Selasa, 17 Juli 2012


IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER
MELALUI KEARIFAN LOKAL DI PERGURUAN TAMANSISWA

Oleh Ki Priyo Dwiarso
Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa

Presentasi di UNY tanggal 20 November 2010

I.                   KODRAT ALAM  (Cirikhas 1 Tamansiswa) :
Sebagai perwujudan kekuasaan Tuhan YME mengandung arti bahwa hakekat umat manusia adalah menyatu dengan alam semesta dan tidak dapat lepas dari hukum kodrat alam. Manusia akan bahagia bila menyelaraskan diri dengan kodrat alam yang mengandung segala hukum kemajuan.
Hari berganti minggu, berganti bulan, berganti tahun selalu bertambah dan tidak pernah mundur ataupun berhenti, itulah kodrat alam kuasa Illahi. Budaya manusia selalu mengalami kemajuan dan interaksi antar bangsa tak terelakkan sesuai hukum kodrat alam. Demikianlah Ki Hadjar Dewantara (KHD) memberi pedoman olah budaya bangsa dengan TRIKON (Kontinyu, Konvergen, Konsentris)
KONTINYU : Mengolah budaya bangsa secara berkesi nambungan dari masa lalu, masa kini dan masa datang. Dari generasi ke generasi menjalin rangkaian kemajuan budaya bangsa terus menerus tiada terputus.
KONVERGEN : Tidak menutup diri dengan perkem bangan kebudayaan dunia. Dengan adaptif memilah dan memilih budaya universal yang bermanfaat bagi memperkaya perkembangan budaya bangsa sendiri. 
KONSENTRIS : Dalam mengarungi dan menyatu dengan arus budaya universal, berpegang teguh kepada budaya sendiri memperkuat kepribadian nasional. Bangsa yang besar selalu mempunyai ciri karakter budaya bangsanya. 

KONSENTRISITAS : (Unsur TRIKON)
1.     KHD mempraktekkan konsentrisitas sebelum melansir konsep TRIKON yaitu menyerap ilmu  dari Barat dan melahirkan konsep yang membumi. Tahun 1913 sd 1919 KHD dibuang (externir) ke negeri Belanda memperdalam Ilmu Paedagogie dan memperoleh sertifikat pendidik Eropa. Walau KHD dididik secara Barat namun konsepnya tidak kebarat-baratan. Ajaran KHD  disesuaikan dengan budaya lokal misalnya sistem kekeluargaan, sistem among, tut wuri handayani dll. Beberapa orang salah paham dengan Kejawaan KHD (kejawen?), karena saat itu belum ada bahasa persatuan (Sumpah Pemuda 1928). Konsep KHD yang membumi misalnya wiyatagriya adalah “school woning type” (home schoolling). Tringo (Ngerti, Ngroso, Nglakoni) sekarang dikenal cognitif, afektif, psycho motoric. Kemerdekaan sejalan dengan konsep Frobel dalam pendidikan anak di Belanda. Konsentrisitas semacam ini telah lama dilakukan sebelumnya oleh para Wali Songo misalnya dalam tradisi Lebaran dengan sungkem dan mudik yang tidak terdapat di dunia Islam selain Indonesia. Hakekatnya KHD keturunan Nyi Ageng Serang buyut dari Sunan Kalijogo. Banyak yang belum tahu bahwa tahun 1928 orang yang pertama mengusulkan bahasa Persatuan dengan bahasa Indonesia (bukan bahasa Jawa) adalah KHD.
2.     Azas Tamansiswa butir ke-3 berbunyi : Tentang zaman yang akan datang maka rakyat kita ada dalam kebingungan. Seringkali kita tertipu oleh keadaan yang kita pandang perlu dan laras untuk hidup kita, padahal itu adalah keperluan bangsa asing yang sukar didapatnya dengan penghidupan kita sendiri. Demikianlah kita acapkali merusak kedamaian hidup kita. Lagipula kita sering mementingkan pengajaran yang hanya menuju terlepasnya fikiran (intelektualisme), padahal pengajaran itu membawa kita kepada gelombang penghidupan yang tidak merdeka (economisch afhankeleijk) dan memisahkan orang terpelajar dengan rakyatnya. Di dalam kebingungan ini seharusnyalah keadaban kita sendiri (cultuurhistorie) kita pakai sebagai penunjuk jalan untuk mencari penghidupan baru yang selaras dengan kodrat kita dan akan memberi kedamaian dalam hidup kita. Dengan keadaan bangsa kita sendiri kita lalu pantas berhubungan dengan keadaban bangsa asing.
Demikianlah KHD tidak merekomendasikan pendidikan yang melulu intelektualisme (cognitif/Ngerti) melainkan adanya keseimbangan dengan afektif (Ngroso) serta psycho motoric (Nglakoni) antara lain dengan pendidikan nation and character building. Karena hakekatnya Tamansiswa adalah perguruan kebangsaan (National Onderwijs Instituut Tamansiswa). Pendidikan yang terlalu mementingkan intelektual (kognitif) menjauhkan pelajar dari rakyatnya, memperlebar jurang kaya miskin selanjutnya menambah kerawanan sosial.
3.     Pendidikan karakter sejak Tamansiswa berdiri 3 Juli 1922 melekat kepada setiap mapel yang diajarkan setiap pamong (guru). Dengan berlakunya KTSP pendidikan karakter diajarkan dalam mapel Budi Pekerti dan mapel Ketamansiswaan. Mapel Budi Pekerti hakekatnya mengajarkan tentang “habluminannas dan hablumin Allah”. Mapel Ketamansiswaan menekankan pada ajaran KHD serta character and nation building. Acuan mapel tersebut berupa silabi dengan penekanan konsentrisitas budaya mengutamakan kepada kearifan lokal (local wisdom) menuju pembentukan kepribadian khas Indonesia. Agar bangsa kita dapat berdiri sejajar dengan keadaban bangsa lain di dunia, demikian KHD.
II.                 KEMERDEKAAN (Cirikhas 2 Tamansiswa) :
Kemerdekaan mengandung arti sebagai karunia Tuhan YME kepada manusia dengan memberikan hak untuk mengatur dirinya sendiri (zelfbeschikkingsrecht) dengan mengingati syarat tertib damainya (orde en vrede) hidup bermasyarakat. Karena itu kemerdekaan diri harus diartikan sebagai swadisiplin atas dasar nilai luhur, hak hidup sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. Kemerdekaan harus menjadi dasar untuk pengembangan pribadi yang kuat dan sadar dalam suasana keseimbangan dan keselarasan pribadi yang kuat dan sadar dalam kehidupan bermasyarakat.
            Tujuan pendidikan Perguruan Tamansiswa adalah membangun peserta didik menjadi manusia yang merdeka lahir-batin dan tenaganya, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, cerdas dan terampil hidup, sehat jasmani rohani, menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air dan umat manusia pada umumnya. Guna mencapai tujuan pendidikan tersebut Tamansiswa menerapkan Among Metode (Sistem Among) berdasarkan kekeluargaan.
SISTEM AMONG : 
            Among artinya mengemban, membina dengan keikhlasan hati tanpa pamrih. Pendidikan Perguruan Tamansiswa dilaksanakan menurut Sistem Among yaitu suatu system pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan :
1.     Kodrat Alam sebagai wujud pengakuan kuasa Illahi dan syarat untuk mencapai kemajuan yang secepat-cepatnya dan sebaik-baiknya selaras dengan perubahan alam dan jaman. Menyadari  akan sifat kodrati dimana setiap anak selalu tenteram dalam alam keluarganya, maka Sistem Among memakai dasar kekeluargaan. Pamong bertindak sebagai pengganti orang tua di perguruan dengan segala asih, asah, asuhnya. Sebaiknya untuk PAUD dan TK mempergunakan bahasa ibu. Suasana kekeluargaan ini membuat siswa lebih gembira dan kondusif, daripada sekolah formal yang sarat ketegangan cadaver disiplin. Kekeluargaan membuat siswa masih berada dalam kodratnya yang direalisasikan dalam Wiyata Griya dimana siswa tinggal dalam rumah tangga asrama di perguruan. Hal ini dapat terlaksana pada awal berdirinya Tamansiswa, namun seiring dengan menyempitnya lahan, konsep ini tidak terlaksana penuh. Namun SMA Taruna Nusantara masih konsisten dengan system Tamansiswa Wiyata Griya di Magelang.
2.     Kemerdekaan jiwa siswa lahir batin dan tenaganya adalah tujuan utama sistem among. Kemerdekaan lahir batin ini sangat diperlukan sang anak pada pra kemerdekaan guna menyongsong kemerdekaan bangsa. Setelah kemerdekaan jiwa merdeka ini masih diperlukan sepanjang jaman dari rakyat hingga pimpinan nasional, agar Indonesia tidak didikte Negara lain. Sistem among melarang adanya hukuman yang memaksakan kepada sang anak, karena akan membunuh jiwa merdekanya. Pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar) diaplikaikan dengan memakai “dolanan anak” (kinder spellen). Misalnya membuat peta dengan pasir, menghafal abjad dengan menyanyi, simulasi, seni budaya. Peri laku dolanan anak adalah kodrat semua anak makhluk Tuhan guna mengasah panca inderanya. Dolanan anak bisa menjadi embrio jiwa merdeka yang tidak boleh dipupus begitu saja oleh sekedar keperluan pelatihan disiplin.
3.     Trilogi pendidikan terdiri dari “Tut Wuri Handayani” memberi kebebasan inovasi kepada anak sesuai podrat talentanya. Dengan pembinaan dari belakang, tidak semata mendikte perilaku sang anak, membentuk percaya dirinya. Bila perlu memberikan koreksi dan dorongan (handayani) kepada setiap peri laku anak. “Ing Madyo Mangun Karso” mengajak sang anak proaktif mengikuti segala KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dengan penuh penghayatan, kreatif, bersemangat. “Ing Ngarso Sung Tulodho” artinya bila sang anak telah cukup bekalnya harus dapat memimpin dan memberikan suri tauladan kepada yunior dan masyarakatnya.
4.     Azas ke-4 Tamansiswa berbunyi Pengajaran yang hanya didapat oleh sebagian kecil dari rakyat kita tidak berfaedah untuk bangsa. Maka haruslah golongan rakyat yang besar mendapat pengajaran secukupnya. Kekuatan bangsa dan Negara itu jumlahnya kekuatan orang-orangnya. Maka lebih baik memajukan pengajaran untuk rakyat umum daripada meninggikan pengajaran, kalau usaha meninggikan ini seolah-olah mengurangi tersebarnya pengajaran.  Sehubungan itu Tamansiswa ada di Garda Depan saat mengajukan judicial review terhadap UUBHP kepada MK. Karena UUBHP dipandang bertentangan dengan UUD 1945 dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.
5.     Azas ke-7 Tamansiswa berbunyi Dengan tidak terikat lahir batin, serta dengan suci hati, berniatlah kita berdekatan dengan Sang Anak. Kita (pamong) tidak meminta sesuatu hak, akan tetapi menyerahkan diri akan berhamba kepada Sang Anak. Tanpa keikhlasan berkorban demi sang anak, mustahil misi pendidikan karakter dapat tercapai sesuai tujuannya.
R E S U M E :

SISTEM AMONG
Membina jiwa merdeka lahir batin dan tenaganya, melarang hukuman dengan paksaan, berazas kekeluargaan dalam proses belajar mengajar.
                                                                          V
Tut wuri handayani, membina dari belakang agar anak proaktif, percaya diri. Pamong memberi pembinaan dan koreksi bila diperlukan.
                                                                          V
Kodrat Dolanan Anak (kinder spellen) sebagai embrio jiwa merdeka sang anak. Motif dolanan diaplikasikan dalam KBM lebih kondusif mengurangi ketegangan.
                                     V                                                                            V
Mempertajam panca indera, menambah ketrampilan/psikomotorik
Mengenal potensi diri, menambah PD, PBM menggembirakan
                                      V                                                                           V
Mengembangkan perilaku dan lisan yang posisif sesuai adat Timur.
Mengembangkan kodrat talenta khas pribadi sang anak.
                                      V                                                                           V
Berkembangnya jiwa merdeka lahir batin dan tenaga sang anak. Membentuk karakter anak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Tidak ada komentar: