OLEH KOMARUDIN
(I)
WAKTU makan telah tiba. Suara denting piring terantuk sendok terdengar dari piring Agustinus James. Ia tampak lahap menyantap hidangan sederhana : nasi putih campur teri, telor goreng, dan sayur asem sambil duduk di bangku kayu agak reot. Lelaki berusia 37 tahun kelahiran Pangkalan Brandan itu mengenakan kemeja lengan pendek warna putih motif bunga matahari dipadu jins biru. Rambutnya mulai memutih. Ada jenggot di bawah dagunya. Setelah menandaskan makanan di piring, James menenggak segelas air putih di depannya. “Saya menghabiskan masa kecil hingga SMA di Pangkalan Brandan,” katanya memulai percakapan.
James-- begitu ia akrab disapa-- seorang desainer grafis di sebuah perusahaan event organizer (EO) daerah di Tebet, Jakarta Selatan. Hampir tiap hari ia bersama sejumlah rekannya makan siang di warung itu. Kali ini ia makan sendiri, teman-temannya sedang salat Jumat. Meski banyak kehadiran pembeli, James tanpa sungkan menceritakan sepenggal pengalaman hidupnya. Selepas SMA di Medan, ia hijrah ke Yogyakarta pada 1993. Di Kota Gudeg itu, ia melanjutkan studi di sebuah sekolah tinggi ekonomi selama setahun. Ia tak selesai dan menganggur. Kemudian ia kembali kuliah di Jurusan Desain Foto di Akademi Desain Visi Yogyakarta. Itu pun tak selesai. James lebih suka mencari uang. Ia mengasah kemampuannya memotret dan kadang-kadang order pembuatan brosur. Lebih 10 tahun, pada 2006 James memutuskan untuk bekerja di Jakarta. Ia masih ingat peristiwa itu terjadi sehari sebelum lindu mengoyak Yogyakarta. “Kini, semua keluarga saya sudah berada di Jakarta,” ungkap lelaki bertubuh gempal itu.
Sejenak, James menghentikan pembicaraan. Telepon genggamnya berdering. “Bunda” menelepon. James menyematkan kata “bunda” untuk istri tercintanya, Diah Afriani, 34 tahun. Ia menanyakan apakah istrinya sudah makan atau belum, sementara James menjawab ia sedang makan di warung Mpok Leha. Tak kurang tiga menit pembicaraan lewat telepon seluler itu pun selesai. James melanjutkan pembicaraan. Para pelanggan mulai meninggalkan warung. Waktu istirahat makan siang mereka hampir habis. “Istriku bekerja di sebuah perusahaan properti bagian building management. Ia mengurusi owner-owner apartemen, merawat gedung, dan lain-lain. Ia ibarat RT (Rukun Tetangga) di Puri Imperium. Kuningan,” jelas James. Ia bekerja sudah 10 tahun lebih.
Di tempat itu pula pertemuan James dengan Diah berawal. Akhir 2009. James mengaku pertemuan itu diawali dari embunpagidevianart.com, blog tempat ia memupblikasikan sejumlah hasil karyanya. Diah tertarik. Ia lalu mengirimkan surat elektronik. Dari surat itu mereka melanjutkan dengan chatting. Dua hari sebelum pemotretan, mereka bertemu di sana. Ngobrol-ngobrol ngalor-ngidul. Pertemuan berlangsung selepas maghrib. Pembicaraan mengalir hingga pukul 02.00 WIB. Tak terasa. “Minggu aku motret dia. Sejak itu kami makin sering menjalin kontak,” James tertawa mengingat peristiwa itu. Tak jarang, mereka kemudian ngopi darat (bertemu). Kadang di Tebet, tak jarang di Kuningan. Pertemuan yang kian intens membuat mereka memutuskan untuk berpacaran. “Persis saat malam Natal. 24 Desember 2009,” kata James sambil mengingat-ingat.
Cuaca makin terik.
(II)
SETELAH pemotretan itu, keesokan harinya, mereka melakukan petualangan di Pulau Sempu, Malang, Jawa Timur, dengan menumpang bus Kramat Jati. Mereka meluapkan kebahagiaan. Pulau Sempu, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Malang. Saat ini Sepu merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Dalam pulau ini nyaris tidak ditemukan mata air payau. Menuju Pulau Sempu, mereka bertolak dari Kota Malang, kendaraan membawa mereka ke selatan Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Setelah menempuh waktu selama dua jam, mereka tiba di Pantai Sendangbiru. Dari Sendangbiru mereka mencari nelayan untuk menyewa perahu penyeberangan menuju Pulau Sempu yang biasanya memakan waktu sekitar 15-30 menit. Dari Malang mereka terbang ke Yogyakarta menghabiskan malam Tahun Baru.
Dari pertemuan itu, James dan Diah kian lengket. Prosesnya pendek dan singkat, begitu istilah James. Jika tak bertemu di kantor kekasihnya, James berusaha janjian di tempat lain yang buka hingga larut malam. Seperti sebuah tempat di Taman Ismail Marzuki, Menteng, Secret Recipe di Pejaten Village, Jakarta Selatan. Lokasinya cocok. Biasanya mereka berpisah di perempatan jalan menuju Ragunan. James ke daerah Taman Mini, Diah ke kawasan Bintaro.
Sebagai pasangan yang beda keyakinan, mereka tahu konsekuensi jika mereka harus menikah. Banyak pertentangan yang mereka harus hadapi dari keluarga masing-masing. Di satu sisi, status Diah yang janda dan sudah memiliki dua orang anak : Syaharani Putri, 10 tahun, dan Fahryl Maulana Suryadi, 7 tahun. “Nyokap meminta aku agar menikah dengan perempuan yang seiman dan gadis,” kata James menirukan ucapan ibundanya, Rosa Pulo.
Namun, James terasa berat untuk memenuhi permintaan orang tuanya. Di samping rasa cinta yang mendalam, ia rupanya punya argumentasi yang juga cukup kuat untuk menikahi Diah. “Istriku ini orangnya baik dan enak diajak ngomong. Hidupku merasa pas dan komplet berada di dekatnya,” kenang James tersenyum.
Hal yang sama juga dirasakan Diah ketika itu. Orang tuanya : Nurman Nawawi dan Sri Suratmi, pun menentang jika ia harus menikah dengan lelaki yang beda agama. Ia menghadapi itu dengan tabah. Setelah tiga bulan resmi berpacaran, James bertemu dengan Sri di kawasan Rempoa, Jakarta Selatan. Sri tetap bersikeras melarang anaknya menikah dengan pria berbeda keyakinan. Tak cukup bertemu dengan ibunda Diah, keesokan harinya giliran James menemui ayah Diah, Nurman. Sebelum bertemu, James sempat gelisah khawatir tak direstui hubungannya dengan Diah. Di luar dugaan, rupanya Nurman justru memberikan restu dan dukungan. Sejak itu ibunda Diah pun luluh. “Bagi saya, masalah agama itu tidak masalah. Yang beda, kamu ambil yang 24 dan saya ambil yang ke-25. Yang penting kamu bertanggung jawab karena Diah sudah memiliki dua anak,” ujar Nurman. Angka 24 merupakan urutan Nabi Isa, sedangkan angka 25 menurujuk ke Nabi Muhammad. Terdapat pemahaman bahwa nabi terakhir dalam Islam adalah Muhammad.
“Saya sudah memikirkan semua itu, Pak!” kata James.
Tugas James berikutnya meluluhkan hati ibundanya, Rosa. Ia memberikan alasan secara perlahan. Akhirnya berhasil. James dan Diah bersyukur. Itu artinya, mereka telah mengantongi restu dari kedua orang tua mereka untuk menikah.
(III)
MATAHARI pagi bersinar terang. Saya bertemu kembali dengan James di Dunkin Donut, kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Ia meletakkan tas ransel di atas meja kayu di sebelah tas Ahmad Zubair, sahabatnya, rekan satu kantor. James memesan burger dan secangkir kopi, sementara saya memesan kopi kemudian. Sinar matahari memantulkan sinarnya ke tubuh James. Sebelum mengeluarkan kamera, ia menyeruput kopi pesanannya. Sruput. Jpet, jpret, jpret. Hari itu James ditugaskan dari kantornya untuk memotret di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang, Banten.
James menuturkan, setelah mengantongi restu dari kedua orang tua masing-masing, James dan Diah memutuskan untuk menikah. Ada beberapa negara pilihan. Thailand, Singapura, dan Australia. Di Singapura sudah agak sulit untuk menikah beda agama, karena sudah terlalu banyak. Sementara menikah di Australia biaya terlalu besar untuk ukuran kantong mereka. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menikah di Thailand. Mereka terinspirasi dengan artis Rio Febrian yang menikah di Bangkok. Lewat facebook, James mengaku sempat menghubungi Rio, tetapi tak berbalas. Akhirnya, mereka berusaha sendiri dengan berselancar di dunia maya. Mulai dari lokasi untuk pernikahan hingga hotel untuk berbulan madu.
“Jadi, setelah Om James dan Mama pulang dari Bangkok, saya panggil Om James papa, dong,” kata Fahryl. “Iyalah,” sahut Sri dengan wajah senang.
Setelah mengumpulkan uang senilai 90 juta, James dan Diah terbang ke Thailand dengan menggunakan maskapai Air Asia pada Minggu, 1 Agustus 2010 lalu sekitar pukul 17.00 WIB. Tujuannya hanya satu : menikah. Di dalam pesawat itu terdapat sekitar 120 penumpang. Sepanjang perjalanan, mereka mengaku senang karena ingin membina rumah tangga. Apalagi, restu sudah mereka kantongi. Dari balik jendela pesawat Diah melihat awan beterbangan. James tampak sibuk memotret calon istrinya itu. Selain memotret, tak banyak aktivitas yang mereka lakukan. “Kami lebih banyak tidur karena saya takut ketinggian,” kata James tersenyum.
Hampir empat jam berada di dalam burung besi, mereka kemudian mendarat di Bandara Udara Suvarnabhumi Bangkok. Jarum jam menunjukkan pukul 20.45 waktu setempat. Dari pengeras suara, seorang pramugari menerangkan bahwa tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Indonesia. Sambil menunggu taksi, James dan Diah menghirup udara malam Negeri Gajah Putih itu. Dengan diantar taksi, mereka melesat menuju penginapan di kawasan Ibukota Bangkok. Mereka merebahkan tubuh dan terlelap.
(IV)
MINGGU sekitar pukul 11.58 WIB, James mengirimkan sejumlah foto-foto hasil jepretannya selama di Bangkok. Ada sekitar 30-an foto hasil jepretannya. Ia juga menuliskan syarat-syarat menikah yang pernah ia tempuh di Thailand. Di antaranya : Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli beserta fotokopinya, paspor asli beserta fotokopinya, Surat Keterangan Status Nikah dari kelurahan di Indonesia, fotokopi identitas calon suami atau isteri, Akta Cerai asli dan fotokopinya (bagi duda atau janda cerai), Akta Kematian mantan suami atau isteri (bagi duda atau janda), Surat Izin Orang Tua yang disahkan oleh kelurahan bagi mereka yang berumur kurang dari 20 tahun, biaya sebesar 20 US dollar, Waktu Permohonan Surat pukul 09.00 – 11.45 setiap hari kerja. Surat tersebut dapat diambil pada hari kerja berikutnya pukul 14.00 – 15.30, yang bersangkutan harus datang ke KBRI tidak dapat diwakilkan.
Setelah mengurus segala surat-surat yang dibutuhkan, James dan Diah mendatangi Pomprab Sattruphai District Registration Office, Bangkok Metropolis, setelah makan siang. Di depan petugas seperti kecamatan di Indonesia, James duduk di kursi sebelah kanan, Diah duduk di kursi sebeah kiri. Seorang petugas berdiri di sebelah Diah. James mengenakan kemeja warna putih dipadu dengan jins hitam, sedangkan Diah mengenakan kebaya putih. Setelah surat-surat tersebut diterjemahkan dalam bahasa Thailand, petugas itu meminta mereka untuk membubuhkan tanda tangan. Setelah itu, petugas itu menyatakan pernikahan mereka sudah sah. “Kalian sudah resmi sebagai pasangan suami istri. Nama kalian sudah online sebagai pasangan yang telah menikah di Thailand,” kata petugas itu. Mendengar kata-kata itu, wajah James dan Diah tampak sumringah. Di dalam hati mereka berkata : “Begitu mudah menikah di Thailand.”
Selain menikah, James dan Diah juga menyempatkan diri naik Skytrain yang melaju di jalan layang di atas jalan raya di Bangkok. Transportasi itu beroperasi sejak 5 Desember 1999 dan beroperasi mulai pukul 06.00-24.00. Skytrain atau nama resminya Bangkok Mass Transit System memiliki 23 stasiun dengan rel ganda dua jalur, dan rute sepanjang 23 kilometer di kota Bangkok. Awalnya, jumlah penumpang skytrain rata-rata 200 ribu orang setiap hari. Tahun 2005, meningkat menjadi lebih 500 ribu orang setiap hari. Keesokan harinya, mereka bertandang ke Khao San Road. Kawasan ini dikenal sebagai pusatnya para backpacker dari berbagai penjuru dunia berkumpul.
Mereka juga menyempatkan diri mendatangi Grand Palace. Mereka langsung disuguhi keindahan Kuil dengan stupa berlapis emas Wat Phra Kaeo, indah sekali lengkap dengan penjaga pintu gerbang makhluk raksasa yakhsa. Di dalam komplek Grand Palace terdapat berbagai objek lain seperti : Siwalai Garden, Dusit Throne Hall, Chakri Maha Prasat, aula singgasana, dan museum. Sebelum meninggalkan Negeri Gajah Putih, mereka singgah ke Pat Pong. Tempat ini merupakan dikenal sebagai red-district area. Mereka berfoto-foto sambil mengumbar senyum di tengah keramaian.
(V)
JAMES menghentikan pembicaraan ketika seorang tukang obat menghampiri dan menawarkan dagangannya sambil duduk di bangku plastik tanpa diminta. Lelaki setengah baya itu mengenakan kemeja putih dipadu celana hitam langsung interupsi. “Maaf ya, Mas,” kata James sopan. Pedagang itu lalu pergi.
James melanjutkan cerita hidupnya. Sebelum menikah mereka mereka sudah berkomitmen soal anak. Jika kelak mereka punya anak dari perkawinan itu, biarlah anak mengikuti agama ibunya. Komitmen itu tanpa ada paksaan. Diah memang meminta itu dan ia menyanggupi. “Itu sebagai pegangan buat anakku jika kelak bersekolah,” lanjutnya. Itu dilakukan agar anaknya tidak bingung. “Memilih agama papaku atau mamaku.”
James sadar bahwa ia belum mampu untuk memberikan pendidikan agama kepada anaknya. “Aku jarang ke gereja. Padahal, mamaku sering meminta aku untuk ke gereja. Namun, aku masih belum niat. Aku lebih banyak tidur,” kenang James. “Aku itu kalau ke gereja paling saat motret pernikahan, aja,” katanya tertawa.
Jika kelak anaknya sudah dewasa pun, James mempersilakan anaknya untuk mengikuti agama yang dipeluk oleh ibu atau ayahnya. “Aku tak mau memaksakan kehendak,” terang James.
Pukuk 07.45 WIB bayi yang diidam-idamkan itu pun lahir di RS Buah Hati, Ciputat, Tangerang. Hari itu 28 Desember 2010. Nurman mengazani. James dan Diah menyematkan nama sang buah hati Jade Lakshita. Artinya, “permata yang terkenal”.
*) terima kasih kepada Bang James yang telah berbagi cerita ini. Ini hasil revisi yang telah didiskusikan di sesi keempat Kursus Narasi Pantau, Rabu, 22 Juni 2011, pukul 19.00 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar