Kamis, 30 Juni 2011


Kisah Pecel Lele, Ayam, dan Nasi Goreng

Jarum jam menuding di angka 15. 30 sore. Sebuah surat elektronik mampir di komputer jinjing saya. Pengirimnya Siti Nurrofiqoh, Project Officer Yayasan Pantau. Surat itu pendek, hanya 654 karakter. Ia mengawali tulisannya dengan terbahak.  “Huahaha....duh mantap!”
Mbak Fiqoh, begitu ia akrab disapa oleh kami yang mengikuti Kursus Narasi Pantau. Saya baru dua kali bertemu dengan perempuan berambut sebahu itu. Pertama, pada pembukaan kelas pada 1 Juni 2011 ketika itu Mas Andreas Harsono sebagai pembicaranya. Kedua, pada 8 Juni 2011 saat itu Mas Budi Setiono alias Buset tampil sebagai pembicara tentang Jurnalisme Baru yang dipelopori oleh Tom Wolfe. Saya memperoleh sedikit identitasnya dari  blog Tanto Yakobus. Di situ diterangkan bahwa Mbak Fiqoh adalah Ketua Umum Serikat Buruh Bangkit di Tangerang. Sejumlah tulisannya dapat diakses di sitinurrofiqoh.blogspot.com.

Dalam surat yang ditujukan kepada 16  peserta itu, Mbak Fiqoh menanyakan apakah kami kelaparan setelah kursus selesai.  “Gimana kalau sncak kita ganti dengan pesan nasi goreng atau pecel ayam, lele, gitu?” Mbak Fiqoh memberikan alternatif. “Tapi, gimana teknisnya ya..? Maukah teman-teman sekalian memberikan konfrimasi soal kehadiran dan jenis pesanan?”kata Mbak Fiqoh melanjutkan pertanyaannya.

Supaya pesanan tak mubazir, Mbak Fiqoh mengatakan hanya akan memesan buat peserta yang hadir dan yang mau. Sambil tertawa,  ia kemudian meminta kami untuk menuliskan pesanannya : pecel atau nasi goreng. Soal makannya hidangan itu, ia punya usul, selesai kelas. “Jadi, sekitar 30 menit menjelang kelas selesai, pesanan sudah di antar ke atas,” kata Mbak Fiqoh beralasan.
Ia mengingatkan bahwa menu yang tersedia hanya nasi goreng, pecel lele, atau ayam. Hal itu mengingat ketersediaan pedagang dan dana. Ia membubuhkan tanda titik koma dan kurung tutup, tanda yang biasa dituliskan dalam surat elektronik oleh seseorang sebagai tanda “tersenyum”, selain kata “hehehehe.”
Di akhir surat elektroniknya itu, Mbak Fiqoh juga dapat memesankan nasi bakar untuk kami. Syaratnya : harus tambah 10 ribu per orang.
Respons dari Sahabat
Setelah surat elektronik dikirim, tanggapan pun berdatangan. Di antaranya dari Mel Damayanto. Kepada kami, Meldy mengaku sempat ingin  menjadi pastor, tetapi ia lebih memilih profesi lain karena banyak tantangannya. Dalam suratnya itu ia mengelak dengan mengatakan, “ah pitnah tu mbak fiq...” tulisnya. Lalu ia melanjutkan. “Info harus di peripikasih dulu... yang benar, yang suka kelaparan itu hanya Bung Iman dan Bung Komar sahaja, koq. Jangan gara-gara nila setitik rusak susu se-Melinda Dee. Huehuehuee,” katanya  terbahak. “Lanjuut.”
Respons berbeda datang dari Rina S. Komaria.  “Well, sebenernya se-cup popmie cukup mengobati kok, mbak Fiqoh.. Apalagi kalo ditambah telur rebus...”
Siapa Rina S. Komaria itu? Saya belum mengenal soal profilnya. Setahu saya, ia pernah agak telat datang saat kursus sesi pertama dan berambut sebahu. Saat Mas Andreas Harsono mempersilakan Rina untuk memperkenalkan diri, Rina agak mengunci mulut tentang profesinya dengan menggunakan bahasa Inggris. Akun twitternya @rikom. Rina pula yang sempat mengirimkan surat elektroniknya kepada kami pada 24 Juni 2011 lalu. Dalam suratnya, ia ingin menebeng dengan peserta dari Gambir atau Cikini untuk kursus sesi pertama  pada 1 Juni 2011 lalu.
Dua surat elektronik itu langsung ditanggapi Mbak Fiqoh. “Walahhhhh...guampang kalau itu malah. Oke, aku catet sambil mencari keseragaman :). Oentoek sodara Meldi jang menganggap itu pitnah, baiklah...nanti tak sediakan soesoe sapi sebelanga :-D. O iya, btw, siapa yang semalam pulang larut nyamperin motor sambil KEPEDESAN itu ya...(seperti habis makan nasi goereng gitu lho hahaha),” jawabnya.
Selain Rina dan Meldy, tanggapan juga datang dari vivasolo99 alias Iman. Ia suka “PELE” alias pecel lele. “Kayanya asik juga  tuh mba.. Apalagi kalo ada efek terasinya.. Asoygeboy :),” tulisnya.  Yenny Hardiyanti lain lagi, ia menanyakan menu lain dari yang diusulkan Mbak Fiqoh. “Mbak fiqoh, ada bebek??” tanya Yenny sambil terkikik.
Pertanyaan Yenny langsung direspons wanita yang kadang menuliskan inisial huruf “f” di beberapa surat elektroniknya itu. “Dulu ada, sekarang nggak ada... (denganmenyesal.com). Padahal bebeknya itu uenak sekali--dagingnya manis (karena unsur kebaruan, hehe kayak narasi), dan bumbunya meresap dalam kompisisi yang pas. Tapi sayang-sungguh sayang, menu itu tidak ada sekarang (serbang berakhiran "ang"). Untuk yang mau ngegebhoy terasi, nanti tak pesankan, bisa perlu terasinya masih utuh biar ngueeeefek wkkkk...”
Yenny rupanya menimpali tanggapan Mbak Fiqoh. Sesaat kemudian ia menulis dengan sejumlah kata yang ia singkat.  Huhuhu...tukang bebeknya pindah ke mana, mbak? Perlu kita cari tuh si abang , biar dia balik ke posnya. Hehehheh..Kl gak ada, sy pesan pecel ayam aja deh. :) yang pasti sambalnya maknyussssss yaaahhh..,” ungkapnya.
Di antara peserta, rupanya Meldy yang tergolong aktif. Ia lalu memberitahu Yenny lewat suratnya. Menurutnya,  di angkringan depan BRI ada penjual bebek, tapi pukul 20 biasanya sudah habis. “Saya sih belum coba, karena ya itu, kehabisan melulu,” tulis Meldy pada pukul 17.43 WIB.
Franciskus Pascaries alias Aries, langsung ke inti jawaban. Lelaki yang sempat mengaku lewat e-mailnya punya kekasih hati di daerah Ciledug itu lebih memilih pecel ayam saja. Dalam suratnya, ia tak hadir di sesi kedua karena kelelahan yang “menghajar” sepulang dari Makassar dan keperluan kantor hingga malam.  Lain halnya dengan Stefani Ribka alias Ribka. Karena ia belum bekerja, maka ia sudah makan dari rumah. Jadi, ia memilih risoles saja seperti sesi pertama dan kedua. Selain itu, ada juga e-mail dari 0117@gmail.com alias Arum Sari. “Mbakk aku gak nasiii ma aciiih,” tulisnya.
Saya sendiri tak memesan makan apapun.
Napak Tilas ke Tamansiswa

Museum Dewantara Kirti Griya menyimpan sejumlah barang berharga milik  tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara. Mulai dari tempat tidur, mesin tik, piano, foto-foto, buku-buku, dan lain-lain. Kini, koleksi-koleksi tersebut mulai rapuh dimakan usia.

Ruas Jalan Tamansiswa di Yogyakarta  masih tampak basah, akhir Maret 2011 lalu. Hujan baru saja mengguyur kawasan itu. Awan hitam mulai memudar di angkasa. Suasana terasa adem. Di depan jalan itu terdapat sebuah perguruan yang sangat terkenal sebelum Indonesia merdeka. Namanya : Majelis Luhur Tamansiswa, yang didirikan Suwardi Suryaningrat yang kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara.
Di dalam kompleks itu, terdapat Museum Dewantara Kirti Griya. Satu dari 27 museum yang dimiliki Yogyakarta.  Nama tersebut pemberian dari Hadiwidjono, ahli bahasa Jawa. Nama “Dewantara” diambil dari nama Ki Hadjar Dewantara, “kirti” bermakna “kerja atau pekerjaan” dari bahasa Sansekerta, sedangkan “griya” berarti “rumah”.  Dengan demikian, arti lengkapnya adalah  “rumah yang berisi hasil kerja Ki Hadjar Dewantara”.
Di tengah uap bau aspal basah, saya menyempatkan diri bersua dengan Sekretaris Jenderal Majelis Luhur Tamansiswa, Ki Priyo Dwiarso. Pria berkacamata dan bertubuh jangkung itu menjelaskan, Museum Dewantara Kirti Griya merupakan bekas rumah mendiang Ki Hadjar Dewantara yang terletak di Jalan Tamansiswa 31.
Rumah tersebut resmi dihuni oleh Ki Hadjar Dewantara sekeluarga pada 16 November 1938, bertepatan dengan diresmikannya Pendopo Agung Tamansiswa (Monumen Persatuan Tamansiswa).  Museum itu dinyatakan sebagai bangunan atau benda cagar budaya berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.25/PW 007/MKP/2007, tertanggal 26 Maret 2007.
Bangunan   yang berdiri di atas tanah seluas 5.594 meter persegi itu dibeli atas nama Ki Hadjar Dewantara, Ki Sudarminto, Ki Supratolo dari Mas Ajeng Ramsinah pada 14 Agustus 1935. Konon bangunan rumah tersebut didirikan pada tahun 1925 dengan gaya klasik Hindia Belanda. Bangunan tercatat buku register  Kraton Ngayogyakarta pada 26 Mei 1926 dengan nomor1383/1.H pada 18 Desember 1951, pembelian tersebut dihibahkan kepada Yayasan Persatuan Perguruan Tamansiswa. “Ki Hadjar Dewantara  membeli tanah tersebut hasil royalti  menciptakan buku tangga nada Sarisworo. Dari royalti itu beliau memperluas tanah yang kemudian dihibahkan ke Majelis Luhur Tamansiswa seluas sekitar satu hektare,” tegas Ki Priyo.
Pada 3 November 1957, bertepatan dengan kawin emas Ki Hadjar Dewantara, beliau menerima persembahan bakti dari para alumni dan pecinta Tamansiswa berupa rumah tinggal baru yang diberi nama Padepokan Ki  Hadjar Dewantara, berlokasi di Jalan Kusumanegara 131 Yogyakarta.  Pada 1958 pada kesempatan rapat pamong Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara mengajukan permintaan kepada sidang agar tanah bekas tempat tinggalnya yang berada dalam kompleks Perguruan Tamansiswa Jalan Tamansiswa 31 dijadikan museum. Permintaan tersebut ditanggapi dengan baik dan dilaksanakan setelah beliau wafat, 26 April 1959. Mulai tahun 1960 Tamansiswa terus berusaha untuk mewujudkan gagasan Ki Hadjar Dewantara tersebut. Museum tersebut diresmikan dan dibuka untuk umum oleh Nyi Hadjar Dewantara sebagai Pemimpin Umum Tamansiswa bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 1970.
Tata Pameran
Di antara pengunjung lain, saya melangkahkan kaki memasuki Museum Dewantara Kirti Griya. Saya langsung menangkap kesan tempat ini sebuah  museum khusus.  Penataan pameran diatur sedemikian rupa sehingga mendekati suasana sewaktu Ki Hadjar Dewantara sekeluarga menempati rumah di Jalan Tamansiswa 31. Di dalam ruang tamu seluas 5 x 4 meter, misalnya, terdapat satu stel kursi tamu dan pesawat telepon. Di telepon itu tertulis tahun dan tempat pembuatannya :  Tahun 1927 di Kelog, Swedia. Posisi pesawat itu diletakkan menempel pada dinding tembok.
Melangkah ke dalam kamar kerja Ki Hadjar Dewantara seluas 5 x 4 meter, terdapat sebuah meja tulis. Di atas meja tersebut terdapat sebuah tas dan pulpen, kertas penghisap tinta, dan buku. Terdapat pula almari buku, sebuah piano, dan panji Tamansiswa.  “Ini piano asli yang digunakan Ki Hadjar Dewantara. Saat ini masih terawat dan masih bisa digunakan,” terang  Ki Priyo Dwiarso. Ia lalu membuka piano itu dan sejenak menekan tuts-tuts piano yang berwarna putih.
Saya membuntuti langkah Ki Priyo  ke kamar tidur keluarga seluas 5 x 4 meter. Di sana terdapat tempat tidur lengkap, meja toilet, almari isi perlengkapan hias Nyi Hadjar Dewantara, almari pakaian-dirombak menjadi vitrine—disimpan pakaian seragama penjara Pekalongan pada 1921.  Selanjutnya, ruang keluarga seluas 4, 40 x 8, 80 meter. Dalamnya terdapat meja makan, dressoir, almari kaca isi pecah belah, meja tulis Nyi Hadjar Dewantara, almari tembok mengelilingi separuh ruang keluarga. Dalam almari itu disimpan buku-buku Ki Hadjar Dewantara, lukisan gaya Bali, karya lukis Ki Sindhusiswara, serta kursi goyang.
Lalu, kami melangkah  menuju serambi samping yang membujur dari timur ke barat yang memiliki luas 2, 40 x 10, 58 meter. Di tempat itu Ki Hadjar Dewantara sering menerima kunjungan, karena di serambi tersebut disediakan kursi tamu. Ada pula sebuah radio Erres  buatan negeri  Belanda yang diletakkan di sudut. Sebuah lukisan kaca menghias serambi samping. Lukisan kaca tersebut merupakan persembahan dari Ki Umar Sastroamijaya bertepatan dengan kawin perak Ki Hadjar Dewantara pada 1938, serta sebuah meja tulis yang di atasnya terdapat  mesin ketik “jadul”. “Radio tersebut digunakan Ki Hadjar Dewantara saat mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, sedangkan mesin ketik itu digunakan untuk membuat tulisan,” cerita Ki Priyo Dwiarso.
Kami kemudian beringsut ke dalam kamar tidur khusus Ki Hadjar Dewantara seluas 4 x 4 meter. Di tempat itu tersimpan rapi tempat tidur, almari, sebuah meja kecil yang di atasnya terletak sebuah sisir, sikat, pisau cukur, dan sabun.
Uluran Tangan Dermawan
Menjelajahi Museum Dewantara Kirti Griya,  saya menemukan koleksi khusus yang lain. Koleksi tersebut berupa lembaran-lembaran kertas, foto, surat kabar, naskah, dan sebagainya. Khusus untuk foto diawali dengan foto RM Suwardi Suryaningrat saat berusia 20 tahun. Ia mengenakan seragam bangsawan Jawa lengkap dengan blankon dan keris yang terselip di pinggang kanannya. Selain itu, ada pula foto Tiga Serangkai yang mulai buram. Mereka adalah Dokter Cipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Suwardi Suryaningrat. Tak ketinggalan, foto Suwardi Suryaningrat dan istri, Sutartinah, ketika hendak menuju ke negeri pembuangan, Belanda pada 1913. Terpampang pula  foto  antara Cipto Mangunkusumo yang akan kembali ke Tanah Air, Suwardi Suryaningrat, dan Nyonya Suwardi.
Jika pengunjung yang ingin mencari buku-buku karya Ki Hadjar Dewantara, perpustakan Museum Dewantara Kirti Griya merupakan tempatnya. Museum tersebut dibangun pada 1971 yang berukuran 17 meter x 7 meter. Koleksi meliputi, khusus Ketamansiswaan, majalah Pusara, Siswa, dan lain-lain. Pengunjung juga dapat menemukan karya-karya sastra Jawa yang meliputi karya pujangga Ki Ranggawarsita, Ki Yasadipoera, dan lain-lain, serta sastra Melayu.  Dengan demikian, koleksi museum sebanyak 1.205 buah, koleksi buku perpustakaan museum sebanyak 2.100 buah. Jumlah keseluruhan koleksi 3.305 buah.
Secara terpisah, Ketua Urusan Museum Dewantara Kirti Griya Sri Muryani mengungkapkan, koleksi yang ada saat ini dalam kondisi yang memrihatinkan. “Kami hanya menggunakan cara tradisional untuk membersihkannya. Dengan melap dan memberi kamper agar buku-buku yang ada tidak rusak. Buku-buku yang ada saat ini sudah mulai rapuh, terutama sastra Jawa yang ditulis tangan. Kami ingin ada alih media, terutama dengan menggunakan sistem komputerisasi agar bisa diakses oleh masyarakat luas,” tegas Sri.
Pihaknya sangat  berterima kasih kepada para pihak yang bersedia mengulurkan tangan untuk membantu menyelamatkan koleksi-koleksi yang ada. “Biaya untuk perawatan sangat mahal. Kami sangat bersyukur jika ada pihak yang menaruh keinginan untuk membantu untuk perawatan koleksi Museum Dewantara Kirti Griya, sejauh tidak mengikat,” tambah Sri.
Sejumlah pengunjung yang kebanyakan anak sekolah dan mahasiswa itu pun mulai beringsut meninggalkan museum. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30 WIB. Itu berarti 30 menit lagi museum akan ditutup. Berbeda dengan museum lain, museum ini buka mulai pukul 08.00-13.00 WIB tiap hari kerja, kecuali Jumat mulai pukul 08.00-11.00 WIB.
Di luar udara mulai terasa panas.

Pernikahan "24" dan "25"

OLEH KOMARUDIN
(I)
WAKTU makan telah  tiba.  Suara denting piring terantuk sendok terdengar dari piring Agustinus James. Ia tampak lahap menyantap hidangan sederhana : nasi putih campur teri, telor goreng, dan sayur asem sambil duduk di bangku kayu agak reot.  Lelaki berusia 37 tahun  kelahiran Pangkalan Brandan itu mengenakan kemeja lengan pendek warna putih motif bunga matahari dipadu jins biru. Rambutnya mulai  memutih. Ada jenggot di bawah dagunya.  Setelah menandaskan makanan di piring,  James menenggak segelas air putih di depannya. “Saya menghabiskan masa kecil  hingga SMA di Pangkalan Brandan,” katanya memulai percakapan.
James-- begitu ia akrab disapa-- seorang desainer grafis di sebuah perusahaan event organizer (EO) daerah di Tebet, Jakarta Selatan. Hampir tiap hari ia bersama sejumlah rekannya makan siang di warung itu. Kali ini ia makan sendiri,  teman-temannya  sedang salat Jumat. Meski banyak kehadiran  pembeli, James tanpa sungkan menceritakan sepenggal pengalaman hidupnya.  Selepas SMA di Medan,  ia  hijrah ke  Yogyakarta pada 1993. Di Kota Gudeg itu, ia melanjutkan studi di sebuah sekolah tinggi ekonomi selama setahun.  Ia tak selesai dan menganggur.  Kemudian ia  kembali kuliah di Jurusan Desain Foto  di Akademi Desain Visi Yogyakarta.  Itu pun tak selesai. James lebih suka  mencari uang. Ia mengasah kemampuannya  memotret dan kadang-kadang order  pembuatan brosur.  Lebih 10 tahun,  pada 2006  James memutuskan untuk bekerja di  Jakarta. Ia masih ingat  peristiwa itu terjadi sehari sebelum lindu mengoyak Yogyakarta. “Kini, semua keluarga saya sudah berada di Jakarta,” ungkap lelaki bertubuh gempal itu.

Sejenak, James menghentikan pembicaraan. Telepon genggamnya berdering. “Bunda” menelepon. James menyematkan kata “bunda” untuk istri tercintanya, Diah Afriani, 34 tahun.  Ia menanyakan apakah istrinya sudah makan atau belum, sementara James menjawab ia sedang makan di warung Mpok Leha. Tak kurang tiga menit pembicaraan lewat telepon seluler itu pun selesai.  James melanjutkan pembicaraan. Para pelanggan mulai meninggalkan warung. Waktu istirahat makan siang mereka hampir habis. “Istriku bekerja di sebuah perusahaan properti bagian building management. Ia mengurusi owner-owner apartemen, merawat gedung, dan lain-lain. Ia ibarat RT (Rukun Tetangga) di Puri Imperium. Kuningan,” jelas James. Ia bekerja sudah 10 tahun lebih.

Di tempat itu pula pertemuan James dengan Diah  berawal.  Akhir 2009. James mengaku pertemuan itu diawali dari embunpagidevianart.com, blog tempat ia memupblikasikan sejumlah hasil karyanya. Diah tertarik. Ia lalu mengirimkan surat elektronik. Dari surat itu mereka melanjutkan dengan  chatting. Dua hari sebelum pemotretan, mereka bertemu di sana. Ngobrol-ngobrol ngalor-ngidul. Pertemuan berlangsung selepas maghrib. Pembicaraan mengalir hingga pukul 02.00 WIB. Tak terasa. “Minggu aku motret dia. Sejak itu kami makin sering menjalin kontak,” James tertawa mengingat peristiwa itu. Tak jarang, mereka kemudian ngopi darat (bertemu). Kadang di Tebet, tak jarang di Kuningan. Pertemuan yang kian intens membuat mereka memutuskan untuk berpacaran. “Persis saat malam Natal. 24 Desember 2009,” kata James sambil mengingat-ingat.

Cuaca makin terik.

(II)
SETELAH pemotretan itu, keesokan harinya, mereka melakukan petualangan di Pulau Sempu, Malang, Jawa Timur, dengan menumpang bus Kramat Jati. Mereka meluapkan kebahagiaan. Pulau Sempu, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Malang. Saat ini Sepu merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Dalam pulau ini nyaris tidak ditemukan mata air payau. Menuju Pulau Sempu, mereka bertolak dari Kota Malang,  kendaraan membawa mereka ke selatan Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Setelah menempuh waktu selama dua jam,  mereka tiba di Pantai Sendangbiru. Dari Sendangbiru mereka mencari nelayan untuk menyewa perahu penyeberangan menuju Pulau Sempu yang biasanya memakan waktu sekitar 15-30 menit.  Dari Malang mereka  terbang ke Yogyakarta menghabiskan malam Tahun Baru.

Dari  pertemuan itu,  James dan Diah kian lengket. Prosesnya pendek dan singkat, begitu istilah James.  Jika tak bertemu di kantor kekasihnya,   James berusaha janjian di tempat lain  yang buka hingga larut malam. Seperti sebuah tempat di Taman Ismail Marzuki,  Menteng, Secret Recipe di Pejaten Village, Jakarta Selatan. Lokasinya cocok. Biasanya mereka berpisah di perempatan jalan menuju Ragunan. James ke daerah Taman Mini, Diah ke kawasan Bintaro.

Sebagai pasangan yang beda keyakinan, mereka tahu konsekuensi jika mereka harus menikah. Banyak pertentangan yang mereka harus hadapi dari keluarga masing-masing. Di satu sisi, status Diah yang janda dan sudah memiliki dua orang anak : Syaharani Putri, 10 tahun,  dan Fahryl Maulana Suryadi, 7 tahun. “Nyokap meminta aku agar menikah dengan perempuan yang seiman dan gadis,” kata James menirukan ucapan ibundanya, Rosa Pulo.

Namun, James terasa berat untuk memenuhi permintaan orang tuanya. Di samping rasa cinta yang mendalam, ia rupanya punya argumentasi yang juga cukup kuat untuk menikahi Diah. “Istriku ini orangnya baik dan enak diajak ngomong.  Hidupku merasa pas dan komplet berada di dekatnya,” kenang James tersenyum.

Hal yang sama juga dirasakan Diah ketika itu. Orang tuanya : Nurman Nawawi dan Sri Suratmi, pun menentang jika ia harus menikah dengan lelaki yang beda agama. Ia menghadapi itu dengan tabah. Setelah tiga bulan resmi berpacaran,  James bertemu dengan Sri di kawasan Rempoa, Jakarta Selatan. Sri tetap bersikeras melarang anaknya menikah dengan pria berbeda keyakinan. Tak cukup bertemu dengan ibunda Diah, keesokan harinya giliran James menemui ayah Diah, Nurman.  Sebelum bertemu, James sempat gelisah khawatir tak direstui hubungannya dengan Diah.  Di luar dugaan, rupanya Nurman justru memberikan restu dan dukungan. Sejak itu ibunda Diah pun luluh. “Bagi saya, masalah agama itu tidak masalah. Yang beda, kamu ambil yang 24 dan saya ambil yang ke-25. Yang penting kamu bertanggung jawab karena Diah sudah memiliki dua anak,” ujar Nurman. Angka 24 merupakan urutan Nabi Isa, sedangkan angka 25 menurujuk ke Nabi Muhammad. Terdapat pemahaman bahwa nabi terakhir dalam Islam adalah Muhammad.

“Saya sudah memikirkan semua itu, Pak!” kata James.

Tugas James berikutnya meluluhkan hati ibundanya, Rosa. Ia memberikan alasan secara perlahan. Akhirnya berhasil. James dan Diah bersyukur. Itu artinya,  mereka telah mengantongi restu dari kedua orang tua mereka untuk menikah.

 
(III)
MATAHARI pagi bersinar terang.  Saya bertemu kembali dengan James di Dunkin Donut, kawasan Sudirman, Jakarta Selatan. Ia meletakkan tas ransel di atas meja kayu di sebelah tas Ahmad Zubair, sahabatnya, rekan satu kantor. James memesan burger dan secangkir kopi, sementara saya memesan kopi kemudian. Sinar matahari memantulkan sinarnya ke tubuh James. Sebelum mengeluarkan kamera, ia menyeruput kopi pesanannya. Sruput. Jpet, jpret, jpret. Hari itu James ditugaskan dari kantornya untuk memotret di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang, Banten.

James menuturkan, setelah mengantongi restu dari kedua orang tua masing-masing, James dan Diah memutuskan untuk menikah. Ada beberapa negara pilihan. Thailand, Singapura, dan Australia. Di Singapura sudah agak sulit untuk menikah beda agama, karena sudah terlalu banyak. Sementara menikah di Australia biaya terlalu besar untuk ukuran kantong mereka. Akhirnya,  mereka memutuskan untuk menikah di Thailand. Mereka terinspirasi dengan artis Rio Febrian yang menikah di Bangkok. Lewat facebook, James mengaku sempat menghubungi Rio, tetapi tak berbalas. Akhirnya, mereka berusaha sendiri dengan berselancar di dunia maya. Mulai dari lokasi untuk pernikahan hingga hotel untuk berbulan madu.

“Jadi, setelah Om James dan Mama pulang dari Bangkok, saya panggil Om James papa, dong,” kata Fahryl. “Iyalah,” sahut Sri dengan wajah senang.

Setelah mengumpulkan uang senilai 90 juta, James dan Diah terbang ke Thailand dengan menggunakan maskapai Air Asia pada Minggu, 1 Agustus 2010 lalu sekitar pukul 17.00 WIB. Tujuannya hanya satu : menikah. Di dalam pesawat itu terdapat sekitar 120 penumpang. Sepanjang  perjalanan, mereka mengaku senang karena ingin membina rumah tangga. Apalagi, restu sudah mereka kantongi. Dari balik jendela pesawat Diah melihat awan beterbangan. James tampak sibuk memotret calon istrinya itu. Selain memotret, tak banyak aktivitas yang mereka lakukan. “Kami lebih banyak tidur karena saya takut ketinggian,” kata James tersenyum.

Hampir empat jam berada di dalam burung besi, mereka kemudian  mendarat di Bandara Udara Suvarnabhumi  Bangkok. Jarum jam menunjukkan pukul 20.45 waktu setempat. Dari  pengeras suara, seorang pramugari menerangkan  bahwa tidak ada perbedaan waktu antara Bangkok dan Indonesia. Sambil menunggu taksi, James dan Diah menghirup udara malam Negeri Gajah Putih itu. Dengan diantar taksi, mereka melesat menuju penginapan di kawasan Ibukota Bangkok. Mereka merebahkan tubuh dan terlelap.


(IV)
MINGGU sekitar pukul 11.58 WIB, James mengirimkan sejumlah foto-foto hasil jepretannya selama di Bangkok. Ada sekitar 30-an foto hasil jepretannya.  Ia juga menuliskan  syarat-syarat menikah yang pernah ia tempuh di Thailand. Di antaranya : Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli beserta fotokopinya, paspor asli beserta fotokopinya, Surat Keterangan Status Nikah dari kelurahan di Indonesia, fotokopi identitas calon suami atau isteri, Akta Cerai asli dan fotokopinya (bagi duda atau janda cerai), Akta Kematian mantan suami atau isteri (bagi duda atau janda), Surat Izin Orang Tua yang disahkan oleh kelurahan bagi mereka yang berumur kurang dari 20 tahun, biaya sebesar 20 US dollar, Waktu Permohonan Surat pukul 09.00 – 11.45 setiap hari kerja. Surat tersebut dapat diambil pada hari kerja berikutnya pukul 14.00 – 15.30, yang bersangkutan harus datang ke KBRI tidak dapat diwakilkan.

Setelah mengurus segala surat-surat yang dibutuhkan, James dan Diah  mendatangi Pomprab Sattruphai District Registration Office, Bangkok Metropolis, setelah  makan siang. Di depan petugas seperti kecamatan di Indonesia,  James duduk di kursi sebelah kanan, Diah duduk di kursi sebeah kiri. Seorang petugas berdiri di sebelah Diah. James mengenakan kemeja warna putih dipadu dengan jins hitam, sedangkan Diah mengenakan kebaya putih.  Setelah surat-surat tersebut diterjemahkan dalam bahasa Thailand, petugas itu meminta mereka untuk membubuhkan tanda tangan. Setelah itu, petugas itu menyatakan pernikahan mereka sudah sah.  “Kalian sudah resmi sebagai pasangan suami istri. Nama kalian sudah online sebagai pasangan yang telah menikah di Thailand,” kata petugas itu. Mendengar kata-kata itu, wajah James dan Diah tampak sumringah. Di dalam hati mereka berkata : “Begitu mudah menikah di Thailand.”
Selain menikah, James dan Diah juga menyempatkan diri naik Skytrain yang melaju di jalan layang di atas jalan raya di Bangkok. Transportasi itu beroperasi sejak 5 Desember 1999 dan beroperasi mulai pukul 06.00-24.00. Skytrain atau nama resminya Bangkok Mass Transit System memiliki 23 stasiun dengan rel ganda dua jalur, dan rute sepanjang 23 kilometer di kota Bangkok. Awalnya, jumlah penumpang skytrain rata-rata 200 ribu  orang setiap hari. Tahun 2005, meningkat menjadi lebih 500 ribu  orang setiap hari. Keesokan harinya, mereka bertandang ke Khao San Road. Kawasan ini dikenal sebagai pusatnya para backpacker dari berbagai penjuru dunia berkumpul.
Mereka juga menyempatkan diri mendatangi  Grand Palace. Mereka langsung disuguhi keindahan Kuil dengan stupa berlapis emas Wat Phra Kaeo, indah sekali lengkap dengan penjaga pintu gerbang makhluk raksasa yakhsa. Di dalam komplek Grand Palace terdapat berbagai objek lain seperti : Siwalai Garden, Dusit Throne Hall, Chakri Maha Prasat, aula singgasana, dan museum. Sebelum meninggalkan Negeri Gajah Putih, mereka singgah ke Pat Pong. Tempat ini merupakan   dikenal sebagai red-district area. Mereka berfoto-foto sambil mengumbar senyum di tengah keramaian. 

(V)
JAMES menghentikan pembicaraan ketika seorang tukang obat menghampiri dan menawarkan dagangannya sambil duduk di bangku plastik tanpa diminta.  Lelaki setengah baya itu mengenakan kemeja putih dipadu celana hitam langsung interupsi. “Maaf ya, Mas,” kata James sopan. Pedagang itu lalu pergi.
James melanjutkan cerita hidupnya. Sebelum menikah mereka mereka sudah berkomitmen soal anak.  Jika kelak mereka punya anak dari perkawinan itu, biarlah anak  mengikuti agama  ibunya. Komitmen itu tanpa ada paksaan. Diah memang meminta itu dan ia menyanggupi. “Itu sebagai pegangan buat anakku jika kelak bersekolah,” lanjutnya. Itu dilakukan agar anaknya tidak bingung. “Memilih agama papaku atau mamaku.”
James sadar bahwa ia belum mampu untuk memberikan pendidikan agama kepada anaknya. “Aku jarang ke gereja. Padahal, mamaku sering meminta aku untuk ke gereja. Namun, aku masih belum niat. Aku lebih banyak tidur,” kenang James.  “Aku itu kalau ke gereja  paling saat motret pernikahan, aja,” katanya tertawa.
Jika kelak anaknya sudah dewasa pun, James mempersilakan anaknya untuk mengikuti agama yang dipeluk oleh ibu atau ayahnya. “Aku tak mau memaksakan kehendak,” terang James.
Pukuk 07.45 WIB bayi  yang diidam-idamkan itu pun lahir di RS Buah Hati, Ciputat, Tangerang. Hari itu 28 Desember 2010. Nurman mengazani. James dan Diah menyematkan nama sang buah hati  Jade Lakshita. Artinya, “permata yang terkenal”.
*) terima kasih kepada Bang James yang telah berbagi cerita ini. Ini hasil revisi yang telah didiskusikan di sesi keempat Kursus Narasi Pantau, Rabu, 22 Juni 2011, pukul 19.00 WIB