Kisah Pecel Lele, Ayam, dan Nasi Goreng
Jarum jam menuding di angka 15. 30 sore. Sebuah surat elektronik mampir di komputer jinjing saya. Pengirimnya Siti Nurrofiqoh, Project Officer Yayasan Pantau. Surat itu pendek, hanya 654 karakter. Ia mengawali tulisannya dengan terbahak. “Huahaha....duh mantap!”
Mbak Fiqoh, begitu ia akrab disapa oleh kami yang mengikuti Kursus Narasi Pantau. Saya baru dua kali bertemu dengan perempuan berambut sebahu itu. Pertama, pada pembukaan kelas pada 1 Juni 2011 ketika itu Mas Andreas Harsono sebagai pembicaranya. Kedua, pada 8 Juni 2011 saat itu Mas Budi Setiono alias Buset tampil sebagai pembicara tentang Jurnalisme Baru yang dipelopori oleh Tom Wolfe. Saya memperoleh sedikit identitasnya dari blog Tanto Yakobus. Di situ diterangkan bahwa Mbak Fiqoh adalah Ketua Umum Serikat Buruh Bangkit di Tangerang. Sejumlah tulisannya dapat diakses di sitinurrofiqoh.blogspot.com.
Dalam surat yang ditujukan kepada 16 peserta itu, Mbak Fiqoh menanyakan apakah kami kelaparan setelah kursus selesai. “Gimana kalau sncak kita ganti dengan pesan nasi goreng atau pecel ayam, lele, gitu?” Mbak Fiqoh memberikan alternatif. “Tapi, gimana teknisnya ya..? Maukah teman-teman sekalian memberikan konfrimasi soal kehadiran dan jenis pesanan?”kata Mbak Fiqoh melanjutkan pertanyaannya.
Supaya pesanan tak mubazir, Mbak Fiqoh mengatakan hanya akan memesan buat peserta yang hadir dan yang mau. Sambil tertawa, ia kemudian meminta kami untuk menuliskan pesanannya : pecel atau nasi goreng. Soal makannya hidangan itu, ia punya usul, selesai kelas. “Jadi, sekitar 30 menit menjelang kelas selesai, pesanan sudah di antar ke atas,” kata Mbak Fiqoh beralasan.
Dalam surat yang ditujukan kepada 16 peserta itu, Mbak Fiqoh menanyakan apakah kami kelaparan setelah kursus selesai. “Gimana kalau sncak kita ganti dengan pesan nasi goreng atau pecel ayam, lele, gitu?” Mbak Fiqoh memberikan alternatif. “Tapi, gimana teknisnya ya..? Maukah teman-teman sekalian memberikan konfrimasi soal kehadiran dan jenis pesanan?”kata Mbak Fiqoh melanjutkan pertanyaannya.
Supaya pesanan tak mubazir, Mbak Fiqoh mengatakan hanya akan memesan buat peserta yang hadir dan yang mau. Sambil tertawa, ia kemudian meminta kami untuk menuliskan pesanannya : pecel atau nasi goreng. Soal makannya hidangan itu, ia punya usul, selesai kelas. “Jadi, sekitar 30 menit menjelang kelas selesai, pesanan sudah di antar ke atas,” kata Mbak Fiqoh beralasan.
Ia mengingatkan bahwa menu yang tersedia hanya nasi goreng, pecel lele, atau ayam. Hal itu mengingat ketersediaan pedagang dan dana. Ia membubuhkan tanda titik koma dan kurung tutup, tanda yang biasa dituliskan dalam surat elektronik oleh seseorang sebagai tanda “tersenyum”, selain kata “hehehehe.”
Di akhir surat elektroniknya itu, Mbak Fiqoh juga dapat memesankan nasi bakar untuk kami. Syaratnya : harus tambah 10 ribu per orang.
Respons dari Sahabat
Setelah surat elektronik dikirim, tanggapan pun berdatangan. Di antaranya dari Mel Damayanto. Kepada kami, Meldy mengaku sempat ingin menjadi pastor, tetapi ia lebih memilih profesi lain karena banyak tantangannya. Dalam suratnya itu ia mengelak dengan mengatakan, “ah pitnah tu mbak fiq...” tulisnya. Lalu ia melanjutkan. “Info harus di peripikasih dulu... yang benar, yang suka kelaparan itu hanya Bung Iman dan Bung Komar sahaja, koq. Jangan gara-gara nila setitik rusak susu se-Melinda Dee. Huehuehuee,” katanya terbahak. “Lanjuut.”
Respons berbeda datang dari Rina S. Komaria. “Well, sebenernya se-cup popmie cukup mengobati kok, mbak Fiqoh.. Apalagi kalo ditambah telur rebus...”
Siapa Rina S. Komaria itu? Saya belum mengenal soal profilnya. Setahu saya, ia pernah agak telat datang saat kursus sesi pertama dan berambut sebahu. Saat Mas Andreas Harsono mempersilakan Rina untuk memperkenalkan diri, Rina agak mengunci mulut tentang profesinya dengan menggunakan bahasa Inggris. Akun twitternya @rikom. Rina pula yang sempat mengirimkan surat elektroniknya kepada kami pada 24 Juni 2011 lalu. Dalam suratnya, ia ingin menebeng dengan peserta dari Gambir atau Cikini untuk kursus sesi pertama pada 1 Juni 2011 lalu.
Dua surat elektronik itu langsung ditanggapi Mbak Fiqoh. “Walahhhhh...guampang kalau itu malah. Oke, aku catet sambil mencari keseragaman :). Oentoek sodara Meldi jang menganggap itu pitnah, baiklah...nanti tak sediakan soesoe sapi sebelanga :-D. O iya, btw, siapa yang semalam pulang larut nyamperin motor sambil KEPEDESAN itu ya...(seperti habis makan nasi goereng gitu lho hahaha),” jawabnya.
Selain Rina dan Meldy, tanggapan juga datang dari vivasolo99 alias Iman. Ia suka “PELE” alias pecel lele. “Kayanya asik juga tuh mba.. Apalagi kalo ada efek terasinya.. Asoygeboy :),” tulisnya. Yenny Hardiyanti lain lagi, ia menanyakan menu lain dari yang diusulkan Mbak Fiqoh. “Mbak fiqoh, ada bebek??” tanya Yenny sambil terkikik.
Pertanyaan Yenny langsung direspons wanita yang kadang menuliskan inisial huruf “f” di beberapa surat elektroniknya itu. “Dulu ada, sekarang nggak ada... (denganmenyesal.com). Padahal bebeknya itu uenak sekali--dagingnya manis (karena unsur kebaruan, hehe kayak narasi), dan bumbunya meresap dalam kompisisi yang pas. Tapi sayang-sungguh sayang, menu itu tidak ada sekarang (serbang berakhiran "ang"). Untuk yang mau ngegebhoy terasi, nanti tak pesankan, bisa perlu terasinya masih utuh biar ngueeeefek wkkkk...”
Yenny rupanya menimpali tanggapan Mbak Fiqoh. Sesaat kemudian ia menulis dengan sejumlah kata yang ia singkat. “Huhuhu...tukang bebeknya pindah ke mana, mbak? Perlu kita cari tuh si abang , biar dia balik ke posnya. Hehehheh..Kl gak ada, sy pesan pecel ayam aja deh. :) yang pasti sambalnya maknyussssss yaaahhh..,” ungkapnya.
Di antara peserta, rupanya Meldy yang tergolong aktif. Ia lalu memberitahu Yenny lewat suratnya. Menurutnya, di angkringan depan BRI ada penjual bebek, tapi pukul 20 biasanya sudah habis. “Saya sih belum coba, karena ya itu, kehabisan melulu,” tulis Meldy pada pukul 17.43 WIB.
Franciskus Pascaries alias Aries, langsung ke inti jawaban. Lelaki yang sempat mengaku lewat e-mailnya punya kekasih hati di daerah Ciledug itu lebih memilih pecel ayam saja. Dalam suratnya, ia tak hadir di sesi kedua karena kelelahan yang “menghajar” sepulang dari Makassar dan keperluan kantor hingga malam. Lain halnya dengan Stefani Ribka alias Ribka. Karena ia belum bekerja, maka ia sudah makan dari rumah. Jadi, ia memilih risoles saja seperti sesi pertama dan kedua. Selain itu, ada juga e-mail dari 0117@gmail.com alias Arum Sari. “Mbakk aku gak nasiii ma aciiih,” tulisnya.
Saya sendiri tak memesan makan apapun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar