IMPLEMENTASI
PENDIDIKAN KARAKTER
MELALUI
KEARIFAN LOKAL DI PERGURUAN TAMANSISWA
Oleh Ki Priyo
Dwiarso
Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa
Presentasi di UNY tanggal 20 November 2010
I.
KODRAT ALAM (Cirikhas 1 Tamansiswa) :
Sebagai perwujudan
kekuasaan Tuhan YME mengandung arti bahwa hakekat umat manusia adalah menyatu
dengan alam semesta dan tidak dapat lepas dari hukum kodrat alam. Manusia akan
bahagia bila menyelaraskan diri dengan kodrat alam yang mengandung segala hukum
kemajuan.
Hari berganti minggu,
berganti bulan, berganti tahun selalu bertambah dan tidak pernah mundur ataupun
berhenti, itulah kodrat alam kuasa
Illahi. Budaya manusia selalu mengalami kemajuan dan interaksi antar bangsa tak
terelakkan sesuai hukum kodrat alam. Demikianlah Ki Hadjar Dewantara (KHD)
memberi pedoman olah budaya bangsa dengan TRIKON (Kontinyu, Konvergen,
Konsentris)
KONTINYU : Mengolah budaya
bangsa secara berkesi nambungan dari masa lalu, masa kini dan masa datang.
Dari generasi ke generasi menjalin rangkaian kemajuan budaya bangsa terus
menerus tiada terputus.
|
KONVERGEN : Tidak menutup diri
dengan perkem bangan kebudayaan dunia. Dengan adaptif memilah dan memilih
budaya universal yang bermanfaat bagi memperkaya perkembangan budaya bangsa
sendiri.
|
KONSENTRIS : Dalam mengarungi dan
menyatu dengan arus budaya universal, berpegang teguh kepada budaya sendiri
memperkuat kepribadian nasional. Bangsa yang besar selalu mempunyai ciri
karakter budaya bangsanya.
|
KONSENTRISITAS
: (Unsur
TRIKON)
1.
KHD mempraktekkan konsentrisitas sebelum melansir konsep
TRIKON yaitu menyerap ilmu dari Barat
dan melahirkan konsep yang membumi. Tahun 1913 sd 1919 KHD dibuang (externir)
ke negeri Belanda memperdalam Ilmu Paedagogie dan memperoleh sertifikat
pendidik Eropa. Walau KHD dididik secara Barat namun konsepnya tidak
kebarat-baratan. Ajaran KHD disesuaikan
dengan budaya lokal misalnya sistem kekeluargaan, sistem among, tut wuri
handayani dll. Beberapa orang salah paham dengan Kejawaan KHD (kejawen?),
karena saat itu belum ada bahasa persatuan (Sumpah Pemuda 1928). Konsep KHD
yang membumi misalnya wiyatagriya adalah “school woning type” (home schoolling).
Tringo (Ngerti, Ngroso, Nglakoni) sekarang dikenal cognitif, afektif, psycho
motoric. Kemerdekaan sejalan dengan konsep Frobel dalam pendidikan anak di
Belanda. Konsentrisitas semacam ini telah lama dilakukan sebelumnya oleh para
Wali Songo misalnya dalam tradisi Lebaran dengan sungkem dan mudik yang tidak
terdapat di dunia Islam selain Indonesia. Hakekatnya KHD keturunan Nyi Ageng
Serang buyut dari Sunan Kalijogo. Banyak yang belum tahu bahwa tahun 1928 orang
yang pertama mengusulkan bahasa Persatuan dengan bahasa Indonesia (bukan bahasa
Jawa) adalah KHD.
2.
Azas Tamansiswa butir ke-3 berbunyi : Tentang zaman yang akan datang maka rakyat kita ada dalam kebingungan.
Seringkali kita tertipu oleh keadaan yang kita pandang perlu dan laras untuk
hidup kita, padahal itu adalah keperluan bangsa asing yang sukar didapatnya
dengan penghidupan kita sendiri. Demikianlah kita acapkali merusak kedamaian
hidup kita. Lagipula kita sering mementingkan pengajaran yang hanya menuju
terlepasnya fikiran (intelektualisme), padahal pengajaran itu membawa kita
kepada gelombang penghidupan yang tidak merdeka (economisch afhankeleijk) dan
memisahkan orang terpelajar dengan rakyatnya. Di dalam kebingungan ini seharusnyalah
keadaban kita sendiri (cultuurhistorie) kita pakai sebagai penunjuk jalan untuk
mencari penghidupan baru yang selaras dengan kodrat kita dan akan memberi
kedamaian dalam hidup kita. Dengan keadaan bangsa kita sendiri kita lalu pantas
berhubungan dengan keadaban bangsa asing.
Demikianlah KHD tidak
merekomendasikan pendidikan yang melulu intelektualisme (cognitif/Ngerti)
melainkan adanya keseimbangan dengan afektif (Ngroso) serta psycho motoric
(Nglakoni) antara lain dengan pendidikan nation and character building. Karena
hakekatnya Tamansiswa adalah perguruan kebangsaan (National Onderwijs Instituut
Tamansiswa). Pendidikan yang terlalu mementingkan intelektual (kognitif)
menjauhkan pelajar dari rakyatnya, memperlebar jurang kaya miskin selanjutnya menambah
kerawanan sosial.
3.
Pendidikan karakter sejak Tamansiswa berdiri 3 Juli 1922
melekat kepada setiap mapel yang diajarkan setiap pamong (guru). Dengan
berlakunya KTSP pendidikan karakter diajarkan dalam mapel Budi Pekerti dan
mapel Ketamansiswaan. Mapel Budi Pekerti hakekatnya mengajarkan tentang
“habluminannas dan hablumin Allah”. Mapel Ketamansiswaan menekankan pada ajaran
KHD serta character and nation building. Acuan mapel tersebut berupa silabi
dengan penekanan konsentrisitas budaya mengutamakan kepada kearifan lokal
(local wisdom) menuju pembentukan kepribadian khas Indonesia. Agar bangsa kita
dapat berdiri sejajar dengan keadaban bangsa lain di dunia, demikian KHD.
II.
KEMERDEKAAN (Cirikhas 2 Tamansiswa) :
Kemerdekaan mengandung
arti sebagai karunia Tuhan YME kepada manusia dengan memberikan hak untuk
mengatur dirinya sendiri (zelfbeschikkingsrecht) dengan mengingati syarat
tertib damainya (orde en vrede) hidup bermasyarakat. Karena itu kemerdekaan
diri harus diartikan sebagai swadisiplin atas dasar nilai luhur,
hak hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kemerdekaan harus
menjadi dasar untuk pengembangan pribadi yang kuat dan sadar dalam suasana
keseimbangan dan keselarasan pribadi yang kuat dan sadar dalam kehidupan
bermasyarakat.
Tujuan
pendidikan Perguruan Tamansiswa adalah membangun peserta didik menjadi manusia
yang merdeka lahir-batin dan tenaganya, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME,
berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, cerdas dan terampil hidup, sehat
jasmani rohani, menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab
atas kesejahteraan bangsa, tanah air dan umat manusia pada umumnya. Guna
mencapai tujuan pendidikan tersebut Tamansiswa menerapkan Among Metode (Sistem
Among) berdasarkan kekeluargaan.
SISTEM AMONG
:
Among
artinya mengemban, membina dengan keikhlasan hati tanpa pamrih. Pendidikan
Perguruan Tamansiswa dilaksanakan menurut Sistem Among yaitu suatu system
pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan :
1.
Kodrat Alam sebagai wujud pengakuan
kuasa Illahi dan syarat untuk mencapai kemajuan yang secepat-cepatnya dan
sebaik-baiknya selaras dengan perubahan alam dan jaman. Menyadari akan sifat kodrati dimana setiap anak selalu
tenteram dalam alam keluarganya, maka Sistem Among memakai dasar kekeluargaan.
Pamong bertindak sebagai pengganti orang tua di perguruan dengan segala asih,
asah, asuhnya. Sebaiknya untuk PAUD dan TK mempergunakan bahasa ibu. Suasana
kekeluargaan ini membuat siswa lebih gembira dan kondusif, daripada sekolah
formal yang sarat ketegangan cadaver disiplin. Kekeluargaan membuat siswa masih
berada dalam kodratnya yang direalisasikan dalam Wiyata Griya dimana siswa tinggal dalam rumah tangga asrama di
perguruan. Hal ini dapat terlaksana pada awal berdirinya Tamansiswa, namun
seiring dengan menyempitnya lahan, konsep ini tidak terlaksana penuh. Namun SMA
Taruna Nusantara masih konsisten dengan system Tamansiswa Wiyata Griya di
Magelang.
2.
Kemerdekaan jiwa siswa lahir batin
dan tenaganya adalah tujuan utama sistem among. Kemerdekaan lahir batin ini
sangat diperlukan sang anak pada pra kemerdekaan guna menyongsong kemerdekaan
bangsa. Setelah kemerdekaan jiwa merdeka ini masih diperlukan sepanjang jaman
dari rakyat hingga pimpinan nasional, agar Indonesia tidak didikte Negara lain.
Sistem among melarang adanya hukuman yang memaksakan kepada sang anak, karena
akan membunuh jiwa merdekanya. Pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar)
diaplikaikan dengan memakai “dolanan anak”
(kinder spellen). Misalnya membuat peta dengan pasir, menghafal abjad dengan
menyanyi, simulasi, seni budaya. Peri laku dolanan anak adalah kodrat semua
anak makhluk Tuhan guna mengasah panca inderanya. Dolanan anak bisa menjadi embrio
jiwa merdeka yang tidak boleh dipupus begitu saja oleh sekedar keperluan
pelatihan disiplin.
3.
Trilogi pendidikan terdiri dari “Tut Wuri Handayani” memberi
kebebasan inovasi kepada anak sesuai podrat talentanya. Dengan pembinaan dari
belakang, tidak semata mendikte perilaku sang anak, membentuk percaya dirinya.
Bila perlu memberikan koreksi dan dorongan (handayani) kepada setiap peri laku
anak. “Ing Madyo Mangun Karso” mengajak sang anak proaktif mengikuti segala KBM
(Kegiatan Belajar Mengajar) dengan penuh penghayatan, kreatif, bersemangat.
“Ing Ngarso Sung Tulodho” artinya bila sang anak telah cukup bekalnya harus
dapat memimpin dan memberikan suri tauladan kepada yunior dan masyarakatnya.
4.
Azas ke-4 Tamansiswa berbunyi Pengajaran yang hanya didapat oleh sebagian kecil dari rakyat kita
tidak berfaedah untuk bangsa. Maka haruslah golongan rakyat yang besar mendapat
pengajaran secukupnya. Kekuatan bangsa dan Negara itu jumlahnya kekuatan
orang-orangnya. Maka lebih baik memajukan pengajaran untuk rakyat umum daripada
meninggikan pengajaran, kalau usaha meninggikan ini seolah-olah mengurangi
tersebarnya pengajaran. Sehubungan
itu Tamansiswa ada di Garda Depan saat mengajukan judicial review terhadap
UUBHP kepada MK. Karena UUBHP dipandang bertentangan dengan UUD 1945 dalam ikut
mencerdaskan kehidupan bangsa.
5.
Azas ke-7 Tamansiswa berbunyi Dengan tidak terikat lahir batin, serta dengan suci hati, berniatlah
kita berdekatan dengan Sang Anak. Kita (pamong) tidak meminta sesuatu hak, akan
tetapi menyerahkan diri akan berhamba kepada Sang Anak. Tanpa keikhlasan
berkorban demi sang anak, mustahil misi pendidikan karakter dapat tercapai
sesuai tujuannya.
R E S U M E
:
SISTEM AMONG
Membina jiwa merdeka lahir batin
dan tenaganya, melarang hukuman dengan paksaan, berazas kekeluargaan dalam
proses belajar mengajar.
|
V
Tut wuri handayani, membina dari
belakang agar anak proaktif, percaya diri. Pamong memberi pembinaan dan
koreksi bila diperlukan.
|
V
Kodrat Dolanan Anak (kinder
spellen) sebagai embrio jiwa merdeka sang anak. Motif dolanan diaplikasikan
dalam KBM lebih kondusif mengurangi ketegangan.
|
V V
Mempertajam panca indera, menambah
ketrampilan/psikomotorik
|
Mengenal potensi diri, menambah PD,
PBM menggembirakan
|
V V
Mengembangkan perilaku dan lisan
yang posisif sesuai adat Timur.
|
Mengembangkan kodrat talenta khas
pribadi sang anak.
|
V V
Berkembangnya jiwa merdeka lahir
batin dan tenaga sang anak. Membentuk karakter anak sesuai dengan kepribadian
bangsa Indonesia.
|

Tidak ada komentar:
Posting Komentar