giatnya disebarkan adalah suatu peristiwa bagi Belanda untuk memperlihatkan kesetiaan terhadap tanah air mereka. Apa yang melukai perasaan saya dan perasaan orang-orang senegeri saya adalah terutama gagasan supaya orang-orang pribumi harus membiayai pekerjaan-pekerjaan yang keuntungan-keuntungannya mereka sendiri tidak turut kebagian.

Apakah keuntungannya bagi kami, perayaan  yang kami turut membantu penyelenggaraannya? Sedikit pun tidak. Paling banter hal itu mengingatkan kami bahwa kami bukanlah rakyat merdeka dan bahkan "Belanda tidak memberikan kemerdekaan kepada kami" selama tuan Idenburg memerintah negeri ini. Dengan demikian, betapa pun nampaknya hal itu tak masuk akal, kami akan memperoleh suatu pelajaran dari peringatan itu, bahwa adalah suatu tugas bagi setiap orang memperingati kemerdekaan rakyat mereka.

Karena itu saya merasa lebih tertarik pada gagasan merayakan peringatan yang disebarkan itu dalam harian-harian pribumi Kaoem Moeda dan De Expres di Bandung. Mereka mengusulkan supaya Panitia Pusat membentuk suatu komisi yang terdiri dari kaum cendekiawan pribumi yang akan mengirim suatu telegram mengucapkan selamat kepada Ratu dan bersamaan dengan itu akan mendesak Pemerintah menghapuskan Artikel 111 dari peraturan-peraturan Pemerintah dan segera mungkin membentuk sebuah parlemen pribumi.

Mengenai hasil tuntutan-tuntutan itu, terutama yang terakhir, adalah lebih baik jika saya tidak membahasnya di sini; implikasi-implikasinya mempunyai arti yang sangat penting.

Bukankah suatu tuntutan keras seperti sudah mempunyai suatu arti protes? Sepanjang menyangkut yang pertama, kami sudah kehilangan hak kami membicarakan politik; dengan kata lain, apakah kami sedang dicegah mencita-citakan kemerdekaan kami? Rakyat yang menghargai  perdamaian seperti Belanda, yang pada saat ini merencanakan untuk menyelenggarakan perayaan kemerdekaan, sesungguhnya harus mendukung suatu tuntutan seperti itu.

Mengenai pembentukan suatu parlemen, itu adalah pernyataan yang jelas dari keinginan mempunyai bab-bab yang menjamin hak berbicara dan memberikan suara. Ini sangat penting. Apabila hal itu sudah jelas bahwa rakyat Hindia sudah cukup dibangunkan, dan bahwa kesadaran mereka berkembang dengan cepat, maka perlulah dipikirkan kemungkinan bahwa rakyat itu, yang sekarang masih sedang dijajah,  akan mengatasi tuan mereka. Apa yang akan terjadi kemudian, apabila 40 juta rakyat, yang sesungguhnya telah dibangunkan, menuntut keadilan dari seratus anggota Majelis Rendah yang dianggap sebagai wakil-wakil rakyat? Apakah mereka lalu ingin menyerah dengan tiba-tiba apabila krisis itu telah tiba?

Sebenarnya adalah sangat aneh bahwa Panitia kita meminta suatu parlemen. Sementara itu pemerintah dengan berhati-hati membiarkan kita mengamati pembentukan suatu badan, suatu badan kolonial, di mana setiap anggota luar biasa sudah pasti akan diangkat oleh Pemerintah dan kemudian dianggap  sebagai wakil kita dalam badan perwakilan itu yang dinamakan "Dewan Kolonial" sama saja seperti badan yang akan ada sekarang "Dewan Pemerintah", dan sekarang Panitia sedang mengusulkan suatu gagasan yang besar, tidak lebih,  tidak kurang daripada pembentukan sebuah parlemen pribumi.

Jelasnya, Panitia kita hanya menekankan ciri utama protes itu, dan tidak menekankan apa hasilnya nanti. Tidakkah sangat mengagumkan bahwa tepat pada hari ketika Belanda melakukan peringatan kemerdekaan mereka, Panitia datang mendesak Ratu untuk mengakhiri pemerintah kolonial Belanda yang bersifat mutlak itu atas 40 juta rakyat?

Sesungguhnya  jika saya seorang Belanda saya tidak akan pernah merayakan peringatan kemerdekaan di sebuah negeri yang masih sedang dijajah. Pertama saya akan memberikan rakyat yang masih kita jajah itu kemerdekaan mereka dan kemudian merayakan kemerdekaan kita. ( dikutip dari  Scherer, Keselarasan dan Kejanggalan : Pemikiran-pemikiran Nasionalis Jawa Awal Abad XX).

Diskursus Nederlander-Inlander
Sejak tulisan Soewardi beredar luas, berbagai tanggapan dan analisis pun bermunculan. Takashi Shiraishi, misalnya, menilai, dari tulisan itu Soewardi mengawali karier panjang dalam politiknya. Ia adalah pribadi yang kompleks. Ia anak muda radikal pada 1910-an, lalu berbelok menjadi politisi kebudayaan nasionalis konservatif yang memainkan peran amat penting dalam merumuskan "kekeluargaan",  pada 1920-an.  Meski radikal, menurut Sardjito, Soewardi merupakan Nojorono, pemuda yang senantiasa gembira hati, tangkas, dan tak sepi humor.  “Dalam tulisan Soewardi Soerjaningrat sebagai Nojorono memberi tamparan yang hebat kepada si angkara murka penjajah. Tetapi caranya tidak kasar, tidak maki-maki, senantiasa tetap kesatria, memberi kata-kata yang tepat, jitu, indah susunannya, ada humornya, ada sinisnya, tercampur ejekan yang pedas, yang dilemparkan kepada si penjajah, tetapi selanjutnya juga memberi pandangan-pandangan, dapat direnungkan untuk pihak sana, dan juga untuk pihak sini,” Sardjito menguraikan.

Uraian Sardjito, beda dengan pandangan Indonesianis asal Australia, Ben Anderson, pun sempat merenungi tulisan itu. Dalam tulisan “Bahasa, Fantasi, Revolusi : Jawa 1900-1950,” Anderson bilang, kata kuncinya adalah eens (sekali waktu), karena menentukan suatu fantasi baru terhadap dunia kehidupan kolonial saat itu. “Pembaca yang berbahasa Belanda diminta membayangkan seseorang Jawa menulis dalam bahasa Belanda tentang seorang Jawa yang membayangkan dirinya menjadi seorang Belanda untuk sesaat. Kata eens adalah poros tempat fantasi itu berputar, namun kata itu juga memastikan bahwa suara surat kabar yang dibayangkan itu sungguh-sungguh bahasa Jawa,”  jelas Anderson.

Daniel Dhakidae memberi penilaian yang lebih tajam dan mendalam. Ia bilang, jika dibaca dengan cermat keseluruhan tulisan,  Soewardi Soerjaningrat hampir-hampir mendahului zamannya dengan menolak rasionalitas berpikir modern dengan mengembangkan sendiri suatu pola berpikir sirkuler. “Soewardi menyunglap dirinya menjadi Belanda totok, lantas berbalik lagi menjadi orang Hindia totok. Meski demikian seluruh protes tersebut sangat sulit dikatakan revolusioner, meski akibatnya sangat mengkhawatirkan bahkan menakutkan Belanda. Alasan yang bisa dikemukakan adalah seluruh pertimbangan yang dipakai di sana masih berjalan dalam suatu diskursus yang sama, yaitu  ; diskursus Nederlander-Inlander, sesuatu yang tipikal berada dalam diskursus etika.”

Masih kata Dhakidae, secara  umum, kaum inlander,  yaitu ; mereka yang disebut sebagai wong cilik, rakyat jelata. Namun, dengan intervensi negara westernisasi tersebut sama sekali tak terjadi, kaum inlander tak mungkin menjadi Barat. Yang terjadi justru sebaliknya di mana hubungan, dalam hal ini aliran, pengetahuan berlangsung tak seimbang antara kaum bumiputra yang sedikit mengenal Barat dan Barat yang makin agresif dengan pengetahuannya-antropologi, etnologi, ilmu hukum,  dan agama--untuk mengenal, bahkan bukan semata-mata untuk mengenal akan tetapi pada akhirnya menjalankan kekuasaan, untuk makin mendudukkan kaum inlander.  "Inlander" adalah suatu kata yang bisa saja seperti "native" dalam bahasa Inggris atau bumiputra yang masih dipakai di Malaysia, atau "penduduk asli" dalam bahasa Indonesia.“Tidak diragukan lagi, artikel itu sebagai tulisan paling radikal yang pernah diterbitkan di Hindia Belanda.”

“Bila melakukan retrospeksi sekarang ini, judul artikel itu sangat radikal. Hal itu sangat tidak mungkin terbayangkan, juga tidak mungkin pribumi menjadi seorang Belanda. Bahkan, gagasan demikian itu tidak dapat dibicarakan bila kebetulan muncul di pikiran,” ulas Takashi Shiraishi.

Menulis seolah-olah dirinya orang Belanda, ia mengkritik kontradiksi besar-besaran kemerdekaan Belanda dari jajahan Perancis yang diadakan di Hindia Belanda, sementara pemerintah Belanda masih menjajah di tempat perayaan itu berlangsung. Dia menyebutkan Belanda di Hindia Belanda sama saja dengan Perancis di Belanda dalam Perang Napoleon. Rupanya, kritik itu membuat pemerintah berang.

“Mencemati tulisan ”Seandainya Aku Seorang Belanda”, ada empat bagian penting dalam tulisan yang terlihat sebagai sistematika Suwardi Suryaningrat dalam menuangkan pemikiran,” kata Nova Christina,  dalam artikel “Buku Tipis Bernilai Tinggi”, Kompas, 26 Mei 2008.

Apa saja itu? Pertama, di awal tulisan berisi tentang ramainya pembicaraan perayaan seabad kemerdekaan Belanda. Pada bagian itu juga disebutkan tentang pentingnya arti suatu perayaan kemerdekaan. Bagi Soewardi,  sudah sepantasnya orang Belanda bisa berbangga hati karena telah menjadi bangsa yang merdeka selama seratus tahun. Sudah jelas penduduk negeri ini tidak boleh mengabaikan begitu saja kenyataan bahwa November mendatang ini, akan tepat 100 tahun Negeri Belanda menjadi sebuah monarki dan rakyatnya membentuk diri sebagai suatu bangsa, meskipun di tengah-tengah daftar bangsa-bangsa merdeka ia berdiri di tempat yang paling akhir.

Soewardi menyoroti sejumlah hal mengenai perayaan itu dari sudut kesopanan. Baginya,  peristiwa itu melambangkan perasaan patriotik Belanda, cinta kepada bangsa yang telah dilukiskan nenek-kakek mereka melalui kepahlawanan. Perayaan itu juga akan dengan bangga mengumumkan bahwa satu adab yang lalu Belanda berhasil membebaskan diri dari penindasan kekuasaan asing dan kemudian membangun diri mereka menjadi sebuah bangsa.

Kedua, Soewardi menunjukkan keinginannya menjadi seorang Belanda. "Saya ingin sekali, sesaat saja menjelma menjadi seorang Belanda, bukannya Balanda Staatsblad alias 'Belanda dipersamakan' melainkan Belanda sejati, Belanda anak tanah Nederland, bebas dari pada suatu campuran darah lain. tjampoeran darah lain…" Melalui kalimat "pembuka" ini, Suwardi Suryaningrat kemudian masuk ke bagian di mana ia berandai-andai sebagai seorang Belanda.

Ketiga, ia seperti tersadar dari sebuah mimpi. Sadar dirinya bukanlah seorang Belanda. "Tapi…saja boekan Belanda. Saja tjoema seorang koelit hitam, anak dari tanah Hindia, djadjahan keradjaan Nederland."  Sebagai seorang bumiputera, ia tidak akan menolak apapun perintah sang penguasa, Belanda, sehubungan dengan perayaan kemerdekaan tersebut. Ia tetap akan turut merayakan dan membayar pungutan yang ditarik meskipun kondisi keuangan rumah tangganya sedang sulit.

Keempat, Soewardi kembali menjadi seorang Belanda. Ia menutup tulisan dengan kembali menolak dirayakannya seabad kemerdekaan Belanda di tanah Hindia. Bagian penutup tulisan ini pula yang mengakhiri keberadaan harian De Expres.  

Dengan mengatakan apa yang seharusnya belum dapat dikatakan, Soewardi memasalahkan asumsi dasar kolonial Belanda dan "feodal" Jawa, di atas mana tata sosial dan politik Hindia Belanda dibangun. Jika seseorang dengan terbuka dapat berkata, "seandainya saya seorang Belanda," ia dapat juga terang-terangan berkata "seandainya saya menteri kolonial," "seandainya saya residen," "seandainya saya sultan," "seandainya saya bupati." Itu bisa berarti-meskipun secara logika mungkin, toh kemungkinannya kecil-mereka bisa juga berkata  "seandainya saya kuli," "seandainya saya preman," "seandainya saya buruh." Dengan demikian, Soewardi membuka horizon baru bagi pribumi untuk membayangkan dirinya menjadi apa saja dengan ungkapan brilian "seandainya saya..." Dengan ungkapan itu, seseorang dapat membayangkan dirinya berbeda dalam realitas yang ada sekarang ini; dan dapat membayangkan realitas yang berbeda dari yang ada di sini dan sekarang, di hadapan diri sendiri. Kata Shiraishi, tidak berlebihan untuk mengatakan orang Indonesia lahir dari artikel ini.

Bagi Soewardi, orang bumiputra adalah manusia yang sederajat dengan orang Belanda dan dengan begitu menantang dominasi kolonial Belanda secara frontal. Di mata orang bumiputra, Soewardi menampilkan dirinya sebagai satria sejati, seperti Bima, dalam pewayangan bicara ngoko— bentuk bahasa Jawa yang dipergunakan untuk bercakap kepada orang yang akrab atau berkedudukan rendah— kepada semua orang dan dewa kecuali kepada jati dirinya, Dewa Ruci. 

Di dalam hidup manusia, menurut Soewardi, bahasa itu punya kedudukan dan peranan yang sangat penting. Ia melihat ada dua hal penting. Pertama, bahasa merupakan suara serta ucapan-ucapan manusia yang digunakan untuk melahirkan segala apa yang ada di dalam angan-angannya. Antara angan-angan dan bahasa itu terus-menerus ada hubungan langsung, pertukaran pengaruh, dan daya saling menggerakkan secara dinamis. Ada bahasa yang mempunyai nilai kebudayaan tinggi, ada pula yang rendah. Berhubung dengan adanya timbal-balik itu, maka  pemeliharaan bahasanya sendiri di seluruh dunia dianggap keperluan mutlak untuk memajukan dan menyatukan kebudayaan kebangsaan sendiri. Dalam pada itu, maka kenal bahasa lain yang mengandung nilai kebudayaan yang luhur, dianggap tidak kurang pentingnya untuk pembangunan hidup suatu bangsa, lahir dan batin, agar kemajuan bangsa tadi dapat berlangsung secara “vertikal” atau “meningkat” dan “horizontal” atau “meluas”. Meningkat dan meluas dianggap syarat mutlak pula dalam lingkungan cita-cita perrikemanusiaan, untuk mempertinggi serta menyatukan perikeadaban sedunia, yang disebut “universal”.

Kedua, tiap-tiap bahasa itu merupakan gedung persimpanan kebudayaan bangsa (arsip atau museum) bagi setiap bangsa. Dengan mengenal sesuatu bahasa,   sudah berarti mengenal watak bangsa, yang memiliki bahasa itu. Watak bangsa itu tidak lain dari padanya kumpulnya nilai-nilai kebatinan dari bangsa itu. Mengenal bahasa suatu bangsa dalam zaman lampau, berarti pula mengenal nilai kebatinan atau kebudayaan dari bangsa itu dalam zaman-zaman yang telah silam. Mengenal bahasa-bahasa “kuna” itu  tidak saja dianggap perlu sebagai usaha ilmu pengetahuan, namun juga dipandang dari sudut perikeadaban dan kesusilaan (etik dan moral) banyak guna serta faedahnya. Kadang-kadang orang dapat memperoleh nilai-nilai kebatinan dari bahasa-bahasa kuna yang sangat berharga dan patut dipelihara kembali dalam zaman yang sedang dialami. Adanya “dekadensi-dekadensi” atau kemunduran dalam hidupnya sesuatu bangsa atau tentang hilang lenyapnya adat-istiadat yang baik-baik, atau masuknya anasir-anasir kebudayaan baru, yang merendahkan derajat kemanusiaan, dapat diketahui apabila orang mengenal bahasa-bahasa kuna yang seolah-olah menjadi museum atau arsip kebudayaan batin itu.

Sebenarnya, saat itu Soewardi ingin menyampaikan apa yang ditulisnya itu agar rakyat “mengerti” apa yang menjadi kegelisahannya tentang kondisi Indonesia.  “Mengerti” tak mungkin tanpa bahasa.   

Tapi keseluruhan cita-cita nasional revolusioner Soewardi sebagai kebulatan dapat diketahui dari dua artikel lain, yaitu ; “Satu untuk Semua, Semua untuk Satu” (Een voor Allen, maar ook Allen voor Een) yang dimuat dalam De Expres pada 26 Juli 1913 dan karangan lain “Perayaan Kemerdekaan dan Perampasan Kemerdekaan” (Vrijheidsherdenking en Vrijheidsberooving), ditulis dalam perjalanan di atas kapal Bulow di Teluk Benggala pada 14 September 1913.




Tulisan Soewardi, jika mengikuti pandangan Rocky Gerung, bisa dibilang sebagai keaktifan dalam politik yang merupakan keniscayaan bagi setiap orang yang percaya pada suatu kemungkinan yang lebih baik. Itulah keyakinan politik yang sesungguhnya, suatu politics of hope, yang dipilih seorang politico-intellectual, yang terus bekerja karena ia yakin bahwa tindakan itu adalah berguna untuk suatu perubahan.


Dalam dunia pergerakan, para pemimpin dapat pula dianggap sebagai satria. Dengan perubahan pengertian tentang satria ini, arti bui (penjara) pun jadi berubah. “Sekarang bui lambat laun berubah dilihat sebagai tempat bertapa dan bersemadi. Dari tempat inilah para satria, dalam hal ini pemimpin gerakan, akan muncul setelah kekuatan moralnya mengalami penggemblengan,” tulis Shiraishi.

Lanjutan dari "SEBUAH PRAHARA" (bersambung...)

Tidak ada komentar: