Napak Tilas ke Tamansiswa
Museum Dewantara Kirti Griya menyimpan sejumlah barang berharga milik tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara. Mulai dari tempat tidur, mesin tik, piano, foto-foto, buku-buku, dan lain-lain. Kini, koleksi-koleksi tersebut mulai rapuh dimakan usia.
Ruas Jalan Tamansiswa di Yogyakarta masih tampak basah, akhir Maret 2011 lalu. Hujan baru saja mengguyur kawasan itu. Awan hitam mulai memudar di angkasa. Suasana terasa adem. Di depan jalan itu terdapat sebuah perguruan yang sangat terkenal sebelum Indonesia merdeka. Namanya : Majelis Luhur Tamansiswa, yang didirikan Suwardi Suryaningrat yang kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara.
Di dalam kompleks itu, terdapat Museum Dewantara Kirti Griya. Satu dari 27 museum yang dimiliki Yogyakarta. Nama tersebut pemberian dari Hadiwidjono, ahli bahasa Jawa. Nama “Dewantara” diambil dari nama Ki Hadjar Dewantara, “kirti” bermakna “kerja atau pekerjaan” dari bahasa Sansekerta, sedangkan “griya” berarti “rumah”. Dengan demikian, arti lengkapnya adalah “rumah yang berisi hasil kerja Ki Hadjar Dewantara”.
Di tengah uap bau aspal basah, saya menyempatkan diri bersua dengan Sekretaris Jenderal Majelis Luhur Tamansiswa, Ki Priyo Dwiarso. Pria berkacamata dan bertubuh jangkung itu menjelaskan, Museum Dewantara Kirti Griya merupakan bekas rumah mendiang Ki Hadjar Dewantara yang terletak di Jalan Tamansiswa 31.
Rumah tersebut resmi dihuni oleh Ki Hadjar Dewantara sekeluarga pada 16 November 1938, bertepatan dengan diresmikannya Pendopo Agung Tamansiswa (Monumen Persatuan Tamansiswa). Museum itu dinyatakan sebagai bangunan atau benda cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25/PW 007/MKP/2007, tertanggal 26 Maret 2007.
Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 5.594 meter persegi itu dibeli atas nama Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudarminto, Ki Supratolo dari Mas Ajeng Ramsinah pada 14 Agustus 1935. Konon bangunan rumah tersebut didirikan pada tahun 1925 dengan gaya klasik Hindia Belanda. Bangunan tercatat buku register Kraton Ngayogyakarta pada 26 Mei 1926 dengan nomor1383/1.H pada 18 Desember 1951, pembelian tersebut dihibahkan kepada Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa. “Ki Hadjar Dewantara membeli tanah tersebut hasil royalti menciptakan buku tangga nada Sarisworo. Dari royalti itu beliau memperluas tanah yang kemudian dihibahkan ke Majelis Luhur Tamansiswa seluas sekitar satu hektare,” tegas Ki Priyo.
Pada 3 November 1957, bertepatan dengan kawin emas Ki Hadjar Dewantara, beliau menerima persembahan bakti dari para alumni dan pecinta Tamansiswa berupa rumah tinggal baru yang diberi nama Padepokan Ki Hadjar Dewantara, berlokasi di Jalan Kusumanegara 131 Yogyakarta. Pada 1958 pada kesempatan rapat pamong Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara mengajukan permintaan kepada sidang agar tanah bekas tempat tinggalnya yang berada dalam kompleks Perguruan Tamansiswa Jalan Tamansiswa 31 dijadikan museum. Permintaan tersebut ditanggapi dengan baik dan dilaksanakan setelah beliau wafat, 26 April 1959. Mulai tahun 1960 Tamansiswa terus berusaha untuk mewujudkan gagasan Ki Hadjar Dewantara tersebut. Museum tersebut diresmikan dan dibuka untuk umum oleh Nyi Hadjar Dewantara sebagai Pemimpin Umum Tamansiswa bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 1970.
Tata Pameran
Di antara pengunjung lain, saya melangkahkan kaki memasuki Museum Dewantara Kirti Griya. Saya langsung menangkap kesan tempat ini sebuah museum khusus. Penataan pameran diatur sedemikian rupa sehingga mendekati suasana sewaktu Ki Hadjar Dewantara sekeluarga menempati rumah di Jalan Tamansiswa 31. Di dalam ruang tamu seluas 5 x 4 meter, misalnya, terdapat satu stel kursi tamu dan pesawat telepon. Di telepon itu tertulis tahun dan tempat pembuatannya : Tahun 1927 di Kelog, Swedia. Posisi pesawat itu diletakkan menempel pada dinding tembok.
Melangkah ke dalam kamar kerja Ki Hadjar Dewantara seluas 5 x 4 meter, terdapat sebuah meja tulis. Di atas meja tersebut terdapat sebuah tas dan pulpen, kertas penghisap tinta, dan buku. Terdapat pula almari buku, sebuah piano, dan panji Tamansiswa. “Ini piano asli yang digunakan Ki Hadjar Dewantara. Saat ini masih terawat dan masih bisa digunakan,” terang Ki Priyo Dwiarso. Ia lalu membuka piano itu dan sejenak menekan tuts-tuts piano yang berwarna putih.
Saya membuntuti langkah Ki Priyo ke kamar tidur keluarga seluas 5 x 4 meter. Di sana terdapat tempat tidur lengkap, meja toilet, almari isi perlengkapan hias Nyi Hadjar Dewantara, almari pakaian-dirombak menjadi vitrine—disimpan pakaian seragama penjara Pekalongan pada 1921. Selanjutnya, ruang keluarga seluas 4, 40 x 8, 80 meter. Dalamnya terdapat meja makan, dressoir, almari kaca isi pecah belah, meja tulis Nyi Hadjar Dewantara, almari tembok mengelilingi separuh ruang keluarga. Dalam almari itu disimpan buku-buku Ki Hadjar Dewantara, lukisan gaya Bali, karya lukis Ki Sindhusiswara, serta kursi goyang.
Lalu, kami melangkah menuju serambi samping yang membujur dari timur ke barat yang memiliki luas 2, 40 x 10, 58 meter. Di tempat itu Ki Hadjar Dewantara sering menerima kunjungan, karena di serambi tersebut disediakan kursi tamu. Ada pula sebuah radio Erres buatan negeri Belanda yang diletakkan di sudut. Sebuah lukisan kaca menghias serambi samping. Lukisan kaca tersebut merupakan persembahan dari Ki Umar Sastroamijaya bertepatan dengan kawin perak Ki Hadjar Dewantara pada 1938, serta sebuah meja tulis yang di atasnya terdapat mesin ketik “jadul”. “Radio tersebut digunakan Ki Hadjar Dewantara saat mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, sedangkan mesin ketik itu digunakan untuk membuat tulisan,” cerita Ki Priyo Dwiarso.
Kami kemudian beringsut ke dalam kamar tidur khusus Ki Hadjar Dewantara seluas 4 x 4 meter. Di tempat itu tersimpan rapi tempat tidur, almari, sebuah meja kecil yang di atasnya terletak sebuah sisir, sikat, pisau cukur, dan sabun.
Uluran Tangan Dermawan
Menjelajahi Museum Dewantara Kirti Griya, saya menemukan koleksi khusus yang lain. Koleksi tersebut berupa lembaran-lembaran kertas, foto, surat kabar, naskah, dan sebagainya. Khusus untuk foto diawali dengan foto RM Suwardi Suryaningrat saat berusia 20 tahun. Ia mengenakan seragam bangsawan Jawa lengkap dengan blankon dan keris yang terselip di pinggang kanannya. Selain itu, ada pula foto Tiga Serangkai yang mulai buram. Mereka adalah Dokter Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Suwardi Suryaningrat. Tak ketinggalan, foto Suwardi Suryaningrat dan istri, Sutartinah, ketika hendak menuju ke negeri pembuangan, Belanda pada 1913. Terpampang pula foto antara Cipto Mangunkusumo yang akan kembali ke Tanah Air, Suwardi Suryaningrat, dan Nyonya Suwardi.
Jika pengunjung yang ingin mencari buku-buku karya Ki Hadjar Dewantara, perpustakan Museum Dewantara Kirti Griya merupakan tempatnya. Museum tersebut dibangun pada 1971 yang berukuran 17 meter x 7 meter. Koleksi meliputi, khusus Ketamansiswaan, majalah Pusara, Siswa, dan lain-lain. Pengunjung juga dapat menemukan karya-karya sastra Jawa yang meliputi karya pujangga Ki Ranggawarsita, Ki Yasadipoera, dan lain-lain, serta sastra Melayu. Dengan demikian, koleksi museum sebanyak 1.205 buah, koleksi buku perpustakaan museum sebanyak 2.100 buah. Jumlah keseluruhan koleksi 3.305 buah.
Secara terpisah, Ketua Urusan Museum Dewantara Kirti Griya Sri Muryani mengungkapkan, koleksi yang ada saat ini dalam kondisi yang memrihatinkan. “Kami hanya menggunakan cara tradisional untuk membersihkannya. Dengan melap dan memberi kamper agar buku-buku yang ada tidak rusak. Buku-buku yang ada saat ini sudah mulai rapuh, terutama sastra Jawa yang ditulis tangan. Kami ingin ada alih media, terutama dengan menggunakan sistem komputerisasi agar bisa diakses oleh masyarakat luas,” tegas Sri.
Pihaknya sangat berterima kasih kepada para pihak yang bersedia mengulurkan tangan untuk membantu menyelamatkan koleksi-koleksi yang ada. “Biaya untuk perawatan sangat mahal. Kami sangat bersyukur jika ada pihak yang menaruh keinginan untuk membantu untuk perawatan koleksi Museum Dewantara Kirti Griya, sejauh tidak mengikat,” tambah Sri.
Sejumlah pengunjung yang kebanyakan anak sekolah dan mahasiswa itu pun mulai beringsut meninggalkan museum. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Itu berarti 30 menit lagi museum akan ditutup. Berbeda dengan museum lain, museum ini buka mulai pukul 08.00-13.00 WIB tiap hari kerja, kecuali Jumat mulai pukul 08.00-11.00 WIB.
Di luar udara mulai terasa panas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar