Teman saya, Oyos
Saroso HN, wartawan The Jakarta Post,
Bandarlampung, menulis di status facebook-nya
: “Innalillahi wa innaillaihi roji’un.
Turut berduka atas wafatnya tokoh pendidikan kita, Prof Dr Mochtar Buchori, (85
tahun), Minggu malam (9/10) pkl 19.30…”
Saya memang kehilangan dengan tokoh pendidikan
Indonesia itu. Lelaki kelahiran Yogyakarta, 9 Desember 1926 itu yang dikenal sebagai penulis yang kritis dan produktif . Saya hanya mengenal
melalui buku-buku dan artikel-artikelnya tentang pendidikan. Salah satu
karyanya adalah Evolusi Pendidikan di
Indonesia Dari Kweekschool sampai ke IKIP: 1852-1998.
Alumnus Harvard
University, Amerika Serikat, itu pernah menjabat sebagai Rektor Universitas
Muhammadiyah Jakarta, Pembantu Rektor Bidang Akademis IKIP Bandung, Direktur
Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Fakultas Ilmu-ilmu Sosial Universitas
Indonesia.
Di antara
sejumlah tokoh pendidikan nasional Mochtar Buchori merupakan pendidik yang
sangat concern tentang Taman Siswa
dan Ki Hadjar Dewantara. Padahal, ia bukan dari keluarga Perguruan Taman Siswa. Namun, ia bukan mengulang kutipan
kata-kata Ki Hadjar Dewantara, tetapi menangkap semangatnya. “Kita jangan
terseret arus global sehingga hanya menjadi kuli di antara bangsa-bangsa atau bangsa
yang terdiri dari kuli. Kita harus sadar siapa kita dan mau ke mana agar
optimal dalam pembangunan.”
Saya juga masih
ingat dengan salah satu tulisan Mochtar Buchori tentang “Taman Siswa dan
Pendidikan Kita” yang pernah dimuat harian Kompas
pada Maret 2007 lalu. Dalam tulisannya itu, ia mempertanyakan, apakah yang
dapat disumbangkan oleh Taman Siswa untuk ikut mengarahkan proses transformasi
pendidikan Indonesia yang kini sedang berlangsung?
Ada dua hal yang
mendorong ia mengajukan pertanyaan itu. Pertama,
karena Taman Siswa mewarisi kekuatan kultural yang amat besar, yang telah
berhasil melahirkan sistem pendidikan yang benar-benar berwatak nasional. Menurut
Mochtar Buchori, sistem itu mampu
bertahan dalam masyarakat Indonesia yang telah mengalami berbagai perubahan
yang bersifat fundamental dan transformatif.
Kedua, karena
dewasa ini sistem pendidikan Indonesia, dalam pengamatan Mochtar Buchori,
sedang mengalami kebingungan. Hiruk-pikuk sekitar ujian nasional (UN) hanya
merupakan riak kecil dari kebingungan pendidikan. Gejala kebingungan lebih
besar tercermin pada masalah “pendidikan alternatif”. Di satu pihak ada
beberapa kelompok di masyarakat yang dengan keterbatasannya berusaha memberikan
pendidikan kepada anak-anak yang tidak mampu. Di pihak lain, ada pemerintah
yang tampaknya mempersulit kehadiran lembaga-lembaga “pendidikan alternatif”
itu.
Lalu, bagaimana
sikap bangsa kita terhadap masalah anak-anak yang benar-benar tidak mampu? Kita
bingung menghadapi masalah ini.
Visi
Ki Hadjar
Jika visi dan
keberanian besar yang telah melahirkan Perguruan Taman Siswa masih ada sisanya,
tentu ada sesuatu yang besar yang dapat disumbangkan Taman Siswa untuk
mengatasi kebingungan besar yang sedang kita alami dalam mengarahkan pendidikan
Indonesia di masa depan. Itu harapan Mochtar Buchori.
Dalam berharap
ini, beberapa sketsa tentang kebesaran visi serta keberanian politik Ki Hadjar
Dewantara mengemuka. Ketika Ki Hadjar menyatakan anak-anak Indonesia harus
dididik dalam suatu sistem pendidikan yang berakar pada kebudayaan sendiri,
bukan pendidikan yang berakar pada kebudayaan Belanda, maka pandangan ini
sungguh merupakan suatu ledakan politik yang dahsyat saat itu.
Ketika
Pemerintah Hindia Belanda menyatakan di kalangan penduduk Indonesia terlihat
adanya kehausan yang amat besar akan kemampuan berbahasa Belanda, dan saat
sebagian politisi Indonesia menekankan betapa pentingnya pengetahuan modern
yang harus diperoleh melalui pendidikan Belanda, saat itu Ki Hadjar menekankan
pandangan sebaliknya.
Modernitas tidak
hanya dapat diambil dari Barat dan melalui pendidikan Belanda, tetapi juga
dapat diambil dari kebudayaan besar lain, melalui sistem pendidikan yang bisa
tumbuh di bumi kultural sendiri. Pandangan ini didukung Dr Soetomo dari
Parindra (Partai Indonesia Raya), yang juga menganjurkan dilakukannya
reorientasi dalam pengembangan sistem pendidikan Indonesia, antara lain dengan
melihat ke Jepang dan Turki.
Menurut Mochtar
Buchori, visi besar itu dilanjutkan dengan pendirian Perguruan Taman Siswa yang
tidak mau menerima subsidi dari Pemerintah Hindia Belanda untuk menopang
kehidupannya. Juga sikap Taman Siswa terhadap ijazah, mencerminkan keberanian
politik yang besar. Taman Siswa tidak membutuhkan ijazah negeri yang
dikeluarkan Pemerintah Hindia Belanda. Taman Siswa mengeluarkan ijazah sendiri
yang berlaku di semua lingkungan Taman Siswa dan masyarakat yang memiliki sikap
politik yang sama dengan Taman Siswa. Jika ada murid Taman Siswa yang ingin memiliki
ijazah negeri, itu merupakan urusan pribadi murid itu.
Di Taman Siswa,
murid dibesarkan dengan pandangan, orang Indonesia tidak harus memiliki ijazah
negeri untuk dapat hidup di negerinya sendiri. Kita tidak harus menjadi pegawai
Pemerintah Kolonial Hindia Belanda untuk dapat hidup secara layak.
Saat itu Mochtar
Buchori murid sebuah sekolah Muhammadiyah yang tidak disubsidi. Suasana yang
amat dominan di sekolah ialah bagaimana caranya meningkatkan mutu pendidikan
berdasar program pemerintah agar sekolah dipandang layak mendapat subsidi Pemerintah
Hindia Belanda. Kemudian di sekolahnya selalu ditekankan, betapa pentingnya
memiliki ijazah negeri dengan jalan ikut mengikuti ujian negara (staatsexamen) sebagai peserta ujian
dari luar (extranea). Hanya dengan
ijazah negeri kami akan diterima di sekolah-sekolah yang menjanjikan masa depan
yang baik.
Pikiran
Mohammad Said
Sungguh besar
perbedaan suasana antara di Taman Siswa dan sekolahnya. Anehnya, saat itu, ia
merasa lebih mentereng sebagai siswa Muhammadiyah tak bersubsidi daripada
teman-teman murid Taman Siswa. Dalam kesadaran politik, rasa nasionalismenya tak lebih rendah daripada yang diperlihatkan
teman-teman dari Taman Siswa. Dalam penguasaan bahasa Belanda Mochtar Buchori
merasa lebih baik. Kemampuan bahasa Belanda kebanyakan teman-temannya dari
Taman Siswa plegak-pleguk,
tertatih-tatih.
Pandangan dan
sikap pribadi Mochtar Buchori terhadap Taman Siswa pada dasarnya tidak berubah,
sampai Mas Koko--begitu ia akrab menyapa
Soedjatmoko--memperkenalkannya kepada Mohammad Said. Di situ ia lihat kebesaran
semangat Taman Siswa memancar dari pikiran-pikiran Mohammad Said.
Pertemuan bertiga itu berlangsung berulang-ulang dan
selalu di rumah Soedjatmoko. Melalui diskusi-diskusi, ia mulai mengenali
pola-pola pikir Mohammad Said tentang pendidikan Indonesia. Baru kemudian ia sadar,
aneka pertemuan itu rupanya sengaja dirancang Bung Koko untuk mempertemukan
Mochtar Buchori sebagai seorang novice dalam
pendidikan dengan veteran yang telah bertahun-tahun menggeluti masalah
pendidikan Indonesia.
Mochtar Buchori
mengatakan banyak belajar dari Mohammad Said. Misalnya, bagaimana menghadapi
tekanan politik untuk mempertahankan otonomi dalam menyelenggarakan pendidikan;
bagaimana menarik garis pemisah antara sikap politik dan sikap kultural; dan
bagaimana menerjemahkan sikap ini dalam praktik pendidikan. Dan yang amat
penting bagi Buchori, bagaimana menegakkan keanggunan pendidikan (educational dignity) dalam keterbatasan
sarana. Berbagai pertemuan Mochtar Buchori dengan Mohammad Said terjadi antara
tahun 1963-1965, tahun-tahun terakhir pemerintahan Bung Karno.
Ketika Mohammad
Said diangkat sebagai Menteri Pendidikan dalam pemerintahan Presiden
Soeharto—hanya selama tiga bulan—suatu hari di depan kantor Kementerian PPK
terjadi demonstrasi pelajar yang mau “mengganyang” Soekarnoisme. Mohammad Said
keluar dari kantor, menghadapi para pelajar seorang diri, dan berteriak, “Ya,
saya soekarnoist. Kalian mau apa?” Demonstrasi pun bubar. Bagi Buchori, episode
ini menunjukkan betapa besarnya keberanian politik Mohammad Said sebagai
seorang pribadi Taman Siswa.
Tiga
Kebingungan
Dalam pandangan
Mochtar Buchori, kebingungan pendidikan kita kini merupakan akibat kebingungan
politik. Kedua kebingungan itu lahir dari kebingungan kultural. Tiga jenis
kebingungan ini letaknya berbeda-beda dalam ruang kehidupan kita. Kebingungan
politik merupakan masalah hilir, masalah yang kini terjadi dan harus segera diselesaikan.
Sumbernya adalah kebingungan kultural merupakan masalah hulu, yang cara
penanganannya harus berbeda dari penanganan masalah hilir.
Intinya, kita
harus berani memutuskan, kita akan menjadi bangsa yang bagaimana? Kita akan
membentuk negara dan masyarakat yang bagaimana? Jika sudah memutuskan, kita
mulai melakukan langkah-langkah yang secara programatik menuju sasaran tadi.
Kita, para penyangga
pendidikan, kata Mochtar Buchori, adalah pemain-pemain kehidupan yang bekerja
di bagian hulu. Kita masing-masing harus menentukan, ingin menjadi bangsa yang
bagaimana dan ingin menegakkan kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang
bagaimana. Ini harus merupakan keputusan pendidikan yang harus diambil, bukan
sesuatu yang didiktekan oleh para pemain di hilir, yaitu politisi.
Bagi Mochtar
Buchori, alangkah indahnya jika Taman Siswa sebagai pewaris kekuatan kultural yang
besar dalam pendidikan dapat menunjukkan peta perjalanan (educational road map) yang dapat ditempuh bersama untuk mengantar
generasi muda ke suatu kehidupan yang lebih santun, lebih cerdas, dan lebih
manusiawi daripada apa yang kita jalani bersama kini.
Selamat jalan
Pak Mochtar Buchori!
